<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815</id><updated>2012-02-13T12:25:38.817+07:00</updated><category term='Business'/><category term='Gallery'/><category term='inner circle'/><category term='movie'/><category term='Islam'/><category term='Travelling'/><category term='kultur'/><category term='Citywalk'/><category term='poem'/><category term='personal'/><category term='intermezzo'/><category term='Gontor'/><category term='journal'/><category term='filsafat'/><category term='history'/><category term='resensi'/><category term='Novelet'/><category term='IT Lifestyle'/><category term='inter-religious study'/><category term='Cerpen'/><category term='in Love'/><category term='book'/><category term='Musics'/><title type='text'>bumiti3a</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>184</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2750062467865768927</id><published>2011-09-27T16:20:00.000+07:00</published><updated>2011-10-07T09:22:03.846+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inter-religious study'/><title type='text'>Inklusivitas Beragama, Klaim Keselamatan, dan Millat Ibrahim: Tafsir atas ayat 2:120</title><content type='html'>Barangkali tidak ada ayat Quran yang begitu populer dalam persoalan hubungan antar umat beragama melebihi ayat 2:120. Ayat ini, yang sering kita dengar di setiap khutbah yang berhubungan dengan penjajahan atas bangsa Palestina, hingga konflik-konflik horizontal antara Islam-Kristen di tanah air, seakan menjadi argumen utama yang direproduksi terus menerus untuk membenarkan kepercayaan sekelompok orang bahwa umat beragama lain selalu menaruh rasa benci, dan curiga kepada umat Muslim dan senantiasa mempengaruhi mereka untuk meninggalkan ajaran Islam yang luhur dan lurus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya pretensi buruk ini sering diterima begitu saja tanpa kritik, dan menjadi &lt;i&gt;raison d'etre&lt;/i&gt; bagi sejumlah pelaku tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sebuah pernyataan resmi Islam, dan dengan begitu segala bentuk negativitas mendapatkan justifikasinya. Tentu, saya tidak menampik fakta bahwa terdapat banyak luka sejarah yang melatarbelakangi hubungan antar ketiga agama Abrahamik ini. Namun bukan berarti pembacaan atas ayat tersebut harus dilakukan berdasarkan beban sejarah yang tidak mengenakkan itu, karena jika kita teliti lebih lanjut, masih banyak ayat-ayat Quran yang justru menyuburkan rasa saling percaya dan toleran dengan umat beragama lainnya macam 5:82 dan 5:44. Jika demikian, dengan cara apa semestinya kita menafsirkan ayat tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Struktur pembacaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagaimana permasalahan lainnya dalam penafsiran ayat-ayat Quran, akar utama dari pemahaman yang keliru atas ayat 2:120 adalah bagaimana kita membaca ayat tersebut. Mereka yang menerima teori mengenai kebencian, biasanya membaca ayat ini secara terpisah dari lingkungan ayat tempat ia berada, atau lebih parah, hanya membaca frase pertama dari ayat kita ini dan mengabaikan dua frase terakhir yang membentuk kesatuan ide, atau lebih tepat petunjuk bagi pengungkapan makna yang hendak disampaikan. Cara pembacaan seperti ini bisa kita gambarkan dengan notasi [120] atau 1[120]. Pembacaan satu frase ini, jelas sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai cara memahami ayat Quran. Kita membutuhkan model pembacaan yang jauh lebih konfrehensif, untuk mengerti maksudnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu fakta tekstual yang tidak bisa kita abaikan dari ayat 2:120 adalah, keberadaan kata penghubung di awal kalimat, &lt;i&gt;wa&lt;/i&gt;. Hal ini secara logis menandakan bahwa ayat tersebut merupakan bagian dari sebuah paragraf yang memiliki kesatuan tema yang lebih kuat, dan bukan tema tersendiri yang terpisah begitu saja dari rangkaian ayat yang mendahului atau datang sesudahnya. Ayat yang paling mungkin menjadi pendahulu dari ayat ini jelas ayat 119. Ayat tersebut memiliki 2 frase, dengan frase pertama sebagai pembuka, sedang frase berikutnya sebagai penjelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, jika kedua ayat ini digabungkan menjadi satu kalimat utuh, kita akan melihat paduan komposisi kalimat yang tidak seimbang, karena penekanannya yang sangat berlebih pada karakter Ahli Kitab sebagaimana diwakili oleh seluruh frase yang terdapat di ayat 120. Hal ini menunjukkan bahwa makna kalimat [119,120] bergantung pada kalimat lain yang menjadi bagian dari narasi yang jauh lebih luas.&amp;nbsp;Yang saya maksud adalah, bahwa ayat-ayat yang berada pada rentang 2:104 hingga 2:141 saling terhubung satu sama lain, sehingga untuk menafsirkan makna ayat [119,120] mau tidak mau kita harus menempatkannya kedalam konteks rangkaian 37 ayat tersebut. Untuk itu saya akan memecah [119,120] kedalam 5 bagian sesuai dengan jumlah frase yang membangunnya dan membuat sebuah daftar indeks ayat yang berkorelasi dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;b&gt;1[119]&lt;/b&gt; Kami mengutusmu dengan &lt;i&gt;Haqq&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2[119]&lt;/b&gt; dan kamu tidak akan ditanya tentang penghuni neraka.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1[120]&lt;/b&gt; dan tidak akan pernah rela umat Yahudi dan Kristen kepadamu hingga kamu mengikuti &lt;i&gt;millat &lt;/i&gt;mereka.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2[120]&lt;/b&gt; Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah Petunjuk.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3[120]&lt;/b&gt; Dan seandainya kamu mengikuti &lt;i&gt;ahwa&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mereka, setelah datang padamu &lt;i&gt;al-'ilm&lt;/i&gt;, maka kamu tidak akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah.&lt;/blockquote&gt;
Pada bagian pertama, frase 1[119] yang menjadi frase pembuka menerangkan kepada kita tentang misi Nabi SAW, yakni sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan. Term ini memperkuat pernyataan di 2:104 untuk tidak mendebat wahyu yang diterima oleh beliau. Perdebatan soal wahyu bagi Quran jelas akan membuat umat Islam kehilangan &lt;i&gt;anchor&lt;/i&gt;&amp;nbsp;untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, padahal mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban apapun dengan apa yang dikerjakan oleh umat-umat sebelumnya. Oleh karena itu, kenapa harus membandingkan wahyu yang diterima Nabi SAW dengan ajaran-ajaran dua agama sebelumnya, Yahudi dan Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Term dimintai pertanggungjawaban, &lt;i&gt;tus`al&lt;/i&gt;, yang menjadi tema utama dari frase 2[119] muncul beberapa kali di rangkaian ayat-ayat ini. Yang pertama hadir di ayat yg sama, 2:119 dan merujuk kepada perilaku penganut Yahudi dan Kristen yang kafir. Oleh Quran, mereka digambarkan sebagai penghuni neraka, &lt;i&gt;ashhabul Jahim&lt;/i&gt;. Adapun dua term lainnya, muncul di dua ayat berbeda, 2:141 dan 134, dan secara definitif merujuk kepada Ibrahim dan anak cucunya, yang dalam tradisi Judeo-Kristen dikenal sebagai para patriark. Para patriark ini menempati posisi yang khusus dalam konsep keberagamaan Quran. Mereka digambarkan sebagai para &lt;i&gt;hanif&lt;/i&gt;, yang menganut agama, &lt;i&gt;millat&lt;/i&gt;, yang lebih murni dari Yahudi dan Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemurnian &lt;i&gt;millat&lt;/i&gt;&amp;nbsp;para patriark inilah yang membuat Quran membedakan posisi mereka dari agama Yahudi dan Kristen. Bagi Quran, para patriark bukanlah Yahudi apalagi Kristen, mereka merupakan entitas berbeda, yang tidak serupa dengan keduanya. Hal inilah yang membuat umat Yahudi dan Kristen tidak pernah rela dengan definisi Quran tersebut. Dalam frase 1[120] kita menemukan term &lt;i&gt;tardha 'anka&lt;/i&gt;, merujuk kepada misi kenabian Muhammad SAW yang tertera secara implisit di frase 1[119]. Membawa kembali kepada pengulangan tema di 2:104, ketika para sahabat mengalami kebingungan akibat informasi yang berbeda soal agama yang mereka dapatkan dari komunitas Yahudi di Madinah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena ada beberapa ajaran Islam yang tidak dapat didamaikan begitu saja dengan ajaran Yahudi dan Kristen, maka umat Islam pun diperintahkan untuk mengikuti ajaran agamanya saja. Bagaimana pun kebenaran hanya milik Tuhan dan Dialah yang akan menilai perbuatan semua manusia di akhirat kelak. Tema ini menjadi ide utama dari frase 2[120]. Secara semantik ia berkorelasi dengan ayat 2:115 yang menggambarkan relativitas kebenaran dalam satu rumpun agama Abrahamik, sekaligus memperkuat teologi &lt;i&gt;lakum dinukum wa liy al-din&lt;/i&gt;, yang juga tertera secara simbolik di ayat 2:139 dan menjadi tema sentral Islam dalam berhubungan dengan penganut agama-agama serumpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun alasan paling utama mengapa Quran mengambil posisi yang berseberangan dengan tradisi Judeo-Kristen adalah, karena para penganut kedua agama ini telah mengikuti &lt;i&gt;hawa&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mereka dalam beragama. Kata &lt;i&gt;hawa &lt;/i&gt;yang lebih tepat diartikan sebagai spekulasi dalam soal agama, dirinci pengertiannya oleh Quran kedalam: Perilaku&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;ra'ina&lt;/i&gt;&amp;nbsp;umat Yahudi yang berujung pada kekafiran dan kedengkian (108); eksklusivitas keselamatan di akhirat (111); perilaku merendahkan dan mengkafirkan satu dengan lainnya (113); penolakan terhadap kebebasan beragama(114); Trinitas (116); serta antropomorfisme atas Tuhan (118). Keenam jenis&amp;nbsp;&lt;i&gt;hawa &lt;/i&gt;inilah yang menjadi tema utama dari frase 3[120] yang diakhiri dengan pernyataan jika Nabi SAW melakukan hal serupa, maka beliau tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Narasi besar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari survey singkat atas ayat 2: 120 tadi kita menuju kepada tema utama yang membangun narasi besar ayat 2:104-141. Narasi ayat-ayat ini dibuka dengan perintah kepada umat Islam agar tidak berkata,&amp;nbsp;&lt;i&gt;ra'ina,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kepada&amp;nbsp;Nabi SAW berkenaan dengan wahyu yang diturunkan kepadanya, dan disarankan untuk menunjukkan sikap lain: lihatlah kami, dan dengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada Nabi SAW, &lt;i&gt;unzhurna wa isma'u &lt;/i&gt;(2:104). Kata &lt;i&gt;ra'ina&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang berasal dari akar kata &lt;i&gt;r ' y&lt;/i&gt;, menggembala,&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;setidaknya termaktub dua kali dalam Quran, ayat lain yang mencantumkan kata ini adalah 4:46. Keduanya merujuk secara definitif kepada perilaku Bani Israil yang membangkang kepada rasul dan nabi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabari dalam tafsirnya, memberikan beberapa makna dari&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ra'ina, &lt;/i&gt;diantaranya: bertolak belakang, &lt;i&gt;khilaf&lt;/i&gt;, dan perilaku demokratis, &lt;i&gt;isma minna wa nasma' minka-- &lt;/i&gt;dengarlah pendapat kami maka kami akan mendengarkan pendapatmu. Larangan mengatakan &lt;i&gt;ra'ina&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kepada Nabi SAW terkait dengan sejumlah keputusan agama yang sedikit demi sedikit mulai berpaling dari semangat Judeo-Kristen, seperti perubahan waktu shalat yang berevolusi menjadi shalat lima waktu, hingga perubahan arah kiblat dari Jerussalem ke Makkah. Perubahan aturan-aturan agama ini dijelaskan dengan rendah hati di ayat 106, yang menjelaskan bahwa Tuhan memberikan yang lebih baik kepada umat Islam atas aturan-aturan agama, &lt;i&gt;ayat&lt;/i&gt;, yang telah di hapus, &lt;i&gt;mansukh&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam aturan agama, bagi sebagian orang tentu memunculkan tanda tanya besar. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Tuhan dengan perubahan tradisi keagamaan ini? Namun efek yang paling utama dari rasa penasaran yang berlebihan bukanlah diskusi segar yang saling mencerahkan, melainkan tumbuhnya rasa sangsi atas kebenaran agama. Di ayat 108, Quran memberikan analogi Musa yang tidak kuasa menghadapi kritik, pertanyaan, dan permintaan Bani Israil kepadanya. Bahkan meski semua permintaan kritis itu dapat dijawab dengan tuntas, tetap saja sebagian besar dari mereka berpaling dari ajaran yang ia sampaikan. Hal serupa juga dialami Nabi SAW yang juga mendapat kritik pedas atas aturan-aturan agama yang ia terima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada titik ini umat Islam dihadapkan pada dua otoritas yang saling bersaing, otoritas agama Judeo-Kristen yang lebih mapan dan mayoritas, serta otoritas agama yang diterima oleh Muhammad SAW melalui wahyu yang masih belia dan minoritas. Sementara Islam tidak menolak kebenaran yang ada dalam tradisi Judeo-Kristen, di lain pihak terdapat beberapa aturan dalam Islam yang bertentangan dengan ajaran kedua agama tersebut. Menghadapi masalah pelik ini, Quran kemudian memberikan sebuah solusi keagamaan yang inklusif dan pluralis. Di ayat 115 secara metaforik dijelaskan bahwa kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, dan kemanapun seseorang menghadap, maka akan ditemukan Wajah Tuhan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metafora Timur dan Barat di ayat tersebut secara tidak langsung merujuk kepada polaritas tradisi keagamaan yang mungkin terjadi antara Islam dan Judeo-Kristen. Penekanan bahwa ada banyak wajah Tuhan di berbagai penjuru mata angin, menyiratkan keberadaan banyak jalan untuk menuju Tuhan. Jalan-jalan yang banyak inilah yang digunakan oleh berbagai tradisi keagamaan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Implikasi utama dari pluralitas jalan kebenaran ini adalah, tidak satupun tradisi yang mampu mengklaim bahwa dirinyalah yang paling berhak atas surga. Tema utama ini kita temukan ekspresinya di ayat 111 serta 113, dan kembali diulang pada ayat 135, menjelaskan eksklusivitas kebenaran yang dibawa oleh tradisi Judeo-Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun jalan Tuhan itu banyak, tapi bukan berarti semua ajaran yang terdapat di setiap jalan direstui oleh Tuhan. Ajaran yang sama sekali tidak direstui Tuhan adalah ajaran yang menurut Quran muncul berlandaskan &lt;i&gt;hawa &lt;/i&gt;para pengikutnya sebagaimana telah kita bahas sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Millat Ibrahim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Apabila tradisi Judeo-Kristen tidak benar-benar layak untuk dijadikan pedoman bagi keberagamaan tiga agama Abrahamik ini, lalu tradisi keagamaan apakah yang ditawarkan oleh Quran sebagai titik temu keberagamaan Yahudi, Kristen dan Islam? Jawabnya adalah, tradisi agama yang dipelopori oleh Ibrahim, yang dalam bahasa Quran dinamakan sebagai&amp;nbsp;&lt;i&gt;millat &lt;/i&gt;Ibrahim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;millat &lt;/i&gt;dalam Quran memiliki makna yang mirip dengan kata &lt;i&gt;din&lt;/i&gt;, keduanya secara sederhana merujuk pada satu makna yang sama, agama. Dari 15 kata &lt;i&gt;millat&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam Quran, setengah diantaranya selalu merujuk kepada nama Ibrahim. Sisanya, dengan merata merujuk kepada agama Yahudi, Kristen, dan pagan Arab. &lt;i&gt;Millat&lt;/i&gt; Ibrahim dalam Quran dikenal juga dengan kata &lt;i&gt;hanif&lt;/i&gt;. Kata ini, yang secara sederhana berarti condong, &lt;i&gt;mayl&lt;/i&gt;, dan sering digunakan oleh masyarakat Arab pra-Islam untuk merujuk kepada pola peribadatan yang hanya menyembah satu Tuhan yang dilawankan oleh kultur politeis yang menjadi pola keberagamaan utama masyarakat Arab pada saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tradisi Judeo-Kristen, sosok Ibrahim dan anak cucunya, &lt;i&gt;asbath&lt;/i&gt;, hanya menempati fungsi biologis sebagai keluarga yang darinya bangsa Israel berasal. Fungsi teologis yang dibawa Ibrahim hampir tidak dikenal oleh masyarakat Yahudi dan Kristen. Berkenaan hal ini, kedudukan Musa bagi agama Yahudi, dan Isa bagi agama Kristen jauh lebih sentral. Problem teologis yang muncul kemudian, apakah Ibrahim dan anak cucunya itu dapat disebut sebagai orang beriman ataukah tidak, karena ia tidak pernah menjalankan perintah Taurat, juga tidak percaya bahwa Isa adalah juru selamat (pada kasus Islam, ia tidak pernah bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah rasul Allah)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemecahan atas persoalan ini adalah penetapan Ibrahim dan &lt;i&gt;asbath &lt;/i&gt;sebagai orang-orang beriman. Keberimanan Ibrahim dan anak cucunya yang dalam perspektif ketiga agama tidak sempurna justru memberikan implikasi teologis yang sangat besar. Apa yang ia tunjukkan dengan kepasrahannya dalam menyembah Tuhan, ketulusannya dalam berdoa, dan &lt;i&gt;concern &lt;/i&gt;yang ia berikan kepada keturunananya,&amp;nbsp;sebagaimana terbaca dalam &amp;nbsp;2:124-133 menjadi model utama dalam beragama yang patut ditauladani oleh para penganut ketiga agama serumpun ini. Dengan indah Quran menggambarkan orang-orang yang hendak meniru perilaku Ibrahim tersebut (entah ia seorang Yahudi, Kristen maupun Muslim) sebagai mereka yang telah dimurnikan jiwanya, terpilih di dunia, dan di akhirat mereka termasuk orang-orang yang shalih (2:130).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Model pembacaan kontekstual sebagaimana saya demonstrasikan dalam tulisan ini menunjukkan bahwa ayat 2:120 bukanlah sebuah ayat permusuhan dan kebencian sebagaimana dipahami oleh banyak pihak, melainkan sebuah petunjuk untuk bersikap yang benar dalam pluralisme beragama. Ketika setiap tradisi agama berkeras kepala dengan kebenaran yang ia bawa, maka tidak ada jalan lain bagi umat Islam selain berpegang teguh pada ajaran agamanya sendiri. Karena bagaimanapun juga, setiap agama telah mengambil cara tersendiri yang berbeda satu sama lain dalam usahanya menuju Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah A'lam bi al-shawwab&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2750062467865768927?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2750062467865768927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/inklusivitas-beragama-klaim-keselamatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2750062467865768927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2750062467865768927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/inklusivitas-beragama-klaim-keselamatan.html' title='Inklusivitas Beragama, Klaim Keselamatan, dan Millat Ibrahim: Tafsir atas ayat 2:120'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-127359199830421079</id><published>2011-09-19T09:49:00.000+07:00</published><updated>2011-09-21T16:25:01.829+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis &amp; Semantik (2)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-h6w6OP-UTGE/TnmtSpkI-qI/AAAAAAAABhM/Zr_AD_Gj2sE/s1600/tafsir.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://3.bp.blogspot.com/-h6w6OP-UTGE/TnmtSpkI-qI/AAAAAAAABhM/Zr_AD_Gj2sE/s320/tafsir.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Salah satu problem dalam tafsir tradisional seputar surat al-Fil adalah interpretasi berlebihan terhadap kata &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt;. Sementara bahasa Arab tidak mengenal perbedaan penulisan antara &lt;i&gt;noun&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;proper noun&lt;/i&gt;, kata &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt; hampir tidak memiliki indeks relasi sama sekali dalam Quran. Kata ini terbilang hanya sekali termaktub sehingga tidak memiliki referensi makna dengan ayat-ayat Quran lainnya. Meski demikian, sejumlah ahli tafsir yang menganggap &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt; sebagai sebuah kata sifat, menafsirkan kata tersebut sebagai berbondong-bondong, berlapis-lapis, atau gelombang demi gelombang. Dalam kasus ini, term yang terkait dengan &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt;, seperti &lt;i&gt;thayr&lt;/i&gt;, burung, diterima &lt;i&gt;taken for granted&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lain halnya dengan mereka yang menafsirkan &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt; sebagai &lt;i&gt;proper noun&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Ababil). Mereka terjebak pada imajinasi liar tentang burung besar yang membawa bebatuan panas dari neraka. Beberapa menjelaskan secara rinci karakter burung tersebut, menceritakan kisah-kisah legendaris dan menarasikan mitologi baru akan sosok algojo adi kodrati yang diutus Tuhan untuk menghukum Tentara Gajah. Penafsiran tipe kedua yang lebih populer inilah yang berusaha dikritik oleh sejumlah sarjana modern.&amp;nbsp;Arthur Jeffery misalnya, menyatakan bahwa para filolog Arab hampir tidak memahami makna dari kata &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt; yang menurutnya berasal dari akar kata asing, &lt;i&gt;ibalah,&lt;/i&gt; yang berarti rombongan. Ia kemudian mengutip pendapat Burton yang menyatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Persia &lt;i&gt;abilah&lt;/i&gt; yang berarti bisul. Hal ini juga diyakini oleh Sprengel beberapa abad sebelumnya, yang menerangkan bahwa kata itu berasal dari gabungan dua kata, &lt;i&gt;ab&lt;/i&gt; (bapak) dan &lt;i&gt;abilah&lt;/i&gt; (kesedihan), sembari menerangkan bahwa masyarakat Persia menggunakan kata &lt;i&gt;abilah&lt;/i&gt; untuk merujuk kepaa kata cacar. Sayangnya, pendapat Sprengel dan Burton ini bermasalah, karena kata &lt;i&gt;abilah&lt;/i&gt; sendiri adalah sebuah kata pinjaman dari bahasa Arab, sehingga diragukan keasliannya teorinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sampai di sini, kita kembali ke pertanyaan di awal tulisan sebelumnya. Dengan cara bagaimana kita semestinya menafsirkan surat al-Fil? Haruskah hanya bersandar pada takwil semata, ataukah ada petunjuk lain dari Quran yang bisa kita gunakan sebagai basis pemikiran modern kita yang sudah terlanjur percaya bahwa penyebab utama kehancuran tentara Abrahah adalah wabah cacar? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, dalam hemat saya adalah dengan meneliti relasi semantik 3 kata utama yang seringkali luput dari analisis kita tentang surat al-Fil, yakni: &lt;i&gt;thayr&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hijarah&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;sijjil&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Semantik kata &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;thayr&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dibanding kata &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt; yang hanya tersebut sekali, kita memiliki informasi yang berlimpah berkenaan dengan penggunaan kata &lt;i&gt;thayr&lt;/i&gt; dalam Quran. Secara harfiah, bentuk jamak dari kata &lt;i&gt;thair&lt;/i&gt; ini memiliki makna burung. Al-Raghib al-Ishfahani mendefinisikan &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt; secara luas sebagai segala suatu yang setidaknya memiliki dua sayap yang dapat "berenang" di langit. Dalam pengertian modern, definisi al-Ishfahani tersebut jelas mencakup juga pesawat terbang dan helikopter sebagai bagian dari &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt; karena kemampuan keduanya mengarungi langit, demikian pula segala macam serangga dan makhluk mikroskopik lain yang dapat dengan mudah diterbangkan oleh angin ke angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambiguitas makna sebagaimana tertera dalam definisi Ishfahani akan kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt; ternyata juga didukung oleh kontekstualitas kata tersebut dalam sejumlah ayat Quran. Dari lima kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt; yang terdapat dalam Quran, kita setidaknya menemukan 3 macam arti yang berbeda satu dengan lainya. Pertama, sebagaimana tertera di 6:38, kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt; merujuk secara definitif kepada kata burung. Dalam ayat tersebut bahkan dijelaskan bahwa setiap binatang melata, &lt;i&gt;dabbah&lt;/i&gt;, dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, sama dengan manusia. Mereka memiliki konstruk sosial yang serupa, yakni ummat. Ayat ini, dan juga ayat yang menjelaskan bagaimana gunung menolak menerima Quran, menunjukkan atribusi antropomorfisme Quran terhadap makhluk-makhluk Tuhan, yang mencakup pula didalamnya benda mati. Sehingga menyusahkan kita dalam mendefinisikan arti kehidupan dan kematian, juga kemampuan intelektual sebuah organisme dalam Quran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna kedua yang kita dapat dari kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt;, tertera pada 17:13. Di ayat ini, kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt; berarti perbuatan, perilaku, dan juga tingkah laku manusia yang ia perbuat selama hidup di dunia. Di Hari Akhir nanti, semua perbuatannya itu diikatkan di leher mereka sebagai gambaran pertanggungjawaban. Terminologi leher dalam ayat tersebut menandakan bahwa perbuatan yang telah dilakukan tadi adalah perbuatan buruk yang tentu saja memberatkan si pelaku saat akan ditimbang kebaikan dan keburukannya. Dari sini kita mendapatkan kesan negatif pertama dari kata &lt;i&gt;tha'ir&lt;/i&gt;, dan akan mendapatkan konfirmasinya saat kita membuka 3 ayat selanjutnya tentang kata tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 7:131 memberikan kepada kita gambaran yang lebih komprehensif tentang makna dari &lt;i&gt;tha'ir&lt;/i&gt;. Di ayat tersebut, Tuhan menyinggung kaum Musa yang ketika mendapatkan nasib baik dengan sombong menyatakan bahwa itu adalah hak mereka. Namun tatkala tertimpa musibah, mereka mengkambinghitamkan Musa sebagai penyebab segala keburukan yang mereka terima. Berkenaan dengan hal tersebut, maka Tuhan pun menegaskan bahwa keburukan yang mereka terima, &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt;, tak lain dan tidak bukan berasal dari Tuhan, sebagaimana kebaikan yang selama ini mereka rasakan. Dalam ayat ini pula kita menemukan bentuk verbal dari &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt;, yakni &lt;i&gt;iththayyara &lt;/i&gt;yang dapat diartikan sebagai tindakan menuduh, yang juga kita temukan di dua ayat lainnya, 27:47 dan 36:18-9.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pemaparan tentang variasi makna kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt;, kita berhenti pada sebuah pertanyaan signifikan: Bisakah kita memaknai akar kata &lt;i&gt;thayr &lt;/i&gt;di 105:3 dengan kata &lt;i&gt;tha`ir &lt;/i&gt;pada 7:131, 27:47, dan 36:18-9? Pertanyaan ini begitu penting, karena dari 17 ayat Quran yang mengandung kata &lt;i&gt;thayr&lt;/i&gt;, semua merujuk secara langsung kepada makna kata pertama, yakni burung. Fakta statistik inilah yang sebenarnya dijadikan rujukan oleh para penafsir tradisional untuk memaknai term tersebut sebagai burung. Meski demikian, apabila kita memperhatikan lebih jauh penggunaan artikel &lt;i&gt;al-&lt;/i&gt;&amp;nbsp;pada kata tersebut, maka kita akan menemukan beberapa hal khusus yang layak untuk diperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya tiga kali kata&amp;nbsp;&lt;i&gt;thayran&lt;/i&gt;, dalam bentuk &lt;i&gt;indefinitive&lt;/i&gt;,&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;tersebut dalam Quran, dan semuanya merujuk dengan jelas pada 2 kejadian adikodrati, yakni penciptaan burung-burung oleh Isa dan tentu saja penghancuran Tentara Gajah. Untuk kasus pertama, 3:49 dan 5:110, dijelaskan bahwa Isa mengambil segumpal tanah liat dan membentuk dengannya bentuk burung, &lt;i&gt;al-thayr&lt;/i&gt;, untuk kemudian burung-burungan dari tanah liat itu berubah lagi menjadi sejenis burung, &lt;i&gt;thayran&lt;/i&gt;, dengan izin Allah. Dalam tata bahasa Arab, perubahan dari bentuk definitif, &lt;i&gt;ism ma'rifah&lt;/i&gt;, menjadi bentuk indefenitif, &lt;i&gt;nakirah&lt;/i&gt;, sangat berpengaruh kepada perubahan makna sebuah kalimat. Dalam kasus Isa tadi, kita masih bisa menerka bahwa burung-burungan yang dibuat Isa tiba-tiba berubah menjadi burung. Tapi tatkala dikonfirmasi jenis dari burung yang diciptakan oleh Isa ini, kita tidak akan tahu, apa jenisnya. Dari sudut pandang orang ketiga, penyebutan bentuk &lt;i&gt;nakirah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;setelah &lt;i&gt;ma'rifah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menunjukkan ketidakjelasan dan kekaburan identitas. Bisa saja Isa tidak menciptakan burung, tapi ia telah membentuk sesuatu berdasarkan bentuk burung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ingin saya sampaikan dari kasus Isa adalah, Quran kadang menggunakan cara pandang orang ketiga saat itu untuk menggambarkan sebuah &lt;i&gt;state of affair&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menjadi sebuah ilusi. Ketidakyakinan untuk mengetahui jenis burung yang diciptakan oleh Isa dalam kasus ini memberikan alternatif penafsiran yang berlimpah, termasuk cara bagaimana kita menafsirkan sebuah kerja adikodrati yang tidak bisa dinalar oleh akal. Lalu ilusi apa yang hendak disampaikan Quran pada 105:3? Jawaban atas pertanyaan ini tidak lain daripada tiga kemungkinan semantik dari kata &lt;i&gt;tha`ir&lt;/i&gt;. Tapi yang mana? Mana dari ketiga kemungkinan tersebut yg sesuai dengan konteks surat al-Fil? Kunci dari permasalahan ini terletak dalam cara kita menafsirkan term penting selanjutnya, &lt;i&gt;hijarah min sijjil&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;"Bebatuan dari neraka"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Barangkali bukan kebetulan belaka, jika kita menemukan term &lt;i&gt;hijarah min sijjil&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam Quran yang merujuk kepada sebuah peristiwa adi kodrati lainnya, yakni pembinasaan kaum Luth di 11:82 dan 15:74. Di dua peristiwa inilah, bersama pembinasaan Tentara Gajah, Quran secara ekslusif menggunakan term "bebatuan dari neraka". Fakta Quranik ini menimbulkan pertanyaan lain yang lebih menarik, apakah kehancuran dua entitas ini memiliki karakter yang serupa ataukah tidak. Namun sebelum melangkah lebih jauh lagi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna dari term tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;sijjil &lt;/i&gt;dalam Quran terjemahan bahasa Indonesia seringkali diartikan sebagai sebuah nama tempat, dalam hal ini neraka Sijjil. Padahal, jika kita kita amati lebih seksama, maka kata &lt;i&gt;sijjil&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam term terkenal kita ini, lebih tepat diartikan sebagai kata keterangan dari kata &lt;i&gt;hijarah&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Sijjil&lt;/i&gt;, secara harfiah berarti tanah liat yang terbakar. Kata ini pun 4 kali termaktub dalam Quran, 3 kali tersebut dalam ketiga ayat tentang kaum Luth dan Tentara Gajah, sedang sisanya tersebut dalam 21:104. Di ayat ini, &lt;i&gt;sijjil &lt;/i&gt;&amp;nbsp;diartikan sebagai gulungan buku (&lt;i&gt;scroll&lt;/i&gt;), dan dijelaskan bahwa pada Hari Akhir nanti, Tuhan akan menggulung langit, sebagaimana gulungan buku yang ditutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asosiasi kata &lt;i&gt;sijjil&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan kata tanah dan gulungan buku memunculkan beberapa spekulasi tentang semantik kata ini. Yang paling utama adalah, penyebutan kata tanah biasanya merujuk pada &lt;i&gt;form of life&lt;/i&gt;, bahan organik pembentuk kehidupan di muka bumi ini. Pada kasus penciptaan manusia misalnya, Quran menggunakan analogi tanah sebagai bahan pembuat manusia, demikian pula bentuk-bentuk olahan dari tanah, macam &lt;i&gt;shalshal min hamain masnun, shalshal kal fakhkhar&lt;/i&gt;, dan sebagainya sebagai tahapan-tahapan penciptaan. Penyebutan &lt;i&gt;sijjil&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam kasus Luth dan Tentara Gajah, dengan demikian mengisyaratkan keterkaitan subtantif antara jenis hukuman yang ditimpakan dengan unsur pembentuk manusia. Yang saya maksud adalah hukuman tersebut merupakan bagian dari tubuh manusia sendiri, atau setidaknya reaksi fisik terhadap benda asing yang masuk kedalamnya.&amp;nbsp;Jika kita mengkaitkan cara berpikir ini dengan proses penyebaran virus penyebab cacar, maka bisul-bisul yang kita temukan pada tubuh penderita penyakit tersebut, secara figuratif dapat diartikan sebagai &lt;i&gt;hijarah min sijjil.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Dalam konteks ini, gelembung-gelembung yang tersebar di seluruh tubuh penderita menyerupai bebatuan kecil, dan rasa gatal serta terbakar yang dirasakan dari reaksi tubuh itu menjelaskan dengan sendirinya art kata &lt;i&gt;sijjil.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, bukan berarti karakter penghancuran kaum Luth identik dengan pola penghancuran Tentara Gajah. Perbedaan keduanya, dalam hemat saya, terletak pada keberadaan unsur perantara bagi proses hukuman. Sementara &lt;i&gt;hijarah min sijjil &lt;/i&gt;pada kasus Tentara Gajah dilempar oleh nasib buruk bertubi-tubi yang mereka alami, &lt;i&gt;thayr ababil&lt;/i&gt;, maka pada kasus penghancuran kaum Luth, &lt;i&gt;hijarah min sijjil&lt;/i&gt;, dihujankan langsung dari langit. Kita akan menemukan ekspresi serupa dari term "dihujankan langsung dari langit" padanan kasus Luth ini di 8:32. Pada ayat ini, para kafir Quraysy dengan sombong&amp;nbsp;meminta Nabi SAW untuk menurunkan azab berupa hujan batu dari langit sebagai salah satu bukti kenabiannya. Permintaan kafir Quraysy ini jelas sebuah permintaan literal dan bukan figuratif, karena mereka benar-benar mengharapkan bukti fisik yang tidak terbantahkan, dan bukan retorika bagi kebenaran pesan yang disiarkan oleh Nabi SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Rekonstruksi Logis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pemaparan di atas, setidaknya kita bisa sampai pada gambaran besar tentang proses kehancuran Tentara Gajah. Hal pertama yang dapat kita simpulkan adalah, bahwa proses penghancuran tersebut bersifat gradual dan tidak terjadi secara instan. Medan yang jauh dan ekstrim yang harus ditempuh oleh balatentara Abrahah, dan juga ambisinya untuk memamerkan kekuatan pasukannya yang mencakup kavelari gajah yang sangat boros air untuk melewati tanah tandus Arabia, rupanya menjadi bumerang bagi keselamatan seluruh anggota ekspedisi. Berkali-kali pasukan itu ditimpa musibah sehingga melemahkan fisik dan moral para personel yang ikut serta didalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggunaan term&lt;i&gt; thayran ababil&lt;/i&gt;, yang bermakna nasib buruk yang datang bertubi-tubi menjelaskan rasionalisasi dari kehancuran gradual pasukan Abrahah tersebut. Kata &lt;i&gt;thayran&lt;/i&gt; dalam term &lt;i&gt;thayran ababil&lt;/i&gt;, sendiri memang lebih tepat diterjemahkan sebagai kesialan, atau nasib buruk, karena term yang muncul di ayat selanjutnya merupakan term figuratif ketimbang literal. Bahkan, meski term &lt;i&gt;hijarah min sijjil&lt;/i&gt; kita artikan secara literal, maka kemungkinan logis untuk mengartikan &lt;i&gt;thayran&lt;/i&gt; secara figuratif masih bisa diterima. Hal ini karena fungsinya sebagai perantara bagi kejadian berikutnya sangat signifikan. Ketika digandeng dengan kata &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt;, yang dapat diartikan gelombang demi gelombang, atau bertubi-tubi, maka statusnya yang indefinitif tanpa artikel &lt;i&gt;al-&lt;/i&gt;, mengindikasikan variasi kesialan yang hanya dapat diketahui oleh bala tentara yang ikut serta dalam ekspedisi tersebut. Puncak dari segala kesialan yang diterima Tentara Gajah ini, tak lain dan tidak bukan adalah menyebarnya wabah menular berupa penyakit cacar ke seluruh anggota pasukan. Peristiwa ini sendiri dikenal sebagai&lt;i&gt; hijarah min sijjil&lt;/i&gt;, yang berujung pada kematian anggota pasukan tersebut satu persatu. Oleh Quran, gambaran kehancuran ini dianalogikan seperti dedaunan yang terserang hama, kering dan rapuh. &lt;i&gt;Faja'alahum ka 'ashfin ma'kul&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui pemaknaan dengan jaring-jaring semantik ini, kita pun sampai kepada penulisan ulang narasi Quran akan surat al-Fil. Dalam artikel ini, saya mencoba merekonstruksi terjemahan dalam bahasa Indonesia agar lebih mampu dipahami menurut nalar modern. Term-term yang bersifat jargon, seperti &lt;i&gt;ababil&lt;/i&gt;, diterjemahkan langsung sesuai pendapat para penafsir tradisional yang menganggapnya sebagai sebuah &lt;i&gt;noun&lt;/i&gt; daripada &lt;i&gt;proper noun&lt;/i&gt;. Sedangkan kata &lt;i&gt;thayr&lt;/i&gt; yang biasa diterjemahkan dengan burung, diganti dengan salah satu kemungkinan logis dari kata tersebut, yakni kesialan. Dalam bahasa Indonesia, kata kesialan jelas lebih mudah dipahami ketimbang nasib buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Term lainnya, seperti "bebatuan dari neraka" yang kita temukan pada beberapa terjemahan Quran dalam bahasa Indonesia masih tetap dipertahankan, meski harus diberi tanda kutip. Perubahan cara penulisan term ini menunjukkan bahwa term tersebut adalah sebuah term figuratif yang terbuka untuk penafsiran yang jauh lebih baru. Usaha untuk mengganti term "bebatuan dari neraka" dengan makna literalnya, seperti "bisul-bisul yang membakar", dalam hemat saya justru membatasi kemungkinan logis yang dapat saja muncul atas term tersebut, selain tentunya mengurangi nilai estetik yang didapat. Untuk lebih jelasnya, berikut penulisan ulang terjemah surat Al-fil dalam bahasa Indonesia yang saya usulkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
Tidakkah kamu memperhatikan apa yang diperbuat Tuhanmu terhadap Tentara Gajah? (105:1)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
Bukankah Dia telah menggagalkan tipu daya mereka? (105:2)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
Dan mengirimkan kesialan yang datang silih berganti. (105:3)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
yang menyerang mereka dengan "bebatuan dari neraka" (105:4)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
Maka Dia menjadikan mereka laksana dedaunan yang terserang hama. (105:5)&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah A'lam bi al-shawwab&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-127359199830421079?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/127359199830421079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/menafsir-surat-al-fil-sebuah-tinjauan_19.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/127359199830421079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/127359199830421079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/menafsir-surat-al-fil-sebuah-tinjauan_19.html' title='Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis &amp; Semantik (2)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-h6w6OP-UTGE/TnmtSpkI-qI/AAAAAAAABhM/Zr_AD_Gj2sE/s72-c/tafsir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2684168541654273395</id><published>2011-09-13T16:02:00.000+07:00</published><updated>2011-09-21T16:30:07.080+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inter-religious study'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='history'/><title type='text'>Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis &amp; Semantik (1)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-h6w6OP-UTGE/TnmtSpkI-qI/AAAAAAAABhM/Zr_AD_Gj2sE/s1600/tafsir.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://3.bp.blogspot.com/-h6w6OP-UTGE/TnmtSpkI-qI/AAAAAAAABhM/Zr_AD_Gj2sE/s320/tafsir.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Setiap pembacaan atas surat ke-105 dalam Quran ini benar-benar penuh intrik. Permasalahan yang utama adalah posisi surat &lt;i&gt;Al-Fil&lt;/i&gt; yang berada di penghujung Quran membuat surat ini begitu populer. Bahkan sejak usia dini, hampir seluruh umat muslim telah hafal surat tersebut. Kisahnya yang imajinatif direproduksi terus menerus oleh guru agama, dan menjadi bagian dari &lt;i&gt;pop culture&lt;/i&gt; yang terus dipahami demikian, bahkan hingga dewasa. Beberapa ada yang mempertanyakan historisitas kisah ini berdasarkan logika dewasa mereka, namun sebagian besar masih memegang makna yang mereka cerap saat kanak-kanak.&amp;nbsp;Disparitas makna yang lebar inilah yang membuat setiap penafsiran terhadap surat &lt;i&gt;Al-Fil&lt;/i&gt; bermasalah. Adakah burung &lt;i&gt;Ababil&lt;/i&gt;? Bagaimana burung itu mencapai neraka dan membawa bebatuan dari sana? Haruskah kita memahami surat tersebut secara figuratif atau literal? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi penting inilah yang membuat usaha untuk memaknai surat &lt;i&gt;Al-Fil&lt;/i&gt; dalam nalar modern menjadi penuh tantangan. Namun sebelum kita beranjak kedalam diskusi menarik mengenai &lt;i&gt;state of affair&lt;/i&gt; ayat tersebut, ada baiknya kita melakukan survey singkat atas wilayah geografis dimana semua kejadian ini bermula, Yaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Yaman dalam Quran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wilayah yang dikenal sebagai Arabia Felix (Arab Sejahtera) ini bukanlah sesuatu yang asing dalam &lt;i&gt;oikumene&lt;/i&gt; Quran. Setidaknya terdapat beberapa kejadian, nama tokoh dan tempat dalam Quran yang mengambil seting di daerah yang berada di ujung selatan dari jazirah Arab tersebut. Sebut saja kota Iram bangsa Ad, ratu Bilqis, negeri Saba, kaum Tubba', &lt;i&gt;Ashhabul Ukhdud&lt;/i&gt;, hingga &lt;i&gt;sayl 'arim&lt;/i&gt;. Dalam surat &lt;i&gt;al-Quraysh &lt;/i&gt;(Q. 106) nama Yaman disebutkan secara simbolik sebagai tujuan perdagangan saudagar Makkah di musim dingin.&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Lebih dari itu, salah satu nama tuhan pra-Islam masyarakat Yaman, &lt;i&gt;Al-Rahman&lt;/i&gt;, diabadikan sebagai salah satu &lt;i&gt;al-Asma' al-Husna&lt;/i&gt; dalam Quran, menunjukkan familiaritas yang intim antara Quran dan wawasan geografis wilayah sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan Hijaz yang kering kerontang, Yaman diberkati dengan kesuburan tanah yang membuat wilayah tersebut mampu mengembangkan kultur pertanian yang kuat dan menopang struktur masyarakat yang jauh lebih kompleks. Kekuatan agrikultur Yaman ini disokong oleh keberadaan dam Ma'rib yang dikenal sebagai salah satu keajaiban dunia kuno. Air dari dam ini mensuplai kebutuhan irigasi ladang-ladang sogrum dan perkebunan rempah-rempah serta tumbuhan wewangian. Berbagai produk hulu dan hilirnya seperti damar yang digunakan sebagai sesajen dalam pelbagai ritus keagamaan agama-agama purba inilah yang menjadi komoditas ekspor utama Yaman. Harganya yang naik berkali-kali lipat di pasar-pasar Jerussalem dan Roma membawa surplus perdagangan yang besar dan menarik kedatangan para saudagar untuk datang ke negeri tersebut. Dampak dari kemakmuran ini adalah rendahnya angka kriminalitas dan meningkatnya kemakmuran seantero negeri. Quran menggambarkan kemakmuran Yaman dengan istilah yang sangat akrab,&amp;nbsp;&lt;i&gt;baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur&lt;/i&gt;, Q. 34:15.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, kemewahan yang dirasakan penduduk Yaman tidak bertahan abadi. Seiring dengan naiknya status agama Kristen menjadi agama resmi Romawi pada 325, lambat laun kebiasaan membakar dupa dalam ritus keagamaan semakin berkurang. Hal ini menyebabkan turunnya permintaan akan wewangian sehingga turut pula mempengaruhi stabilitas ekonomi negeri Yaman. Meski demikian, faktor utama yang memberikan andil lebih besar bagi merosotnya ekonomi kawasan adalah kerusakan dam Ma'rib. Sejak 449 bendungan tua ini telah berkali-kali mengalami kerusakan, dan meski telah diperbaiki berkali-kali pula, namun kondisinya tidak semaksimal masa jayanya. Faktor terakhir yang juga penting bagi perubahan iklim sosial politik wilayah tersebut adalah dari konversi kalangan elit Himyar, yang merupakan penguasa dominan Yaman sejak abad keempat, menjadi pemeluk agama Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak alasan, mengapa kaum Tubba' ini beralih memeluk agama Yahudi. Penyebab paling utama adalah, penegasan akan independensi kerajaan Himyar dari pengaruh asing. Perseteruan tanpa akhir antara dua kerajaan adidaya, Byzantium dan Sasaniyah, yang mewarisi perseteruan lama antara Romawi-Persia, menarik negara-negara sekitar kedalam poros permusuhan yang saling berlawanan. Posisi agama Kristen yang menjadi agama resmi Byzantium jelas merupakan opsi yang tidak menarik bagi penguasa Himyar, demikian pula Zoroasterianisme yang menjadi agama resmi kerajaan Sasaniyah. Dalam hal geopolitik, pilihan untuk memeluk agama Yahudi jelas sebuah keputusan yang tepat karena memelihara hubungan dagang dengan kedua kerajaa tersebut, selain tentunya akar semitik agama Yahudi yang membuatnya mampu diterima masyarakat Arab dengan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai tahap ini, kita tidak melihat adanya ancaman bagi stabilitas keamanan regional. Lain halnya, jika kita melihatnya dari kacamata para pemeluk agama baru ini yang terancam oleh laju pertumbuhan agama Kristen. &amp;nbsp; Pada 340, salah satu kerajaan Kristen terdekat, Aksum, menginvansi Yaman untuk pertama kalinya dan menganeksasi salah satu kota utama di wilayah tersebut, Najran. Di kota ini, misi-misi Kristen berlangsung dengan gencar, dan berhasil mengkonversi penduduk lokal untuk memeluk agama tersebut. Agresivitas penyebaran agama Kristen inilah yang melatarbelakangi peristiwa utama yang menjadi titik balik kekuasaan di Yaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Prekuel Narasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sekitar tahun 518 raja terakhir dinasti Himyar, Dzu Nuwas (Yusuf Asar Ya'tsar), mengumumkan perang terhadap agama Kristen. Bersama bala tentaranya, ia menghancurkan benteng pertahanan Aksum di Zhafar dan membantai pemeluk agama Kristen di benteng tersebut, hal serupa juga ia lakukan di kota Najran. Setidaknya 20.000 pemeluk agama Kristen terbunuh dalam pembantaian itu. Peristiwa tersebut mengundang reaksi dari pihak Byzantium, namun karena letak geografis Yaman yang sangat jauh, membuat pengiriman ekspedisi militer menjadi sangat mahal dan penuh resiko. Sebagai alternatif, kaisar Byzantium Justin I, mengirim surat kepada raja Aksum untuk memerangi kerajaan Himyar dan melindungi umat Kristen di Yaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaleb, raja Aksum saat itu, yang berambisi menaklukkan Arabia, mengirimkan ekspedisi militer ke Himyar. Setelah melalui petempuran sengit, pasukan Ethiopia tersebut akhirnya berhasil menaklukkan Yaman dan mengakhiri kekeuasaan kerajaan Himyar untuk selamanya. Peristiwa besar ini direkam oleh Quran dalam surat al-Buruj (85):4-9. Dalam rangkaian ayat tersebut, Dzu Nuwas dan bala tentaranya digambarkan sebagai &lt;i&gt;Ashhabul Ukhdud&lt;/i&gt;, orang-orang yang menggali parit panjang, yang digunakan sebagai tempat untuk mengeksekusi umat Kristen yang menolak keluar dari agamanya. Yang tidak kalah menarik adalah atribusi Quran kepada para penganut agama Kristen ini. Oleh Quran mereka digambarkan sebagai kaum yang beriman kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang teologis, penganut Kristen Najran berasal dari Gereja Timur. Doktrin utama mereka adalah Nestorianisme, yang percaya bahwa Isa memiliki dua esensi yang berbeda. Yakni esensi ketuhanan dan esensi manusia. Sedangkan bala tentara Aksum yang berasal dari Ethiopia, merupakan penganut Kristen Koptik. Doktrin ketuhanan mereka adalah miafisit yang menganggap bahwa Isa memiliki dua esensi yang saling menyatu dan tidak dapat dipisahkan, yakni esensi ketuhanan dan esensi kemanusiaan. Meski berbeda dalam soal konseptual tersebut, tapi kedua gereja ini sama-sama menganggap Isa sebagai anak Tuhan. Dikemudian hari, Nabi SAW melakukan perjanjian dengan Kristen Najran yang masih tersisa dan mewajibkan mereka untuk membayar jizyah.Perjanjian itu kemudian berakhir pada era Umar ibn Khattab yang diikuti dengan migrasi beberapa anggota komunitas keagamaan tersebut ke Kufah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berhasil menaklukkan Yaman, Kaleb kemudian mengangkat seorang tokoh terkemuka Kristen Himyar, Esimiphaeus (Sumuafa' Asyawa) menjadi gubernur Yaman. Namun salah seorang jendral perangnya, Abrahah, tidak puas dengan keputusan raja dan melakukan kudeta terhadap Esimiphaeus. Mengetahui hal tersebut, Kaleb kemudian mengirimkan pasukan kedua yang dipimpin oleh Ariat untuk menyingkirkan Abrahah. Sayangnya, pasukan kedua ini gagal, sedang jendralnya pun terbunuh. Sejak saat itu, Abrahah mempermaklumkan dirinya sebagai raja (lebih tepat gubernur Aksum, &lt;i&gt;viceroy&lt;/i&gt;) atas Yaman. Merasa tidak mampu menyingkirkan Abrahah, Kaleb pun mengakui kekuasaan jendral perangnya itu sembari mewajibkannya untuk membayar upeti tahunan ke Ethiopia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama menjadi penguasa Yaman, Abrahah melakukan perbaikan di negeri itu. Ia memperbaiki dam Ma'rib untuk yang terakhir kalinya, menerima utusan dari kerajaan-kerajaan utama guna meningkatkan hubungan dagang, dan membangun sebuah katedral besar di San'a. Sebagaimana umat Kristen pada masanya, Abrahah juga berambisi untuk menyebarkan ajaran Kristen di seluruh penjuru jazirah Arabia. Ambisi keagamaannya inilah yang kemudian melatarbelakangi peristiwa penting yang menjadi tema dari surat &lt;i&gt;al-Fil&lt;/i&gt; (105), ekspedisi untuk menghancurkan Ka'bah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ekspedisi Abrahah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Laporan tentang ekspedisi militer Abrahah ke Makkah terdokumentasikan dengan baik dalam catatan sejarah Thabari. Ia menggambarkan sentimen yang muncul di kalangan masyarakat Arab pagan yang setahap demi setahap mulai berubah menjadi semangat patriotisme untuk membela aset nasional mereka. Reaksi pertama yang muncul atas rencana penghancuran Makkah datang dari seorang Arab badui bernama Dzu Nufar yang menyerukan perlawanan terhadap bala tentara Abrahah.&amp;nbsp;Tapi serangan sporadis Dzu Nufar itu dapat segera taklukkan oleh pasukan Abrahah. Ia pun ditangkap dan dijadikan tawanan setelah bertarung dengan gagah berani mewalan ratusan tentara yang mengepungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan Dzu Nufar, masyarakat Thaif yang tahu bahwa tujuan Abrahan yang sebenarnya adalah untuk menghancurkan Ka’bah dan bukan rumah mereka, bekerja sama dengan pasukan Aksum untuk menjadi penunjuk jalan ke Makkah. Ketika sampai di pinggiran kota Makkah, Abrahah mengirim sejumlah pasukan berkuda untuk menjarah berbagai kawanan &amp;nbsp;ternak milik suku Quraisy yang tengah merumput. Para utusan itu kembali dengan &amp;nbsp;sejumlah hewan ternak dan ratusan unta milik seorang tetua kota tersebut, Abdul Muthallib. Orang-orang Quraisy dan sejumlah penduduk Makkah awalnya berpikir untuk melawan dan mempertahankan kota mereka dari agresi Abrahah, tapi saat mereka &amp;nbsp;menyadari bahwa kekuatan mereka bukanlah tandingan bala tentara Aksum yang sangat besar itu mereka pun mengurungkan niat untuk berperang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar tidak terjadi salah paham, Abrahah mengirimkan utusannya ke kota untuk mengundang para tetua Makkah, termasuk Abdul Muthallib dan putera-puteranya ke tenda Abrahah dan berbicara langsung kepada sang raja. Di perkemahan, Abrahah menerima Abdul Muthallib dengan baik dan mengembalikan unta-untanya yang telah dirampas. Dalam pertemuan tersebut, ia mengutarakan bahwa maksud kedatangannya itu bukanlah untuk berperang dengan penduduk Makkah akan tetapi hanya untuk menghancurkan Ka’bah semata. Karena niatnya sudah bulat, bahkan setelah Abdul Muthalib bernegosiasi untuk memberikan upeti tahunan berupa sepertiga hasil panen provinsi Tihamah kepada kerajaan Aksum, maka para perwakilan kota Makkah pun kembali pulang dengan hati &amp;nbsp;hampa. Mereka kemudian memerintahkan penduduk kota untuk mengungsi keluar dan merelakan Ka’bah dihancurkan oleh pasukan besar Abrahah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai poin ini, narasi mengenai penyerbuan Abrahah ke Makkah berubah menjadi penafsiran tentang surat &lt;i&gt;al-Fil&lt;/i&gt;. Beberapa ada yang mengisahkannya secara dramatis dengan menggambarkan turunnya burung-burung dari langit membawa bebatuan terbakar dan melemparkannya ke pasukan Abrahah dengan detil dan penafsiran yang bermacam-macam. Dan beberapa ada yang menyebutkan merebaknya sebuah penyakit aneh diantara bala tentara tersebut sebagai penyebab kegagalan ekspedisi militer Abrahah. Yang patut diperhatikan adalah laporan mengenai kemunculan wabah cacar yang membinasakan pasukan Gajah itu. Sayangnya, tidak ada satupun laporan sejarah tadi yang dapat dibuktikan secara otentik. Pengetahuan yang kita dapat saat ini dari prasasti tentang Abrahah tidak menyebutkan bagaimana ekspedisi militer ke Makkah bisa gagal, sehingga pengetahuan tentang hal tersebut hanya bisa kita dapatkan dari tradisi semata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2684168541654273395?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2684168541654273395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/menafsir-surat-al-fil-sebuah-tinjauan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2684168541654273395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2684168541654273395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/menafsir-surat-al-fil-sebuah-tinjauan.html' title='Menafsir Surat al-Fil: Sebuah Tinjauan Historis &amp; Semantik (1)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-h6w6OP-UTGE/TnmtSpkI-qI/AAAAAAAABhM/Zr_AD_Gj2sE/s72-c/tafsir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-6125423206142533572</id><published>2011-09-05T09:54:00.000+07:00</published><updated>2011-09-21T16:37:41.190+07:00</updated><title type='text'>Memahami Narasi Al-Quran tentang Hari Raya (1)</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-aV_C63yVcbc/TnmvujMBo5I/AAAAAAAABhQ/b2PFzkQuMJM/s1600/Greenshot_2011-09-21_16-32-49.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-aV_C63yVcbc/TnmvujMBo5I/AAAAAAAABhQ/b2PFzkQuMJM/s320/Greenshot_2011-09-21_16-32-49.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Untuk hadits online dalam bahasa Indonesia &lt;br /&gt;dapat dibuka di http://id.lidwa.com/app/&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Berapa harga sebuah hari raya? Dalam dunia modern yang penuh dengan komodifikasi, pertanyaan yang mengemuka tentang makna hari raya memang pantas kita lontarkan. Mulai dari latar belakang ekonomi yang spektakuler; klaim dan otoritas; perpindahan manusia, barang dan jasa; hingga ingar bingar wacana di layar kaca dan dunia maya. Hari raya Idul Fitri jelas sebuah perayaan akbar yang menyita perhatian banyak pihak di negara ini. Bukan saja karena makna hari tersebut yang sangat penting bagi miliaran umat Islam (terutama di Indonesia), tapi juga keterputusan semantik term&amp;nbsp;&lt;i&gt;'idul fithri&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam Quran.&lt;br /&gt;
Terdapat kontras yang tajam antara Idul Fitri sebagai sebuah fenomena sosial, dengan Idul Fitri sebagai fenomena kitab suci. Kita akan segera memahami keretakan epistemologis ini tatkala kita mencari ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan kata&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;, atau setidaknya memuat tema tentang hari raya. Dari 63 kata &lt;i&gt;'wd, &lt;/i&gt;yang menjadi akar dari kata &lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam Quran, hanya ada satu ayat yang merujuk secara jelas makna literal kata tersebut, yakni Q. 5:114. Itupun tidak menandakan hubungan apa-apa dengan hari raya umat Islam, karena mengacu pada permintaan Isa agar Tuhan menjadikan peristiwa perjamuannya dengan para &lt;i&gt;hawari&lt;/i&gt; sebagai festival, hari raya dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;bagi para pengikutnya. Ketiadaan penyebutan kata&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;membawa masalah tersendiri dalam pendefinisian makna kata tersebut, apalagi jika kita benar-benar berhasrat untuk mengetahui geneologi perayaan Idul Fitri. Jika demikian,&amp;nbsp;lalu darimana asal makna perayaan Idul Fitri sebagaimana kita persepsi saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Fitri vs. Fitrah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mungkin terdengar berlebihan, tapi pengetahuan yang kita dapat tentang hari raya Idul Fitri justru berasal dari sumber-sumber ekstra-Quran, dalam hal ini al-sunnah. Konsep paling terkenal tentang Idul Fitri adalah ide bahwa hari tersebut merupakan hari di mana dosa-dosa umat Muslim diampuni oleh Tuhan sehingga dirinya benar-benar suci, sebagaimana saat ia dilahirkan pertama kali ke dunia ini. Idul Fitri dalam konsep ini dimaknai sebagai sebuah&lt;i&gt; rite of passage&lt;/i&gt;, atau even yang menandai kemajuan status keimanan seseorang dari yang sebelumnya berlumuran dosa, menjadi lebih tersucikan dan tercerahkan. &lt;i&gt;Multiplying effect&lt;/i&gt; dari konsep &lt;i&gt;fithri&lt;/i&gt; sebagai &lt;i&gt;fithrah&lt;/i&gt; sebagai kesucian adalah hadirnya institusi-institusi sosial pasca Ramadhan yang berkaitan dengan proses konsolidasi sosial, seperti sungkeman, mudik, dan Halal bihalal. Kehadiran institusi tersebut dapat diartikan sebagai penyucian dosa-dosa sosial, setelah sebelumnya dosa-dosa pribadi telah berhasil dibersihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memaknai Idul Fitri sebagai sebuah &lt;i&gt;rite of passage&lt;/i&gt; merupakan ide yang secara natural dipahami oleh setiap komunitas di muka bumi ini. Mungkin karena penyamaan inilah, konsep pertama kita tentang Idul Fitri dapat dengan mudah diterima oleh bangsa-bangsa di luar Arab, dan sebagaimana kita saksikan bersama, hal tersebut diapresiasi dengan sangat tinggi di Indonesia yang sangat kental kultur kekeluargaannya. Meski demikian, penyamaan &lt;i&gt;fithri&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;fithrah&lt;/i&gt; yang menjadi paradigma dasar even sosial itu ternyata bermasalah dengan semantik. Kata fitri dalam term Idul Fitri justru lebih dekat maknanya dengan berbuka daripada fitrah yang kerap dimaknai kesucian. Pendapat kedua ini setidaknya dikonfirmasi oleh sebuah hadits yang mendefinisikan &lt;i&gt;shawm&lt;/i&gt; sebagai saat umat Muslim berpuasa dan Idul Fitri saat mereka berbuka, &lt;i&gt;'idul fithr&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berarti kembali berbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meretasnya konsep Idul Fitri kedua kita ini memberikan alternatif baru bagi persepsi kita mengenai hari raya. Dalam maknanya yang terluas, ia dapat dianggap sebagai sebuah dekonstruksi atas konsep pertama. Bahwa&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tidak lebih dari peristiwa pembatalan puasa belaka tanpa &lt;i&gt;embel-embel&lt;/i&gt; penebusan dosa sebagaimana dipahami sebelumnya, sudah lebih dari cukup untuk mendegradasi makna Idul Fitri dalam perspektif sosiologis. Dalam konsep ini,&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tidak dipahami sebagai sebuah klimaks (dalam perspektif spiritualitas ia bahkan bahkan dapat diartikan sebagai anti-klimaks dari pencarian &lt;i&gt;Laylatul Qadr&lt;/i&gt; di akhir Ramadhan), melainkan sebuah keterputusan dari proses panjang bernama Ramadhan yang berakhir bersamaan dengan kemunculan hilal di langit Syawwal. Efek terbesar yang muncul dari konsep kedua ini, tentu saja menemukan pengganti makna metafisis yang telah tertanam kuat dalam konsep pertama. Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah konsep kedua ini memiliki makna metafisis pengganti yang sebanding bagi makna metafisis yang telah terdekonstruksi? Untuk menjawab pertanyaan ini, mau tidak mau kita harus mengecek kembali konstruk Idul Fitri yang direpresentasikan oleh literatur hadits.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah riwayat dijelaskan, tatkala umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri, Abu Bakr yang melihat beberapa orang remaja bersenang-senang menyanyi dengan rebana bertanya kepada Rasulullah perihal perilaku mereka tersebut. Jawaban yang diberikan oleh Nabi SAW ternyata berbeda dari perkiraan awal Abu Bakr yang memandang nyanyian para remaja itu sebagai teriakan-teriakan setan yang tidak pantas dilakukan pada hari raya. Rasulullah SAW pun menenangkan Abu Bakr dan menjelaskan bahwa Idul Fitri &amp;nbsp;adalah hari raya umat Islam, dan karena ia adalah hari raya, maka bersenang-senang pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Nabi SAW pun membiarkan sahabatnya untuk bersenang-senang pada hari tersebut. Dari laporan ini setidaknya kita dapat mengetahui bahwa apa yang dimaksud oleh Nabi SAW sebagai hari raya tidak jauh berbeda dari yang dipahami oleh umat beragama lainnya. Yakni sebuah festival dan perayaan dimana semua orang turut bersuka cita di dalamnya. Sebagai sebuah perayaan, maka perilaku yang lazimnya dianggap "hedonis dan sekuler" pun diperbolehkan untuk dilakukan pada hari tersebut, seperti&amp;nbsp;menyanyikan lagu-lagu jahiliyah dan menabuh rebana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja persepsi Abu Bakr mengenai perilaku "hedonis dan sekuler" berbeda dari pemahaman kita saat ini yang telah terbiasa dengan lengkingan gitar elektrik, dan segala bentuk musik dan lagu yang melampaui imajinasi liar masa sahabat. Masalahnya adalah, apakah makna bersenang-senang seperti yang kita pahami saat ini masih dalam kerangka imajinasi &lt;i&gt;al-sabiqun al-awwalun&lt;/i&gt;? Mungkin juga pertanyaan ini tidaklah tepat, karena definisi dari hari raya tidak serta merta ditentukan dengan rasio sekuler - tidak sekuler pada era Nabi dan era modern. Apa yang ingin saya tunjukkan adalah bahwa&amp;nbsp;jika kita membandingkan konsep hari raya yang kita temukan dalam hadits-hadits Nabi dengan pemahaman mengenai hari raya dalam agama lainnya, maka kita akan menemukan fakta bahwa konsep hari raya dalam Islam jauh lebih sederhana dari yang semula kita sangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai perbandingan, konsep hari raya yang ada pada umat-umat di luar Islam senantiasa berkaitan dengan even-even tertentu dalam kehidupan figur utama agama tersebut. Misalnya perayaan Natal yang berhubungan dengan kelahiran Isa, atau perayaan &lt;i&gt;passover&lt;/i&gt; yang berkaitan dengan peristiwa keluarnya Bani Israil dari Mesir.&amp;nbsp;&lt;i&gt;'Id&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam konteks ini, kehilangan fitur-fitur utama yang membuatnya layak disebut sebagai sebuah hari raya, festival, melainkan hanya konsep turunan dari perayaan yang sesungguhnya, Ramadhan--sebagai bulan di mana Quran pertama kali diturunkan. Apabila fitur utama yang membuat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&amp;nbsp;&lt;/i&gt;kehilangan status festivalnya absen, lalu fitur apa yang semestinya kita sematkan pada hari raya Idul Fitri? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam karakter paling dasar dari Idul Fitri, yaitu shalat dan zakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Narasi dalam Shalat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menyamakan shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;dengan ritus misa dalam tradisi Kristen tentu bukan sesuatu yang bijak, karena pusat kesadaran dari kedua ritus tersebut sangat jauh berbeda. Namun menyimpulkan bahwa karakter shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;tidak jauh berbeda dari karakter shalat Jumat, yang merupakan hari utama umat Islam sebagaimana Ahad bagi umat Kristen, memiliki banyak argumentasi yang dapat yakini. Terlepas dari jumlah takbir di setiap rakaat shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;yang lebih banyak dari takbir di shalat Jumat, model kedua jenis shalat tersebut dapat dikatakan serupa. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari jumlah rakaat yang hanya dua, serta keberadaan 2 khutbah di kedua shalat tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara historis, perintah shalat Jumat maupun shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sama-sama turun&amp;nbsp;pada periode Madinah, dengan shalat Jumat sebagai shalat yang pertama kali diwajibkan daripada shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;. Meski turun lebih dahulu, tapi shalat Jumat memiliki sejarah formasi yang jauh lebih panjang. Dimulai dengan perubahan waktu khutbah dari semula dilakukan sebelum shalat menjadi setelahnya, hingga penambahan azan kedua yang baru dilakukan pada masa pemerintahan Utsman, boleh dikatakan shalat Jumat menjadi &lt;i&gt;template&lt;/i&gt; bagi shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;. Meski salinan dari shalat Jumat, tapi&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;merepresentasikan karakter shalat yang jauh lebih tua, yakni shalat fajr. Waktu shalat ini, yang berlangsung setelah matahari terbit, telah lama dikenal oleh penganut agama-agama lain sebagai waktu utama untuk berdoa. Terhitung agama Yahudi, Kristen, pagan Makkah, hingga agama-agama Timur, menganggap waktu tersebut sebagai &lt;i&gt;prime time&lt;/i&gt;&amp;nbsp;untuk memuji dan menyembah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu kita bisa berspekulasi, apakah shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;menandakan keterhubungan ajaran Islam dengan tradisi agama-agama tersebut atau tidak? Apapun jawabannya, satu hal yang bisa kita pahami bersama dari karakter shalat ini adalah, bahwa shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;tidak lain dan tidak bukan merupakan festival keagamaan sesungguhnya yang dirayakan pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini bisa kita cerap dari partisipasi semua unsur masyarakat, hingga perempuan yg tengah haid dan yang dipingit, dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Pelaksanaannya yang dilakukan di tanah lapang juga memperkuat hipotesis shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sebagai festival utama hari raya, meski ada yang menganggapnya sebagai bukti bahwa shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;merepresentasikan struktur shalat yang jauh lebih tua. Namun jika diperhatikan kembali, penunjukkan tanah lapang sebagai tempat utama untuk shalat lebih karena faktor kepraktisan belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Unsur berikutnya yang sangat menonjol dalam shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id &lt;/i&gt;adalah isi dari shalat tersebut. Sementara kita tidak memiliki catatan tertulis mengenai khutbah Rasulullah SAW, terdapat banyak riwayat yang melaporkan tentang ayat Quran yang sering dibaca oleh Nabi setiap melaksanakan shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;. Setidaknya ada dua surat yang menjadi favorit beliau untuk dibaca saat mengimami jamaah shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;. Kedua surat tersebut adalah Qaf (Q. 50) dan al-Qamar (Q. 54). Kenapa hanya ada dua surat favorit yang kerap dibaca setiap shalat&amp;nbsp;&lt;i&gt;'id&lt;/i&gt;? Apa pesan yang hendak disampaikan oleh keduanya? Adakah relasi kedua shalat tersebut dengan perintah berpuasa di bulan Ramadhan? Cara paling tepat untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan menguak kandungan kedua surat tadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-6125423206142533572?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/6125423206142533572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/memahami-narasi-al-quran-tentang-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6125423206142533572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6125423206142533572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/09/memahami-narasi-al-quran-tentang-hari.html' title='Memahami Narasi Al-Quran tentang Hari Raya (1)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-aV_C63yVcbc/TnmvujMBo5I/AAAAAAAABhQ/b2PFzkQuMJM/s72-c/Greenshot_2011-09-21_16-32-49.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-1259639399677566194</id><published>2011-08-02T15:14:00.000+07:00</published><updated>2011-09-21T15:48:07.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inter-religious study'/><title type='text'>Jejak Arkeologis Puasa dan Ramadhan dalam Al-Quran dan Sejarah</title><content type='html'>Kenapa berpuasa? Pertanyaan ini secara alamiah akan muncul saat kita membaca ayat-ayat Quran yang berhubungan dengan perintah untuk berpuasa. Dari enam serial ayat yang mengandung perintah untuk melakukan ibadah tersebut, lima diantaranya merupakan ayat-ayat penalti. Yakni ayat-ayat yang mengatur hukuman bagi seseorang yang telah melakukan kesalahan. Dua diantara ayat penalti ini berhubungan dengan ritual haji (Q. 2:196; 5:95), dua lainnya berkaitan dengan hubungan sosial: hubungan suami-istri (Q. 58:4) dan janji (Q. 5:89), serta satu berkaitan dengan tindak pidana pembunuhan (Q. 4:92). Yang menarik, perintah berpuasa dalam kelima ayat tersebut selalu menjadi alternatif terakhir, dari satu atau dua opsi pertama yang jauh lebih sulit yang secara umum berkaitan dengan uang dan makanan. Yakni mengeluarkan sedekah dalam jumlah tertentu, membebaskan budak, atau memberi makan orang-orang miskin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari statistik Quran ini, kita dapat menarik hipotesis pertama kita, bahwa tindak berpuasa pada awalnya adalah suatu bentuk hukuman primordial, bagi seseorang yang tidak memiliki sarana apa-apa untuk menebus kesalahan yang ia perbuat. Ia adalah hukuman fisik orang pertama, yakni hukuman yang berasal dari kesadaran diri sendiri, untuk membedakan dengan hukuman fisik orang kedua, seperti hukuman potong tangan, dan cambuk, yang memerlukan keberadaan orang kedua sebagai eksekutor pelaksanaan hukuman tersebut. Atau hukuman non fisik, macam denda membebaskan budak, dan memberi makan orang miskin, yang semuanya bersandar pada uang dan harta yang dimiliki si terhukum. Singkat kata, dalam jenis hukuman primordial ini, subjek diposisikan sebagai orang yang paling lemah, yang tidak mampu menebus kesalahan yg diperbuat selain melalui disiplin diri sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Di sini kita melihat tindak berpuasa sebagai sebuah &lt;i&gt;reflux&lt;/i&gt;, gerak balik, dari mengurangi apa yang kita miliki, menjadi membatasi hak asasi yang tidak bisa digugat, makan dan minum. Gerak balik dalam berpuasa ini menandakan sebuah keterikatan yang bersifat sangat pribadi. Yakni keberadaannya yang sangat subjektif, karena hanya bergantung kepada kesadaran pribadi semata. Dalam gradasi hukuman, berpuasa adalah sebuah batas terakhir yang menentukan apakah seseorang masih setia dengan institusi sosial tempat ia hidup ataukah tidak. Yang menarik, apabila kita hilangkan atribusi hukuman pada tindak berpuasa, kita justru melihat sebuah perubahan, dari tindak hukuman terendah, menjadi tindak kesetiaan tertinggi. Pada agama-agama kuno misalnya, ada tradisi bagi para calon pendeta untuk berpuasa sebelum naik peringkat menjadi pendeta utama. Dalam hal ini, puasa dianggap sebagai sebuah media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mungkin karena posisi puasa yang istimewa itulah, ayat tentang doa (Q. 2:186) diselipkan ditengah-tengah ayat tentang pewajiban puasa di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan "Puasa itu milikku (Tuhan) dan hanya Aku jua yang akan membalasnya". Puasa adalah tindak beribadah yang sangat istimewa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun jawaban paling jelas atas pertanyaan, "kenapa kita puasa?", hadir di ayat pertama dalam rangkaian ayat yang berisi perintah untuk puasa: Bahwa tindak berpuasa telah lama diwajibkan dalam agama-agama yang hadir terlebih dahulu dari Islam (Q. 2:183). Kita akan menemukan pembuktian pernyataan ayat tersebut dalam tradisi keagamaan umat beragama lain. Pemeluk agama Yahudi misalnya, berpuasa selama 25 jam, pada hari kesepuluh Tishrei atau yang dikenal dengan hari Yom Kippur, setiap tahunnya. Demikian juga pemeluk agama Kristen Timur, yang berpuasa selama 40 hari sebelum perayaan paskah. Di sini kita mencapai kesimpulan, bahwa meskipun tindak berpuasa adalah suatu bentuk ibadah yang istimewa, tapi ia bukanlah hal yang baru untuk dilaksanakan. Berpuasa telah menjadi tradisi dan praktek keagamaan yang lama dilakukan oleh umat beragama lain, meski dengan aturan yang berbeda-beda..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tuhan telah lama mewajibkan puasa, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa Ramadhan? Kenapa kita, sebagai umat Islam diwajibkan untuk berpuasa di bulan kesembilan dalam penanggalan hijriah ini? Apa yang istimewa dari bulan Ramadhan? Apabila kita bandingkan Ramadhan dengan bulan ke-11, 12, 1, dan 7 dalam penanggalan Hijrah---secara berturut-turut kita kenal sebagai bulan Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab, kita akan menemukan fakta bahwa dalam kelender Arab pagan, maupun Islam sekalipun, Ramadhan tidak memiliki status sebagai bulan haram. Bulan haram sendiri adalah institusi Arab pra-Islam yang dilembagakan untuk meredam pertumpahan darah yang kerap terjadi di jazirah tersebut. Pada bulan-bulan ini, setiap bentuk kekerasan dan peperangan dilarang. Festival keagamaan kuno, seperti umrah pada bulan Rajab pun dilakukan, demikian pula festival haji besar yang berlangsung pada Dzul Hijjah, dan bangsa Arab untuk sementara menikmati status sebagai bangsa beradab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti penanggalan Hijriah yang bersandar sepenuhnya kepada perubahan bayang-bayang bulan, kalender&lt;i&gt; lunar&lt;/i&gt;, pada masa Nabi bangsa Arab menggunakan penanggalan &lt;i&gt;lunisolar&lt;/i&gt; guna menentukan datangnya bulan-bulan haram tersebut. Penanggalan lunisolar ini adalah penanggalan hibrid yang menggabungkan penanggalan bulan yang bersandar pada perubahan bentuk bulan dengan penanggalan matahari yang bersandar pada perubahan musim. Karena jumlah hari dalam penanggalan bulan lebih sedikit dari jumlah hari berdasarkan penanggalan matahari, maka dibutuhkan penambahan hari untuk menjaga sinkronitas kalender bulan dengan kalender matahari. Maka pada tahun-tahun tertentu, selisih hari pun ditambahkan. Membuat jumlah hari pada Muharram berlipat ganda, dan tiga tahun kemudian penggandaan dilakukan di bulan Safar, dan tiga tahun kemudian ditambahkan pada bulan yang datang selanjutnya. Menyebabkan pergeseran bulan tidak dapat dielakkan. Imbas dari kekacauan perhitungan kalender ini adalah perubahan posisi Rajab, dari seharusnya bersesuaian dengan awal musim semi, menjadi berada pada awal musim gugur. Membuat institusi haram kehilangan kepastiannya, sehingga tradisi perompakan yang biasa dilakukan diluar bulan haram tidak mendapat hasil yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bulan haram terpenting adalah Muharram, ia bertepatan dengan Tishrei yang menjadi bulan suci bangsa Yahudi. Dalam penanggalan Yahudi yang juga menganut sistem lunisolar, Tishrei bertepatan dengan masa panen raya yang biasanya jatuh pada bulan September dan Oktober. Hari kesepuluh Tishrei dirayakan oleh bangsa Yahudi sebagai masa berpuasa untuk memperingati turunnya 10 perintah Tuhan kepada Musa atau biasa dinamakan sebagai Yom Kippur, Hari Pertobatan. Pada mulanya, perintah puasa bagi umat Islam dilakukan bersamaan dengan Hari Raya umat Yahudi tersebut. Jejak dari perubahan waktu berpuasa umat Islam ini bisa kita baca dari redaksi ayat 2:183-4 yang memperkenalkan perintah untuk berpuasa tanpa petunjuk khusus tentang waktu tertentu untuk melakukannya. Dalam banyak literatur, kedua ayat ini secara tidak langsung merujuk pada puasa 10 Muharram yang saat itu mengikuti perayaan Yom Kippur. Pengenalan Ramadhan sebagai waktu untuk berpuasa, baru hadir di ayat 2:185, yang merevisi term hari-hari tertentu, ayyam ma'dudat, pada Yom Kippur menjadi kewajiban berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Dikemudian hari, 10 Muharram mengalami modifikasi makna dikalangan muslim Syiah, menjadi hari untuk memperingati kematian Hussein pada perang Karbala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enam bulan setelah Muharram, ada Rajab yang merupakan satu-satunya bulan haram diluar 3 bulan haram yang saling berurutan. Ia hadir pada awal musim semi, sekitar Maret, dan berkorelasi dengan salah satu hari raya Yahudi dan Kristen. Dalam banyak peradaban kuno, awal musim semi atau akhir musim dingin selalu menjadi hari besar yang dirayakan. Dalam peradaban Cina, kita mengenal Imlek yang merayakan saat pergantian musim itu dan awal masa bercocok tanam. Dalam kalender Yahudi, awal musim semi ini dikenal dengan nama Nisan, didalamnya ada perayaan &lt;i&gt;Passover&lt;/i&gt;, yang memperingati keluarnya Musa dari Mesir. Passover dikemudian hari mengalami modifikasi makna oleh umat Kristen menjadi hari penyaliban dan kenaikan Isa ke langit, atau lebih dikenal sebagai perayaan Paskah. Kedudukan perayaan-perayaan besar di luar dunia Arab ini pada akhirnya mempengaruhi mereka dalam mempersepsi Rajab yang dirayakan didalamnya ibadah umrah, sekaligus menjadi festival pasar tahunan bangsa Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kita saksikan bersama, bahwa setiap bulan haram dalam penanggalan Arab pagan tadi berkorelasi dengan festival keagamaan di luar Islam, terutama Yahudi, maka Islam sebagai agama baru yang datang belakangan, membutuhkan redefinisi dan independensi dari anasir-anasir asing tersebut. Proses redifinisi ini sebenarnya telah bermula sejak pelembagaan shalat lima waktu yang secara definitif membedakan pola beribadah umat Islam dari pola peribadatan pagan Arab dan Yahudi. Proses selanjutnya yang juga penting adalah perubahan arah kiblat dari Yerussalem ke Makkah, menegaskan pemutusan total terhadap unsur-unsur Yahudi. Proses ketiga, yang tidak kalah pentingnya, dengan demikian adalah pelembagaan Ramadhan sebagai bulan berpuasa khusus umat Islam, diikuti dengan penghapusan penanggalan lunisolar, menjadi penanggalan lunar. Perubahan waktu ini menjadi sangat signifikan, karena bulan-bulan Islam yang baru tidak lagi terkait dengan kalender musim dan secara virtual mengelilingi bulan konvensional, membuat institusi bulan haram kehilangan makna sekulernya yang sangat tergantung pada ekonomi agraris wilayah-wilayah sekitar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila umat Yahudi berpuasa untuk merayakan turunnya 10 perintah Tuhan kepada Musa, dan umat Kristen berpuasa sebelum merayakan kebangkitan Isa ke langit, maka puasa pada bulan Ramadhan merupakan perayaan atas turunnya Quran untuk pertama kalinya. Kata Ramadhan sendiri, yang bermakna dasar memanas, menjadi begitu istimewa karena satu-satunya bulan yang namanya disebutkan dalam Quran. Sebagai sebuah perayaan, commomeration, maka praktek shalat malam yang dahulu pernah diwajibkan, diperkenalkan kembali pada bulan tersebut, meski dalam bentuk yang telah termodifikasi, menjadi shalat tarawih: secara literal berarti shalat dengan banyak istirahat. Tarawih dalam memori sebahagian sahabat jelas merupakan nostalgia akan masa-masa pewajiban shalat malam yang begitu berat dan sempat membuat mereka mengantuk di siang hari (Q. 73:20). Model berpuasa pada saat 10 Muharram juga mengalami perubahan saat Ramadhan. Jika sebelumnya umat Muslim berpuasa selama sepuluh hari menjelang hari besar itu dengan sangat ketat. Yakni tidak diperkenankan untuk berhubungan seks di malam hari, maka pada Ramadhan, kegiatan tersebut diperkenankan sebagai bentuk keringanan selain karena jumlah hari untuk berpuasa yang tiga kali lebih panjang dari sebelumnya (Q. 2:187).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun kesepuluh Hijrah, sebelum perayaan Haji Wada, redefinisi ritual dalam Islam telah tuntas bersamaan dengan turunnya ayat mengenai pelarangan nasi' atau penambahan hari dalam kalender tahunan (Q. 9:36-7). Islam sejak saat itu telah berjalan diatas kalender lunar baru yang terlepas sepenuhnya dari kalender musim pagan Arab yang kacau dan kalender lunisolar Yahudi, demikian juga Kristen. Disinilah kita bisa memahami makna dari ayat terakhir yang turun pada saat haji Wada (Q. 5:3), bahwa Tuhan telah melengkapi agama Islam dan merestuinya sebagai agama yang sah. Dalam arti agama yang mandiri dan bukan cabang atau sekte dari agama Yahudi maupun Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat berpuasa, semoga Tuhan menerima ibadah kita semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-1259639399677566194?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/1259639399677566194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/08/jejak-arkeologis-puasa-dan-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1259639399677566194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1259639399677566194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/08/jejak-arkeologis-puasa-dan-ramadhan.html' title='Jejak Arkeologis Puasa dan Ramadhan dalam Al-Quran dan Sejarah'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-7331507109359408699</id><published>2011-07-19T23:40:00.000+07:00</published><updated>2011-07-19T23:40:29.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><title type='text'>Masuk UGD (1)</title><content type='html'>Semuanya bermula pada hari Sabtu lalu (16/7), ketika saya, adik, dan sepupu menghabiskan akhir pekan di kolam renang. Kondisi badan saya saat itu memang tidak benar-beanar fit. Malam hari, sepulang dari kantor, saya tidak lekas istirahat, tapi sibuk membenahi masalah driver di komputer yang baru bisa diatasi pada pukul 3.35 dini hari. Setelah itu, saya hanya tidur sebentar dan hampir saja lupa kalau pada pagi harinya saya ada janji untuk pergi ke kolam renang bersama sepupu. Akibat jam istirahat yang kurang, maka mudah saja saya terpapar flu. Jadilah hingga pukul 8 pagi saya belum beranjak dari tempat tidur. Sementara adik dan sepupu saya dengan suka cita pergi ke kolam renang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya, niat untuk berenang mengalahkan kondisi tubuh saya yg kurang fit saat itu. Saya pun berusaha semampu mungkin untuk dapat pulih dengan melakukan gerak tubuh ringan di kamar. Untungnya, tubuh saya dapat segera beradaptasi dengan keinginan otak saya. Setelah merasa mampu untuk beranjak dari tempat tidur, saya pun segera meraih sepeda dan memulai pemanasan 20 menit sambil menuju ke kolam renang untuk bergabung dengan adik-adik saya di sana, dan jadilah pada pukul 9 pagi hari itu saya memenuhi janji saya untuk berenang bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tidak ada yang dapat menebak apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun mengingat kondisi tubuh yang belum benar-benar fit, saya pada mulanya beranggapan jika saya hanya akan duduk-duduk saja di pinggir kolam menonton dua bocah itu dengan senangnya berenang-renang di depan saya. Rupanya, daya pikat kolam sekali lagi mengalahkan suasana tubuh yang belum siap itu. Dengan serta merta saya pun turut bergabung untuk berenang bersama mereka, melupakan kondisi tubuh yang tidak disetting untuk berolahraga. Hasilnya ternyata sangat menakjubkan. Saya bisa berenang dengan menggabungkan gaya bebas dan gaya punggung untuk pertama kalinya tanpa terputus. Hari itu juga, saya sudah dapat berenang gaya punggung tanpa harus menggunakan penjepit hidung. Benar-benar sebuah kemajuan yang pesat, mengingat pada Kamis sebelumnya, saya sama sekali tidak dapat melakukan kedua hal tersebut. Hidup ini benar-benar penuh dengan kejutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah karena terlalu bersemangat atau karena saya sangat enjoy pada saat itu, tanpa saya sadari, saya telah memforsir tenaga saya melakukan kedua penemuan baru tersebut--meski masih enggan berenang di kolam 2 meter. Saya pikir itu cuma masalah waktu saja, tapi tidak untuk saat itu. Jadilah sekeluar dari kolam saya mulai merasakan rasa sakit di dada kiri saya. Seperti biasa saya menganggap itu sakit dada biasa, tapi setelah beberapa hari lewat tidak kunjung sembuh, saya jadi curiga ada yang bermasalah dengan jantung saya. Kebetulan, pada hari Ahad keesokan harinya, saya mendapat musibah kecelakaan di depan kantor. Memang tidak ada luka yang tergolong parah, hanya lecet-lecet di jemari dan telapak tangan saja. Tapi yang saya takutkan bukan soal kecelakaan itu, melainkan masalah sakit di dada kiri yang masih tetap ada, bahkan tambah parah paska kecelakaan. Untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada masalah yang berarti, maka pada Selasa (19/7) saya pun segera pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang yang pernah bekerja di dunia farmasi, saya tahu jika rasa nyeri di dada tidak boleh diabaikan begitu saja. Ia bisa merupakan indikasi dari penyakit serius macam jantung, meski ada kemungkinan lain yang lebih ringan, macam spasma otot dada. Hanya, mana dari dua kemungkinan ini yang benar-benar menimpa diri saya? Memang ada orang yang mampu membedakan antara rasa nyeri akibat ketegangan otot dengan rasa nyeri akibat infark miokard di jantung. Tapi siapa sih yang mampu membedakan kosa kata nyeri dan sakit yang menimpa dirinya? Iya, kita tahu apa itu rasa nyeri dan bagaimana sakit, tapi perasaan kita kan tidak serta merta mengkorelasikan apa yang kita alami dengan kapasitas linguistik yang kita kuasai. Dalam kondisi subjektif ini, kita pasti akan terjerat kedalam solipsisme. Dan sungguh, debat filosofis ini tidak akan memecahkan masalah yang terjadi pada diri saya. Saya butuh penilaian yang lebih objektif dan empirik untuk mendiagnosis kondisi yang terjadi di dada kiri saya itu. Tempat paling tepat untuk mengetahui jawabannya adalah rumah sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selepas Isya, saya pun segera berangkat ke RS. Global untuk mengecek kondisi dada saya itu. Kebetulan saya pernah berobat di sana sebelumnya, dan rumah sakit tersebut masuk dalam daftar asuransi kesehatan kantor. Jadi tidak terlalu risau soal biaya pengobatan. Setelah menyelesaikan soal administrasi, saya pun diminta untuk menunggu giliran masuk ke kamar dokter. Sambil menunggu, suster melakukan pengecekkan tekanan darah dan menimbang berat badan saya. Saya tidak terlalu risau mendengar penjelasan suster yang mengatakan TD saya diatas rata-rata normal, toh saya memiliki riwayat tekanan darah tinggi. Yang membuat saya risau, justru hasil timbangan badan saya yang lebih tinggi 5 kilogram dari pengukuran berat badan di rumah. Terus terang, saya mendapat kesan buruk dari kalibrasi alat penimbang berat badan di rumah sakit ini. Sebelumnya, saya sempat menimbang di alat timbangan yang berbeda di rumah sakit tersebut, dan hasilnya berat badan saya lebih ringat 5 kg dari hasil yg saya peroleh di rumah. Padahal, jeda waktu antara menimbang di rumah dan di rumah sakit hanya 3 hari. Bagaimanan mungkin dalam tiga hari saya bisa mengalami perubahan berat badan drastis. Hal yang sama juga terjadi pada malam itu, berat badan saya tiba-tiba naik 5 kg hanya dalam jangka waktu 2 hari saja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar argumentasi saya itu, si suster malah tertawa dan memberikan pertanyaan aneh. Jadi bapak mau berat badan berapa? D'oh! Baru kali ini ada tawar menawar soal berat badan. :D. Well, saya serius dengan pernyataan saya itu. Ketika tidak adalagi benda eksternal yang dapat kita percaya untuk mendapatkan kondisi objektif, bisa dipastikan kita tidak akan mampu keluar dari jeratan solipsisme. Dalam dunia modern yang sepenuhnya bergantung pada mesin, ketidakakuratan pengukuran jelas sebuah bencana. Contoh nyata saat kita kehilangan orientasi waktu dalam ruang tertutup, meski ada jam dinding, tetap kita tidak tahu waktu yang sebenarnya pada saat itu. Karena dalam jam analog, representasi pukul 02:00 pagi serupa dengan representasi dari pukul 14:00. Apakah saat itu pagi dini hari atau tengah hari, alat pengukur waktu itu tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Kasus yang lebih serius adalah soal keakuratan altitumeter pada instrumen pesawat. Dalam kondisi cuaca yang buruk, dengan jarak pandang yang sangat minim, ketidakakuratan alat pengukur akibat kalibrasi yang salah jelas sebuah bencana. Untungnya, saya tidak sedang dalam pesawat, dan pada malam itu saya memenangi argumentasi dengan si suster. Hehehe...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya waktu saya pun tiba. Setelah dipanggil masuk, saya bertemu dengan dokter yang tengah praktek pada saat itu. Dokter umum ini masih muda, dan kemungkinan besar umurnya di bawah saya. Begitu saya mendeskripsikan problem kesehatan saya, seperti yang saya duga, ia membeberkan dua kemungkinan infark dan spasme kepada saya. Dan karena ia tidak memiliki alat yang objektif untuk mencapai kesimpulan itu, ia pun segera merujuk saya ke UGD guna melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan EKG. Ya, pada malam itu untuk pertama kalinya saya masuk ke ruang gawat darurat dan melakukan pengecekkan jantung. Tapi sungguh bukan itu permasalahannya. Asosiasi kita tentang UGD rupanya sangat berpengaruh dalam cara kita bertindak dan merespon. Saya sebenarnya tidak begitu panik dengan keputusan si dokter umum itu, karena tindakannya benar-benar textbook, tapi lain halnya dengan suster yang tadi menimbang berat badan saya yang jadi tampak sibuk dan cekatan. Asosiasi semantik dari kata UGD rupanya telah memicu sekresi hormon fight and flight dalam dirinya. Ya, linguistik rupanya benar-benar mempengaruhi biologi tubuh manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, yang muncul dalam benak saya bukanlah kondisi si suster yang agak panik itu. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah, apakah saya benar-benar tidak panik? Saya mencoba bertanya pada diri sendiri, apakah saya panik? Dan secara positif saya memperoleh jawaban bahwa tidak ada masalah apa-apa dengan diri saya saat itu. Saya menganggap mampu menguasai keadaan. Sayangnya, afirmasi sepihak ini tidaklah objektif, karena jawaban sesungguhnya dari pertanyaan saya tersebut baru saya ketahui ketika masuk ke ruang UGD. Di ruang ini, tekanan darah saya kembali diukur oleh petugas jaga ruang emergency tersebut. Tensimeter yang digunakan untuk pengukuran memang berbeda dari tensimeter si suster yg dalam bentuk digital. Begitu juga angka yang dihasilkan. Pada tensimeter manual ini, saya mengetahui jika sistolik saya meningkat dengan tiba-tiba sebesar 20 mmHG hanya dalam kurun waktu 8 menit. Bagi saya, perubahan drastis tersebut dapat dianggap sebagai jawaban bahwa sistem tubuh saya bereaksi secara negatif dengan tiba-tiba dari asosiasi kata UGD. Dengan kata lain, saya saat itu tengah panik, meski kesadaran saya menolak mentah-mentah atribusi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sih, kalau mau kritis bisa saja kita meragukan keakuratan kalibrasi kedua alat ukur tersebut, tapi dalam kondisi saat itu saya tidak terlalu mengambil pusing. Toh, dalam dunia medis, fenomena ini juga dikenal sebagai sindroma kerah putih, "white collar Syndrome", yakni peningkatan tekanan darah tiba-tiba oleh kondisi psikologis yg disebabkan rasa takut, terkejut, atau bahkan wow, saat kita melihat petugas medis berbaju putih yang seksi itu. :p Dan rupanya saya benar-benar mengalami sindroma tersebut. Bukan karena perawat tadi seksi, tapi karena suasana dari ruang UGD yang membenarkan konsepsi semantik saya tentang tempat tersebut. Dingin, dan sepi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-7331507109359408699?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/7331507109359408699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/07/masuk-ugd-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7331507109359408699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7331507109359408699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/07/masuk-ugd-1.html' title='Masuk UGD (1)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2266729517696631728</id><published>2011-07-04T07:22:00.000+07:00</published><updated>2011-07-04T07:22:59.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Kolam Renang</title><content type='html'>Saya masih ingat pembicaraan saya dengannya di YM beberapa bulan yang lalu. Tentang bagaimana dirinya memulai untuk belajar berenang. Mengambang katanya, ia sudah dapat mengapung dan sedikit demi sedikit membiasakan dirinya untuk tidak takut lagi kepada air. Dan itu ia lakukan karena sadar bahwa kota tempat ia tinggal sangat rentan sekali terhadap bahaya tsunami. Sehingga jika dirinya dapat berenang setidaknya ia mampu menyelamatkan diri sendiri, seandainya bahaya air bah itu datang menerjang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengikuti penuturannya itu dengan takjub. Meski belum mampu mencerna apa iya seorang perenang yang hebat dapat selamat dari kejaran air bandang yang kecepatannya hingga 80 km/ jam? Bahkan jika si perenang hebat itu tengah menghadapi kedatangan tsunami, barangkali ia akan berpikir sama dengan mayoritas penduduk kota, pergi mengungsi ke tempat yang tinggi dan berusaha untuk tidak tertelan oleh gulungan ombak liar tersebut. Dan pastinya, berenang di atas terjangan tsunami jelas bukan ide yang keren untuk dilaksanakan. :) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun pemikiran rasional tadi tidak serta merta muncul di benak saya, sama seperti kata renang yang tidak memiliki bekas apa-apa dalam kesadaran diri. Kegagalan untuk dapat berenang 3 tahun lalu rupanya yang menyebabkan saya menjauhkan diri dari olah raga air tersebut dan tetap berdiri di pinggir kolam menyaksikan dengan iri orang-orang yang bergembira ria dengan cipratan air. Saya tidak dapat berenang, dan itu adalah sebuah cela yang tidak bisa saya maafkan. Maka kuceritakan padanya tentang asal-usul &lt;i&gt;aquaphobia&lt;/i&gt; dan kegagalan saya untuk dapat mengatasi rasa takut tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua bermula pada saat saya masih belia", saya sampaikan kalimat ini kepadanya dengan rasa enggan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu saya diajak oleh tante saya untuk belajar berenang di sebuah kolam renang umum. Tentu saja saya sangat senang. Meski mempelajari teknik-teknik dasar renang seperti mengapung, bukanlah perkara yang bisa saya pelajari dengan mudah. Saya tergolong murid yang bodoh. Tante saya yang rupanya tidak sabaran justru memilih jalur pintas, memaksa saya menyelam dengan menenggelamkan saya kedalam air. Sekuat tenaga saya memberontak dan berusaha keluar guna menarik napas. Tentu saja saya berhasil, dan ia tidak lagi melakukan tindakan bodoh tersebut. Satu-satunya hal yang tersisa hingga saat itu hanya rasa trauma dan takut. Disadari atau tidak, perlakuan tersebut telah membuat saya trauma untuk mendatangi kolam renang hingga saya dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"jadi kamu tidak pernah belajar renang lagi?" Katanya penuh selidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Meski trauma dengan air, tapi saya masih memiliki keinginan untuk dapat berenang. Sayangnya, les renang yang ditawarkan oleh guru olah raga saya di SD, pak Bandi tidak bisa saya ikuti." Kali ini masalah yang muncul datang dari luar diri saya. Ibu benar-benar sibuk, sehingga ketika ia pergi bekerja, sayalah yang disuruh menjaga rumah dan adik. Maka les renang yang biasa dilakukan setiap sore hari, tidak pernah saya hadiri. Lagi, ibu juga tidak benar-benar memiliki uang buat membayar uang les yang hanya 7500 rupiah saat itu. Dan saya hanya bisa membiarkan angan-angan itu terbang begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya memang anak rumahan, seperti katamu. Benar-benar penurut" sambil membubuhkan tanda senyum di layar komputer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ya, dan pemalas, sehingga tidak mau mengejar cita-citanya." dia menulis tanda melet di atas layar. :p&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan di pondok, yang kolam renang terdekat berjarak 15 km, mempelajari olah raga ini di masa-masa remaja adalah omong kosong. Bahkan ketika ada beberapa teman yang mengajak pergi ke kolam renang di hari Jumat, saya hanya dapat mengeles bahwa tidak memiliki uang yang cukup untuk pergi ke kota."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tapi itu kisah masa lalu" tulisku melanjutkan. "Usaha saya untuk dapat berenang yang sebenar-benarnya justru terjadi pada saat saya merantau ke Makassar."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"O ya?" tulisnya, menimpali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saat itu kantor kami mendapatkan voucher gratis dari pihak hotel di Makassar untuk menggunakan fasilitas kolam renang milik mereka. Alasannya, perusahaan telah berkali-kali menyelenggarakan acara di hotel tersebut. Kesempatan ini pun ikut saya manfaatkan. Sayangnya, saya hanya sempat pergi ke kolam renang hotel sebanyak 4 kali. Dan di setiap kunjungan itu, saya benar-benar tidak bisa mengatasi fobia terhadap air. Singkatnya saya belum dapat berenang"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"ya, sayang sekali. Mungkin kalau saya jadi kamu, saya sudah bisa berenang saat ini :p"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;I know. you're smart enough to learn swimming&lt;/i&gt; :)"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujarannya membekas di otak saya sejak saat itu. Perempuan yang aku sukai ini tengah belajar berenang, dan saya tidak bisa apa-apa kecuali hanya memandang dari jauh ke kolam renang yang sedang ia gunakan. Tiba-tiba saya merasa iri sekaligus malu. Bagaimana mungkin saya tidak bisa berenang, sedang ia dengan suka cita berenang-renang di dalam air. Jika ia meminta tolong, siapa yang harus menyelamatkannya? Hati saya pun tergelitik, dan perlahan-lahan kuucapkan dalam diri untuk bisa berenang. Saya harus bisa, karena ia bisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
Langit pagi begitu cerah. Ini adalah kali pertama saya pergi ke kolam renang sendirian. Sebelumnya, saya selalu pergi bersama adik yang telah terlebih dahulu menguasai teknik-teknik renang. Perjalanan kerja yang ia lakukan, termasuk &lt;i&gt;diving&lt;/i&gt; di kepualauan Raja Ampat, membuatnya mahir berenang. Menyalib saya yang lebih awal memulai usaha untuk berenang tapi gagal. Harus saya akui, jam terbang yang ia miliki memang jauh lebih tinggi, tapi bukan itu kan permasalahannya. Untuk dapat berenang, kita harus merasa nyaman terlebih dahulu dengan air, dan pada saat itu saya masih belum mampu lepas dari jerat &lt;i&gt;aquaphobia&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Terlalu banyak teori!", katanya menertawakan saya yang sibuk membaca tata cara berenang di sebuah buku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya, bagaimana mungkin kita bisa berenang kalau tidak tahu cara yang seharusnya untuk berenang bukan?" tangkis saya, sambil terus membayangkan ilustrasi cara mengapung pada buku di hadapan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Renang itu soal praktek, bukan hanya teori. Begitu kamu masuk ke air, secara alamiah tubuh kamu akan menyesuaikan diri untuk berenang dengan cara apapun. Jadi percuma saja baca buku", timpal ibu yang ikut mentertawai kerajinan saya yang tidak kunjung membuahkan hasil itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, apapun itu. Tetap, teori yang paling utama. Kita harus memulai dari sana bukan?", jawab saya yang tidak mampu menahan tawa mengolok-olok kebodohan diri sendiri soal renang. Apa yang lebih bodoh dari membaca buku Renang Untuk Pemula selama tiga tahun tanpa sekalipun berhasil untuk berenang. Tiga tahun, dan yang ada di kepala saya hanyalah teori bagaimana mengapung, mengambang, dan menghentakkan kaki membelah lautan air, tapi bukan berenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Cukup!" Kataku dalam hati,&amp;nbsp; sambil mengambil ancang-ancang untuk melakukan kayuhan pertama. "Hari ini saya pasti bisa!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;Tidak banyak momen yang mampu kau hafal sepanjang hidupmu. Suasana saat pertama kali dirimu mulai dapat mengendarai sepeda atau berciuman dengan seorang perempuan, mungkin diantara momen-momen yang tidak mudah untuk terlupa. Tapi bagiku, suasana ketika berat air menghantam wajah, menyaksikan lantai kolam dengan bening dari atas, merasakan sekujur tubuh terangkat oleh massa jenis air, adalah bagian dari momen yang tidak terlupakan itu. Untuk pertama kalinya saya mampu mengambang dan berenang membelah kolam renang. Hari itu, saat tidak ada orang yang mengenalku menyaksikan momen terindah ini, saya dapat berenang.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Kakimu terlalu kaku", kata seorang kakek kepadaku. "Cobalah untuk mengikuti ritme air. Seperti ini", katanya sembari menekuk lurus telapak kakinya seperti penari balet. Ia kemudian menghentakkan kedua kakinya di dalam air memperagakan gerakan &lt;i&gt;flutter kick&lt;/i&gt;&amp;nbsp; kepada saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak terlalu susah bukan?"&amp;nbsp; Sambil memperhatikan gerakan kakiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Memang, hanya saja jadi cepat lelah. Lagi paha saya tidak terlalu kuat untuk melakukan gerakan seperti itu"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Kalau sudah mengerti cara berenang, kamu tidak perlu mengayunkan kakimu sesering mungkin. Cukup menggerakkannya secara ritmik dan biarkan bagian tubuh lainnya yang mengambil alih. Tanganmu. Ayunkan dengan mantap seperti ini" dengan gerak perlahan kakek itu masuk kedalam air, mengayuh perlahan dengan kedua kakinya dan muncul kembali ke permukaan air dengan gerakan mendayungnya yang mulus. Ia memperlihatkan pada saya cara renang gaya bebas yang sangat baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Oi! Saya belum dapat berenang dengan baik sepertimu!"&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Tidak masalah. Ayo susul saya ke pinggir sebelah sini!" Teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Memang bukan masalah, yang jadi soal hanyalah bagaimana mengambil napas kedua dan tetap berenang tanpa harus tenggelam. Saya pun mengikuti gerakan kakek itu ke pinggir kolam sebelah Timur. Setelah mengambil napas panjang dan menahannya kuat di muluat, saya pun mulai menyelam. Dengan refleks kaki saya menendang-nendang keras kebelakang menciptakan riak yang sedikit demi sedikit mengangkat saya ke atas. Kini giliran kedua tangan saya yang mulai mengayuh kedepan. Membelah air dan mendorong gerakan tubuh jadi lebih cepat. Saya melaju. Petak-petak lantai kolam perlahan-lahan berjalan mundur kebelakang mengikuti luncuran badan yang maju kedepan. Tidak ada yang saya perhatikan di dunia ini selain pergerakan lantai kolam tersebut. Dan saat dinding telinga berderak seperti kapal selam, dan oksigen yang saya telan telah habis, tiba-tiba muncul rasa takut yang membayang. Bagaimana saya akan bernapas?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"&lt;i&gt;Streamline! Streamline&lt;/i&gt;!" teriak si kakek di luar sana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ya, saya tahu. Menjaga kepala agar sejajar dengan badan dengan memandang lurus ke bawah. Tapi bagaimana saya bernapas dalam posisi tersebut? Dengan sia-sia saya menengadahkan kepala saya keatas mencoba mengabil napas. Sayang, refleks tubuh saya terhenti dan lagi, saya tercebur jatuh kedalam air.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Hoa! Ini teknik yang sangat susah!" Teriakku padanya setelah mengeluarkan air yang tertelan saat tenggelam tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Caramu mengambil napas salah. Daripada mengangkat kepala keatas, cobalah menoleh dan putar tubuhmu kesamping mengikuti aksis sehingga bagian kanan atau kiri lebih tinggi dari bagian lainnya. Kamu harus belajar renang dengan posisi miring dan berputar sejajar poros tubuh." Ia mengatakan itu seolah semudah membalikkan telapak tangannya. Tapi tidak bagiku, yang baru saja memulai sebuah loncatan yang lumayan hebat, renang gaya bebas dengan satu tarikan napas kemudian tenggelam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Saya masih harus banyak belajar dan berlatih". &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Bukannya demikan." Ia mendatangiku sambil tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Jadi katakan padaku, kenapa baru pada umur setua ini saya harus belajar berenang? Jangan katakan jika aku melakukannya demi dirinya. Meski aku tahu mungkin saja dengan berenang aku bisa menarik perhatiannya. Semoga saja. Tapi bukan itu kan yang hendak aku capai? Bahkan jika ia memang sudah dapat berenang, toh kecil kemungkinannya kamu dapat menyaksikan ia berenang. Ia masih terlalu jauh untuk aku capai. Tapi renang, bukankah aku bisa menguasainya? Ya, menguasai cara berenang gaya bebas dengan satu kali tarikan napas, sedikit menyerupai bunuh diri singkat, dan aku terbangun dengan tenangnya di tengah ayunan tangan yang membelah air. Menopang tubuhku dengan lembut, membiarkan segala ingatan dan harapan mengalir keluar dengan mudahnya. Seperti air. Merendam diriku dalam bak raksasa, memaksa kotoran-kotoran keluar dari ujung sinap, memberiku kata "ya" yang tidak pernah aku kumandangkan. Aku tiba-tiba tertarik kepada air, tergila-gila dengan sensasinya, kasmaran dengan rasanya yang basah. Meski tidak sekasmaran diriku dengan dirinya. Yang mana? Bahkan kali terakhir, tiada pesan tersampai. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin berenang kearahnya. Aku ingin mengatakan ini padanya, "aku bisa berenang".&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jadi begitulah, air bisa membawa efek yang menyenangkan dan membuatmu mantap. Ia membangun rasa percaya diri dan mengikis efek sakit atau patah hati. Dan renang, akan menjadi olahraga favorit sepanjang hidupmu" Ujar si kakek memandang lurus kepadaku&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kau terlalu banyak bicara." Kataku, sambil berusaha untuk terus mengapung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak juga. Kau yang terlalu banyak berkhayal, dengan menganggap misimu untuk dapat berenang sebagai misi romantik. Dan mencoba mencampuradukkan antara imajinasi dan kenyataan". Ia kini menyelam ke bawah dan muncul kembali ke permukaan, memperagakan gaya aneh yg tidak pernah saya lihat, &lt;i&gt;dog paddler&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kenyataan bahwa dirimu tidak ada?" Saya menyusulnya dengan terngah-engah, sambil terus menjaga kestabilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bukan. Kenyataan bahwa sebenarnya kamu memiliki bakat untuk berenang." Ia membelok ke kiri dan berotasi dengan unik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yang tidak pernah dapat saya capai hingga momentum romantik itu?" Aku masih heran melihat gerakan-gerakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"&lt;i&gt;That's your answer. Why don't you tell her about that.&lt;/i&gt;" Katanya bergema, meninggalkan cipratan keras di muka saya. Ia menghilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
Siang hari terik, usai pengalaman pertama itu, saya untuk pertama kali mencoba mencari tahu tempat ia belajar. Mendatangi lembaga budaya itu dan dengan malu-malu meminta izin untuk membaca buku-buku di perpustakaannya yang dingin, tapi tidak basah. Sejam dua jam saya terus menunggu, dan kini tinggal 4 menit lagi aku akan bertemu kembali dengannya. Bukan penantian yang lama memang, tapi waktu seakan berhenti selama setahun. Kebekuan yang memaksa saya untuk membaca komik berbahasa aneh ini. Yang maknanya sama sekali tidak mampu aku pahami. Selain dua nama itu, Tintin dan Herge. Ah, saya sudah membaca komiknya dalam bahasa Inggris. Tapi bukan komik ini, yang entah bagaimana membicarakan komik favoritku itu dalam bahasa yang sangat berbeda. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Perpustakaan sini hebat juga, Buku-bukunya banyak" tulisku dalam SMS kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"&lt;i&gt;Great! Enjoy then. I prefer the other &lt;/i&gt;yang lebih lengkap" balasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"&lt;i&gt;Are you there&lt;/i&gt;?" Tidak ada jawaban. Hanya sepi sesaat, sebelum riuh suara mengelilingi ruangan. Ada langkah kaki berlari pelan kearahku. Dia di sini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Saya pulang bersama yang lain. Kamu tidak keberatan bukan?" diam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Naik motor bisa lebih cepat." singkat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Tapi naik mobil lebih nyaman." tidak ada jeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"ya." dan ia berlari keluar, meninggalkan saya yang masih duduk ternganga melihat bayangnya berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hai, saya bisa berenang sekarang."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2266729517696631728?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2266729517696631728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/kolam-renang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2266729517696631728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2266729517696631728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/kolam-renang.html' title='Kolam Renang'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-1575049612443974002</id><published>2011-06-24T05:35:00.005+07:00</published><updated>2011-06-24T06:25:37.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Menjadi 30</title><content type='html'>Apa bagusnya mencapai umur 30 tahun? &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, jika kamu hidup di Inggris pada Abad Pertengahan, itu berarti kamu telah mencapai batas terakhir dari usia harapan hidup yang dicapai rata2 penduduk Inggris pada masa tersebut. Atau jika kamu tinggal di Swaziland saat ini, berarti tinggal 1,8 tahun lagi dan kamu akan melampaui batas harapan hidup di negara Afrika itu. Lain halnya apabila kita membandingkan dengan usia harapan hidup di negeri ini yang berada pada kisaran 71.8 tahun, maka bisa dikatakan bahwa kamu telah menjalani 41% usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia di tahun 2009.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh, pencapaian ini tidak benar-benar buruk. Apalagi jika kita menghitung jumlah sperma yang harus mati saat proses pembuahan diri kita berlangsung, belum ditambah yang mati sia-sia di luar waktu pembuahan. Kita mungkin akan berpikir, bahwa keberadaan kita benar-benar sebuah anugerah diantara kemubaziran potensi hidup yang disediakan Tuhan (atau alam, jika anda benar-benar agnostik dan ateis) di alam semesta ini. &lt;i&gt;You have been elected to live and experience this wonderful world. Life then in itself is a grace.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, pemikiran perenial ini tidak serta merta menjadi hawa penyejuk. Evolusi ras manusia dan peradaban selama ratusan ribu tahun tidak mengajarkan kepada kita statistik agung tadi sebagai sebuah barometer dari kata baik. Kita pun dipaksa oleh arsip-arsip zaman yang melekat di memori kolektif kita untuk menjawab pertanyaan yang menyulitkan dan tendesius. Berapa saldo di rekeningmu saat ini? Siapa yang akan kamu ajak untuk tinggal di rumah baru yang belum kau buat itu? Kapan ibu menjadi seorang nenek? Sekarang gabungkan pertanyaan-pertanyaan sosial tadi dengan pertanyaan idealis macam: Kamu hidup selama tiga puluh tahun di bumi ini, lalu apa? Jutaan dan miliaran manusia di bumi juga pernah merasakan hidup pada usia tersebut, maka apa yang membuat kamu berbeda dari mereka? Dan keluarlah sekian &lt;i&gt;checklist&lt;/i&gt; yang membuat segalanya jadi tampak runyam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu bukan salah kita apabila masyarakat dan orang-orang terdekat mempertanyakan &lt;i&gt;checklist&lt;/i&gt; standar tadi. Tanpa mengabaikan fakta bahwa setiap kita memiliki jam biologis yang sangat terbatas (macam umur reproduksi perempuan yang berakhir di pertengahan 30-an atau menjelang 40, dan kemampuan memproduksi sperma yang terus menurun hingga usia 60-70 pada laki-laki), semua kecemasan yang kita alami adalah hasil konstruksi sosial dimana kita hidup. Siapa suruh usia harapan hidup masyarakat dahulu sangat rendah, yang menyebabkan mereka telah berkeluarga bahkan pada usia yang sangat dini. Seandainya saja rata-rata penduduk Indonesia di masa lalu hidup hingga usia 100 tahun, mungkin mereka masih menganggap umur tiga puluh sebagai masa-masa puber remaja belaka?--pemikiran absurd. Abaikan saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang hendak saya sampaikan adalah, tidak semua orang menganggap "kebutuhan" sosio-biologis tadi sebagai prioritas utama dalam hidup mereka. Memang akan sangat naif jika kita mengabaikan semua faktor alam dan lingkungan tadi, karena bagaimanapun juga perasaan dan emosi yang kita alami setiap harinya dipengaruhi baik oleh kondisi sosial maupun biologis tubuh kita. Kita dipengaruhi hormon-hormon dalam tubuh kita sendiri yang hadir, entah karena faktor internal, seperti siklus hormonal, maupun faktor eksternal, macam interaksi dengan orang lain yang memicu sekresi hormon-hormon tertentu dalam tubuh kita. Jika kondisi ini merupakan keumuman, maka satu-satunya hal yang menjadi penghalang atau bemper yang membuat segalanya menjadi lebih "berkelas" dan membedakan kita antara satu dengan lainnya, hanyalah pendidikan dan latihan yang kita peroleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa sebenarnya, makna hidup di usia ketigapuluh tahun ini? Berdasarkan kriteria apapun yang patut disematkan, tampaknya saya belum mampu memiliki sebuah kehidupan yang benar-benar "normal" di awal dekade ketiga kehidupan saya di planet bumi. &lt;i&gt;First thing first&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;I am still single&lt;/i&gt;. Kedua, saya masih hidup menumpang--&lt;i&gt;that is embarrassing&lt;/i&gt;. Ketiga, belum ada satupun karya yang berhasil saya hasilkan--huh. Terdengar pesimis? Tidak juga. Terlebih jika membacanya berdasarkan konteks kehidupan saya yang sangat tidak hebat itu. Alasannya, karena pada akhir 29, saya berhasil meraih "kehidupan" yang sempat hilang dan saya abaikan selama 1,8 tahun. Memang bukan pekerjaan yang pantas dibanggakan, namun setidaknya saya memiliki tabungan yang lumayan dari hasil jerih payah selama ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, indikator kesehatan saya lumayan baik. Berat badan yang sangat berlebihan pada tahun kemarin, perlahan-lahan menunjukkan tren menurun dan bergerak ke arah ideal, sedang kebugaran badan saya juga mulai meningkat. Di tahun ini pula saya mulai belajar renang kembali dan memiliki kemajuan lumayan bagus. Setidaknya sekarang saya bisa mengambang dan renang gaya bebas untuk pertama kalinya, meski hanya dengan satu tarikan nafas saja. Untuk tarikan nafas selanjutnya masih belum bisa. :) Benar kata sebuah situs, &lt;i&gt;swimming is about technic, technic, and technic&lt;/i&gt;! Dan saya selalu belajar memperbaiki teknik renang saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isu selanjutnya adalah urusan mencari gen terbaik untuk dipasangkan dengan gen yang saya miliki. Rupanya saya memang tidak bisa mengacuhkan tuntutan biologis satu ini, meski tidak serta merta membuat segalanya menjadi mudah, sebagaimana perjalanan cinta saya yang jatuh bangun di pertengahan kedua periode dua puluhan.&lt;i&gt; The important thing is, I still fall in love to a woman, and it's obvious&lt;/i&gt;. Semoga saja dia mau menerimanya. &lt;i&gt;I really feel quite optimistic with this matter, even if the sign still come to me in its blurry message. Still, I have hope and faith in God&lt;/i&gt;. Mungkin karena itulah banyak orang yang menganggap pernikahan sebagai sebuah institusi sosial yang sangat spiritual dan suci. &lt;i&gt;Perhaps I can prove it and be a witness of that.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun urusan cinta cukup menyita perhatian dan pikiran saya, tapi sesungguhnya yang saya khawatirkan adalah soal melanjutkan studi magister saya yang selama ini terbengkalai. Pemikiran saya ini sangat berdasar, karena ada batasan usia dalam soal memperoleh beasiswa, yakni 32 tahun. Yang membuat segalanya bertambah parah, ternyata saya belum dapat memutuskan untuk mengambil bidang apapun untuk ditekuni. Dahulu saya sempat berpikir untuk mengambil gelar dalam bidang bisnis, karena selalu berpikir mengenai keamanan finansial. Sayangnya hati saya tidak sinkron. Maka saya pun mulai mencari kajian lain yang sekiranya berkenan. Salah satu bidang yang saya sukai adalah psikologi dan linguistik. Saya pun mempelajari kembali kedua bidang kajian tersebut, hingga tiba pada satu titik yang membuat saya berkesimpulan bahwa kedua bidang itu terlalu jauh untuk saya dalami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan janji saya dahulu untuk menulis sebuah tafsir Al-Quran. Tafsir yang menggunakan metodologi dan pendekatan baru yang berbeda dari tafsir konvensional maupun tafsir modern yang terlalu bertumpu pada hermeneutika. Saya menamakannya sebagai sebuah pendekatan literalisme radikal terhadap teks-teks Al-Quran. Tolong jangan tanya saya tentang definisinya, karena saya juga masih belum tuntas dalam perumusan istilah tersebut. Yang jelas, contoh dari penggunaan metodologi ini bisa ditemukan dalam beberapa artikel saya tentang kata kunci Al-Quran. Literalisme radikal, dalam hemat saya, bertumpu pada korelasi antar kata untuk menguak makna asli dan memahaminya dari sudut pandang filsafat (analitik) dan sains modern.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan istilah sains modern bukan berarti saya melakukan sebuah apologi, seperti banyak ditemukan dalam karya-karya Harun Yahya atau penulis muslim modern lain yang berusaha membuktikan bahwa Al-Quran tidak bertentangan dengan pemikiran ilmiah. Saya sering menganggap ide-ide tersebut sebagai sebuah blunder pemikiran yang kehilangan ruh sainsnya. Apa yang saya lakukan barangkali lebih mirip kajian ala Chomsky yang bersifat analitik untuk kemudian menemukan prinsip-prinsip umum yang bisa dipahami dalam perspektif yang jauh lebih luas. Itu paradigmanya, semoga saja saya tidak keliru, dan semoga Tuhan selalu membimbing pemikiran saya ini. Dan semoga saja saya bisa membuktikannya dengan meraih gelar di bidang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi 30 dengan demikian adalah memulai lembaran-lembaran baru dalam hidup ini. Memulai dengan awal dan niat yang baik, memulai dengan semangat dan optimisme. Semoga Tuhan selalu merestui dan membimbing saya. &lt;i&gt;What I hope is only to&lt;/i&gt; see &lt;i&gt;Your smile in this life and day after. &lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-1575049612443974002?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/1575049612443974002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/menjadi-30.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1575049612443974002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1575049612443974002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/menjadi-30.html' title='Menjadi 30'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5050547957510832676</id><published>2011-06-21T08:13:00.001+07:00</published><updated>2011-06-21T08:19:30.622+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Tentang Nama</title><content type='html'>Berapa harga sebuah kerinduan?&lt;br /&gt;
Memandang hingga larut wajah terkasih&lt;br /&gt;
Mencumbu malam dengan doa-doa panjang&lt;br /&gt;
Menyebut nama yang entah kali berapa kau ucap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namanya yang satu&lt;br /&gt;
Dalam waktu-waktu tanpa henti&lt;br /&gt;
Di setiap tarikan nafas yang tak mampu kau usir&lt;br /&gt;
Malam dan siang&lt;br /&gt;
Dalam sadar dan mimpi&lt;br /&gt;
Dan keterjagaan yang menyergap&lt;br /&gt;
Namanyalah yang kau sebut kali pertama dan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak kau ucapkan itu dalam dadamu&lt;br /&gt;
Membuncah ia dalam setiap degup jantungmu.&lt;br /&gt;
Mengalir keselasar pembuluh darah&lt;br /&gt;
Tersambung diantara akson dan dendrit&lt;br /&gt;
Dalam setiap sel-sel tubuhmu.&lt;br /&gt;
Dibalik lipatan otakmu. &lt;br /&gt;
Berlipat ganda dari waktu ke waktu&lt;br /&gt;
Bagaikan serbuan virus, trojan dan malware&lt;br /&gt;
Menyatu dengan setiap mantra yang kau harap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku cinta kamu&lt;br /&gt;
Aku rindu kamu&lt;br /&gt;
Aku dan aku&lt;br /&gt;
Kamu dan namamu&lt;br /&gt;
Dan segala sesuatu tiba-tiba menjadi kamu&lt;br /&gt;
Jalanan ini&lt;br /&gt;
Rintik hujan ini&lt;br /&gt;
Air yang berderai dan mengalir&lt;br /&gt;
Bahkan cipratan comberan&lt;br /&gt;
Alam semesta pun berubah menjadi kamu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sungguh, hatiku tak kuasa menjagamu&lt;br /&gt;
Sosokmu yang pernah hinggap di memori mataku&lt;br /&gt;
Perlahan-lahan mulai memudar hilang.&lt;br /&gt;
Entah jika kita bertemu,&lt;br /&gt;
Mampukah aku mengenali dirimu.&lt;br /&gt;
Dirimu yang dulu, atau dirimu yang akan datang&lt;br /&gt;
Tiba-tiba tidak relevan bagi jiwaku.&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu lagi kamu.&lt;br /&gt;
Tapi namamu, hanya namamu&lt;br /&gt;
Jua yang mampu bertahan melewati batas waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam nama&lt;br /&gt;
Dengan nama&lt;br /&gt;
Bersama nama&lt;br /&gt;
Dan nama&lt;br /&gt;
Namamu&lt;br /&gt;
Semua terukir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5050547957510832676?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5050547957510832676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/tentang-nama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5050547957510832676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5050547957510832676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/tentang-nama.html' title='Tentang Nama'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-8906096957343634113</id><published>2011-06-18T08:58:00.000+07:00</published><updated>2011-06-18T08:58:32.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Hening</title><content type='html'>Ada pagi di sini, terang dan tidak&lt;br /&gt;
sama seperti pagi di sana, redup dan cerah.&lt;br /&gt;
yang menaungi cahanya mentari &lt;br /&gt;
yang jari-jarinya merayap membelai bumi.&lt;br /&gt;
Parkit, jalak dan gereja&lt;br /&gt;
berkicau menggantikan lamunan galau para jangkrik&lt;br /&gt;
bersama putaran roda dan mesin&lt;br /&gt;
berlomba mengatakan, ini pagi.&lt;br /&gt;
Pagi yang menawarkan rasa&lt;br /&gt;
aroma embun yang bercampur dengan rekahan tanah&lt;br /&gt;
warna-warna pastel&lt;br /&gt;
taburan partikel di bawah sinarnya yang teduh&lt;br /&gt;
berenang bebas bagaikan amoeba di kehidupan yang lampau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi ini, di mana kamu?&lt;br /&gt;
sudah sepekan kita tak bertemu&lt;br /&gt;
tambah dua pekan sejak kau mulai malumalu&lt;br /&gt;
atau tambah beberapa pekan lainnya&lt;br /&gt;
sejak diriku sendu melihat datangnya hari.&lt;br /&gt;
Hari yang katanya berbeda dari yang lalu&lt;br /&gt;
tak lebih dari pengulangan yang membosankan akan takdir.&lt;br /&gt;
Yang merayap yang memanjat&lt;br /&gt;
dalam doadoa di malam pekat&lt;br /&gt;
seakan si buta yang berjalan tanpa arah&lt;br /&gt;
hancur kau diterpa lanun.&lt;br /&gt;
Maka kehadiran mentari hanyalah detak yang menyakitkan&lt;br /&gt;
seakan Tuhan menggantung waktu&lt;br /&gt;
yang terserak tanpa aturan&lt;br /&gt;
"Seberapa jauh kau berharap?"&lt;br /&gt;
kataNya dengan wajah poker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang kutakpandai dengan permainan itu&lt;br /&gt;
kurasa kejujuran bukanlah harga yang pantas bagiNya&lt;br /&gt;
Dia pun meminta lebih&lt;br /&gt;
dan kugadaikan jiwaku padaNya, setelah setan dengan enggan&lt;br /&gt;
menolak proposalku.&lt;br /&gt;
Tapi wajah Tuhan begitu susah untuk ditebak&lt;br /&gt;
Dia berpaling penuh selidik,&lt;br /&gt;
berharap diriku karam dan tak mampu menjaga arah.&lt;br /&gt;
Kukatakan, "Kau bisa memegang katakataku".&lt;br /&gt;
Dia tersenyum, meski hanya sebentar,&lt;br /&gt;
karena kumulai berpaling dariNya.&lt;br /&gt;
"Ah, aku berhasil menipuMu Tuhan!"&lt;br /&gt;
Ketidakjujuran ini, dan tarik ulur tanpa akhir&lt;br /&gt;
antara aku denganNya &lt;br /&gt;
hanyalah keterulangan yang membosankan yang tidak pernah &lt;br /&gt;
membawaku kemanamana.&lt;br /&gt;
Sama seperti pagi yang datang dengan tibatiba&lt;br /&gt;
atau kenggananmu yang duduk statis di ujung sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat pagi!&lt;br /&gt;
Bonjour!&lt;br /&gt;
Hanya itu yang mampu kukatakan padamu&lt;br /&gt;
dalam keheningan yang bisu&lt;br /&gt;
dihadapan dedaunan beku, yang kini mulai menjadi sahabat setiaku.&lt;br /&gt;
Tanpa tahu di mana kamu&lt;br /&gt;
berderai tawa atau suka cita&lt;br /&gt;
"Itukan hanya ada di dirimu. Dan aku,&lt;br /&gt;
baikbaik saja tuh!" katamu dulu.&lt;br /&gt;
tentang hormonhormon yang sama sekali&lt;br /&gt;
tidak bisa kutransfer ke rekening milikmu.&lt;br /&gt;
Hanya mengendap dalam benakku, busuk.&lt;br /&gt;
Kuharap bisa merubahnya kedalam mantramantra sakti&lt;br /&gt;
tapi katakata hanyalah kepasrahan tanpa nada&lt;br /&gt;
ia ada karena kau ada.&lt;br /&gt;
Tanpamu, dirinya mati.&lt;br /&gt;
Laksana menawarkan Hamlet pada seekor keledai&lt;br /&gt;
"to be, or not to be!"&lt;br /&gt;
Apa itu? Makanan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, sekali lagi kutawarkan pada Tuhan &lt;br /&gt;
untuk membacakannya buatmu.&lt;br /&gt;
Puisipuisi yang tak pernah keluar dari ujung jariku&lt;br /&gt;
yang tak pernah mampu kusampaikan padamu.&lt;br /&gt;
Puisipuisi tanpa kata, tanpa nada&lt;br /&gt;
tanpa ekspresi, tanpa intonasi.&lt;br /&gt;
Puisi yang lahir dalam diam&lt;br /&gt;
yang berbicara dalam diam&lt;br /&gt;
yang menyampaikan pesannya dalam diam.&lt;br /&gt;
Ketika katakata tak lagi meresap&lt;br /&gt;
tumpul dia dalam lautan keabaian&lt;br /&gt;
mungkin hanya anti-kata yang bermain.&lt;br /&gt;
Sama seperti diammu,&lt;br /&gt;
diamNya&lt;br /&gt;
dan diamku.&lt;br /&gt;
Suasana yang selalu kau temukan di setiap pagi:&lt;br /&gt;
hening.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-8906096957343634113?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/8906096957343634113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/hening.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/8906096957343634113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/8906096957343634113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/hening.html' title='Hening'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-95641096715604866</id><published>2011-06-11T18:23:00.000+07:00</published><updated>2011-06-11T18:23:29.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Putih</title><content type='html'>aku memandanginya dengan wajah terbuka&lt;br /&gt;
bukan siang yang merayap&lt;br /&gt;
atau malam yang malumalu tersipu&lt;br /&gt;
dalam tumpuan putih yang menggelayut manja&lt;br /&gt;
satin meraba sekujur badan&lt;br /&gt;
berhias mutiara, wajahnya tersenyum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
katakan sayang arti potongan rambut&lt;br /&gt;
lurus tergerai, pendek, dengan leher berjenjang&lt;br /&gt;
akankah itu pesan terpendam yang tak pernah tuntas&lt;br /&gt;
akan jiwa yang terkurung di menara gading&lt;br /&gt;
kesempurnaan, kesempurnaan, ah betapa bencinya kau&lt;br /&gt;
dengan kata itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
seperti ketika kukatakan dirimu, "cemen!"&lt;br /&gt;
tersenyum lebar hendak berkata,&lt;br /&gt;
Semoga itu aku! Semoga itu aku!&lt;br /&gt;
Penghormatan katamu, atau bunuh diri intelektual?&lt;br /&gt;
"aku tidak pintar&lt;br /&gt;
aku tidak cerdas"&lt;br /&gt;
dan, aku memang tidak pantas menyandang dua kata itu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata-kata yang ditorehkan leluhur dalam darahmu&lt;br /&gt;
dalam capaian-capaian langit yang tinggi&lt;br /&gt;
mengawang jauh keselasar kesadaran&lt;br /&gt;
yang kemudian hinggap dalam dua kata terakhir&lt;br /&gt;
tentang ketinggian dan kebesaran&lt;br /&gt;
arti namamu.&lt;br /&gt;
sayang sekali jika mesin pencari tidak tahu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kau pilih kata yang lain&lt;br /&gt;
yang lebih menjejak, &lt;br /&gt;
yang menyerupai warna yang kini membalut tubuhmu&lt;br /&gt;
mengingatkanku akan sekuntum aster&lt;br /&gt;
dengan kelopak-kelopak putih&lt;br /&gt;
segaris, selurus, pakaianmu.&lt;br /&gt;
kesederhanaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tapi aster tidak putih&lt;br /&gt;
bahkan jika demikian, selalu ada jejak mentari di dirinya&lt;br /&gt;
sama seperti kamu&lt;br /&gt;
meski cipratan air membawa warnawarna sinar itu menjadi putih&lt;br /&gt;
dalam bingkai mata yang mengabur&lt;br /&gt;
kau tetap bercahaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakan, kenapa kumenyukaimu?&lt;br /&gt;
Jangan diam, atau mengalihkan perhentian&lt;br /&gt;
soal ketidakjelasan dan tiga nama yang muncul kemudian&lt;br /&gt;
apakah itu kebetualan?&lt;br /&gt;
Kau tahu artinya?&lt;br /&gt;
ah, bahkan jika kau tahu kau takkan memberitahuku bukan&lt;br /&gt;
Jadi, itu memang bukan masalahnya&lt;br /&gt;
sama seperti hari-hari yang lain&lt;br /&gt;
saat kau berlari tanpa pesan&lt;br /&gt;
"aku takut"&lt;br /&gt;
bukan soal itu bukan?&lt;br /&gt;
Jadi katakan, kenapa kau menyukaiku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
tentang kisah yang terpenggal&lt;br /&gt;
dan waktu yang sebatas berlalu&lt;br /&gt;
berusaha menyendiri dalam diam&lt;br /&gt;
tanpa kata, tanpa cerita&lt;br /&gt;
hanya lautan menit yang berkisah&lt;br /&gt;
dalam ingatan-ingatan yang tersisa&lt;br /&gt;
di kepalaku tentang dirimu&lt;br /&gt;
dalam keheningan yang menggoda&lt;br /&gt;
wajah wajah buku yang berdiri tanpa dosa&lt;br /&gt;
estetika modern tentang kehalusan dan kesombongan&lt;br /&gt;
meja tebal berpoles kayu &lt;br /&gt;
atau ruang makan yang bercerita tentang kita&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"aku takut"&lt;br /&gt;
luka itu mengeluarkan merah&lt;br /&gt;
membasahi putih bajuku&lt;br /&gt;
luka yang belum sembuh dalam ingatan masa lalu&lt;br /&gt;
meninggalkan kotor di atas kebersihan yang kau damba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukatakan, &lt;br /&gt;
bilakah putih menjadi putih di atas tanah ini?&lt;br /&gt;
yang penuh debu, noda, dan peluh&lt;br /&gt;
kecuali jika kau kembali ke langit sana&lt;br /&gt;
yang penuh dengan kesempurnaan yang kau benci.&lt;br /&gt;
atau memang dirimu tidak sesederhana yang kau katakan&lt;br /&gt;
serumit membersihkan noda di atas kain putih.&lt;br /&gt;
maka potongan rambut itu&lt;br /&gt;
dan nyanyian-nyanyian aneh yang kau suka&lt;br /&gt;
hanyalah tangga Escher&lt;br /&gt;
yang menuntunmu kebawah&lt;br /&gt;
padahal kakimu naik keatas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
aku memandanginya dengan wajah terbuka&lt;br /&gt;
sekilas ia bercerita tentang waktu&lt;br /&gt;
sekilas ia memantulkan diriku dari pancaran matanya&lt;br /&gt;
sekilas ia tersenyum&lt;br /&gt;
sekilas aku mengungkapkan, betapa&lt;br /&gt;
aku menyukainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-95641096715604866?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/95641096715604866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/putih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/95641096715604866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/95641096715604866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/putih.html' title='Putih'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5020208847373069971</id><published>2011-06-10T07:52:00.002+07:00</published><updated>2011-06-10T07:52:41.450+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Mati</title><content type='html'>Apa yang lebih nikmat daripada kematian?&lt;br /&gt;
Aku berpikir tentang mati&lt;br /&gt;
ketiadaan, tanpa kesadaran&lt;br /&gt;
tertutup tanah yang menimbun&lt;br /&gt;
terurai bersama mineral-mineral yang menyelimuti&lt;br /&gt;
meresap bersama luruhan air hujan&lt;br /&gt;
kembali keasal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
saat kau percaya ada Tuhan di sana&lt;br /&gt;
yang berjanji akan dunia yang berbeda&lt;br /&gt;
kau akan melihat kematian sebagai sebuah gerbang&lt;br /&gt;
yang membuka tangannya menerimamu&lt;br /&gt;
menyambut dengan sukacita&lt;br /&gt;
senyum wajah Tuhan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajah yang barangkali tidak mungkin kau lupakan&lt;br /&gt;
bahkan bila ribuan kekasih memelukmu&lt;br /&gt;
ia adalah genetika masa lalumu&lt;br /&gt;
yang diturunkan melalui beribu generasi&lt;br /&gt;
yang lebih dahulu mati &lt;br /&gt;
terurai kedalam bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiada jejak, hanya rekam perbuatan&lt;br /&gt;
yang tersimpan dalam memori zaman&lt;br /&gt;
tentang laku dan perilaku&lt;br /&gt;
serta kebodohan dan kepongahan &lt;br /&gt;
yang lalu tercerai saat napas terakhir itu melunglai&lt;br /&gt;
terkesima dirimu, dunia apa ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan waktu, yang bayangnya menyempit&lt;br /&gt;
membangkitkan tubuh-tubuh kotor dari kubur&lt;br /&gt;
pengadilan agung, miliaran jiwa&lt;br /&gt;
apakah ini kematian?&lt;br /&gt;
Jika iya, kenapa aku sadar bahwa aku telah mati&lt;br /&gt;
deja vu atau bukan&lt;br /&gt;
barangkali hanya artefak-artefak mimpi&lt;br /&gt;
yang tersisa di dinding otakmu&lt;br /&gt;
yang menyeruak sementara dalam ketidaksadaran&lt;br /&gt;
tapi kenyataan,&lt;br /&gt;
yang panas membakar, ada rasa sakit!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti sakit yang membuatmu mati&lt;br /&gt;
kemurungan, rasa bersalah, banjir bandang ingatan&lt;br /&gt;
bagaimana bisa!&lt;br /&gt;
Lalu kau merindu pada kehidupan,&lt;br /&gt;
dan memang kau hidup&lt;br /&gt;
untuk kali kedua&lt;br /&gt;
tapi tetap kau merindu kematian&lt;br /&gt;
jika saja, andaikata,&lt;br /&gt;
bukan horor yang kaudapatkan di atas padang tandus&lt;br /&gt;
ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku rindu kematian&lt;br /&gt;
kematian yang membawaku pada kehidupan&lt;br /&gt;
meski hanya sesaat&lt;br /&gt;
atau keabadian di mulut surga&lt;br /&gt;
Kumerindu wajahMu&lt;br /&gt;
ah, seandainya Kau mau memperlihatkannya saat kuhidup&lt;br /&gt;
di wajahnya &lt;br /&gt;
entah apa mungkin kan kurindu kematian&lt;br /&gt;
meski ia pasti datang&lt;br /&gt;
dalam persinggahannya yang tanpa lelah&lt;br /&gt;
ia pasti datang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5020208847373069971?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5020208847373069971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5020208847373069971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5020208847373069971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/mati.html' title='Mati'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5411668000160964703</id><published>2011-06-06T09:41:00.000+07:00</published><updated>2011-06-06T09:41:44.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Cinta, Al-Quran &amp; Sains (2)</title><content type='html'>Jadi, apa yang terjadi saat kita jatuh cinta? Otak secara teratur melepaskan sejumlah hormon seperti Feromon, Dopamin, Norepinefrin dan Serotonin ke seluruh tubuh. Di jantung, kimia tubuh ini meningkatkan heart rate yang membuat dada kita berdebar-debar. Sedang di kepala, keinginan untuk makan dan tidur pun perlahan-lahan mulai hilang, berganti dengan rasa rindu memikirkan orang yang kita cinta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hormon-hormon lain, macam Oksitosin dan Vasopresin membuat kita merasa dekat dengan orang yang kita cinta. Seandainya orang tersebut hadir dihadapan kita, kedua hormon ini langsung mengalir memberikan stimulus rasa tenang dan nyaman. Stimulus ini memberikan efek ketagihan, yang membuat kita merasa merana dan kosong tatkala efek dari hormon ini menghilang. Sayangnya, tidak ada yang mampu memicu kemunculan hormon ini kecuali kehadiran orang atau objek yang kita cintai. Otak kita dengan demikian telah terkondisikan dan belajar untuk mengatributkan kehadiran orang yang cinta dengan kehadiran rasa nyaman dan tenang. Hormon terakhir yang juga bekerja saat seseorang jatuh cinta adalah hormon seks, Testosteron dan Estrogen. Hormon inilah yang membuat kita terangsang dan merasa lebih siap untuk terlibat dalam tindak seksual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ketiga model hormon yang bekerja saat seseorang jatuh cinta ini, Helen Fisher (seorang antropolog evolusionis yang mendidikasian waktunya selama lebih dari 30 tahun untuk mempelajari kata cinta) mendefinisikan tiga tahapan cinta yang saling tumpang tindih: hasrat, ketertarikan, dan keterikatan. Tahap pertama, yakni hasrat, adalah keinginan untuk berpasangan dengan seseorang. Pada tahap ini, hormon yang bekerja adalah hormon seks yang hanya mampu bertahan dalam hitungan minggu dan bulan saja. Di tahap berikutnya, ketertarikan, hormon yang bekerja adalah kimia tubuh yang membuat jantung kita berdebar-debar dan kehilangan nafsu makan. Ia berlangsung lebih lama dari tahap pertama, dan efeknya mampu membekas dalam diri kita antara 1,5 hingga 3 tahun. Tahap ini juga dikenal sebagai awal tahap cinta romantik yang intens.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terpanjang dari tiga tahapan cinta tersebut adalah tahap keterikatan, yang terkait secara langsung dengan hormon Oksitosin dan Vasopresin. Tahap inilah yang menurut Fisher menjadi dasar dari hubungan cinta jangka panjang macam pernikahan atau hubungan orang tua dengan anak-anak mereka, kerena efek yang membekas bisa berlangsung hingga puluhan tahun. Apabila tahap keterikatan merupakan tahapan cinta yang paling panjang, maka tahapan cinta yang paling kuat terjadi pada tahap cinta romantik. Orang yang ditolak cinta romantiknya, lebih mungkin terkena depresi bahkan melakukan tindak bunuh diri daripada orang yang ditolak berhubungan seksual. Fakta ini menunjukkan betapa kuat pengaruh dari tahapan cinta kedua tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Well,&amp;nbsp; sepertinya kita harus mengakui bahwa pada awalnya semua yang kita artikan sebagai cinta tak lain adalah reaksi kimia tubuh belaka yang secara subjektif terjadi dalam diri kita. Ia hanyalah kondisi eksklusif yang tidak ada hubungannya dengan orang lain, sehingga hanya kita seorang yang merasakannya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah memang demikian yang disebut dengan cinta? Bisakah definisi cinta Fisher membedakan sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan cinta yang terjawab? Bukankah cinta adalah kesatuan kerja antara dua manusia, dan bukan fenomena tunggal? Untuk menjawab hal ini, kita berpaling kepada psikologi dalam mendefinisikan macam-macam cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu teori yang paling terkenal tentang macam-macam cinta adalah teori segitiga cinta yang digagas oleh psikolog Robert Sternberg. Berbeda dari Fisher yang memfokuskan diri pada aspek neuro-hormonal, Sternberg mengkaji cinta dalam konteks hubungan interpersonal. Menurut Sternberg, cinta memiliki tiga komponen yang saling terkait yang bernama: keintiman, hasrat, dan komitmen. Keintiman adalah kondisi yang membuat seseorang merasa terkait, dekat, dan terhubung dengan orang yang ia cinta. Ia mengikat dua orang untuk saling berbagi rahasia yang tidak akan ia ungkapkan selain kepada orang yang benar-benar intim dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasrat, sebagaimana Fisher, juga diartikan sebagai ketertarikan seksual kepada seseorang. Sedangkan komitmen, adalah keputusan untuk menetap dan berbagi pencapaian serta rencana dengan orang yang kita cinta. Ketiadaan tiga unsur cinta ini oleh Sternberg dinamakan sebagai kondisi tidak ada cinta. kondisi tersebut berlawanan dengan Cinta Sempurna yang merupakan kondisi ideal dari sebuah cinta, yang menurutnya berlangsung singkat dan sangat susah dipertahankan dalam jangka panjang. Jika demikian, jenis-jenis cinta apa yang mungkin terjadi dalam sebuah hubungan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sternberg mengemukakan 6 jenis cinta berdasarkan ada tidaknya ketiga komponen cinta tadi dalam sebuah hubungan:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Persahabatan. Dalam persahabatan, komponen utama yang muncul adalah keintiman, sedangkan 2 komponen cinta lainnya tidak hadir. Dalam persahabatan, kita tidak merasa tertarik untuk berhubungan seksual kepada orang yang kita intimi, tidak juga tertarik membangun sebuah komitmen bersama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Birahi. Dalam birahi, komponen utama yang hadir adalah hasrat, sedangkan keintiman dan komitmen absen didalamnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Cinta Kosong. Adalah cinta yang hanya bersandar pada komitmen semata. Cinta jenis ini biasanya hadir dalam pernikahan yang berlangsung begitu lama sehingga setiap pasangan sama-sama telah kehilangan keintiman dan hasrat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Cinta Romantik. Berbeda dari Fisher, cinta romantik dalam definisi Stenberg adalah cinta yang berdiri atas dasar keintiman dan hasrat, serta tidak memiliki komitmen sama sekali.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Cinta Kesetiakawanan. Yakni cinta yang hadir didalamnya unsur keintiman dan komitmen, tapi bukan hasrat. Cinta jenis ini biasanya hadir antar sesama anggota keluarga atau antara dua orang sahabat dekat yang tumbuh dalam diri masing-masing sebuah cinta platonik.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Cinta Dungu. Adalah cinta tanpa kehadiran unsur keintiman. Cinta jenis ini mudah sekali goyah dan berakhir dalam perceraian.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Sebagaimana psikologi modern yang sangat tergantung kepada matriks kuantitatif dan bukan kualitatif, maka tidak ada yang benar-benar tahu pada level apa atau jenis cinta yang mana hubungan kita dengan orang yang kita cinta berada. Bahkan apabila kita sudah yakin sekalipun, selalu saja ada perubahan dalam setiap indikator dari hari kehari, sehingga diperlukan nilai median yang bisa dipercaya, atau kembali kepada perasaan kita masing-masing. Pada cinta jenis apa kita menyukai seseorang?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5411668000160964703?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5411668000160964703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/cinta-al-quran-sains-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5411668000160964703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5411668000160964703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/cinta-al-quran-sains-2.html' title='Cinta, Al-Quran &amp; Sains (2)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-6844991822921035098</id><published>2011-06-04T07:13:00.001+07:00</published><updated>2011-06-04T07:29:01.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Cinta, Al-Quran &amp; Sains (1)</title><content type='html'>Aku bertanya kepada Tuhan tentang arti cinta. Dia hanya dapat berkata, "Wahai Rasul, katakan kepada orang-orang Mukmin, "Apabila kalian lebih mencintai bapak, anak, saudara, istri, kerabat serta harta yang telah kalian dapatkan, juga perdagangan yang kalian takuti kerugiannya serta rumah yang kalian pakai untuk beristirahat dan bertempat tinggal daripada Allah, Rasul- Nya dan berjihad di jalan-Nya, sampai-sampai itu semua lebih menyibukkan kalian daripada menolong Rasul, maka tunggulah sampai Allah menjatuhkan keputusan dan hukuman-Nya atas kalian. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang keluar dari batas-batas agama-Nya." (Q. 9:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;ahabba&lt;/i&gt; yang diterjemahkan dengan term "lebih mencintai" di ayat tadi, merupakan bentuk superlatif dari kata &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt;, yang secara sederhana dapat diartikan menyukai. Kata &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt; sendiri adalah sebuah kata generik yang sangat banyak digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kesukaan manusia entah kepada Tuhan, keluarga, harta benda, serta kebiasaan dan tindakan tertentu. karena merupakan kosa kata generik, &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt; tidak serta merta dapat kita samakan dengan kata cinta, terlebih jika kita menggunakan istilah ini secara khusus kepada &lt;i&gt;eros&lt;/i&gt;. Jika demikian, dengan kata apa sebenarnya kita memaknai cinta dalam al-Quran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa kosa kata lain dalam Al-Quran selain &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt; yang dapat kita terjemahkan sebagai cinta. Saya akan memulai dari kata yang sudah sangat terkenal, &lt;i&gt;mawaddah&lt;/i&gt;. Kata ini kerap kita temui dalam setiap hajatan pernikahan, dan akan kita temukan ekspresinya yang metafisis di ayat 30:21 "Dan di antara tanda-tandaNya adalah bahwa Dia menciptakan bagi kalian, kaum laki-laki, istri-istri yang berasal dari jenis kalian untuk kalian cintai (sakan). Dia menjadikan kasih sayang antara kalian dan mereka. Sesungguhnya di dalam hal itu semua terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir tentang ciptaan Allah. "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kata &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt; yang memiliki medan semantik yang sangat luas, kata &lt;i&gt;mawaddah&lt;/i&gt; yang diartikan sebagai kasih sayang dalam ayat di atas, juga tidak digunakan secara eksklusif untuk memaknai hubungan cinta seseorang dengan pasangannya. Kata &lt;i&gt;mawaddah&lt;/i&gt; dalam Al-Quran bahkan digunakan dalam konteks hubungan sosial antara sesama umat muslim, atau dengan umat beragama lainnya, membuat kata tersebut lebih dekat maknanya dengan kata toleransi dan sikap kasih sayang antar sesama manusia, humanisme, daripada cinta dalam budaya modern.&amp;nbsp; Sehingga, atribusi sejajar antara kata cinta yang mengandung &lt;i&gt;eros&lt;/i&gt; tidak berhasil kita sematkan dalam kata &lt;i&gt;mawaddah&lt;/i&gt; yang menampakkan keluhuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kita simak kembali ayat 30:21 diatas, maka kita akan menemukan sebuah kejanggalan penterjemahan. Yang saya maksud adalah menyamakan term &lt;i&gt;litaskunu ilayhi&lt;/i&gt; dengan kalimat "untuk kalian cintai".&amp;nbsp; Kata kerja &lt;i&gt;sakana&lt;/i&gt; yang menjadi akar term tadi, sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai "tinggal bersamanya" atau "tenang bersamanya". Tapi penerjemahan &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; sebagai cinta dalam terjemahan diatas juga tidak sepenuhnya salah, karena salah satu manifestasi dari cinta adalah ketenangan, meski tidak semua "ketenangan" dapat kita artikan sebagai cinta. Yang membuat ayat ini menarik, kita menemukan ekspresi ketiga dari kata cinta dalam Al-Quran yaitu &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; secara diakronik bukanlah term khas Al-Quran. Kata ini bahkan digunakan dalam Bibles Ibrani dalam bentuk &lt;i&gt;shekhinah&lt;/i&gt; yang berarti kehadiran Tuhan di muka bumi. Secara semantik, makna &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;shekhinah&lt;/i&gt; memiliki beberapa kesamaan. Dalam Al-Quran kita menemukan ekspresi &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; saat Rasulullah dan Abu Bakr berhasil lolos dari kejaran kaum Quraisy. Sebelumnya, kedua sahabat ini mengalami rasa cemas yang tinggi hingga kemudian Tuhan menenangkan keduanya dan dapat melanjutkan proses hijrah ke Madinah. Hal serupa bahkan kita temukan dalam adegan penemuan tabut, yang membuat bala tentara Yahudi merasa tenang dan percaya diri sehingga mampu memenangkan pertempuran. Dari kedua konteks diatas, kita dapat memahami bahwa ketenangan yang dihasilkan oleh &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; adalah ketenangan yang membawa pencerahan, dan sangat berbeda dari cinta yang memabukkan dan membutakan pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa dengan demikian, kita tidak dapat mendefinisikan kata &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt; sebagai sebuah ekspresi kecintaan dalam Al-Quran? Sebelum menjawab hal tersebut, ada baiknya jika kita mencari tahu bagaimana Al-Quran mengekspresikan bentuk kecintaan yang sangat memabukkan lagi membutakan itu. Petunjuk akan hal ini dapat kita temukan jejaknya dalam kisah Yusuf dan kaum Luth. Tidak dapat dipungkiri, kisah Yusuf menjadi referensi paling luas dalam Al-Quran saat berusaha menjelaskan detil hidup yang penuh warna dan emosional. Terdapat banyak sekali kepentingan individu, ego, dari setiap tokoh yang terlibat. Ada rasa takut, hasrat, dan juga harapan. Diantara sekian ekspresi emosional, terdapat sebuah cuplikan ayat yang secara gamblang memotret hasrat seksual.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan  Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu  andaikata dia tidak melihat petunjuk (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar  Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya  Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.(Q. 12:24)&lt;/blockquote&gt;&amp;nbsp;Ayat di atas memberikan gambaran kepada kita tentang intensi dan gairah yang dirasakan baik oleh Yusuf maupun istri Al-Aziz. Intensi ini tidak digambarkan secara vulgar oleh Al-Quran yang lebih memilih menggunakan kata kerja generik &lt;i&gt;hamma&lt;/i&gt; yang berarti berkeinginan kuat untuk melakukan sesuatu. Karena tidak memberikan petunjuk apa-apa, maka kita membutuhkan penafsiran lain akan ayat tersebut. Ayat yang paling pas untuk menafsirkan ayat 24 tadi tak lain adalah kelanjutan dari kisah Yusuf yang tertera di ayat ke-30. Di ayat ini kita menemukan term baru yang sangat khas menggambarkan intensi mental istri Al-Aziz, &lt;i&gt;syagafaha hubban&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata &lt;i&gt;syagaf&lt;/i&gt; seperti termaktub pada term diatas memiliki makna tersergap dan terkuasai secara tiba-tiba. Kata ini secara intrisik menggambarkan perasaan eros yang kuat pada seseorang atau sesuatu. Namun, sebagaimana term-term cinta sebelumnya, kata &lt;i&gt;syagaf&lt;/i&gt; tidak mampu berdiri sendiri. Oleh Al-Quran ia dipasangkan secara paralel dengan kata generik kita yang pertama, &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt;. Ya, kata &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt; tampaknya telah tampil sebagai kata kunci utama Al-Quran dalam menggambarkan perasaan suka yang berada di dalam dada. Lalu, bagaimana Al-Quran menggambarkan sebuah tindak mencinta yang penuh dengan hasrat seksual? Jawaban akan hal tersebut terdapat dalam gambaran tentang kaum Luth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Q. 7:81 kita mendapati teguran Tuhan yang sangat keras terhadap perilaku homoseksualitas kaum Luth. Al-Quran menggambarkan perbuatan keji mereka dalam sebuah kalimat interogatif&lt;i&gt;a ta'tuna al-rijal syahwatan min duni al-nisa&lt;/i&gt;, yang dapat diartikan: "apakah kamu mendatangi &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt; kepada laki-laki bukannya perempuan?" Di sini, kata kunci utama yang sangat berperan adalah &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt;. Kata &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt; sendiri berarti gairah atau passion. Dalam Al-Quran ia selalu tampil dalam bentuk &lt;i&gt;noun &lt;/i&gt;dan tidak pernah dalam bentuk verbal. Sehingga untuk menggambarkan sebuah keinginan atau tindakan yang dipenuhi oleh &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt;, Al-Quran senantiasa menggandengnya dengan kata lain, macam &lt;i&gt;ata&lt;/i&gt;, yang berarti mendatangi, atau &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt; yang berarti menyukai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu ayat Al-Quran yang memuat relasi &lt;i&gt;hubb al-syahawat &lt;/i&gt;ini adalah Q. 3:14 "Dijadikan indah pada manusia kesukaan (&lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt;) kepada &lt;i&gt;syahawat&lt;/i&gt; (sing. &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt;), dari wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis  emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali  yang baik (surga)." Yang menarik dari ayat ini adalah, &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt; tidak digunakan secara eksklusif dalam pengertian seksual, tapi meliputi segala jenis objek yang didefinsikan sebagai &lt;i&gt;mata'&lt;/i&gt; atau kesengangan hidup manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa ternyata kata cinta dalam arti hasrat dan gairah seksual, tidak mendapat definisinya yang memadai dalam Al-Quran. Semua kosa kata yang telah kita bahas, selalu memiliki relasi inklusif dengan bentuk emosi lain di luar kriteria cinta sebagaimana kita pahami.&amp;nbsp; Sehingga kita tidak menemukan satu pun kata yang secara eksklusif digunakan Al-Quran untuk menggambarkan dan mendefinisikan cinta. Dengan kata lain, cinta kepada perempuan sama umumnya dengan cinta kepada anak-anak, harta benda, dan kendaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal lain yang juga patut kita perhatikan adalah posisi setiap objek tadi dihadapan &lt;i&gt;syahwat &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt;. Al-Quran selalu menempatkan mereka pada posisi sebagai objek tidak langsung dari kondisi mental tersebut.&amp;nbsp; Seperti pada kalimat "menyukai &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt; dari wanita", kata wanita di sini tidaklah menjadi objek langsung dari &lt;i&gt;hubb&lt;/i&gt;, tapi menjadi objek sekunder dari kondisi mental bernama &lt;i&gt;syahwat&lt;/i&gt;. Apabila kita ingin berspekulasi, maka kita dapat memahami bentuk Quranik ini sebagai pernyataan bahwa rasa cinta itu, suka atau tidak suka, pada awalnya adalah sebuah perasaan subjektif yang lahir dari sebuah kebutuhan naluriah dalam diri manusia. Apakah spekulasi ini benar? Satu-satunya cara untuk mengecek hal tersebut adalah dengan meneliti bagaimana pandangan sains modern terhadap cinta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-6844991822921035098?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/6844991822921035098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/cinta-al-quran-sains-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6844991822921035098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6844991822921035098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/06/cinta-al-quran-sains-1.html' title='Cinta, Al-Quran &amp; Sains (1)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2314702439852344512</id><published>2011-05-27T06:30:00.001+07:00</published><updated>2011-05-27T06:48:29.596+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Membaca Surat Al-Jum'ah</title><content type='html'>Kata &lt;i&gt;al-jum'ah&lt;/i&gt; yang menjadi judul dari surat ke-62 dalam al-Quran, merujuk secara literal kepada hari Jumat. Hari ini dalam tradisi Islam dikenal sebagai salah satu hari peribadatan, sebagaimana hari Sabtu bagi umat Yahudi, dan Ahad bagi umat Kristen. Sebagai hari peribadatan, yang ditandai dengan dijalankannya shalat Jumat berjamaah sebagai pengganti shalat zuhur, maka surat yang turun di Madinah ini dibuka dengan pernyataan singkat tentang puja dan puji yang dikumandangkan seluruh makhluk kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah sendiri, dalam ayat pertama digambarkan sebagai raja yang maha suci, perkasa, lagi bijaksana. Penegasan mengenai karakter Tuhan tersebut diimplementasikan pada ayat selanjutnya yang menjelaskan bahwa hanya Tuhanlah yang mampu menurunkan seorang rasul ditengah komunitas &lt;i&gt;ummy&lt;/i&gt;, yang tidak memiliki tradisi kenabian. Kesalingterkaitan antara ayat pertama dan kedua ini, memunculkan pertanyaan dalam benak kita, kenapa Tuhan membuktikan kemahasucian, keperkasaan, dan kebijaksanaannya dengan mengirimkan seorang rasul ditengah-tengah komunitas &lt;i&gt;ummy&lt;/i&gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petunjuk bagi pertanyaan ini dapat kita temukan dalam frase kedua ayat tersebut yang berbunyi, "&lt;i&gt;...rasul yang membaca kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan diri mereka, sekaligus mengajarkan al-Kitab, hikmah, saat masyarakat tempat nabi tersebut diutus tengah berada dalam kesesatan yang nyata &lt;/i&gt;(Q. 62:2).&amp;nbsp; Tentu saja, frase kedua tersebut tidak akan dapat kita pahami sebagai jawaban atas pertanyaan sebelumnya. Bahkan, keberadaan ayat ketiga yang masih dapat dimasukkan sebagai anak kalimat dari ayat kedua, juga tidak menjelaskan secara utuh arti dari pengutusan rasul kepada sebuah komunitas &lt;i&gt;ummi&lt;/i&gt;y Ia hanya memberikan penegasan tambahan, bahwa kenabian maupun kerasulan adalah manifestasi atas kemahakuasaan dan kebijaksanaan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian, dengan cara apa kita memaknai pengutusan rasul di komunitas &lt;i&gt;ummy&lt;/i&gt; ini sebagai manifestasi dari kemahasucian, keperkasaan dan kebijaksanaan Tuhan? Jawaban pertama akan hal tersebut tertera pada ayat keempat yang memaknai kerasulan sebagai sebuah karunia, &lt;i&gt;fadhl&lt;/i&gt;, yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dalam makna yang berdekatan, ayat keempat juga memberikan perspektif baru tentang karakter Tuhan, yakni Dia yang memiliki karunia lagi agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Term &lt;i&gt;fadhl&lt;/i&gt; dalam surat &lt;i&gt;al-Jumah&lt;/i&gt; sendiri memiliki dua bidang makna yang saling melengkapi. Di satu sisi, ia merujuk kepada kepada agama atau kondisi mental, sedang di sisi yang berbeda ia merujuk kepada rejeki, penghidupan, yang dapat kita rumuskan sebagai kondisi material dan fisik. Namun sebelum memahami makna kedua dari kata &lt;i&gt;fadhl&lt;/i&gt; itu, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu maknanya yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang belum terbiasa dengan gaya bahasa al-Quran yang seakan meloncat-loncat dan tidak memiliki kesatuan tema, tentu akan bertanya, kenapa tiba-tiba muncul sebuah sindiran terhadap umat beragama di luar Islam, tepat ketika kita hendak memahami arti dari fadhl? Jawaban yang paling mungkin atas pertanyaan ini adalah, Al-Quran hendak mengkontraskan antara dua tipologi masyarakat beragama. Masyarakat pertama adalah masyarakat Arab yang tidak memiliki tradisi kenabian sama sekali, sedang masyarakat kedua adalah masyarakat Yahudi yang dikenal luas selama berabad-abad memiliki tradisi kenabian yang sangat kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat pertama, sebagaimana telah kita ketahui dari ayat kedua, dikenal sebagai masyarakat yang mengalami revolusi mental yang sangat signifikan. Yakni masyarakat yang dahulu berjalan pada jalan yang sesat, tiba-tiba berubah 180' menjadi masyarakat yang tersucikan jiwanya dan melakukan kebajikan. Sedangkan masyarakat kedua, meski mereka telah memiliki sebuah kitab suci, Tawrat, yang dipelajari secara turun temurun ribuan tahun, ternyata tidak serta merta menjadikan mereka lebih baik dari masyarakat pertama tadi. Karena, meski telah memiliki kitab suci, tapi mereka tidak menganggapnya seabagai panduan yang harus ditaati. Al-Quran bahkan memberi perumpamaan masyarakat kedua ini seperti keledai yang hanya dapat mengangkat buku tapi tidak mampu memahami apalagi mengaplikasikan pengetahuan yang termaktub dalam buku-buku tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perumpamaan mengenai keledai yang tercantum di ayat kelima tadi, diperjelas kembali di ayat berikutnya yang memuat kesombongan orang Yahudi yang merasa sebagai bangsa terpilih. Al-Quran dengan hati-hati merumuskan tuduhan tersebut dengan merujuk kepada klaim masyarakat Yahudi yang menganggap komunitas mereka sebagai komunitas yang mewakili kehendak Tuhan di muka bumi ini, &lt;i&gt;awliya Allah&lt;/i&gt;. Akan klaim yang tidak memiliki dasar kebenaran yang valid itu, Al-Quran memberikan argumentasi logis yang sangat menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita anggap sebuah komunitas adalah wakil Tuhan, jika dan hanya jika komunitas itu memahami arti penting dari realitas kehidupan di dunia Dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, kehidupan dunia tidak lebih dari sebuah fatamorgana yang penuh kepalsuan. Mereka yang memahami makna ini, tentu akan berpikir bahwa tidak ada gunanya mengejar kenikmatan hidup di dunia, karena apa yang kita kejar itu bukanlah sesuatu yang nyata. Ia hanyalah kepalsuan yang tidak dapat memberikan kepuasan sama sekali. Jika demikian, maka buat apa manusia hidup? Tentu akan lebih baik jika tidak ada kehidupan di dunia ini, karena memang tidak ada gunanya. Makna yang tersirat dari kesia-siaan hidup di dunia ini, hanya dapat dipahami oleh mereka yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Oleh sebab itu sudah sewajarnyalah masyarakat Yahudi yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan untuk meminta kebinasaan, karena bukankah itu jawaban paling logis atas fatamorgana dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasionalisasi atas realitas hidup ini, rupanya tidak dianggap serius oleh komunitas Yahudi. Alih-alih memohon agar Tuhan segera mencabut nyawa mereka, justru masyarakat beragama ini berusaha agar tidak segera mati dan terus menikmati kesenangan duniawi. Kemunafikan kaum Yahudi tersebut oleh Al-Quran dikategorikan sebagai sebuah perbuatan yang zalim, yang tidak pantas untuk diikuti. Seraya menegaskan bahwa, setiap manusia pasti akan mati dan akan ditimbang perbuatannya selama di dunia pada hari akhir nanti. Jadi buat apa menyombongkan diri dengan kebenaran yang sudah jelas itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan ekstrim tentang kefatamorganaan dunia yang muncul pada agama Yahudi membuat persepsi mereka tentang agama menjadi ambivalen. Muncul ketidaksinkronan antara apa yang harus dan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka. Cara keberagamaan yang tidak wajar ini jelas tidak sehat, dan harus dijauhi. Pada titik inilah, keberagamaan masyarakat ummi yang baru dibentuk oleh Tuhan muncul sebagai sebuah karunia yang harus disyukuri. Ia memberikan kita contoh bagaimana beragama yang semestinya, tanpa harus terjebak oleh simbol-simbol agama yang menipu. Bahwa tidak ada satu orang pun yang merasa lebih berhak atas Tuhan dibanding orang lain. Bahwa agama adalah soal etika, praktik dan perbuatan, serta bukan klaim politik apalagi kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakter keberagamaan Islam sebagai sebuah &lt;i&gt;fadhl&lt;/i&gt;, atau karunia Tuhan, diperkuat maknanya pada ayat ke-9 dan 10 yang menjadi inti dari surat al-Jum'ah, sekaligus memberikan pemahaman baru kepada kita tentang arti kata &lt;i&gt;fadhl&lt;/i&gt; yang kedua.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Wahai orang-orang beriman, jika kalian telah dipanggil untuk shalat Jumat maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Apa yang diperintahkan itu lebih bermanfaat bagi kalian jika kalian mengetahuinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kalian telah melakukan salat, maka bertebaranlah untuk berbagai kepentingan. Carilah karunia (&lt;/i&gt;fadhl&lt;i&gt;) Allah dan berzikirlah kepada-Nya banyak-banyak, dalam hati maupun dan dengan ucapan. Mudah-mudahan kalian beruntung.&lt;/i&gt; (Q. 62:9-10)&lt;/blockquote&gt;Sangat menarik jika kita membandingkan visi Al-Quran atas hari Jumat dengan visi penganut agama lainnya tentang hari utama mereka. Sebagaimana kita ketahui, baik umat Yahudi maupun Kristen, sama-sama menganggap hari besar mereka, yakni Sabtu dan Minggu sebagai hari yang hanya dikhususkan untuk beribadah semata. Pada kedua hari tersebut, masing-masing komunitas meliburkan diri dari kegiatan duniawi dan hanya berfokus kepada kegiatan beribadah semata, baik di sinagoga maupun di gereja. Bagi Al-Quran, hari utama umat Islam berbeda dengan hari utama umat Yahudi dan Kristen--bukanlah sebuah hari yang dikhususkan untuk libur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Frase pertama ayat 9 yang mencantumkan nasehat untuk meninggalkan kegiatan perekonomian saat azan zuhur berkumandang, memberikan petunjuk kepada kita akan ketiadaan fungsi beristirahat pada hari Jumat. Dalam kasus ini, hari jumat sama seperti hari-hari lainnya yang diisi oleh kegiatan mencari penghidupan. Perbedaan satu-satunya hanya ada dalam bentuk ibadah shalat Jumat berjamaah, yang berlangsung singkat dan tidak mengambil jatah seharian penuh. Bentuk keagamaan yang sangat praktis inilah yang menjadi karunia bagi umat Islam. Mereka tidak kehilangan semangat religiusitas, juga tidak sepenuhnya tercerap kedalam remeh temeh hidup sehari-hari. Karena bagaimanapun juga, keuntungan yang didapat dari kegiatan perekonomian, serta bekerja, dapat dikategorikan sebagai &lt;i&gt;fadhl&lt;/i&gt; dari Tuhan, sebagaimana keberagamaan itu sendiri yang merupakan karunia dariNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski demikian, tidak selamanya keseimbangan "dunia-akhirat" ini berjalan langgeng. Ada beberapa kasus dimana umat Islam lebih condong kepada urusan dunia daripada akhirat. Contoh yang paling utama ketika Rasulullah SAW ditinggalkan sahabat-sahabatnya saat tengah khutbah Jumat, hanya karena ada kesempatan jual beli yang sangat sayang untuk ditinggalkan. Perilaku tersebut kemudian disindir oleh Al-Quran di ayat terakhir surat Al-Jum'ah, seraya menegaskan bahwa meski keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut adalah karunia dari Tuhan, tapi tindakan beribadah dengan mendengarkan khutbah Jumat jauh lebih baik. Bukankah Tuhan yang yang memberi kita rejeki, maka kenapa tidak kita patuhi perintahnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam maknanya yang terluas, surat al-Jum'ah memberikan kepada kita visi tentang masyarakat baru yang mampu menyeimbangkan kehidupan sekuler dan agama. Masyarakat baru ini bukanlah masyarakat yang terjebak dalam simbol-simbol keberagamaan, tapi masyarakat progresif yang mampu bergelut dengan kehidupan dunia, tapi tidak terlena olehnya. Progresifitas masyarakat baru ini, tidak akan mungkin terjadi seandainya pola keberagamaan mereka tidak dirubah. Dari yang berbasis keagamaan simbolik, menjadi keberagamaan yang berorientasi praktis-etik. Selain itu, keberhasilan masyarakat baru dengan pola keberagamaan yang progresif ini jelas merupakan campur tangan Tuhan, yang melaluinya membuktikan kepada kita kemahkuasaan, kesucian, dan kebijaksanaan-Nya di muka bumi ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah a'lam bi al-shawwab&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2314702439852344512?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2314702439852344512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/membaca-surat-al-jumah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2314702439852344512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2314702439852344512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/membaca-surat-al-jumah.html' title='Membaca Surat Al-Jum&apos;ah'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-6502679803624213340</id><published>2011-05-23T08:48:00.000+07:00</published><updated>2011-05-23T08:48:26.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Warna</title><content type='html'>Kuning dan ceria&lt;br /&gt;
senyum dan bahagia&lt;br /&gt;
aku berpikir tentang keduanya&lt;br /&gt;
ceria dan bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bingkai mungil&lt;br /&gt;
dari balik sudut 45'&lt;br /&gt;
warna adalah kata&lt;br /&gt;
mimik adalah pesan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
goresan tanah,&lt;br /&gt;
ranting dan dedaunan&lt;br /&gt;
yang jatuh terserak,&lt;br /&gt;
atau rengekan kera&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hanyalah konteks yang menguap&lt;br /&gt;
pergi tak berduka&lt;br /&gt;
meninggalkan raut halus&lt;br /&gt;
yang semakin lama semakin nyata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sedang wajah itu,&lt;br /&gt;
dan senyum yang mengiringinya&lt;br /&gt;
melekat kuat dalam ingatan&lt;br /&gt;
sebagaimana kuning dan bahagia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati siapa yang kau tutupi.&lt;br /&gt;
Dalam kerapuhan nan retak&lt;br /&gt;
reruntuhan harapan&lt;br /&gt;
yang kau bangun lalu hancur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelaga yang tergores dalam&lt;br /&gt;
yang masih bisa kau lihat jejaknya&lt;br /&gt;
bahkan setelah ribuan polesan&lt;br /&gt;
senyuman dan senyuman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah jarak ribuan mil&lt;br /&gt;
yang berkisah tentang birunya laut&lt;br /&gt;
pasir putih di pantai&lt;br /&gt;
aroma hutan dan pesisir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengoles luka itu&lt;br /&gt;
dengan warna-warni baru&lt;br /&gt;
yang bukan kuning yang bukan putih&lt;br /&gt;
warna lain yang belum ada padamu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang berkata tentang&lt;br /&gt;
keindahan, senyuman&lt;br /&gt;
kebahagiaan&lt;br /&gt;
dan kejujuran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
yang membangun kembali batu bata jiwa&lt;br /&gt;
mengairi lagi ladang-ladang harapan&lt;br /&gt;
tunas baru nan hijau&lt;br /&gt;
dedaunan mungil yang siap berfotosintesis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan desahan angin&lt;br /&gt;
yang tidak ribut, lagi tenang&lt;br /&gt;
menemaninya tanpa lelah&lt;br /&gt;
menghela tanpa perdaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
hijau di sini&lt;br /&gt;
tumbuh bersama klorofil&lt;br /&gt;
mensintesis kuning menjadi putih&lt;br /&gt;
melahirkan manis&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku masih melihat wajah itu&lt;br /&gt;
yang terpampang jelas&lt;br /&gt;
di depan wajahku&lt;br /&gt;
ia tersenyum&lt;br /&gt;
bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-6502679803624213340?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/6502679803624213340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/warna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6502679803624213340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6502679803624213340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/warna.html' title='Warna'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2129138076134257488</id><published>2011-05-20T07:44:00.000+07:00</published><updated>2011-05-20T07:44:35.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Klise</title><content type='html'>Darimana datangnya cinta? Apakah bisa kita menamakan hasrat untuk memiliki sesuatu sebagai asal-usul dari cinta? Bukankah menyamakan cinta dengan kepemilikan itu sebagai sesuatu yang egois. Seperti mengatakan, aku ingin baju itu karena baju itu cantik. Dan aku ingin memilikinya karena aku ingin ia menjadi bajuku. Maka cinta pun sinonim dengan kepemilikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukankah orang yang saling mencintai itu merasa saling memiliki satu sama lainnya. Tatkala kamu melihat orang yang kamu cintai membutuhkan sesuatu, maka dengan senang hati pula kau akan membantunya, bahkan tanpa harus diminta. Ekspresi kepemilikan dengan demikian terletak pada keinginan untuk menjaga. Jika kembali kepada baju, mungkin kesadaran tersebut sangat mirip dengan sikap kita dalam merawat baju tersebut. Mencucinya jika kotor, mensetrikanya agar rapih, dan menyimpannya dengan tepat agar tidak dirusak serangga. Dan ketika saatnya tiba, kau akan memakai baju itu dengan bangga dihadapan semua orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah itu? Lalu apa yang akan dikatakan oleh baju kepadamu? Apakah ia merasa senang diperlakukan seperti itu? Seandainya ia bisa bicara, apakah ia akan berterima kasih atas caramu memperlakukannya. Mungkin ia ingin tampil lecek, agak longgar dan memberimu kenyamanan daripada kepantasan. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh baju. Kalau kau mencintaiku, kenapa kau tutup mulutku. Menyandera keinginan dan hasratku, lalu mengatakan hasratmu sebagai satu-satunya hasrat yang pantas untuk ditampilkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untungnya, cinta kita pada seseorang tidak mirip dengan cinta kita terhadap baju, walaupun terkadang cara kita memperlakukannya sama seperti cara kita memperlakukan barang yang kita punyai. Kita mempersepsi orang yang kita cinta dalam perspektif dan pola pikir kita semata. Kita membuat mereka yang kita cintai laksana objek, dan menjadikan cinta laksana aturan-aturan yang mengikat, yang hanya menguntungkan kita semata. Itukah cinta? Bagaimana jika kita mengatakan, aku mencintai kamu dan dengan begitu aku hanya ingin melihatmu bahagia, entah dengan cara apa kebahagiaan itu datang, dan dalam kondisi apa ia berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin terdengar klise. Mungkin juga agak menyedihkan. Ketika cinta tidak serta merta tumbuh di antara kedua pihak. Jika ia hanya menghampiri yang satu, dan meninggalkan yang lain. Membuat gundah yang satu dan membuat yang lain bingung, terbengong-bengong, atau bahkan tersinggung. Bisakah kita menggunakan ke-klise-an tadi untuk kondisi seperti ini, atau malah berlalu pergi dengan patah hati, meninggalkan segala yang kau bangun terbengkalai, karat kemudian lapuk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku tidak tahu darimana datangnya cinta atau apa itu cinta, tapi jika ia datang kembali, bisakah kau dengan senang hati singgah diujung sana. Memberitahu yang satu dan menghampiri yang lain, karena bangunanku masih utuh berdiri hingga nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2129138076134257488?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2129138076134257488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/klise.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2129138076134257488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2129138076134257488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/klise.html' title='Klise'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-4778632375341485249</id><published>2011-05-17T15:04:00.002+07:00</published><updated>2011-05-17T15:04:30.465+07:00</updated><title type='text'>Calm</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0pAyitnNS8E/TdIr6HqRY9I/AAAAAAAABfI/uOayU9VgYvc/s1600/Calm_Sea_01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-0pAyitnNS8E/TdIr6HqRY9I/AAAAAAAABfI/uOayU9VgYvc/s320/Calm_Sea_01.jpg" width="213" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;I just want to calm like sea.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-4778632375341485249?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/4778632375341485249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/calm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/4778632375341485249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/4778632375341485249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/calm.html' title='Calm'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0pAyitnNS8E/TdIr6HqRY9I/AAAAAAAABfI/uOayU9VgYvc/s72-c/Calm_Sea_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-3525125575811709203</id><published>2011-05-17T05:36:00.003+07:00</published><updated>2011-05-20T07:48:44.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Revisi</title><content type='html'>Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu  kira-kira bunyi pepatah untuk menggambarkan bagaimana susahnya menebak  isi hati seseorang, terlebih jika orang tersebut adalah perempuan. Ya,  untuk urusan yang satu ini terus terang saya belum dapat benar-benar  memahaminya. Walaupun pergaulan saya dengan perempuan semakin lama  semakin bertambah, entah di kehidupan nyata maupun maya, tapi membaca  isi hati seorang perempuan jelas bukan perkara yang mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya  jadi teringat beberapa minggu sebelum putus dengan my ex, saat hujan  deras dan kebetulan saya sedang tidak enak hati, SMS dan telepon darinya  sengaja tidak saya jawab. Saya berpikir untuk sedikit cooling down  dengan tidak memikirkan apa-apa termasuk dirinya. Mungkin karena putus  asa, ia justru mengirimkan SMS terakhir yang menanyakan apa saya  benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengannya (bukan pertanyaan sih,  tapi lebih mirip pernyataan). Karena saya memang tidak ingin  mengakhirinya, barulah saya jawab SMS tersebut dengan langsung menelpon  dirinya, bahwa saya sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal  tersebut sambil berusaha menenangkan hati dan meyakinkannya. Syukur, ia  paham dan masalah pun kami anggap selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya saya  tidak benar-benar mengerti isyarat yang hendak disampaikan. Belum  sampai seminggu, setelah telepon panik tersebut, ia justru benar-benar  memutuskan hubungan dengan saya. Ya, tentu saja ada beberapa tutur kata  dan percakapan kami yang tidak akan saya publish di posting ini  hehehe... tapi satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata, apa  yang kita tangkap dari sebuah pernyataan yang mirip pertanyaan tadi  (dengan menganggap bahwa sayalah yang akan mengakhiri semuanya) justru  benar-benar terjadi. Meski posisinya telah berubah. Bukan saya yang  memutuskan hubungan itu, tapi justru dirinyalah sendiri yang  melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apa hubungan antara kilasan memori ini dengan pepatah yang saya cantumkan di awal tulisan tadi? &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;,  percaya atau tidak, semestinya kita memang dapat mengukur dan  mengetahui isi hati seseorang. Tentu saja, cara mengetahui isi hati itu  berbeda dari cara kita mengetahui dalamnya laut-yang dilakukan dengan  menenggelamkan bola timah yang dikaitkan pada setambang tali, atau  menggunakan perangkat sonar. Cara kita mengetahui isi hati seseorang  tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menganalisis bahasa dan  percakapan yang ia lakukan. Dalam bahasa kerennya, &lt;i&gt;Conversation Analysis&lt;/i&gt;, atau setelah dimodifikasi menjadi &lt;i&gt;Discourse Analysis&lt;/i&gt;.  Metodologi yang digunakan dalam studi etnik dan sosial yang  menggabungkan kajian lingustik, antropologi, dan psikologi untuk  mempelajari sebuah percakapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, rasanya tidak asyik  jika saya membahas term ilmiah tersebut dalam posting singkat ini. Yang  ingin saya sampaikan hanyalah, seandainya saya bisa mendayagunakan  teknik ilmiah tersebut, barangkali saya bisa mengetahui maksud  sesungguhnya dari pernyataan atau pertanyaan si ex itu. Implikasi  praktisnya jelas, saya dapat meminimalisir efek merugikan yang  seandainya muncul dari percakapan kami. Sayangnya, saat itu saya belum  mengenal CA dan DA, pun setelah mengenalnya juga tidak benar-benar bisa  mengaplikasikannya, kecuali jika saat itu saya tengah berada di ruang  penyadapan CIA yang dilengkapi alat-alat canggih untuk menganalisis  intonasi suara, konsistensi ujaran, atau hal-hal lain yang dapat  mengetahui secara presisi emosi seseorang, lengkap dengan seorang  pengamat dan penasihat yang secara &lt;i&gt;live&lt;/i&gt; memberikan  instruksi-intruksi teknis mengenai kata-kata apa yang seharusnya saya  sampaikan kepadanya. Hey, hey, hey, saya kan bukan &lt;i&gt;secret agent!&lt;/i&gt; :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lepas  dari segala kekurangan dan pemikiran aneh tersebut, sepertinya saya  masih juga belum bisa mengetahui kelanjutan dari proposal cinta yang  saya sampaikan beberapa hari yang lalu, atau kalau ingin &lt;i&gt;matching&lt;/i&gt;  dengan judul posting ini, saya masih belum tahu isi hatinya itu.  Memang, kami telah bertukar SMS dan kembali chatting dengan intens, tapi  tidak ada satupun dari pesan-pesan yang ia sampaikan itu yang secara  langsung dan terang-terangan mengindikasikan, entah penerimaan atau  penolakan terhadapa proposal saya itu. Apakah saya harus mengajukan  proposal tambahan, melengkapi detilnya, atau apa? Sampai tahap ini, saya  masih berusaha menganalisis kalimat-kalimat yang ia sampaikan, tapi  dengan segala hormat wahai akal sehatku, kok ya rasanya tidak tepat saja  melakukan kajian yang benar-benar rasional dan ilmiah saat kita tengah  dimabuk asmara. &lt;i&gt;yes, I really stuck now&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya  sih, saya datang langsung kepadanya sambil mengatakan hal tersebut  secara terang-terangan dihadapannya dan menunggu, entah baik atau buruk  keputusan yang bakal ia ambil. Hanya saja, nasib sampai saat ini belum  berpihak kepada saya. Saat seharusnya saya libur, justru ia masuk, dan  saat dirinya yang libur, eh saya yang harus masuk kantor dan bekerja  sepanjang hari. Pun ada beberapa periode dimana saya berusaha hendak  menghubunginya atau mengirimkannya pesan, tapi tidak ada yang ia angkat  atau jawab. Ah, saya benar-benar di posisi yang sangat sulit, terlebih  jika mengkaitkannya dengan pesaing yang memiliki peluang yang jauh lebih  besar dan probabilitas yang lebih tinggi dibandingkan saya (efek dari  mendalami analisis SWOT kali ya). :(&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya hal  yang membuat saya optimis hanyalah kesediaan dia untuk mengoreksi  posting-posting saya yang berbahasa Inggris itu yang menurutnya  benar-benar membuat dirinya geregetan (waktu saya tanya apakah saya  tidak membuatnya geregetan, dia justru balik bertanya, &lt;i&gt;are you playing comedy romantic&lt;/i&gt;?  D'oh!-repot juga berhubungan dengan perempuan pintar. Hehehe...) Dan  begitulah, dia benar-benar serius dengan perkataannya tersebut, atau  lebih tepat tulisannya. &lt;i&gt;She offered herself as private English grammar teacher to me&lt;/i&gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai  langkah awal, saya kirimkan salah satu posting saya yang berbahasa  Inggris kepadanya. Beberapa jam kemudian, ia mengirimkan hasilnya yang  membuat saya tersenyum sekaligus tertawa sendiri betapa kacau grammatika  Inggris saya (pantas bu Imelda tidak pernah mengomentari tulisan saya  yang berbahasa Inggris, jangan-jangan juga membuat kepalanya pusing  tujuh keliling kali ya hahaha...). "Di atas &lt;i&gt;past tense&lt;/i&gt;, trus tahu-tahu ini jadi “becomes”. Padahal masih dalam bentuk lampau bukan? Use “became” &lt;i&gt;instead&lt;/i&gt;", tulisnya mengomentari ketidakkonsistenan saya dalam menggunakan tenses. Dan ketika saya menggabungkan dua kata, &lt;i&gt;but&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;still&lt;/i&gt;, dengan serta merta ia langsung mengomentari, "pada dasarnya sih &lt;i&gt;but&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;still&lt;/i&gt; itu artinya sama saja :D coba lihat kamus di bagian &lt;i&gt;still&lt;/i&gt;. Jadi ini &lt;i&gt;redundant&lt;/i&gt; :)". Oh begitu ya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus  terang, meski tulisan saya banyak sekali ia corat-coret dan komentari,  tapi justru hal tersebut membuat saya senang. Belum pernah seorang pun  yang mengkritik penggunaan tata bahasa dalam tulisan saya sedemikian  detil dan "sadis" kecuali dirinya. Wow. Saya pun dengan suka cita  menulis revisi dari posting saya tersebut dan mengirimkannya kembali  kepadanya. Itu pun masih juga ia komentari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"&lt;i&gt;i'm  still bothered with the word miniaturized&lt;/i&gt;. kl di kamus itu bukan &lt;i&gt;verb&lt;/i&gt;,  tapi &lt;i&gt;adjective&lt;/i&gt;. jadi lebih tepat '&lt;i&gt;a miniaturized thought&lt;/i&gt;'. Tapi ya ggp  sih, sekali2 break the rule :p"&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Akhirnya... :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah  kita dengan serta merta menganggap segala bentuk perhatian itu sebagai  sebuah afirmasi atas proposal yang telah saya kirimkan kepadanya?  Menghubungkannya dengan kemampuan seseorang memberikan yang terbaik  kepada orang yang ia cintai. Tapi bagaimana jika perhatian itu hanyalah  sebuah &lt;i&gt;distraction&lt;/i&gt;, bahasa halus untuk mengatakan, oke hubungan  kita hanya sebatas ini saja lho dan tidak lebih. Entahlah, saya  benar-benar buntu dalam hal ini, dan tidak benar-benar tahu isi hatinya,  karena semua bukti yang dapat saya amati sama-sama memberikan petunjuk  yang sama kuatnya. Laksana pertarungan tanpa henti antara sikap  pesimisme dan optimisme dalam pikiran rasional saya. Apa harus saya  revisi kembali proposal cinta itu? Jika iya, apa yang seharusnya  dilengkapi, dan apakah ia benar-benar akan menerima revisi tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;O  dear, how about this. You guide me for grammatical mistakes in English  and maybe some basic French, and I in turn teach you Arabic. Deal? :D&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ah, I'm always learning you.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-3525125575811709203?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/3525125575811709203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/revisi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3525125575811709203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3525125575811709203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/revisi.html' title='Revisi'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-383279169394643270</id><published>2011-05-15T14:31:00.003+07:00</published><updated>2011-05-20T07:49:06.203+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Proposal Cinta</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Saya tidak tahu berapa kali saya "menembak" perempuan-eee, bukan menembak secara harfiah dengan pistol dan senapan ya, tapi secara figuratif. Menyatakan cinta langsung pada orang yang saya anggap mau menerima cinta saya. Pertama kali, saat masih cinta monyet, duduk bersama di serambi rumahnya dan berbicara ngalor ngidul sebagai pembukaan yang sangat buruk. Hasilnya, saya bahkan tidak mampu mengucapkan kata itu sepatah kata pun. Mungkin si dia bingung dengan bahasa saya yang melompat-lompat campur aduk sok ilmiah, hingga berakhir pada kesimpulan. "eh sudah sore, kamu gak pulang ya?" D'oh!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kali kedua, dengan perempuan yang berbeda, saya mencobanya melalui telepon. Menanyakan kabar apakah kamu sehat-sehat saja, bagaimana pekerjaan di kantor, bingung ga? Jawabannya sangat santai, terlalu jelas, dan sangat lancar. Anehnya, justru itulah yang membuat saya bingung. Maka kesempatan satu-satunya dengan menelpon dari tempat yang saya pikir tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mendengar dan menyadap pembicaraan super rahasia itu, lemari, tidak kesampaian. Maka alih-alih mengucapkan kata sakti itu, saya malah secara sembrono bilang, "besok kayaknya saya tidak masuk kantor deh, agak demam nih malam ini". Si perempuan yang ingin saya tembak itu langsung mengiyakan, mengucapkan doa singkat, dan menutup telpon, "selamat malam".&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ah sesusah itukah cara mengucapkan cinta? Sungguh saya memang benar-benar buta soal itu. Tapi dari dua pengalaman gagal pertama tersebut, saya justru belajar bahwa "the proposal" jelas bukan awal dari segalanya. Seperti yang dikatakan bos saya, survey, survey, dan survey! Kita harus menguasai medan, mengerti seluk beluk persoalan, dan mampu memberikan solusi yang benar-benar tepat. Wow, seperti sedang menghadapi medan tempur saja.&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Trust me, it's more war-like. Saying love is a point where you decide to make your stand clear. Not a friend, or foe, enemy, but as partner in love. So, why don't you invest much time and effort to make your decision right&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Belajar dari nasehat sederhana itu, saya pun menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengenal dan mengetahui seluk beluk kehidupan perempuan ketiga yang berusaha saya tembak. Barangkali ada setahun saya mempelajarinya, meski hasil yang didapat sangatlah sedikit. Namun usaha yang lambat itu ternyata membuahkan hasil. Pada suatu malam, lewat tukar SMS dan email, akhirnya saya dapat mengatakan cinta pada seorang perempuan untuk pertama kalinya. Ah, tentu kamu akan mengerti rasanya bagaimana jatuh cinta.&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Swing your mood to its highest point, blooming your heart, cherish face, and everything so wonderful and colorful.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Ternyata saya bisa!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sayangnya, semua jerih payah itu tidak seindah yang dibayangkan. Semakin lama semakin mengenal kepribadiannya, maka semakin jauh juga saya dari kepribadian yang saya miliki. Tentu saja, saat kamu mengatakan cinta pada orang yang kamu cintai, kamu membutuhkan lebih banyak pengorbanan untuk menyesuaikan ritme hidupmu dengan ritme kehidupan yang ia miliki. Membiasakan diri melihat segala suatu dari sudut pandang dia, dan itu berarti mengorbankan beberapa sisi liar yang seharusnya ada di dalam hatimu. Singkat kata, gaya hidup dia benar-benar tidak sesuai dengan gaya hidup yang saya miliki.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Maksud saya, tentang visi kedepan. Tentang bagaimana kita di masa depan. Antara aku dan dia hanya ada jurang yang menganga yang semakin lama semakin dalam.&amp;nbsp; Awalnya, saya sempat berpikir bahwa alienasi itu hal yang lumrah. Namun kenyataannya, semakin saya jujur dengan diri saya, maka semakin tersiksa juga pikiran dan perasaan saya. Saya membayangkan kami sebagai Zeus yang menikahi Leda. Tentang langit yang jatuh hati kepada bumi, yang memerangkap dirinya dalam keindahan-keindahan tanah yang semakin lama semakin gelap. Hingga tidak bisa lagi kau temukan awan putih yang menemani langit, atau kicauan burung yang hinggap di atas hijaunya pohon. Ia hanyalah kuburan yang memerangkap malam dan mengusir mentari.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Ah, saya benar-benar tidak mampu mengatakannya. Dan semua yang telah saya coba bina selama setahun lebih, binasa dalam waktu yang sangat singkat. Saya selalu bersyukur, bahwa bukan saya yang mengucapkan perpisahan itu. Meski selama hampir dua tahun saya mencoba untuk menetralisir semua kenangan terindah yang pernah kami miliki. Ya, dua tahun. Saya selalu berpikir untuk tidak menikah. Tidak berhubungan dengan wanita, dan menarik diri dari perlombaan mencari gen yang tepat. Tidak ada yang saya mau. Bahkan tawaran dari pengurus masjid yang mencoba menjodohkan anaknya dengan saya, tidak saya tanggapi dengan serius. Hanya datang, berkenalan sebentar, lalu kosong.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tentu saja banyak tekanan yang harus saya dapatkan. Mulai dari tante saya (dulu suaminya juga pernah memperkenalkan saya dengan kemenakannya yang lain, tapi saya masih menutup diri kala itu) yang menyuruh cepat-cepat menikah, atau omongan ibu saya yang sangat bawel jika berhubungan dengan masalah itu. Seakan-akan cuma dia satu-satunya ibu di dunia yang belum menggendong cucu. "Oh!" Sebagai anak pertama, dan cucu pertama di keluarga besar ibu dan bapak, yang memiliki selusin adik dan sepupu yang mengharapkan agar si sulung ini segera pecah telur agar yang lainnya langsung menyusul, jelas posisi saya benar-benar tidak menguntungkan. Dan cara terbaik untuk menghilangkan itu semua, cukup dengan menganggap bahwa mungkin saya memang belum layak untuk menikah. "So what?" Silahkan saja melangkahi kalau mau, toh saya tidak keberatan. Tapi dasar orang Jawa. Mereka mungkin menganggap yang satu itu yang harus pecah terlebih dahulu. Soal sisanya akan saling menyusul atau tidak, itu urusan lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dalam keadaan hampa udara ini, akhirnya saya cuma bisa berdoa. Kebetulan kala itu saya memiliki tiga opsi. Pertama, kembali ke perempuan sebelumnya. Kedua, dengan anak pengurus masjid. Ketiga, dengan perempuan yang belum pernah saya temui tapi sudah menjalin persahabatan cukup lama di dunia maya. Opsi pertama ternyata gagal, karena yang bersangkutan sudah menjalin cinta lagi dengan lelaki lain, dan setelah gagal dengan lelaki itu, kini menjalin cinta lagi dengan lelaki baru (wow, kalau ditotal mungkin mantan pacarnya ada lima, belum termasuk saya! Hehehe). Opsi kedua, saya coba dekati melalui SMS. Tapi sejak pertama kali SMS saya kirim ke nomor hp-nya tidak pernah sekalipun ia membalas. Usut punya usut, ternyata ibu saya salah memberikan nomor hp perempuan itu, dan kesalahan tersebut baru saya ketahui dua bulan setelah SMS pertama saya kirimkan. Itu pun setelah saya dengan susah payah melacak keberadaan akun facebook-nya. Hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Opsi ketiga sebenarnya tidak terlalu menggembirakan. Saya mungkin tertarik dengan caranya bertutur, kemampuan berbahasa dan berpikirnya yang baik serta runut, atau senyum manisnya yang lebar itu. Namun, satu hal yang paling mengganjal saya adalah, ternyata ia sudah memiliki pacar. Sebagai orang yang juga putus karena pengaruh orang ketiga, terus terang saya tidak berani mengusik hubungan mereka. Saya benar-benar menghormati orang yang ia cintai. Lagi, setelah saya melihat foto-foto pacarnya di FB, saya sempat bergumam, jika karakter yang bersangkutan lumayan baik kok. Jadi saya benar-benar tidak punya alasan kuat untuk masuk kedalam kehidupan mereka secara membabi buta. Jadi saya pikir, opsi ketiga ini benar-benar tidak dapat diandalkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Entah kenapa, setelah tiga pilihan itu saya panjatkan ke Tuhan, tiba-tiba saya terkejut dengan sebuah posting di blog perempuan ketiga ini. Ternyata dia benar-benar putus dari pacarnya! Memang tidak langsung terjadi seperti dalam sinetron Islam KTP yang hanya dalam hitungan detik semua doa langsung terkabul.&amp;nbsp; Butuh sebulan lebih bagi doa itu untuk bekerja-jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tersebut. :) Tapi sungguh, yang saya lihat itu bukan khayalan di mata saya. Semuanya benar-benar terjadi.&amp;nbsp; Ah, ternyata saya masih belum juga mau percaya. Maka kupikir kenapa tidak meminta Tuhan untuk mempertemukan kami berdua, face to face, empat mata? Sebuah permintaan yang kupikir mustahil karena jarak dan laut yang memisahkan kami berdua.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Tapi memang tidak ada yang mustahil sih-sekali lagi jika kita benar-benar mau menggunakan istilah tersebut. Dan ya, semuanya memang tidak berjalan dengan lancar. Hanya entah kenapa, kok bisa-bisanya si perempuan ketiga ini mengirim sebuah email ke saya meminta kiat-kiat menulis buku. Dengan senang hati saya berikan semua hasil karya saya kepadanya, sambil bertanya, "punya alamat YM tidak?" Dan begitulah saudara, hari-hari &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt; kami berdua dimulai. Ya, saya selalu menganggapnya sebagai perempuan berpendidikan, yang haus akan pengetahuan. Jadi saya memulai semua chatting entah dengan diskusi sebuah persoalan teoritis, atau membicarakan pemikiran-pemikiran dia tentang segala hal. Dan semuanya berjalan dengan sangat perlahan dan lamban.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Hingga suatu ketika, saya teringat kembali dengan permintaan saya ke Tuhan. Jika bisa membuat kami berkomunikasi, maka bisakah Engkau membuat kami bertemu? Kembali, saya mendapat jawaban. Ternyata si perempuan ketiga ini benar-benar datang ke Jakarta hendak mengurus ijazahnya waktu kuliah. Apa ini sebuah kebetulan? Entahlah, saya kadang terlalu pesimis dengan doa. Kupikir, Tuhan kan tidak pernah berhutang apa-apa pada saya, jadi buat apa Dia menjanjikan sesuatu yang saya minta. Tapi apa memang begitu cara Tuhan berpikir? Atau, jika Dia memang tidak memiliki hutang apapun, buat apa Dia mengabulkan permintaan banyak manusia di muka bumi ini? Ah, pemikiran yang benar-benar absurd. Satu yang tidak absurd hanyalah, ternyata kami benar-benar bertemu!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kala itu, di perpustakaan Freedom Institute, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan perempuan ketiga ini.&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Wow, she's so wonderful!&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Lebih manis dari yang ada di foto, meski agak terlalu kurus. Dan saya, terlalu kucel, dan agak kotor. Kontras sekali dengan caranya berpakaian yang ya, respectable. Karena grogi, jadilah saya menampilkan komputer saya si Julia sebagai bahan perbincangan. Tidak terlalu menarik sih, tapi saya kira cuma kami berdua saja yang membuat seantero ruang perpustakaan membisu. Maaf ya, maaf jika pembicaraan kami mengganggu kekhusyukkan kalian dalam membaca. Hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Dari pertemuan pertama, ia kembali lagi ke kota asalnya, dan kupikir itu yang pertama dan terakhir kalinya kami bertemu. Namun semua berubah tatkala ia memberi kabar untuk kembali lagi ke Jakarta belajar bahasa asing. Ah, ternyata saya punya kesempatan untuk melakukan itu lagi. Sambil terus mempelajari dirinya, saya pun mulai kembali membangun sisa-sisa harapan yang dulu hendak saya bangun dan gagal. Tentang masa depan yang dulu hilang begitu saja, tentang harapan yang bersinar kembali, tentang karir baru yang meski dengan seberapapun kecil gaji yang saya terima tapi tetap saya niatkan untuk ditabung. Tentang kehidupan yang kembali kehadapan saya: asuransi, jaminan sosial, kartu ATM yang kembali berfungsi, dan tentu saja zakat. Yah, akhirnya saya bisa mendapatkan "hidup" saya kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Mengatakan dekat secara geografis akan memudahkan kita dalam mengenal lebih dekat dengan seseorang ternyat salah. Kedekatan saya dengan si perempuan ketiga ini saat di Jakarta sangat berbeda dari saat ia berada di kota asalnya. Tentu saja saya agak frustasi. Meski telah memiliki nomor hp-nya, tapi saya masih ragu untuk melakukan komunikasi intens dengannya. Pun, chatting kami di YM makin lama makin berkurang, dan kembali rasa ragu itu bersemayam di dada saya. Apakah yang saya lakukan ini benar atau salah, tahukah dia apa yang saya rasakan? Apakah saya benar-benar harus mengatakan itu? Terusterang, saya tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa saya menyukai dirinya. Saya berusaha untuk tidak membuatnya tersinggung atau marah, atau kemungkinan lain yang justru membuat segalanya menjadi gagal. Saya ingin membangun sebuah fondasi cinta yang solid, membuatnya sealamiah mungkin dan mengalir semurni mungkin. Tapi ah, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tepat ketika saya mulai merasakan rindu untuk bertemu dengannya, saat itulah ia mulai memberitahukan saya sesuatu yang membuat saya sangat terkejut.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Malam ini, ia bercerita tentang kisahnya dua hari yang lalu. Tentang betapa jengkelnya ia dengan saya, gara-gara menjawab chatting dengan singkat. Jujur saja, dua hari yang lalu saya juga merasa heran kenapa tiba-tiba saya sangat emosional, dan mulai berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Jangan-jangan dia sudah punya pacar baru, jangan-jangan dia sudah ada yang melamar.&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;What should I do?!&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Rupanya pula, &lt;i&gt;my hunch&lt;/i&gt; tidak sepenuhnya salah. Semalam, ia memberitahu saya bahwa ada salah satu peserta kursus yang menyatakan sebuah proposal cinta terang-terangan kepadanya.&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Oh God&lt;/i&gt;. Dia memang tidak serta merta mengiyakan proposal itu, sambil mengutip tulisan saya di blog ini, "bagaimana mungkin kita mencintai orang yang tidak kita cintai sama sekali!" Namun ia juga tidak berkata tidak. Proposal yang ia terima lumayan bagus, masuk akal dan memiliki masa depan, dan itu membuat saya tertantang. Saya seakan menghadapi sebuah permainan baru yang memaksa saya untuk bertindak dengan cepat dan tepat. Maka sepanjang malam itu, kami pun berdiskusi panjang lebar tentang cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Kenapa kita manusia menikah? Adakah cinta yang murni itu? Bisakah kita hidup hanya dengan cinta? Apabila ada orang yang menikah bukan karena cinta, bisakah pernikahan itu berakhir bahagia seperti pernikahan yang berlandaskan cinta? Sungguh, tidak ada pertanyaan sesulit itu. Saya tidak dapat menjawab semua pertanyaannya, tapi juga tidak mau semua harapan saya hilang begitu saja. Maka setelah perbincangan hampir 4 jam itu berakhir, dan ia telah meminta izin untuk tidur, saya pun segera meraih telepon genggam saya dan menulis sebuah pesan singkat ke nomor hp-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="border-left-color: rgb(204, 204, 204); border-left-style: solid; border-left-width: 2px; color: grey; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 10px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;I just thought, what if I made a kind like proposal to you. Not too fancy, but I think it will be works well. What's in your mind?&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Lama berselang, muncullah balasan darinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="border-left-color: rgb(204, 204, 204); border-left-style: solid; border-left-width: 2px; color: grey; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 10px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;I don't know. I doubt you're choosing me, because of considering your rational thinking. I don't think I'm a good choice for you&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Astaga, ternyata dirinya menganggap pemikiran saya yang terlalu rasional sebagai sebuah penghalang. Saya bingung harus membalas apa. Tapi karena saya memang tidak sepenuhnya rasional, maka saya hanya dapat menjawab kenyataan tersebut, sambil menyatakan bahwa posting-posting saya di blog ini juga tidak sepenuhnya rasional kok.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Penuh canda ia menanggapi bahwa saat menulis itu saya memang sedang tidak lagi rasional. Ah, entahlah. Bagaimana cara saya menjawabnya kembali. Maka saya pun mengakui terang-terang kepadanya bahwa saya berpura-pura rasional dihadapannya. Ups, salah langkah. Ia justru menjawab, "apa lagi kepura-puraan yang ada pada diri saya?" Oh! Akhirnya, saya hanya membalas singkat dalam tiga pesan terakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="border-left-color: rgb(204, 204, 204); border-left-style: solid; border-left-width: 2px; color: grey; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 10px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Nothing. I'm just learning you. Not as object&lt;/i&gt;, tapi sebagai manusia utuh. Interaktif, but no math. :p"&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;"I just learn to love you&lt;/i&gt;. *kuharap kamu tidak marah. :)"&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Saya tidak tahu apa jawaban yang akan ia berikan. Semuanya kosong. Ia tidak membalas pesan saya yang terakhir itu. Karena galau, saya pun segera mengambil air wudhu dan langsung shalat istikharah. Apakah benar yang telah saya lakukan? Apakah begitu cara yang tepat? Apa saya terlalu terburu-buru? Sungguh saya tidak tahu, dan usai shalat, saya pun hanya bisa mengetik posting ini, berharap ia dapat memahami benar-benar apa yang ada dalam benak, pikiran, dan hati saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;br style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;i style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;I just want to say, I really love you.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-383279169394643270?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/383279169394643270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/proposal-cinta.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/383279169394643270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/383279169394643270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/proposal-cinta.html' title='Proposal Cinta'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2046209335018507171</id><published>2011-05-14T15:02:00.002+07:00</published><updated>2011-05-14T22:12:34.542+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><title type='text'>Amoeba</title><content type='html'>What if there is no such thing like love in this world. No married, no sex. Just clone yourself, and think nothing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I just thought if I was an amoeba. What a life.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2046209335018507171?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2046209335018507171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/amoeba.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2046209335018507171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2046209335018507171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/amoeba.html' title='Amoeba'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-1677407937116852462</id><published>2011-05-10T12:35:00.005+07:00</published><updated>2011-05-10T12:56:49.356+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inter-religious study'/><title type='text'>Tentang Injil</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Testament-corrected-committee-American-ebook/dp/B002RKSI1E?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="The New Testament of our Lord and Savior Jesus Christ. The common English version, corrected by the final committee of the American Bible Union." src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B002RKSI1E&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;New Testament&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B002RKSI1E" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;Saya baru membaca sebuah ide bagus tentang Injil pada sebuah &lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;blog&lt;/a&gt;. Tiba-tiba saya teringat dengan tulisan saya sendiri dalam buku yang sampai saat ini belum juga diterbitkan. Karena tidak ingin berdebat tanpa dasar, dan kebetulan pemikiran saya sedang tidak "in" dalam persoalan agama, maka perkenankan saya untuk mengutip tulisan saya sendiri di blog saya. Sebagai informasi Injil jelas sebuah istilah khas al-Quran, dan itu berarti definisinya sangat tergantung pada definisi yang diberikan al-Quran kepada kita. Berbeda dengan kata Bible atau Gospel yang merupakan istilah khas Kristen, sehingga segala definisi yang datang kepada kita tentang kedua kata tersebut bersandar sepenuhnya pada literatur Kristen. Pertanyaan yang paling menggelitik saat ini, bisakah kita menyamakan Bible atau Gospel dengan Injil? Sebuah pertanyaan yang seringkali membuat mereka yang tidak pernah membuka Kitab Suci umat Kristen terkecoh. Untuk lebih jelasnya, berikut ini penggalan pendapat saya mengenai Injil. Selamat menikmati. :) &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Mendefinisikan Injil&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in;"&gt;Kesimpang-siuran pendapat soal Isa tidak terlepas dari perbedaan makna kitab suci dalam ajaran Kristen dan Islam. Kedudukan Injil dalam Dunia Kristen berbeda dari kedudukan Al-Quran dalam kepercayaan Umat Islam. Bagi penganut Kristen, wahyu bukanlah hak prerogatif Isa, karena bagi mereka Isa adalah "anak tuhan", melainkan para Hawariyun yang meraka anggap sebagai rasul. Para Hawariyun inilah yang kemudian menulis buku berisi ajaran, kisah dan perjalanan hidup Isa berdasarkan wahyu yang menginspirasi mereka. Kata Injil sendiri kemungkinan besar merupakan serapan dari bahasa Ethiopia &lt;i&gt;wengel&lt;/i&gt; yang memiliki padanan kata dalam bahasa Yunani, &lt;i&gt;evangelion&lt;/i&gt;, yang berarti “membawa kabar gembira”. Dalam bahasa Inggris, &lt;i&gt;evangelion&lt;/i&gt; ini dinamakan Gospel dan bermakna kumpulan kepercayaan. Gospel terdiri atas empat buku berisi kesaksian tentang Isa yang ditulis oleh: Matius, Markus, Lukas dan John (bedakan dengan Nabi Yahya). Bersama dengan berbagai buku lain, ia kemudian disatukan kedalam sebuah kumpulan tulisan yang bernama Bible. Bible dalam agama Kristen berbeda dari Bible Ibrani, yang merupakan kumpulan kitab suci Yahudi. Bible Kristen biasanya terbagi menjadi dua bagian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama terdiri dari beberapa pilihan buku yang ada dalam Bible Ibrani, sedang Perjanjian Baru terdiri dari Gospel dan buku-buku pilihan yang ditentukan keabsahannya oleh otoritas Gereja. Bible Katolik dan Protestan memiliki sejumlah perbedaan mendasar tentang isi dan urut-urutan buku yang tercantum di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Sampai disini, kita menghadapi permasalahan yang kompleks berkenaan dengan relasi Injil dengan kitab-kitab yang ada ditangan pemeluk agama Kristen. Paling tidak terdapat empat kemungkinan logis berkenaan dengan masalah ini: &lt;b&gt;(&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;a&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)&lt;/b&gt; Injil merujuk kepada keseluruhan isi Perjanjian Baru–&lt;i&gt;New Testament&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;(&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;b&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)&lt;/b&gt; Injil hanya merujuk secara khusus kepada Gospel &lt;b&gt;(&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;c&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)&lt;/b&gt; Injil mencakup Perjanjian Baru dan semua kitab yang beredar di Dunia Kristen tapi tidak tercantum di dalam Perjanjian Baru karena dianggap menyimpang dari Ortodoksi atau biasa disebut sebagai &lt;i&gt;apocryphal&lt;/i&gt;–menyimpang. &lt;b&gt;(&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;d&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;)&lt;/b&gt; Injil tidak merujuk kepada satupun dari buku-buku yang dikenal dalam dunia Kristen. Sebelum menjawab persoalan ini, ada baiknya kita mengetahui pandangan dan definisi Al-Quran terhadap Injil.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Dalam Al-Quran, kata Injil muncul sebanyak dua belas kali yakni pada Q. 3:3,48,65; 5:46,47,66,68,110; 7:157; 9:112; 48:29; 57:27 dan merujuk kepada kitab yang hanya diturunkan Allah kepada Isa. Karena merupakan wahyu dari Tuhan, maka umat Kristen diperintahkan untuk memutuskan suatu perkara berdasarkan petunjuk yang terdapat di dalam Injil. &lt;i&gt;“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.”&lt;/i&gt; (Q. 5:47). Dalam ayat lainnya (Q. 5:68), bahkan dijelaskan  bahwa masyarakat Ahlul Kitab tidak dipandang beragama hingga menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil. Kedua ayat ini, bagi sebagian besar ulama ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa masyarakat Kristen pada saat itu, mengetahui dengan jelas isi dan ajaran Injil. Di ayat yang berbeda (Q. 3:3), disebutkan bahwa salah satu fungsi dari Al-Quran adalah untuk membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, yakni Taurat dan Injil. Dengan kata lain, terdapat kesinambungan antara ajaran Al-Quran dengan ajaran Taurat serta Injil.  &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Definisi Al-Quran tersebut pada mulanya tidaklah bermasalah, hingga kita berhadapan dengan realitas Perjanjian Baru, yang dalam banyak hal sangat bertentangan dengan definisi yang telah dijelaskan tadi. &lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; Injil dalam Al-Quran adalah perkataan Tuhan yang diturunkan kepada Isa, sedangkan redaksi dan teks dari Perjanjian Baru, termasuk Gospel, lebih menyerupai biografi Isa. Di sini, kedudukan Perjanjian Baru sangat serupa dengan kedudukan riwayat hadits atau &lt;i&gt;sirah&lt;/i&gt; dalam tradisi Islam. keduanya mencatat perbuatan dan perilaku Nabi SAW semasa hidup, demikian pula perkataannya. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Al-Quran hanya mengakui satu Injil dan bukan banyak buku sebagaimana terdapat dalam Gospel atau Bible. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, kandungan dari Perjanjian Baru banyak sekali yang bertentangan dengan prinsip tawhid, seperti peneguhan doktrin Trinitas atau panggilan Bapak kepada Tuhan.  Jika demikian, bagaimana kita menyikapi jurang definisi yang dalam ini?&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Mayoritas ulama menganggap, bahwa teks Perjanjian Baru yang ada saat ini telah dikorupsi oleh umat Kristen. Mereka dipandang telah merubah teks Kitab Suci mereka, atau yang dikenal dengan istilah &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;. Kata &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt; berasal dari akar kata &lt;i&gt;harafa&lt;/i&gt; yang berarti merubah sesuatu dari yang semestinya. beberapa sarjana kemudian berbeda pendapat perihal kata &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;. Sebagian besar menganggap &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt; secara literal, yakni merubah kata dan redaksi kitab suci, sedang lainnya, seperti Thabari dan Ibn Khaldun, mengaggap &lt;i&gt;tahrif &lt;/i&gt; sebagai cara penafsiran yang salah atau menyimpang. Kata &lt;i&gt;tahrif &lt;/i&gt;sendiri tidak dipakai oleh Al-Quran, sebaliknya yang digunakan adalah kata kerja &lt;i&gt;yuharrifun&lt;/i&gt; yang biasa disambung dengan frase &lt;i&gt;al-kalima min ba’d mawadhi’ihi&lt;/i&gt;–mengganti kalimat dari tempat yang semestinya, sebanyak tiga kali, pada Q. 5:41,13 dan 4:46. Yang menarik, atribusi &lt;i&gt;tahrif &lt;/i&gt;dalam Al-Quran selalu merujuk kepada Taurat dan Bani Israil saja bukannya Injil, sehingga mengatakan bahwa umat Kristen telah melakukan &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt; atas kitab suci mereka bukanlah ide yang memiliki dasar yang kuat dalam al-Quran. Hal tersebut kemudian diperkuat di Q. 2:75-79. &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Dari segi historis, buku buku dalam Perjanjian Baru ditulis antara tahun 50 hingga 150 M. Buku-buku tersebut kemudian dikompilasi pada abad ketiga. Di luar Perjanjian Baru, masih terdapat banyak buku lain yang ditulis oleh orang-orang Kristen, yang menyerupai Gospel, tapi tidak diakui sebagai bagian dari Perjanjian Baru. Buku-buku inilah yang dikenal sebagai &lt;i&gt;apocryphal&lt;/i&gt; dan menjadi pegangan bagi sekte-sekte Kristen yang tidak diakui oleh ortodoksi. Pada saat Nabi SAW hidup, tidak ada bukti bahwa, Perjanjian Baru atau setidaknya Gospel, telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Meski demikian, beberapa orang Kristen saat itu, termasuk Waraqah bin Nawfal–sepupu Khadijah,  yang mengetahui kenabian Muhammad SAW berdasarkan “Injil”, telah membaca entah Perjanjian Baru maupun &lt;i&gt;apocrypha&lt;/i&gt;. Fakta ini, bagi sebagian sarjana dijadikan argumentasi, bahwa yang dimaksud dengan Injil itu adalah keseluruhan Perjanjian Baru dan &lt;i&gt;apocrypha&lt;/i&gt; yang keberadaannya mulai terkuak satu persatu oleh penelitian arkeologis. &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Tapi menganggap Injil sebagai koleksi berbagai macam buku yang tidak jelas itu, justru menimbulkan lebih banyak kerumitan. &lt;span lang="id-ID"&gt;Untuk menjembatani masalah ini, b&lt;/span&gt;eberapa sarjana&lt;span lang="id-ID"&gt; Barat&lt;/span&gt; seperti W. C. Smith memberikan penafsiran, bahwa perkataan Tuhan yang disampaikan kepada Isa lah yang disebut sebagai Injil. Isa kemudian memberitakan perkataan Tuhan ini kepada hawariyun yang kemudian mencatat dan menyusunnya dalam buku yang juga memuat biografi sang nabi. Dengan demikian, isi Injil terefleksi di dalam Gospel, yang mencakup baik biografi maupun ajaran dan perkataan Isa. Pendekatan Smith ini pada akhirnya berkaitan pula dengan sebuah pertanyaan penting yang muncul dikalangan sarjana Kristen, pernahkah Isa menuliskan ajaran-ajarannya sendiri, atau adakah sebuah Gospel yang bernama Gospel Isa? &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Sejauh ini, sarjana Bible telah memetakan dan menelaah Perjanjian Baru, untuk menemukan perkataan-perkataan Isa yang asli. Perkataan-perkataan tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Q, dari &lt;i&gt;Quelle&lt;/i&gt; yang berarti sumber. Namun, Q tidaklah identik dengan Gospel Isa. Dengan demikian, pencarian akan dokumen yang hilang ini masih terus berlanjut. Seiring dengan ditemukannya bukti-bukti arkeologis penting, seperti &lt;i&gt;Naskah Laut Mati&lt;/i&gt; yang memberikan penjelasan tentang kehidupan sekte Qumran dan &lt;i&gt;Naskah Naj Hammadi&lt;/i&gt; yang mencatat ajaran sekte Gnostik, tampaknya penilaian kita akan validitas Perjanjian Baru, belumlah final. Hal tersebut, pada akhirnya membawa beberapa sarjana kepada kesimpulan radikal, bahwa Injil tidaklah identik dengan Gospel ataupun keseluruhan Perjanjian Baru. Pendapat ini dilontarkan oleh Muhammad Yusuf Ali yang telah menerjemahkan Al-Quran kedalam bahasa Inggris. &lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;Apapun kesimpulan yang kita buat, Al-Quran tetap menganggap orang-orang Yahudi dan Kristen yang ada pada saat ini sebagai Ahlul Kitab. Beberapa orang diantara mereka beriman, sedangkan sebagian besar fasik. Karenanya, Al-Quran menyeru kepada sebuah kalimat persamaan, antara umat Islam dan Ahlul Kitab, yakni kalimat tauhid.&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt; Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".&lt;/i&gt; Q. 3:64.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Demikian pemikiran saya tentang Injil, bagaimana menurut anda? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-1677407937116852462?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/1677407937116852462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/tentang-injil.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1677407937116852462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1677407937116852462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/tentang-injil.html' title='Tentang Injil'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-1426998931800344833</id><published>2011-05-10T11:36:00.001+07:00</published><updated>2011-05-10T11:43:40.930+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in Love'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><title type='text'>Split Track</title><content type='html'>When earth loves heaven, there will be someday a split track between them. Either both stays still on their position, or a gap divorces the two to their bottom hearts.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It could be a narrow bridge that catches their soul, but its suspension, vulnerable to fall. Indeed their love is a glue-bridge, that brings these two entities being one. It unites them, until its liquid hardened and freeze. So the glue becomes thinner day by day, at the end its will be broken. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, how to make these tracks being one? It's either earth that climbs to heaven or otherwise, heaven falls to the earth. Sure, there will be two heavens or two earths then, but not a pair of earth and heaven anymore.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-1426998931800344833?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/1426998931800344833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/split-track.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1426998931800344833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1426998931800344833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/split-track.html' title='Split Track'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-261980511749207053</id><published>2011-05-10T03:43:00.002+07:00</published><updated>2011-05-10T04:31:19.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IT Lifestyle'/><title type='text'>Doodles of Google</title><content type='html'>I like Google very much, although I don't really know exactly its birthday (boy, you can googling it right now). Yeah, I mean you're not to push to remember everything by its presents on your PC. Just write the web address on your browser and click "enter" (today you even no need to write Google) it just brings what you wants or what's spark  in your mind, and voila! In short, Google has succeed to simplifies our world.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
One feature I like so much in Google is doodle, an aimless drawing. The word itself sound funny and childish, and indeed the function of doodles in Google's interface are to makes our surfing experiences more enjoyable and fun. doodles always come with unexpected surprise by its fresh colourful theme to commemorate certain events or birthdays of inventor, scientist, famous peoples, and any related subject that shape our modern cultures. Take for example, today's Doodle, in remembrance of  76th birthday of Roger Hargreaves, a novelist and illustrator of children books, which consists of several different illustrative themes:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604615243634934050" src="http://1.bp.blogspot.com/-V5G81X74SGc/TceX3puZgSI/AAAAAAAABek/vhS9NLnrJFk/s320/hargreaves11-hp-1.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; height: 143px; width: 320px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.google.co.id/logos/2011/hargreaves11-hp-9.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="123" src="http://www.google.co.id/logos/2011/hargreaves11-hp-9.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Frankly speaking, I don't know who Mr. Hargreaves was, nor have reading one of his books, but with doodles dedicated by Google, I just begin to aware on the existence of that person. Sure, Google's doodles are more than a sole doodle. Its has a fresh effect that makes us smile, besides of its shallowness and chit-chat structures that brings us a remembrance of today's event. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Hereby some doodles I really like, due to its versatility, simplicity, and the wow effects:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604619956377895986" src="http://1.bp.blogspot.com/-GRw6hKJSR9Q/TcecJ-D4RDI/AAAAAAAABe0/1NUMIM4pkKI/s320/royalwedding11-hp.png" style="cursor: hand; cursor: pointer; height: 147px; width: 320px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604619436337932866" src="http://4.bp.blogspot.com/-GX6gTd-6Pa8/TcebrswsKkI/AAAAAAAABes/B4DpV5FHBCc/s320/einstein.gif" style="cursor: hand; cursor: pointer; height: 99px; width: 320px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5604619958395869106" src="http://2.bp.blogspot.com/-FMlnWhKuuhk/TcecKFlAF7I/AAAAAAAABe8/c7Ph5ik13uo/s320/worldsfair11-hp.jpg" style="cursor: pointer; height: 128px; width: 320px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;How about you, do you like Google's doodles? If you do, perhaps you can visit this &lt;a href="http://www.google.com/doodle4google/"&gt;link&lt;/a&gt; and choose which doodles that you really like, or perhaps you can submit your own version of doodles to uncle Google. :p&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;u&gt;Hint:&lt;/u&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0843189673" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;Still don't have any idea, what Mr. Hargreaves' work is? Maybe this picture will help satisfies yours curiosity. Guess what, he was the author of this famous Mr. Men and Little Miss book. Pity me, it wasn't my i(l)literate books when I was boy. :)&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0843189673" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.amazon.com/Marvelous-Mr-Men-Little-Miss/dp/0843189673?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="The Marvelous Mr. Men (Mr. Men and Little Miss)" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=0843189673&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0843189673" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-261980511749207053?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/261980511749207053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/doodles-of-google.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/261980511749207053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/261980511749207053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/doodles-of-google.html' title='Doodles of Google'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-V5G81X74SGc/TceX3puZgSI/AAAAAAAABek/vhS9NLnrJFk/s72-c/hargreaves11-hp-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5137819696993407556</id><published>2011-05-08T07:06:00.009+07:00</published><updated>2011-05-10T03:50:53.605+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='movie'/><title type='text'>When Pinocchio learned sophism</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Shrek-Third-Widescreen-Eddie-Murphy/dp/B000UVKGPI?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Shrek the Third (Widescreen Edition)" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B000UVKGPI&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B000UVKGPI" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;This is, a scene I like so much in Shrek 3. Its about Pinocchio whom interrogated by prince Charming, as the puppet-boy was well known to can't tell lie, or if he is his nose becomes longer. So it's easier for anybody who wants to pick an information to ask Pinocchio for that valuable answer. Indeed, that's what prince Charming did when he didn't found an answer from Pinocchio's friends. Here's the script, you may love too:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Prince Charming&lt;/b&gt;: "You! You can't lie! So tell me puppet... where... is... Shrek?"&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pinocchio&lt;/b&gt;: "Uh. Hmm, well, uh, I don't know where he's not"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Prince Charming&lt;/b&gt;: "You're telling me you don't know where Shrek is?"&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pinocchio&lt;/b&gt;: "It wouldn't be inaccurate to assume that I couldn't exactly not say that it is or isn't almost partially incorrect."&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Prince Charming&lt;/b&gt;: "So you do know where he is!"&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pinocchio&lt;/b&gt;: "On the contrary. I'm possibly more or less not definitely rejecting the  idea that in no way with any amount of uncertainty that I undeniably"&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Prince Charming&lt;/b&gt;: "Stop it!"&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pinocchio&lt;/b&gt;: "...do or do not know where he shouldn't probably be, if that indeed  wasn't where he isn't. Even if he wasn't at where I knew he was"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[&lt;i class="fine"&gt;Pigs and Gingerbread Man begin singing&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pinocchio&lt;/b&gt;: "That'd mean I'd really have to know where he wasn't."  &amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Well, looks like our Pinocchio has learned the art of sophism, good argumentation and disputes. So he's not afraid anymore to not tell you the untruth. :p&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Notes:&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;the script was taken from &lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0413267/quotes"&gt;here&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5137819696993407556?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5137819696993407556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/when-pinnochio-learned-sophism.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5137819696993407556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5137819696993407556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/when-pinnochio-learned-sophism.html' title='When Pinocchio learned sophism'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-9214023586326251408</id><published>2011-05-02T16:54:00.007+07:00</published><updated>2011-05-10T04:18:04.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>A Rational Love</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Love-Eugenics-Late-Nineteenth-Century/dp/0198187009?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Love and Eugenics in the Late Nineteenth Century: Rational Reproduction and the New Woman" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=0198187009&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Really, my idea doesn't like this book&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0198187009" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;Once my ex-Marketing Manager told me, that woman's love to a man, endures in only two years. In year one it could be a craziness and blind love, the time when she really loved you all hearted, then by time passed, this drunkenness-month by month, day by day-faded away and at the end, it's all cleared. When all these cloudy emotions gone and the rational side of thought took over, what you'd have is only a very critical eyes asking you a kinda philosophical argumentation: Why did I love you?&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"Why did I love you!"&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;Errr... it could be a question mark not an exclamation, but in this case it's forgiven to use by the way :)&amp;nbsp;Okay, let's put this sentence in its proper use. Why did I love you?&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"Hmm... take a minute".&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"You loved me, because you thought that I loved you. Is this answer acceptable?"&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Well it could be, but it doesn't answer the question yet, for why should I love a man who loves me? Just because someone loves you, it doesn't mean you should love him either. Isn't it right?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Ja, I agree then. Errr... How about my good looking, my irregular way of thinking, my uniqueness, doesn't it explain everything?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"yup, but its all explains the opposites. Ah, I think you're not that so good". :)&lt;/blockquote&gt;Perhaps those conversation will stuck you one day, when all magically fairy tales of love evaporated. There is no more&amp;nbsp;Mr. Charming in her eyes, no&amp;nbsp;brave-heart&amp;nbsp;savior prince with his steel-horse in her dreams again, and your relationship just begin to freeze and dull. Surely, it's a really bad news to know. But, like another story goes, it's always an exception, and that is a good ones.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"Know you, before these periods of unconsciousness over, you should have to take an advantages from your relationship with her, and that exactly what I did to my wife" explained my ex-Marketing Manager.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"So, what did you do with her sir?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Well, I married her. Frankly speaking I married her before she wake up from her dreamy mind, for it's easier to propose to a woman when they are in such condition"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Wow. Is it right? Doesn't she realize that it was a fake?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"I tell you kid, there is no perfect condition in marriage. All you have to do just to recreate your dully love to make the bond lasting. It's everyday struggle to keep the relationship goes, and that's rewarding. See, we are a happy family now, with our lovely three children as the result of mis-guided love, if you agree with my words.&amp;nbsp;Meanwhile, it's not a fake at all, it just a short-thinking."&lt;/blockquote&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Science-Love-Rational-Irrational-Heartbreak/dp/0977187020?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="The Science of Love: Rational Answers to the Irrational Emotions of Adoring, Caring, Longing, and Heartbreak" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=0977187020&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Is science of love, rational?&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0977187020" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;Surely, you may not believe all his story, because this Mr.-so called-my ex. Marketing Manager, didn't married her spouse for love. I mean, there could be a kinda engineering in their marriage. You know, he just told his mom to search a bride for him to marry. His mom agreed with her son's quest and found a matching girl to be married. He therefore agreed with his mom's choice, and voila, they became husband and wife. But who knows his definite feeling to his wife, even I myself don't really know about that. So, let's take his statement that he loves his wife a sole truth, for we can't proof the opposite.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I think I've been deviated, so before we begin to get rid of the theme, let's back again to main focus of this writing. Can we say that the drunkenness to love is an exceptional condition which categorized as normal? So, everything happened within this condition, such taking any advantages from your relationship, are counted as they were and not morally hazardous. The reason behind, because there are no normal condition when someone fall in love, then everything regarded as abnormal when you fallen in love to your girlfriend for example, would be counted as a normal behaviour. Is it right?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Actually, I don't know if the statement is true. But to make this normally abnormal question sound dramatic, perhaps we can philosophizing it little. How about this, is there something like rationality in love? Or simply, is there a rational love? I mean, a love which doesn't acknowledges any kind of drunkenness and craziness. A love which makes you thinking clearly about your motives, and every reason that made you love the girl. A love that doesn't makes you regret with your choice, because everything are measurable, accountable, and open. Uhm... have you ever try to love someone with this kind of love? Or, maybe still confusing with the definition.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"Honey. Why could you love a man like me? A jobless, bad looking, rather lazy, and a pathetic personality."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Honestly my dear, I never think like that. &amp;nbsp;I'm just loving you, and that is true".&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"My love, please try to think rationally. Love is unbelievable, so why should you trust it."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"If it's what you asking for, very well. From now on, I'd think rationally, and according to my rational mind, it's very hopeless to keep our relationship works. Don't you mind if we end it up and behave like no lover?"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Oh honey, you so wonderful. We can now live in our rational love!"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Please don't call me honey anymore, for I don't love you again"&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Rational-Romance-Melinda-Hammond/dp/070908448X?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="A Rational Romance" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=070908448X&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;What's in your Mind?&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;"?" &amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=070908448X" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=1141657473" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-9214023586326251408?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/9214023586326251408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/rational-love.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/9214023586326251408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/9214023586326251408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/05/rational-love.html' title='A Rational Love'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-6525168828478347347</id><published>2011-04-29T11:00:00.002+07:00</published><updated>2011-05-10T03:58:25.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IT Lifestyle'/><title type='text'>Harga Sebuah Komputer</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/HP-Pavilion-Slimline-s5710f-Black/dp/B004G5ZSXO?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="HP Pavilion Slimline s5710f PC (Black)" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B004G5ZSXO&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B004G5ZSXO" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;Suatu ketika datang seorang pembeli ke sebuah toko komputer. Si pembeli ini adalah seorang awam dalam dunia teknologi informatika, dan tidak mengetahui sama sekali seluk beluk komponen yang membangun sebuah PC . Satu-satunya hal yang ia ketahui hanyalah satu set komputer desktop yang berada di atas meja kerjanya di kantor. Di komputer tersebut, terdapat beragam aplikasi. Mulai dari yang berhubungan dengan pekerjaannya sehari-hari, seperti Ms. Office, browser IE, hingga pemutar video digital Windows Media Player. Ia tidak tahu sama sekali bagaimana aplikasi tersebut bisa berada di dalam komputer kerjanya, tidak juga tahu siapa yang menginstall dan bagaimana mendapatkan program tadi jika suatu saat terjadi kegagalan sistem. Hingga anaknya yang baru masuk SMP meminta untuk dibelikan sebuah komputer sebagai alat bantu belajar di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pembeli yang tidak tahu sama sekali akan dunia komputer kemudian bertanya ke kawan-kawannya yang tergolong 'melek teknologi'. Berdasarkan informasi yang didapat dari kawannya, si pembeli ini menyimpulkan bahwa dengan uang sebanyak 3,5 juta rupiah ia sudah bisa memilki sebuah komputer desktop yang berfungsi layaknya PC di kantor. Ia juga memperoleh sebuah daftar belanja berisi komponen-komponen yang bisa dibeli dan dirakit sesampainya di toko komputer. Dalam daftar belanja tersebut tercatat sejumlah komponen untuk merakit komputer dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;AMD Athlon II X3 440 (Box) &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mb AMD AM3ECS IC890GXM &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Memory DDR3 &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Harddisk 250Gb &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;DVDRW &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Casing &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Keyboard &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mouse &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Monitor LCD 15.6" &amp;nbsp; &lt;/i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ketika rincian komponen tersebut ditanyakan ke penjaga toko, si pembeli komputer ini mendapatkan harga total sebanyak Rp. 3.484.000,- tidak meleset jauh dari estimasi yang telah ia ketahui dari kawannya di kantor. Si pembeli ini tentu saja setuju dengan harga yang ditawarkan oleh pihak toko yang segera merakit komponen-komponen tersebut agar menjadi sebuah PC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya, si pembeli komputer ini bukan tipe pelanggan yang banyak bertanya, dan si penjaga toko juga tidak ambil pusing dengan diamnya customer mereka. Maka tatkala proses perakitan selesai dan semua barang yang telah dibeli dimasukkan kedalam kardus-kardus besar untuk dipaket, si pembeli yang merasa puas dengan barang belanjaannya mengakhiri transaksi jual beli dengan pembayaran tunai yang telah disetujui bersama. Kisah sukses ini berakhir bahagia di benak penjaga toko, lain halnya dengan si pembeli yang baru menyadari kekeliruan saat ia tiba di rumah membongkar paket PC rakitan yang telah ia beli beberapa jam sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski tidak memahami seluk beluk komputer, si pembeli ini tampaknya sudah familiar dengan proses pemasangan PC. Ia berpegang pada prinsip paling sederhana, pasangkan segala suatu sesuai tempat dan bentuk ya. Kabel tenaga dengan power supply, mouse dan keyboard di soket PS2, kabel monitor di colokan VGA, serta kabel power PC dan monitor di soket listrik yang tertanam di dinding rumahnya. Proses penggabungan pun selesai. kini tiba saatnya menyalakan komputer tersebut untuk pertama kalinya di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya berjalan dengan baik. Lampu on menyala sekali menunjukkan proses booting yang normal. Bunyi kipas pendingin di belakang casing yang telah berputar penuh, suara putaran hardisk dan bunyi beep singkat. Di layar komputer, tampak sekilas &amp;nbsp;logo BIOS dan manufaktur pembuat motherboard menyala sekali, untuk kemudian hilang berganti warna hitam pekat yang menyelimuti seluruh layar. Hanya tanda strip putih kecil di pojok kiri atas berkedip lama tanpa berhenti. Semenit dua menit si pembeli ini menunggu adanya perubahan di layar monitornya, tapi semakin lama ia menunggu, semakin habis pula kesabarannya. Kini 30 menit setelah PC tersebut ia nyalakan untuk pertama kalinya, dan tanda-tanda "kehidupan" rupanya belum juga muncul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reaksi pertama si pembeli setelah frustasi awal itu adalah menghubungi kawannya yang ia anggap memahami komputer. Setelah tanya jawab singkat, barulah diketahui jika komputer yang baru dirakit tersebut belum terinstall satupun Sistem Operasi didalamnya. Karena tidak mengerti, si pembeli ini kemudian bertanya berapa harga sebuah sistem operasi seperti yang ada di kantornya itu. Ia juga bertanya tentang harga software-software yang lazim digunakan, seperti paket Office dan PDF. Kawannya yang polos itu kemudian memberinya angka yang fantastis, 5,4 juta rupiah! Jumlah total dari paket perangkat lunak yang baru saja ia utarakan. Tentu saja, si pembeli ini merasa terkejut, ia tidak menyangka jika harga komputer yang "sebenarnya" jauh melebihi estimasi harga yang ia kira. Lebih jauh lagi, harga software yang biasa ia beli 1.5 kali lebih mahal dari harga hardware yang baru saja ia beli. Bagaimana mungkin harga sekeping CD dan DVD bisa jauh lebih mahal dari harga satu set komputer baru yang masih klimis?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa tidak puas dengan informasi harga yang diberikan si kawan, pembeli ini kembali bertanya, adakah solusi yang lebih murah daripada harus membayar uang tambahan sebesar 5,4 juta rupiah? Sebagai orang Indonesia yang baik, kawan si pembeli kemudian menawarkan dua buah alternatif kepada kawan baiknya itu. Solusi pertama adalah tawaran untuk membeli DVD perangkat lunak bajakan seharga hanya 105 ribu rupiah di sebuah toko yang khusus menjual software-software bajakan. Sedangkan solusi kedua, adalah tawaran untuk menggunakan perangkat lunak gratis yang berbeda dari perangkat lunak yang ia kenal selama ini. Dari kedua solusi yang ditawarkan kepadanya, si pembeli yang tidak terlalu &lt;i&gt;curious&lt;/i&gt; dengan komputer lebih memilih solusi pertama, yang meskipun bertentangan dengan hukum di negeri ini (tapi tidak dengan moral dan kebiasaan) namun, membuatnya merasa feel home dengan komputer yang ia kenal selama ini di kantornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda si pembeli tersebut, manakah dari tiga kemungkinan yang akan anda pilih. Membeli software asli dengan harga 1.5 kali lebih mahal dari harga komputer yang baru anda rakit, atau menggunakan solusi pertama yang jauh lebih murah tapi melanggar hukum, atau menggunakan solusi terakhir yang tidak memakan biaya apa-apa? Apapun jawaban yang anda berikan, setiap pilihan yang diputuskan akan mempengaruhi seberapa mahal harga sebuah komputer yang anda pilih. Jadi, seberapa mahalkah harga komputer di rumah anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;u&gt;keterangan:&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;harga perangkat lunak dan keras, disimulasikan dari &lt;a href="http://www.rakitan.com/simulasi.php"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gambar komputer diambil dari &lt;a href="http://www.amazon.com/HP-Pavilion-Slimline-s5710f-Black/dp/B004G5ZSXO?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=btl&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" target="_blank"&gt;sini &lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=btl&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B004G5ZSXO" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-6525168828478347347?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/6525168828478347347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/harga-sebuah-komputer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6525168828478347347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6525168828478347347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/harga-sebuah-komputer.html' title='Harga Sebuah Komputer'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-4694174747492940397</id><published>2011-04-23T07:27:00.001+07:00</published><updated>2011-04-23T07:27:00.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kultur'/><title type='text'>Tentang Identitas</title><content type='html'>&lt;p&gt;Siapa kamu, dari mana kamu berasal, apa identitas dirimu? Kenapa kita sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan ini? Cukupkah kita menjawab dengan nama diri kita saja? Katakan, nama saya Himawan. Himawan, Himawan yang mana? Di daftar buku telepon ada puluhan bahkan ratusan atau mungkin ribuan orang yang memiliki nama Himawan. Jadi kamu butuh nama kedua, nama keluarga untuk mengidentifikasi dirimu. Maka ditambahkanlah nama keterangan tambahan Pridityo. Ya, Himawan Pridityo. Apakah penyebutan ini cukup? Untuk indeks nama, kombinasi kedua nama saja sudah cukup. Nama pertama adalah sebuah &lt;em&gt;x&lt;/em&gt; sedangkan nama kedua adalah &lt;em&gt;y&lt;/em&gt;, dan kombinasi keduanya berfungsi sebagai titik koordinat untuk meletakkan identitas anda di jagad rasional. Kecuali jika gabungan kedua nama tadi masih generik, di sini kita membutuhkan identifikasi ketiga untuk mendapatkan titik koordinat 3 dimensi atau &lt;em&gt;z&lt;/em&gt;. Ambil contoh nama teman saya, Ahmad Rifai. Silahkan &lt;em&gt;googling&lt;/em&gt; nama tersebut, dapatkah kita mengenali Ahmad Rifai semudah mengenali Himawan Pridityo?&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, tidak semua sadar dengan keunikan sebuah nama. Kadang si pemberi nama hanya terpikir untuk memberikan nama-nama yang bagus tanpa harus bersusah payah menentukan titik koordinat yang pas. Keabaian ini tidak sepenuhnya menandakan keinginan untuk menjadi anonim di muka umum. Karena bagi sebagaian orang, nama saja memang tidak cukup. Mereka membutuhkan identitas lapis kedua, jenis kelamin. Dengan membagi manusia kedalam dua kelompok utama, laki-laki dan perempuan, proses pengenalan akan semakin mudah. Terutama untuk nama-nama yang biasa dipakai oleh kedua jenis gender. Tapi untuk nama-nama netral, ternayata masih ada problem yang tertinggal. Apakah Toni merujuk kepada nama laki-laki atau perempuan? Toni Braxton misalnya. Apakah benar dia? Dari gabungan kata tidak ada yang salah, lalu apakah orang itu perempuan, juga sudah benar. Berarti sekarang kita membutuhkan identitas lapis ketiga, yakni ras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dimasa lalu, ras adalah faktor paling utama dalam identifikasi. Tapi karena jumlah ras dan suku di dunia ini begitu banyak, maka diusahakanlah sebuah penyederhanaan. Kita misalnya, dapat membagi ras berdasarkan warna kulit, seperti hitam, putih, dan kuning. Bisa juga berdasarkan batas-batas regional, macam Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Pada masa kolonial, para administrator Belanda sering membagi penghuni negeri Hindia Belanda kedalam tiga ras: Eropa, Asia, dan pribumi, yang dalam bahasa mereka dinamakan &lt;em&gt;inlander&lt;/em&gt;. Sangat sederhana bukan, meski tidak sesederhana masyarakat tradisional kita yang menggeneralisir manusia menjadi dua jenis, penduduk asli dan pendatang. Sebuah pembagian yang sangat kabur dan tidak memiliki titik koordinat yang dapat diandalkan. Tapi apakah benar titik koordinat berlaku dalam tataran ras? Kenapa juga kita tidak menggunakan identifikasi berdasarkan regional, macam kota dan pulau yang ada di negara ini.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari tataran fisik, seperti warna kulit, struktur tubuh, raut muka dan perawakan, kita bergerak ke pembagian manusia berdasarkan karakter dan sifat. Kembali, semua identitas yang ada di lapis ketiga, meski mempunyai gambaran unik, tidak sepenuhnya berkorelasi dengan identitas di lapis selanjutnya, yakni karakter. Bisakah kita mengatakan, bahwa orang Jawa itu munafik, dan orang Cina itu licik? Tentu saja tidak, karena kedua karakter tadi bisa kita jumpai juga dengan mudah di masing-masing etnis tersebut. Tapi pertanyaan yang signifikan adalah, dapatkah kita memasukkan karakter sebagai identitas seseorang? Apakah anda seorang pemarah, penyabar, penyayang, atau apatis? Kesalahan kita, dan juga stereotipe adalah mencampur adukkan segmentasi ras dengan karakter. Apalagi korelasi antara gender dan agama, dengan karakter. Atau, jangan-jangan kita salah dalam klasifikasi, karena karakter itu bukanlah identitas sama sekali. Bisakah kita menganggap karakter sebagai identitas?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya, mungkin saya salah dalam klasifikasi ini. Tapi pertanyaan yang menggelitik adalah, dengan cara apa seharusnya kita mendefinisikan identitas? Solusi termudah sebenarnya adalah dengan membagi jenis identitas kedalam dua kategori. Yakni "&lt;em&gt;what is&lt;/em&gt;" dan "&lt;em&gt;what should&lt;/em&gt;". "&lt;em&gt;What is&lt;/em&gt;" tidak lain dan tidak bukan adalah semua deskripsi diri yang bisa dilihat secara objektif oleh orang lain kepada diri kita, sedangkan "what should" adalah pandangan kita tentang identitas diri sendiri. Ketegangan-ketegangan dalam komunikasi biasanya terjadi dalam tarik ulur kedua kategori tersebut, atau dalam kesalingtidakterhubungan antara "&lt;em&gt;what is&lt;/em&gt;" dengan "&lt;em&gt;what should&lt;/em&gt;". Jika jurang antara keduanya terlalu lebar, maka orang lain dengan lebih nyaman akan merujuk kepada "&lt;em&gt;what is&lt;/em&gt;" diri kita. Lalu, bagaimana anda harus mengidentifkasi diri saya? Saya akan berkata, klasifikasi lapis ketiga, etnis, bukan identitas sejati saya. Kejawaan sendiri hanya meninggalkan jejak genetik tapi tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam pola berpikir dan bertindak saya, yang justru lebih kuat dipengaruhi oleh identitas lapis keempat, yakni agama. Tapi agama sendiri bukanlah kesatuan logis yang utuh. Masih ada faktor ideologi dan lain sebagainya yang mempengaruhi definisi kita tentang agama. Jika anda tidak keberatan dengan pembagian antara tradisional dan modern, mungkin saya akan mengidentifikasi diri saya sebagai bagian dari orang-orang beragama Islam yang bersifat modern.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, apa maksud itu semua? Diantara "&lt;em&gt;what is&lt;/em&gt;" dan "&lt;em&gt;what should&lt;/em&gt;" terdapat dinamika yang cair yang bersifat objektif yang kita namakan perilaku dan tindakan. Termasuk kedalam kategori ini, cara kita bertutur, baik lisan maupun tertulis. Perilaku dan tindakan ini seharusnya memegang porsi paling besar saat kita mendefinisikan identitas seseorang. Sekitar 80:20 atau 70:30 dibanding dengan dua kategori logis sebelumnya. Dan yang sangat menarik, semakin kita mengenal seseorang, maka semakin besar pula pengenalan dan pengakuan kita terhadap perilaku dan tindakan orang tersebut. Dan disaat bersamaan, kita akan mengakui semakin tidak relevan pula klasifikasi identitas yang berlapis-lapis itu. &lt;em&gt;We are all human, and human too, same&lt;/em&gt;. Mungkinkah, ia menjadi identitas? &lt;em&gt;Surely, it's your identity&lt;/em&gt;. :)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-4694174747492940397?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/4694174747492940397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/tentang-identitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/4694174747492940397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/4694174747492940397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/tentang-identitas.html' title='Tentang Identitas'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5159607849542602050</id><published>2011-04-17T16:05:00.005+07:00</published><updated>2011-04-18T12:55:27.035+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><title type='text'>Library</title><content type='html'>These how our first met at library, amid Searle and The black Swan. There I told her about the Linux and its mints flavor, seducing &amp;nbsp;democracy, and all of its mediocrities. "Freedom in Windows? Gosh, it's not freedom at all, if you refer to FOSS term."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"So what if they use Windows? And, why do you so cynical?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Am I?" :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
First met, and it all about the conceptual realm, flying above our wanderer mind. What an interesting time, "like to make others walk away from our table".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"No fancy."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Either, but we're talking aloud in among this peacefully bookshelves. Just like no distance, after clicking and clicking in not so real world.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"So, what's a matter?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nothing. At least I know you're real,&amp;nbsp;existent, beautiful, than the equivalent of bits on my blinked screen".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Then, she went away, leaving a gorgeous smile on her face.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5159607849542602050?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5159607849542602050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/library.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5159607849542602050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5159607849542602050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/library.html' title='Library'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-650825904715842497</id><published>2011-04-09T20:38:00.000+07:00</published><updated>2011-04-09T20:38:10.418+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IT Lifestyle'/><title type='text'>The Genesis</title><content type='html'>in the beginning there was command line&lt;br /&gt;
a long string of one and zero&lt;br /&gt;
yes or no,&lt;br /&gt;
then it becomes everything.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Man created machine in three days&lt;br /&gt;
first he creates a concept&lt;br /&gt;
From it comes, the physical.&lt;br /&gt;
The engines.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But, still it not sufficed enough.&lt;br /&gt;
When the bubble died, there will be urges&lt;br /&gt;
to made something incredible.&lt;br /&gt;
The gigantic and fastest.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So, in day fourth, he turn to silicon.&lt;br /&gt;
and thereafter born digital unto earth&lt;br /&gt;
swallowing anything, by multiplication&lt;br /&gt;
and miniaturized the thought.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
By that way, the OSes was born. &lt;br /&gt;
giving proprietary a champion, but&lt;br /&gt;
it left viruses, bugs, and Trojan &lt;br /&gt;
which come to existence in day five.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
those giving totality to ends,&lt;br /&gt;
and made man to rest in day six.&lt;br /&gt;
In this short time, Tux went out.&lt;br /&gt;
It give the man a smile.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-650825904715842497?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/650825904715842497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/genesis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/650825904715842497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/650825904715842497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/04/genesis.html' title='The Genesis'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-8594421509266119226</id><published>2011-03-30T00:01:00.004+07:00</published><updated>2011-03-30T10:15:28.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Attention!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Once, an oracle came to me. He said, "At this time you have to deal with your own hurt feelings - either you are reminded of old wounds by some incident, or a sore point is disturbed again. Maybe you feel a little weak and are conscious of a certain aversion to handling the usual everyday interchanges - a feeling as if you were coming down with flu. If you now have the need to be alone, then that is what you should really do. If you make too many demands on yourself or if you are not left in peace, you may become hurtful to others - for example, your children if you are a parent - as a result of a certain indifference. Fortunately, this influence lasts at most half a day".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;I don't really know what he meant, for the oracle went out just like he popped in without notice, but from the description he gave, I guess he had a good kind of degree in psychology and discursive analysis. :p&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-8594421509266119226?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/8594421509266119226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/attention.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/8594421509266119226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/8594421509266119226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/attention.html' title='Attention!'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2135459149179837329</id><published>2011-03-29T23:19:00.001+07:00</published><updated>2011-03-29T23:19:13.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Off</title><content type='html'>&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	 	&lt;style type="text/css"&gt;
	&lt;!--
		@page { margin: 0.79in }
		P { margin-bottom: 0.08in }
	--&gt;
	
&lt;/style&gt;   &lt;br /&gt;
&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Who knows the story of heart. Even for those who think that they can read your mind”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;No mind. It just talk, or chat. Whether you use your tongue, or put fingers on tuts to type. And it shows there, on the screen, and through the space that begin to disappear in remote place. A place you never come to. Somewhere in other direction of sun, certain coordinates of global positioning system. Other, you never meet. Just typing, and responses.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;How do you do?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Nice to talk with you”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;ttyl”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Its likely of our conversation yesterday. Stuck in speech that give you crazy iconic emoticon.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;So, tell me the wizard of this technology.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;On messenger, I pronounce it like the messenger of God. Or if you mind, the messenger of your heart”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;No sound to speak. No gesture to watch. No face to see the smile that embedded on your texts.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;It just data”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Ouch, then I must be fall in love with this crazy words. Only words!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Still, there are sentences that represent ideas”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;what's that?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Hmm... no idea”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;crazy!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;lucky to you.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;OMG!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Feeling sleepy”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;yes I do”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Good night”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;Gutten nacht”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;sweet dream”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;you too”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span style="font-family: Ubuntu;"&gt;:)”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2135459149179837329?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2135459149179837329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/off.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2135459149179837329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2135459149179837329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/off.html' title='Off'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5551009453424087630</id><published>2011-03-19T07:53:00.001+07:00</published><updated>2011-03-19T10:39:32.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IT Lifestyle'/><title type='text'>Migrasi ke Maverick Meerkat</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-Hqcgq7PusUw/TYP9p9e7UXI/AAAAAAAABdA/0qhse4fHD44/s1600/Screenshot-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="https://lh6.googleusercontent.com/-Hqcgq7PusUw/TYP9p9e7UXI/AAAAAAAABdA/0qhse4fHD44/s400/Screenshot-1.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Interface XBMC Media Center yang memukau&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya saya kembali menggunakan Linux, setelah beberapa bulan sebelumnya menggunakan 7 dan XP secara berurutan. Seperti biasa proses instalasi sistem operasai bebas ini berjalan lancar, yang membuat lama hanyalah rutinitas&amp;nbsp;&lt;i&gt;backup&lt;/i&gt; data dari partisi windows ke partisi kosong yang terdapat di harddisk yang sama, Hitachi 250 GB. Guna mentransfer semua file yang berada di akun XP yang mencapai jumlah hampir 60-an GB, XP memerlukan waktu semalaman. Itu pun sempat tertunda, karena ada beberapa file terenkripsi yang gagal dipindahkan. Baru di pagi harinya, setelah tertidur kurang dari 4 jam, saya memulai instalasi Ubuntu 10.10 melalui CD instalasi yg telah saya download jauh hari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada masalah dalam instalasi yg lumayan cepat itu, kecuali pada saat memutuskan apa yg akan di-mount pada partisi baru yg telah dibuat. Saya sempat ragu apakah akan me-&lt;i&gt;mount&lt;/i&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Courier New', Courier, monospace; font-size: x-small;"&gt;/home&lt;/span&gt; ataukah &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Courier New', Courier, monospace; font-size: x-small;"&gt;/&lt;/span&gt; saja, sebelum akhirnya memutuskan me-&lt;i&gt;mount&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Courier New', Courier, monospace; font-size: x-small;"&gt;/&lt;/span&gt; dan menyisakan ruang 2GB untuk &lt;i&gt;swap&lt;/i&gt;. Setelah selesai, giliran mencoba sejumlah fungsi dasar, ternyata Maverick masih belum bisa memainkan koleksi MP3 milik saya. Maka saya pun langsung melakukan &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; sekaligus memasang &lt;i&gt;repository restricted&lt;/i&gt; secara online. Satu hal yang patut diacungkan jempol adalah, proses pemasangan modem yang sangat mudah, semudah saya menggunakan fungsi scan di printer Photosmart saya: semuanya tinggal colok ke USB laptop, dan biarkan Ubuntu menangani sisanya secara otomatis,&amp;nbsp;&lt;i&gt;plug and play&lt;/i&gt;!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudahan berinteraksi dengan hardware inilah yang membuat saya berani untuk menggunakan Linux kembali. Pengalaman yang saya dapatkan dari kompatibilitas hardware, bahkan sangat jauh berbeda dari pengalaman saat memakai 7 dan XP yang selalu bermasalah dengan driver bawaan, sehingga harus mencari driver pengganti di web. Untuk poin ini, saya memberikan salut kepada para pengembang Ubuntu yang telah membuat sebuah OS yang sangat bersahabat dan dapat berfungsi baik dengan hardware-hardware yang saya miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-sF6bWC7kCmQ/TYP92L9dpoI/AAAAAAAABdE/0fZm894Ys1s/s1600/Screenshot-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="https://lh5.googleusercontent.com/-sF6bWC7kCmQ/TYP92L9dpoI/AAAAAAAABdE/0fZm894Ys1s/s400/Screenshot-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sleek and simple, I love it!&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-Z6RqSnCSSoo/TYP-Rqy240I/AAAAAAAABdI/djAakqjy7TE/s1600/Screenshot-3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="223" src="https://lh4.googleusercontent.com/-Z6RqSnCSSoo/TYP-Rqy240I/AAAAAAAABdI/djAakqjy7TE/s400/Screenshot-3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Chromium, saudara kandung dari Chrome, memberikan pengalaman berselancar yang lebih mengasyikkan daripada browser bawaan, Firefox.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Tentu saja ada sejumlah kekurangan minor dari Ubuntu 10.10 yang saya gunakan, tapi itu lebih terkait dengan familiaritas kita dengan UI (&lt;i&gt;user interface&lt;/i&gt;) yang digunakan. Semisal kebingungan saya dengan keberadaan &lt;i&gt;icon&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bahasa yang tidak saya jumpai di panel atas. Bagi saya yang sering menulis dalam bahasa Arab, keberadaan &lt;i&gt;icon&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tersebut tentu sangat penting, karena memudahkan saya untuk berganti mode pengetikan dari US ke &lt;i&gt;Arabic&lt;/i&gt;, selain tentunya berguna untuk melihat layout &lt;i&gt;keyboard&lt;/i&gt;&amp;nbsp;virtual beraksara Arab, yang sampai saat ini tidak saya hafal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain &lt;i&gt;minutia&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang kerap membuat stress ini, menggunakan Maverick ternyata sangat menyenangkan. Syaratnya sederhana, anda harus terhubung terus dengan internet. Sejumlah aplikasi, macam Empathy yang menjadi &lt;i&gt;client messenging&lt;/i&gt; bahkan membuat saya merasa tengah mencoba sebuah gadget modern tanpa harus kehilangan kinerja, karena telah terintegrasi dengan baik ke sistem. Sedangkan Media Center XBMC berfungsi dengan sangat baik dan mengubah laptop Thinkpad saya menjadi pusat hiburan yang memukau. Untuk berselancar di internet, saya jauh lebih suka menggunakan Chromium daripada Firefox yang bagi saya agak lambat dan masih memiliki sejumlah &lt;i&gt;bug&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang masih membuat saya penasaran hingga saat ini adalah, menunggu tanggal rilis GNOME3 bulan depan, yang akan membawa &lt;i&gt;interface&lt;/i&gt; yang lebih atraktif dan modern di laptop saya. Meski tampilan GNOME 2.32 yang saya gunakan saat ini sudah lumayan bagus dan tidak membosankan dibanding XP bahkan 7 dengan Aero-nya. Tertarik mencoba? Bisa kok mengunduh gratis ISO Maverick Meerkat di situs &lt;a href="http://www.ubuntu.com/desktop/get-ubuntu/download"&gt;Ubuntu&lt;/a&gt;. &lt;i&gt;Welcome back to open source community&lt;/i&gt;!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5551009453424087630?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5551009453424087630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/migrasi-ke-maverick-meerkat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5551009453424087630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5551009453424087630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/migrasi-ke-maverick-meerkat.html' title='Migrasi ke Maverick Meerkat'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-Hqcgq7PusUw/TYP9p9e7UXI/AAAAAAAABdA/0qhse4fHD44/s72-c/Screenshot-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-8811874828212090500</id><published>2011-03-05T11:39:00.010+07:00</published><updated>2011-03-05T11:59:12.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IT Lifestyle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Laptop Riset</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-_MBygTMahXs/TXG8sigLJDI/AAAAAAAABc0/Neh_S4bYsj0/s1600/witt.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="210" src="https://lh3.googleusercontent.com/-_MBygTMahXs/TXG8sigLJDI/AAAAAAAABc0/Neh_S4bYsj0/s400/witt.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pojok perpustakaan digital yang memuat buku-buku tentang Wittgenstein&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalau ada yang bertanya, apa sebenarnya yang saya banggakan dari laptop saya, maka jawaban yang dapat saya berikan adalah, bahwa laptop tersebut adalah sebuah laptop riset. Tentu yang saya maksud sebagai riset di sini bukanlah riset fisika atau kimia yang bertalian dengan rumus-rumus dan software yang berhubungan dengan simulasi maupun perhitungan berat dan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; jenis. Akan tetapi, sebuah lingkungan kerja yang lebih mirip sebuah perpustakaan mungil, tempatmenyimpan dokumen-dokumen penting, sekaligus perangkat lunak penunjang yang memudahkan saya dalam meneliti bidang yang saya minati, filsafat, bahasa dan Al-Quran.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebagai seorang &lt;i&gt;heavy user&lt;/i&gt; komputer, ide untuk menjadikan pc atau laptop sebagai sebuah perpustakaan mungil tempat saya meneliti bidang yang saya minati itu sebenarnya datang terlambat. Hal tersebut dikarenakan, sejak pertama kali memiliki pc, hal yang paling saya minati adalah soal komputer itu sendiri, entah software maupun hardware. Keinginan untuk mengetahui apa yang dapat kita lakukan dari sebuah mesin, seperti memforsir seluruh tenaga, atau membuatnya menjadi mesin yang serba hebat benar-benar memicu hasrat mengetahui yang teramat besar. Rasa ingin tahu itu kemudian mendapatkan sarananya lewat pengetahuan yang saya dapatkan dari membaca majalah-majalah komputer. Sudah sangat mafhum, jika majalah komputer yang rata-rata bersampul luks itu, macam Chip dan PC Media selalu menyertakan CD dan DVD yang berisi beragam aplikasi. Dari konten bawaan majalah inilah saya terjerat pada keasyikan untuk melakukan percobaan yang seringkali tidak memiliki tujuan yang jelas, macam gonta-ganti OS, maupun mencoba-coba berbagai software yang tidak lebih dari derivasi software tertentu yang sudah sangat familiar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Puncak segala rasa ingin tahu itu adalah, obsesi saya yang sangat tinggi terhadap permainan komputer. Beberapa game terkenal, macam Dungeon &amp;amp; Siege, Max Payne, Civilization III, Medal of Honor Allied Assault, hingga Return to Castle Wolfenstein dan Doom, pernah menjadi penghuni setia di dua pc saya yang telah almarhum. Dampak yang paling nyata dari obsesi gila ini adalah pendeknya masa hidup komputer yang saya gunakan. Pada PC pertama yang hanya mengandalkan grafik onboard, kerusakan yg muncul adalah kegagalan booting di BIOS. Sedang pada PC kedua, meski sampai saat ini masih digunakan untuk aplikasi ringan oleh sepupu saya, namun ia telah memakan korban empat buah kartu VGA berbeda merek dan jenis, serta tiga buah catu daya. Diantara komponen yang kerap mengalami kerusakan tapi selalu diperbaiki kembali adalah monitor 15” SPC yang dapat saya definisikan sebagai komponen komputer tertua milik saya yang masih tetap bertahan, 9 tahun!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya game pula yang menjauhkan diri saya dari elaborasi komputer yang lebih dalam. Tatkala internet mulai merambah masuk ke Indonesia, saya masih tetap bersikeras untuk mempertahankan PC sebagai sarana bermain dan bukan menjelajah dunia maya, termasuk seni yang berhubungan dengannya, macam web authoring dan desain grafik. Terus terang, saya cukup menyesal karena tidak mendalami kedua seni tersebut saat kemampuan komputer saya masih prima. Walhasil, saat mulai berkenalan dengan kehidupan era internet, saya laksana orang baru yang tidak tahu sama sekali akan seluk beluk ilmu komputer.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kesadaran akan keterlenaan ini muncul tatkala dua teman saya berbicara dengan serius mengenai beberapa aplikasi web.&amp;nbsp; Saya yang tidak mengetahui dan hampir tidak pernah mendalami dua seni esensial itu merasa bahwa setelah tujuh tahun memiliki PC ternyata tidak ada kegunaan yang benar-benar saya dapatkan darinya. Tentu sampai saat itu saya telah menggunakan komputer sebagai alat bantu dalam menulis skripsi dan makalah-makalah kuliah. Tapi, jika hanya mengidentikkan fungsi komputer dengan kerja dasar itu, maka apa bedanya ia dengan mesin ketik? Lagi, familiaritas seseorang dengan komputer tidak serta merta membuatnya lancar mengetik sepuluh jari. Untuk hal ini saya masih percaya jika perkenalan saya dengan mesin ketiklah yang sangat membantu saya dalam menguasai seni mengetik itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sejak saat itu, mulailah saya mendalami aplikasi standar seni web dan desain grafis, macam bergaul dengan CSS blog, serta mempelajari photoshop. Sayangnya, kemampuan otak saya dalam menguasai kedua bidang tadi semakin berkurang. Saya memang bisa melakukan sejumlah prosedur standar yang teramat dasar, tapi tidak pernah sekalipun menguasainya, dan harus melakukan semuanya dalam waktu yang sangat lama.&amp;nbsp;Ketidakberdayaan ini pula yang kadang membuat saya menyesal, kenapa tidak sejak dahulu saya mempelajarinya, sama seperti kemampuan matematika dan logika saya yang tidak pernah maju dan menjadi penghambat utama saya dalam mempelajari filsafat bahasa yang sangat memerlukan keahlian matematika dan logika yang mumpuni. Akhirnya saya menyimpulkan, bahwa saya mungkin tidak akan banyak menggunakan aplikasi-aplikasi strategis itu di komputer saya. Jika demikian, akan saya jadikan apa mesin yang saya miliki ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut, tiba-tiba muncul tatkala saya berkunjung ke kantor seorang kawan, yang kebetulan bekerja sebagai peneliti muda di UI. Dari dialah, saya berkenalan kembali dengan dunia yang telah lama saya lupakan, dunia buku.&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-fcmtfYVqUtw/TXG9VKRRONI/AAAAAAAABc4/_pL4zqqBk2g/s1600/lisanul+arab.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="https://lh3.googleusercontent.com/-fcmtfYVqUtw/TXG9VKRRONI/AAAAAAAABc4/_pL4zqqBk2g/s400/lisanul+arab.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Tampilan kamus Lisanul Arab dalam bentuk PDF, dan dalam insert tampilan &lt;st1:street w:st="on"&gt;&lt;st1:address w:st="on"&gt;Edward William Lane&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;'s Arabic-English Lexicon dalam format DJVU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-2MrrQnadf5g/TXG9skAR90I/AAAAAAAABc8/1liKlBkvDL8/s1600/calibre.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="277" src="https://lh5.googleusercontent.com/-2MrrQnadf5g/TXG9skAR90I/AAAAAAAABc8/1liKlBkvDL8/s400/calibre.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;interface dari Calibre, salah satu ebook management software yang bagus. Calibre mendukung sejumlah format ebook, termasuk konversi menjadi format mobile epub&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: xx-small;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang saya maksud dengan buku-buku itu adalah ebook yang sampai saat ini menjadi teman setia saya di laptop. Memang bukan buku legal karena saya mendapatkannya secara gratis, tapi dari penampilannya yang hampir tidak ada bedanya dengan buku fisik, dengan kualitas tampilan yang tinggi dan format yang membuat kita yakin jika file tersebut dapat kita samakan dengan referensi standar, maka saya cukup berani untuk meredefinisikan laptop saya yang baru sebagai sebuah perpustakaan mini yang menjadi tempat saya meriset dan merumuskan ide-ide baru. Dan mulailah saya mengunduh buku-buku digital ini yang mayoritas dalam bahasa Inggris dari situs favorit yang dikenalkan oleh kawan saya si peneliti muda itu. Tema-tema favorit, seperti karya-karya dan pembahasan tentang filsuf analitik, kajian agama, sejarah, teknologi, dan bahasa, terus saya kumpulkan hingga tidak terasa folder ebook saya telah mencapai besaran 17 GB! Dan tatkala saya klasifikasi dengan Calibre, setidaknya tercatat sekitar 1756 buah item ebook yg saya miliki. Jumlah yang sangat fantastis, karena jumlah buku fisik yang saya miliki bahkan tidak mencapai angka seribu buah. Hebatnya, semuanya boleh dibilang gratis (jika tidak menghitung ongkos pengunduhannya).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, apa saya sudah bahagia dengan koleksi ebook tersebut? Ternyata tidak. Imbasnya, saya juga menginstal aplikasi pembantu, macam dua buah ensiklopedia digital, Quran dan Bible digital, hingga kamus filsafat yang semi-digital. Itu pun saya merasa masih ada yg kurang, karena belum menemukan software yang memadai untuk membaca koleksi &lt;i&gt;kutub al-sittah&lt;/i&gt; secara digital. &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ide?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-8811874828212090500?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/8811874828212090500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/pojok-perpustakaan-digital-yang-memuat.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/8811874828212090500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/8811874828212090500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/pojok-perpustakaan-digital-yang-memuat.html' title='Laptop Riset'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-_MBygTMahXs/TXG8sigLJDI/AAAAAAAABc0/Neh_S4bYsj0/s72-c/witt.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-1757292628049473390</id><published>2011-03-02T12:14:00.001+07:00</published><updated>2011-03-02T12:15:24.799+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kultur'/><title type='text'>Teman yang Menyelamatkan</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu, saya pernah mengumpat di &lt;em&gt;wall&lt;/em&gt; FB saya tentang perilaku tetangga yang kerap membuat kegaduhan dan sangat mengganggu ketentraman lingkungan. Cara mereka melampiaskan emosi dengan makian dan teriakan yang terdengar hingga satu RT jelas membuat saya yang baru saja pulang dari kerja dan hendak melepas lelah dengan tenang merasa tidak nyaman. Sebagai pelampiasan unek-unek saya pun membuat sebuah status yang menurut pendapat beberapa orang terkesan rasial. Kenapa? Karena saya mencantumkan di dalam tulisan padat dan singkat itu identitas suku dan agama si tetangga yang telah membuat saya kesal. Hasilnya, seorang teman di FB yang merasa memiliki identitas yang sama dengan si “&lt;em&gt;neighbourhood from hell&lt;/em&gt;” itu, merasa keberatan dengan pernyataan saya, dan meminta saya untuk menghapus atau merevisi tulisan saya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja saya berusaha mempertahankan pendapat saya, meski pada beberapa frase memang saya akui ada kesan rasial yang terkandung, entah eksplisit ataupun implisit. Dan saya sudah sampaikan bahwa saya tidak keberatan untuk menghapus frase-frase yang tampak rasial itu, meski secara umum saya tetap mempertahankan pendapat saya dengan menyatakan bahwa “dia”lah sebenarnya yang menjadi permasalahan, dan seandainya si tetangga ini tidak ada, sudah barangkali tidak muncul statement tersebut bukan? Parahnya, saya membuat blunder perilaku, dengan menganggap bahwa korban sesungguhnya dari state of affair itu adalah diri saya, yang merasa kehilangan waktu berharga untuk bersantai dan melepas lelah, alih-alih justru dipaksa pendengar setia caci maki yang membuat tensi darah naik. Pun, di media yang berbeda alam, saya juga didesak untuk mempertanggungjawabkan tulisan saya. Jadilah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa orang sebegitu sensitif dengan identitas, padahal saya memiliki maksud tertentu dengan pencantuman identitas rasial tersebut? Yang paling utama adalah, saya mengharapkan bantuan dari orang yang memiliki identitas entah rasial maupun religius serupa dengan si tetangga tadi untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang saya hadapi. Pemahaman tentang perilaku kultural dan agama sudah barang tentu akan sangat menolong dalam memecahkan problem sosial masyarakat. Bagaimana kita memberitahu seseorang untuk tidak berperilaku yang mengganggu melalui cara-cara yang diterima oleh kultur dan budayanya, akan lebih efektif daripada menggunakan cara-cara kita sendiri yang boleh jadi tidak diterima oleh orang tersebut. Dalam hal ini, identitas akan benar-benar menjalani fungsinya sebagai model pengenalan, ketimbang simbol-simbol sentimental yang lebih mementingkan perbedaan daripada persamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin orang dapat mengkritisi, kenapa harus diungkapkan identitas primordial? Terlebih, pada saat saya melontarkan pernyataan tersebut, memang masih ada bayang-bayang sentimen rasial dan agama di daerah saya yang kebetulan masih berhubungan dengan identitas si tetangga tersebut. Yang barangkali, dalam hemat saya, membuat pikiran teman saya di FB itu terasosiasi dengan pandangan miring akan suku dan agamanya. Dan tebak, semua orang mungkin akan bertindak sepertinya, balik mengecam dan mempertanyakan ketulusan dalam hubungan antar ras dan umat beragama. Persis seperti kecaman Demokrat kepada partai koalisi yang dianggap telah berkhianat dan tidak tulus dengan janji-janji yang pernah diproklamirkan bersama. :) Jadi, kembali lagi ke pertanyaan sebelumnya, kenapa orang begitu sensitif dengan identitas primordialnya? Apa hal tersebut juga berhubungan dengan stigma sosial dan stereotipe masyarakat? Apa ketika saya berbicara tentang tetangga saya secara spesifik dengan menyebutkan identitas primordialnya, kemudian orang dapat mensahkan atau bahkan mengiyakan segala stereortipe yang melekat pada identitas suku dan agama yang dimaksud. Seperti ungkapan bahwa orang Jawa itu “munafik”, berbicara lembut di depan tapi pandangan pribadinya tetap keras diibelakang? Jawabnya sederhana, belum tentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tatkala saya berbicara tentang karakter seseorang, sebenarnya saya berbicara secara kasuistik tentang orang tertentu dengan kasus partikular yang spesifik. Dalam hal ini, kejengkelan saya kepada si tetangga itu bisa ditafsirkan sebagai sebuah ketidak puasan pada wujud partikular yang kebetulan memiliki relasi keanggotaan dengan pemikiran stereotipe yang jauh lebih universal tapi tidak memiliki rujukan sama sekali. Saya menulis tidak memiliki rujukan, karena ketika anda bicara tentang sebuah entitas yang hanya diwakili oleh sebuah stereotipe sebenarnya anda tidak berbicara tentang siapa-siapa, tapi hanya berhubungan dengan asosiasi yang ada di dalam benak anda semata. Stereotipe bagaimanapun memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan seseorang. Ia adalah sebuah entry point yang dapat ditinggalkan begitu saja tatkala kita telah ter-&lt;em&gt;involve&lt;/em&gt; dengan seorang secara partikular. Ia hanya berguna saat kita tidak mengenal orang yang dimaksud dengan baik, dan hanya berfungsi sebagai petunjuk kasar yang memudahkan kita untuk bersosialisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri tidak menganggap stereotipe sebagai sebuah hal yang negatif, karena sikap saya terhadapnya bukanlah untuk menjustifikasi pandangan umum, melainkan untuk membuat asosiasi pribadi mengenai identitas primordial sebuah kelompok. Yang saya maksud, ketika kita belum mengenal sesorang, stereotipe muncul terlebih dahulu sebagai early warning system. Tapi ketika kita mulai mengenal anggota sebuah kelompok lebih dalam, pandangan kita terhadap mereka secara partikular juga berkontribusi terhadap asosiasi stereotipe yang ada dalam pikiran kita. Maka seiring dengan luasnya pergaulan kita, maka semakin spesifik pula stereotipe yang terbentuk. Pada awalnya, stereotipe yang kita kenal hanya berkaitan dengan suku atau provinsi tertentu, kemudian seiring dengan pengenalan kita terhadap anggota dari setiap kelompok, maka stereotipe semakin mengecil hingga mencakup wilayah yang jauh lebih kecil, macam kota, kelurahan, atau bahkan RT dan tetangga. Ia akhirnya berubah menjadi pandangan yang jauh lebih jinak tentang tipologi manusia, karena semuanya telah melebur dalam universal bernama kemanusiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa yang berkontribusi bagi perubahan gradasi stereotipe itu? Well, saya menyebutnya dengan sederhana sebagai teman yang menyelamatkan. Maksud saya, persahabatan anda dengan seorang anggota sebuah suku akan membantu anda untuk memberikan bargaining yang positif bagi stereotipe negatif tentang suku tersebut. Saya ambil contoh, stereotipe negatif terhadap suku Madura sebagai suku dengan perangai kasar, dalam benak saya mulai mengalami revisi tatkala saya memiliki satu dua teman dari Madura yang berperilaku sebaliknya. Hal serupa juga muncul pada asosiasi saya terhadap komunitas peranakan Cina, suku Padang, bahkan Batak sekalipun. Yang mana dalam setiap komunitas tadi, saya memiliki seorang teman baik, atau setidaknya orang yang saya kenal dengan baik dan pengalaman berinteraksi dengan baik, untuk memberikan pandangan berimbang atas asosiasi negatif yang kerap muncul. Dengan kata lain, teman andalah yang sesungguhnya menyelamatkan imagi tentang kelompok mana anda berasal, meski itu tidak berarti hubungan anda dengannya akan selalu baik. Setidaknya, tatkala muncul sebuah pandangan umum negatif tentang sebuah kelompok, anda bisa dengan mudah memberikan pengecualian dengan menyebutkan nama-nama spesifik yang menetralisir pandangan buruk yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktualitas dapat menegasikan yang logis, meski yang logis tidak dapat menegasikan yang faktual.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-1757292628049473390?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/1757292628049473390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/teman-yang-menyelamatkan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1757292628049473390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1757292628049473390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/03/teman-yang-menyelamatkan.html' title='Teman yang Menyelamatkan'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-3024742185326608851</id><published>2011-02-27T12:54:00.001+07:00</published><updated>2011-05-10T04:03:48.610+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Membaca Al-Quran</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Quran-Oxford-Worlds-Classics/dp/0199535957?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;" target="_blank"&gt;&lt;img alt="The Qur'an (Oxford World's Classics)" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=0199535957&amp;amp;tag=deaminofhon-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Al-Quran terbitan Oxford&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0199535957" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;Ada banyak cara dalam membaca Al-Quran. Pertama, dengan menaruh perhatian yang mendalam terhadap aspek kesejarahannya, atau yang biasa kita kenal dengan pembacaan melalui konsep &lt;i&gt;asbab al-nuzul&lt;/i&gt;. Pembacaan model ini, bertumpu pada sejumlah dokumen kesejarahan atau yang biasa kita kenal dengan sunnah dan hadits. Meski model pembacaan seperti ini menjanjikan kontekstualitas yang tinggi, sayangnya kepresisian makna menjadi buram. Ia cenderung terikat dengan konteks yang diutarakan oleh hadits-hadits yang berkaitan dengannya, yang sayangnya, validitas hadits-hadits tersebut lebih meragukan daripada konsep yang ditawarkan oleh Al-Quran sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kedua adalah model penalaran fiqh yang menitikberatkan pada atomitas kata dan kalimat yang menurut penilaian sejumlah sarjana Muslim, memiliki nilai hukum yang bersifat positif dan dengan demikian mengikat seluruh komunitas masyarakat Muslim. Model penalaran ini, adalah model penalaran yang banyak digunakan dalam membaca ayat-ayat Al-Quran. Sejumlah pernyataan yang muncul dalam sebuah ayat, kemudian dijadikan aksioma tertutup yang dengannya seseorang memulai mendeduksi sejumlah implikasi logis yang lahir dari premis awal yang ia ambil dari dalam frase tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, makna yang muncul dari pembacaan model fiqh bersandar pada kosa kata Arab yang biasa dipahami masyarakat awam. Tatkala Al-Quran berbicara tentang buku, misalnya, maka makna kata tersebut akan diambil dari pengetahuan yang lazim ditemui dalam masyarakat Arab. Makna buku dengan demikian adalah buku dalam persepsi masyarakat Arab, dan bukan buku dalam persepsi Al-Quran. Dampaknya, konsep Arabsentris dalam model penalaran fiqh menjadi sangat utama, dan hampir menutupi konsep Al-Quran sendiri yang boleh jadi berbeda dari dipahami oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelemahan selanjutnya yang timbul dari penalaran model fiqh adalah, fleksibilitas makna yang terlalu longgar, bahkan sangat relatif, karena teks telah tercerabut dari kontekstualitasnya untuk kemudian ditempelkan begitu saja dengan realitas kekinian yang jauh berbeda. Walhasil, pembacaan Al-Quran seakan mengalami alienasi dengan gagasan-gagasan universal yang dibawa. Dan karena penalaran fiqh juga bersandar pada logika Aristotelian, maka sejumlah keputusan yang dihasilkan benar-benar dibatasi oleh konsep-konsep logika yang sangat terbatas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekurangan model fiqh sebenarnya dipahami betul oleh para sarjana Muslim, sayangnya untuk membenahi kekurangan yang ada, mereka seringkali mengambil jalan pintas dengan membuat sejumlah pengecualian yang bahkan tidak memiliki dasar rasio yang mantap. Jadilah, dalam beberapa tafsir dan produk hukum yang dihasilkan kita menemukan banyak sekali jalan buntu dalam penalaran. Disini, teks memang telah mengambil otoritas penalaran, tapi atas dasar yang tidak jelas bahkan tidak rasional. Tentu saja, saya selalu menganggap pemahaman kita atas sebuah teks haruslah dibangun di atas fondasi rasionalitas. Alasannya jelas, karena hanya dengan ketertiban berpikirlah kita akan sampai pada konklusi yang tepat dan dapat dipertanggunjawabkan. Lalu, bagaimana cara agar kita sampai kepada hasil yang kita cari itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Analisis semantik. Ya, model analisis inilah yang saya pikir dapat memperjelas cara pembacaan kita atas Al-Quran. Dengan menganggap Al-Quran sebagai sebuah buku dengan sistem pemaknaan yang tertutup pada dirinya sendiri, dimana semua ayat saling berhubungan antara satu dengan lainnya, kita akan mendapatkan sebuah pemahaman yang jauh lebih objektif akan pemaknaan Al-Quran. Model pembacaan inilah yang saya gunakan dalam menafsirkan beberapa tema dalam Kitab Suci tersebut, dan saya ajukan sebagai model pembacaan baru atas Al-Quran yang memiliki keunggulan dibanding dengan metodologi lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
catatan:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Ilustrasi sampul al-Quran di atas diambil di &lt;a href="http://www.amazon.com/Quran-Oxford-Worlds-Classics/dp/0199535957?ie=UTF8&amp;amp;tag=deaminofhon-20&amp;amp;link_code=btl&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=deaminofhon-20&amp;amp;l=btl&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=0199535957" style="border: none !important; margin: 0px !important; padding: 0px !important;" width="1" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-3024742185326608851?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/3024742185326608851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/02/membaca-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3024742185326608851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3024742185326608851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/02/membaca-al-quran.html' title='Membaca Al-Quran'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-3978616458496545568</id><published>2011-02-26T03:55:00.000+07:00</published><updated>2011-02-26T03:55:38.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>Buku, noda, sserangga. Dan rajanya adalah kecoa. Penghuni setia, yang bangkainya diarak ratusan semut ke liang asrama mereka. Jejaring laba-laba, tumpukan kertas, DVD, film-film bajakan, permainan-permainan yang tidak pernah membuatmu sadar akan waktu. Dua buah speaker, Klipsch Promedia. Layar LCD 17", Julian Barnes, foto copy bukunya Russell, dan bau malam. Benda-benda mati, yang kelak membuatmu kaget saat si empunya terbangun oleh sinar matahari pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih sama seperti yang kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada kabar baik. Itu buruknya. Juga kabar buruk. Entah seburuk apa kabar itu akan datang. Kupikir hanya keburukan saja yang ada di otak ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam yang mendesir. Deru kipas angin yang bilah-bilahnya kotor terkena wabah malas. Kasur yang lembab, tumpukan baju dan celana, yang entah suci, bersih, ataukah dekil dan butuh rendaman air Rinso. Tidak ada yang terkata di kamar ini. Semuanya tentang benda mati. Kematian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katakan tentang kematian. Agama? Aku lupa. Siapa yang butuh? Tuhankah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata yang meredup. Leher yang kaku. Paha yang semakin membesar. Langkah memberat. Lingkaran pinggang, celana-celana dari kisah yang telah lalu. Meja kerja yang dipenuhi sampah pengetahuan. Ah, kenapa aku menulis semua? Kau pikir itu diam. Tapi kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan tanya apa-apa padaku. Sungguh, aku tidak pernah tahu jawabnya. Bahkan meski kucoba membunuh Tuhan. Aku tersentak, lalu apa? Tidak ada apa-apa, sama seperti sebelum kematian itu. Tapi, matikah ia? Tolong, jangan tanya aku tentang soal yang tidak aku pahami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Slip. Buku tabungan. Proyek-proyek masa depan yang runtuh, bagai terkena lanun, tsunami dan kebodohan para penghuninya. Aku hanya ingin diam. Diam? Diam seperti malam ini, saat tidak tahu apa yang harusnya aku ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Knowledge is a curse!&lt;br /&gt;
How dare you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-3978616458496545568?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/3978616458496545568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/02/solilokui.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3978616458496545568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3978616458496545568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2011/02/solilokui.html' title='Solilokui'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-6468257259191901269</id><published>2010-09-06T14:56:00.002+07:00</published><updated>2010-09-06T15:02:19.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Fu`ad, Qalb, dan Shadr sebagai organ kognisi manusia dalam Al-Quran (2)</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Fungsi Emosional&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;Al-Quran membedakan fungsi emosional &lt;i&gt;qalb &lt;/i&gt;kedalam dualitas iman – kafir. Kita misalnya, menemukan rasa takut, &lt;i&gt;al-ru’ba&lt;/i&gt;, sombong, &lt;i&gt;hamiyyah, mutakabbir&lt;/i&gt;, dan ragu, &lt;i&gt;rayb, irtabat, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;ribat&lt;/i&gt;, sebagai bagian dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; orang-orang kafir. Sedangkan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; orang-orang beriman akan tunduk, &lt;i&gt;takhsyaa’&lt;/i&gt;, tenang, &lt;i&gt;sakinah&lt;/i&gt;, dan puas, &lt;i&gt;muthmainnun&lt;/i&gt;, kepada Allah. Pembagian ini secara umum berhubungan pula dengan karakter &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dari masing-masing kelompok. Dimana orang-orang beriman memiliki &lt;i&gt;qalb salim&lt;/i&gt;, pasrah, yang mampu menerima petunjuk Ilahi dengan mudah, sedangkan orang-orang kafir digambarkan memiliki &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; yang keras, &lt;i&gt;qasiyah&lt;/i&gt;, berdosa, &lt;i&gt;atsim&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan sakit, &lt;i&gt;maradh&lt;/i&gt;, akibat kemampuannya ditutup, dikunci, dan dibutakan oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Qalb&lt;/i&gt; yang ditutup, dikunci, dan dibutakan oleh Allah berhubungan dengan kemampuan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; untuk menerima petunjuk langsung dari Tuhan. Disini, &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;, digambarkan sebagai organ tubuh manusia yang mampu menalar secara abstrak. Ia bukan hanya dapat digunakan untuk mengola data-data inderawi, tapi juga untuk menerima ide-ide supranatural, seperti wahyu dan petunjuk Ilahiah. Wahyu yang diterima Nabi pun langsung diturunkan Tuhan kedalam &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;-nya, menjelaskan salah satu kemampuan terpenting dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;, interaksi dengan Tuhan. Namun hubungan antara Tuhan dan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; tidak hanya sebatas wahyu semata. Allah pun digambarkan mampu mencondongkan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; seseorang pada kebaikan maupun kesesatan. Dalam sebuah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang mendalami agama disebutkan sebuah permintaan, agar Tuhan tidak menjadikan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; mereka condong pada kesesatan setelah diberikan hidayah kepadanya, 3:8.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa diatas, memberikan kepada kita gambaran mengenai tarik ulur antara otonomi manusia dengan kekuasaan Tuhan dalam mengatur &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Bahkan, meskipun seseorang telah diberikan petunjuk oleh Tuhan, tapi keputusannya untuk beriman maupun kafir tetap terletak pada &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; orang bersangkutan. Hubungan antara proses yang terjadi di &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dengan ketetapan hati seseorang digambarkan oleh Tuhan dengan term baru bernama &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;. Hubungan antara &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; tertera pada 3:154. Di ayat tersebut dijelaskan tentang kekecewaan beberapa sahabat Nabi yang kalah dalam perang Uhud. Beberapa diantara mereka menganggap perang yang berakhir dengan kekalahan itu tidak sepantasnya mereka ikuti. Tapi Tuhan menjawab, bahwa soal perang itu urusan Tuhan, yang harus mereka lakukan hanyalah mengikuti perintah-Nya. Tuhan kemudian menambahkan bahwa keputusan untuk berperang itu adalah untuk menguji apa yang ada di dalam &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; orang-orang beriman dan membersihkan yang ada di dalam &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Shadr&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; memiliki medan makna yang berhubungan dengan kata kembali, sumber, dan dada. Kata tersebut juga merujuk pada bagian paling tinggi dan utama dari sesuatu, seperti pada frase &lt;i&gt;shaddarahu fi al-majlis&lt;/i&gt;, yang berarti mendudukkannya di bagian paling utama dan tertinggi dalam sebuah ruangan. Kata &lt;i&gt;shuddira&lt;/i&gt;, bahkan memiliki makna promosi. Dari petunjuk leksikal ini kita dapat memahami arti penting dari &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; sebagai sesuatu yang selalu menjadi rujukan manusia dalam mengambil sebuah keputusan. Dalam Al-Quran, &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; digambarkan sebagai bagian paling privat dalam diri seseorang, dan hanya Allah sematalah yang tahu isinya. Niat, pendapat, dan ide, semuanya adalah hasil dari &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; dalam bentuk singular tersebut sebanyak sepuluh kali dalam Al-Quran dan selalu berhubungan dengan kata ganti, baik orang pertama, kedua dan ketiga. Adapun bentuk plural dari kata ini, yakni &lt;i&gt;shudur&lt;/i&gt;, tersebut sebanyak 32 kali. Jika dibandingkan dengan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;, maka &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; dapat diartikan sebagai wadah yang menampung &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Al-Quran sendiri selalu merujuk kepada isi dari &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;, untuk merujuk kepada hal-hal privat tersebut. Disini, frase yang sering digunakan adalah &lt;i&gt;dzat&lt;/i&gt;, milik, dan &lt;i&gt;ma fi&lt;/i&gt;, apa yang terdapat di dalam &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;. Meski banyak merujuk kepada isi dan kandungan dari &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;, tetapi Al-Quran juga memperlakukan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; sebagaimana &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Dalam 9:14, disebutkan bahwa Allah menyembuhkan &lt;i&gt;shudur&lt;/i&gt;, kaum beriman. Sedang di ayat 11:5 diterangkan bahwa orang-orang munafik memalingkan &lt;i&gt;shudur&lt;/i&gt; mereka dari agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, diantara sekian frase yang melekat pada kata &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;, yang paling banyak ditemui adalah frase yang berhubungan dengan ruang. Kita menemukan dua kata yang berhubungan dengan konsep ini, &lt;i&gt;syarh&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;dhayq&lt;/i&gt;. Kata &lt;i&gt;syarh&lt;/i&gt; memiliki dua makna, pertama ia dapat diartikan sebagai melapangkan sesuatu, sedang yang kedua berarti menjelaskan dan menerangkan. Kata ini diabadikan dalam doa Musa yang paling terkenal, pada 20:25, yang meminta Tuhan untuk melapangkan dadanya sebelum berbicara dihadapan Firaun guna menyampaikan seruan-seruan Tuhan. Pada 39:22, juga diterangkan bahwa orang yang dilapangkan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;-nya untuk Islam, oleh Allah, sebagai orang yang mendapatkan cahaya dariNya. Penambahan kata Islam dalam ayat tersebut menunjukkan fungsi lain, yakni melapangkan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; seseorang bagi kekafiran. Ayat 16:106 memberikan kita petunjuk tentang orang yang melapangkan &lt;i&gt;shadr-&lt;/i&gt;nya bagi kekafiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; yang lapang dan sempit? Ayat 15:97 memberikan penjelasan kepada kita bahwa kesempitan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; bisa disebabkan oleh ucapan seseorang yang menyerang dan meruntuhkan pendapat serta pendirian kita. Dalam kasus Musa, ketidakmampuannya untuk mengucapkan kata-kata, juga berhubungan dengan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; yang sempit 26:13. Kedua ayat itu menjelaskan bahwa kesempitan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; sangat berhubungan dengan “kefasihan” dalam mengemukakan sebuah argumen atau pendapat. Ketika kefasihan itu terhambat, maka hal tersebut dapat dijadikan indikasi bagi &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; yang sempit. Sebaliknya, semakin fasih seseorang mengemukakan suatu argumentasi, maka yang bersangkutan memiliki &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; yang lapang. Ayat 7:2 memberikan petunjuk bahwa Al-Quran diturunkan sebagai sebuah argumentasi agar tidak ada lagi halangan dalam &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; Muhammad SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Relasi ketiga term&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jika kita mengartikan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; sebagai organ yang menjalankan fungsi pertimbangan sensorik, yang keputusan-keputusannya bersifat langsung, &lt;i&gt;immediate&lt;/i&gt;, terhadap pengalaman. Dan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; sebagai sebuah pusat dari kegiatan menalar dan pertimbangan, maka &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; adalah sebuah wadah dimana semua kegiatan ini berlangsung. &lt;i&gt;Shadr&lt;/i&gt; yang lapang dengan demikian memungkinkan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; untuk mencerap lebih banyak data-inderawi, yang akan memperkaya &lt;i&gt;qalb &lt;/i&gt;dalam mengelola input yang dihasilkan oleh &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;. Sedangkan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; yang sempit, tentu saja membuat data-inderawi yang masuk kedalam &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; menjadi terbatas. Ketidakmampuan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; dalam memberikan input kepada &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; jelas membuat &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; menjadi getas. Ia akan mengeras dan kehilangan daya fleksibelitas dan kekenyalan, yang berakhir pada ketidakmampuannya dalam mencerna sesuatu yang sesungguhnya sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun ketiga organ dalam &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; ini saling terhubung, akan tetapi &lt;i&gt;qalb &lt;/i&gt;memiliki kapasitas untuk dapat berhubungan langsung dengan Tuhan. Tentu saja, kunci dari hubungan itu adalah kemampuan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; untuk membuka dirinya atas hidayah yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Keterbukaan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;, yang berupa fleksibiltas dalam menalar, merupakan standar sehat tidaknya ia. &lt;i&gt;Qalb &lt;/i&gt;yang sehat tentunya mampu patuh dan tunduk kepada perintah-perintah Tuhan, sedangkan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; yang sakit mengeras, dan tersegel. &lt;i&gt;Qalb &lt;/i&gt;yang tersegel, lama kelamaan membuat &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; tersegel dan terbebani pula, sehingga tidak memungkinkan satupun hidayah, cahaya, mungkin juga &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; untuk masuk kedalamnya. Pada saat itulah orang yang bersangkutan berada dalam kesesatan dunia dan akherat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; – &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; – &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; yang berjenjang ini mengingatkan saya akan ayat 24:35. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa Allah merupakan cahaya tujuh langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti ceruk di dinding, &lt;i&gt;misykat&lt;/i&gt;. Di dalam ceruk ini terdapat lampu, &lt;i&gt;mishbah&lt;/i&gt;, yang berada di balik kaca, &lt;i&gt;zujajah&lt;/i&gt;. Pendaran cahaya yang melewati kaca itu seakan-akan bintang yang bagaikan mutiara. Lampu ini mendapat bahan bakarnya dari minyak pohon zaytun penuh berkah, yang tumbuh tanpa mengenal topologi geografis. Keberkahan pohon zaytun tersebut dapat dilihat dari minyaknya yang benar-benar bercahaya dan mengkilap, meskipun tidak disentuh oleh api.  Inilah yang dinamakan oleh Tuhan sebagai cahaya diatas cahaya. Lawan dari konsep cahaya diatas cahaya adalah kegelapan yang bertindih-tindih sebagaimana disebut dalam lanjutan ayat tadi, yakni pada 24:40. Kegelapan di laut yang dalam, yang diliputi ombak yang saling bertindih. Di atas ombak itu awan hitam menaungi seluruh lautan, hingga jika orang yang tenggelam tadi menjulurkan tangannya untuk meminta pertolongan, tidak ada satupun yang mampu melihatnya. Kegelapan di atas kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kita analogikan antara organ-organ dari &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; ini dengan deskripsi cahaya tadi, maka kita akan menemukan persamaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Nafs = &lt;/i&gt;rumah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Shadr&lt;/i&gt; = &lt;i&gt;misykat&lt;/i&gt; (lobang, atau ceruk di tembok rumah)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Fuad&lt;/i&gt; = &lt;i&gt;zujajah&lt;/i&gt; (kaca yang menutupi ceruk tadi)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Qalb&lt;/i&gt; = &lt;i&gt;mishbah &lt;/i&gt;(lampu yang berada di dalam ceruk dan ditutupi oleh kaca)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Tapi siapakah orang yang mampu memiliki cahaya diatas cahaya? Jawabnya tertera pada 24:37, yakni laki-laki yang kegiatan perniagaan dan jual-beli yang ia lakukan tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat. Orang tersebut juga takut kepada Hari Akhir, saat &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dan penglihatan manusia terguncang hebat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kembali ke pertanyaan saya di awal artikel ini, bagaimana kita memahami ketiga term tadi secara literal? Well, jika anda seseorang yang mempercayai dualitas jasmani-rohani, dan dualitas akal-hati, mungkin anda akan berpikir bahwa term-term yang telah saya bahas tadi berada pada kuadran rohani-hati. Atau, jika anda memang memahaminya secara fisik, mungkin saya bisa menunjukkan bahwa tempatnya berada di dada manusia. Tentu saja, ini jawaban umum yang akan kita temukan di dunia kuno. Orang Mesir misalnya, sewaktu mereka memumifikasi tubuh raja-raja mereka, semua organ dalam badannya mereka keluarkan, kecuali jantung. Bagi orang Mesir, organ tempat manusia berpikir adalah jantung, dan bukan otak. Dalam hal ini, orang Mesir bisa kita tempatkan di kuadran jasmani-hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kita di dunia modern, yang telah mempelajari fungsi-fungsi dari otak, tentu tidak bisa menerima jika organ yang berfungsi untuk menimbang, menilai dan mengambil keputusan terletak di hati, (jantung). Mereka yang telah mempelajari ilmu kedokteran modern tentu setuju dengan pendapat ini, bahwa otak adalah pusat dari segalanya. Di organ inilah manusia berpikir, merasa, mengingat, memutuskan, dan gundah. Denyut nadi yang intens, detak jantung yang cepat, hanyalah “ulah” dari otak yang mengirimkan perintah kepada hormon-hormon para-simpatik untuk beredar ke seluruh pembuluh darah. Demikian halnya ketika kita merasa senang maupun sedih. Otak, dan sekali lagi hormon, memegang peranan penting dalam siklus keduanya. Singkat kata, otak merupakan komando bagi seluruh tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang muncul kemudian, bisakah kita menyamakan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; sebagai otak? Jika kita lihat deskripsi dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; berikut kemampuan memorinya, tentu saya akan menjawab ya.  Bahkan saya akan menyimpulkan bahwa &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; merupakan satu kesatuan dari sebuah organ bernama otak. Ketiganya hanyalah lobus yang terpisah dengan fungsi yang berbeda-beda di otak kita. Yang menjadi permasalahan adalah, ternyata tidak semua fungsi berpikir dialamatkan ke &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Beberapa term Al-Quran seperti &lt;i&gt;yatafakkaru&lt;/i&gt;, yang secara resmi dapat diterjemahkan sebagai kegiatan berfikir dalam bahasa Indonesia, oleh Al-Quran tidak dinisbahkan dengan jelas pada organ mana ia berada. Dibandingkan bentuk verbal &lt;i&gt;ya’qilu&lt;/i&gt; yang lebih dekat maknanya dengan kemampuan mengingat hal-hal penting, maka &lt;i&gt;yatafakkaru&lt;/i&gt; dapat diartikan sebagai proses kritis, yakni menganalisis dan membandingkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai disini timbul pertanyaan dalam diri saya, jika &lt;i&gt;yatafakkaru &lt;/i&gt;atau lebih tepat &lt;i&gt;fakkara &lt;/i&gt;tidak dilakukan di &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; apa itu berarti ia dilakukan di organ lain, yang kebetulan keberadaannya tidak disebut oleh Al-Quran? Dan karena kemampuan &lt;i&gt;fakkara&lt;/i&gt; identik dengan pencapaian manusia dalam sains, apa dengan demikian benar-benar terdapat perbedaan mendasar dalam asal-usul agama dan sains? Bahwa keduanya memiliki logika yang benar-benar berbeda, dan model epistemologi yang berbeda pula. Implikasi dari pertanyaan ini adalah, jika sifat keduanya berbeda, tentu kita bisa menarik batas dimana kedua bidang pengetahuan ini, sains dan agama, tidak tumpang tindih. Dengan kata lain, kita bisa menarik mana yang benar-benar menjadi domain agama dan mana pula yang menjadi domain sains. &lt;i&gt;Secularism begins in epistemology&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun jawabannya, karena berbagai macam alasan, tampaknya saya pribadi belum bisa melakukan penarikan garis demarkasi yang benar-benar tegas antara agama dengan sains. Yang bisa saya ungkapkan sekarang, bahwa ketiga term tersebut hanyalah bagian dari sebuah organ bernama otak, dan dengan demikian berbeda jauh dari pemikiran leksikal Arab yang menganggapnya sebagai organ yang ada di dalam dada, yakni jantung. Tentu saja saya tidak mengakui dualitas akal-hati, dan jasmani-rohani, yang ada hanyalah &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Meski saat sakit hati maupun jatuh hati, tangan saya akan selalu menunjuk ke dada dan bukan otak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah A’lam bi al-shawab&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-6468257259191901269?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/6468257259191901269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/09/fuad-qalb-dan-shadr-sebagai-organ_06.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6468257259191901269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/6468257259191901269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/09/fuad-qalb-dan-shadr-sebagai-organ_06.html' title='Fu`ad, Qalb, dan Shadr sebagai organ kognisi manusia dalam Al-Quran (2)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-3066223583185071925</id><published>2010-09-04T17:23:00.000+07:00</published><updated>2010-09-04T17:23:29.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Fu`ad, Qalb, dan Shadr sebagai organ kognisi manusia dalam Al-Quran (1)</title><content type='html'>Pernahkah anda mendengar ucapan, “iman itu urusan hati, sedangkan ilmu itu urusan otak”, atau, “tidak semua urusan dapat diselesaikan dengan otak, kita harus pula menggunakan hati”? pernyataan ini biasa kita dengar tatkala ada seseorang yang berusaha memecahkan suatu persoalan hanya dengan kemampuan logika semata. Mereka yang mempercayai frase-frase tadi dapat dikatakan sebagai orang yang mempercayai dualitas pemikiran. Dimana, pemikiran logis-rasional merupakan domain dari otak, sedangkan pemikiran irasional dan emosional merupakan domain dari hati. Distingsi fungsional ini adalah sebuah gejala global dan terjadi hampir diseluruh dunia. Yang membedakan, jika orang Arab dan Inggris, merujuk fungsi irasional-emosional kepada jantung, orang Indonesia justru merujuknya kepada hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bahasa Indonesia, kata hati juga digunakan untuk merujuk kepada organ dalam manusia yang dalam bahasa Inggris disebut liver. Tapi ketika kita menggunakan kata “hati”, tentu saja kita tidak serta merta merujuk kepada liver, sebuah organ dalam terbesar manusia yang berfungsi membersihkan kotoran dan racun dalam darah kita, melainkan organ lain yang berada di dada, yakni jantung. Pun, dalam simbolisasi kata cinta, bentuk universal jantung kita namakan dengan hati. Sehingga ketika frase “I give my heart to you” diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, hasilnya adalah “aku berikan hatiku padamu”, dan bukan jantung. Yang lebih rumit justru ketika menerjemahkan frase “sudah diberi hati, kok minta jantung?”, dimana kita harus menemukan idiom yang sesuai dengan frase tadi dan bukan semata berdasarkan terjemahan literal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang menggugah saya adalah, kenapa kita tidak menganggap hati sinonim dengan jantung secara fisik, tapi menolak perujukan hati dengan hati, liver, secara konseptual? Asumsi yang saya dapat adalah, ketika kita menggunakan kata hati secara konseptual, seperti pada kalimat “kumencintaimu sepenuh hati”, kita tidak merujuknya sebagai entitas jasmani, melainkan sebagai entitas rohani. Demikian pula sebaliknya pada kalimat “saya memakan sambal (h)ati”, term (h)ati disini merujuk kepada entitas jasmani dan bukan rohani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pentingnya perbedaan antara jasmani dan rohani dalam konsep pemikiran masyarakat Indonesia, sehingga untuk mengerti sejumlah kosa kata yang memiliki dua makna berbeda kita harus memahaminya secara kontekstual. Namun, ambiguitas makna ini tidak selamanya jelek. Tatkala kita mendengar sejumlah frase yang merujuk kepada kondisi rohani, secara instingtif kita dapat membedakannya dari frase-frase jasmani yang bersifat empiris. Maka tatkala Islam masuk ke Indonesia dan memperkenalkan istilah-istilah rohaniah baru, masyarakat kita dapat mengasimilasinya dengan baik. Buktinya adalah sinonimitas kata kalbu (dari bahasa Arab: qalb) dengan hati. Meski secara leksikal qalb itu bermakna jantung, tapi kita tidak pernah menganggapnya sebagai jantung ‘fisik’, melainkan entitas rohani bernama hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, akibat kemiskinan kosa kata, kita tidak mampu menyerap kata lain yang memiliki makna yang saling berkaitan. Dalam terjemahan Al-Quran Depag, bahkan kita tidak bisa membedakan antara kata fuad dengan qalb, dan malah membuat sebuah term baru yang sangat membingungkan, hati nurani. Saya tidak mengerti darimana asal kata nurani itu. Dari sudut pandang bahasa, kemungkinan besar kata nurani berasal dari bahasa Arab, nurani, yang berarti dua cahaya. Namun nurani sendiri sering diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi conscience, kesadaran akan baik dan buruk. Apapun itu, tampaknya pengaitan hati dan nurani, jelas membuktikan jika kita tidak benar-benar mengerti apa yang kita katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Al-Quran sendiri terdapat tiga macam kosa kata yang berkaitan dengan kata hati dalam arti rohani. Ketiganya adalah &lt;i&gt;fu`ad, qalb&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;. Dalam sistem leksikon Arab, ketiga term ini merujuk kepada bagian dada manusia. Dimana &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt;, adalah dada baik eksterior maupun interior, sedangkan &lt;i&gt;fu`ad&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; merujuk kepada jantung. Beberapa membedakan &lt;i&gt;fu`ad&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Dimana yang kedua merujuk seluruh bagian jantung, sedangkan yang pertama hanya merujuk ke bagian perikardium, atau rongga tempat jantung berada. Tentu saja, meskipun orang Arab memahaminya secara literal, namun kita dapat memahami kata-kata tadi secara konseptual sebagai organ-organ rohani yang kasat mata macam hati. Inilah yang saya sebut sebagai sebuah keuntungan. Karena meskipun orang Arab menganggap kata-kata tadi secara literal, tapi kita tidak pernah menganggapnya demikian. Namun sebelum kita beranjak lebih lanjut tentang literalitas term-term tadi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu bagaimana Al-Quran memakai ketiga kata ini, &lt;i&gt;fuad, qalb&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;shadr&lt;/i&gt; dalam ayat-ayatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Fu`ad&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;fu`ad&lt;/i&gt; berasal dari akar kata &lt;i&gt;f a d&lt;/i&gt;, yang bermakna gerak, atau menaruh dalam gerak. Secara leksikal, ia adalah sinonim dari jantung, dengan sedikit perbedaan bahwa &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; merupakan bagian paling luar darinya, perikardium. Kata &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; secara singular, tertera lima kali dalam Al-Quran. Pertama, pada 28:10 yang menggambarkan betapa &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; ibunda Musa yang kosong, tatkala melihat anaknya dipungut oleh istri Firaun. Pada ayat ini pula kita menemukan pertama kalinya hubungan antara fuad dengan qalb. Bahwa meskipun &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;nya kosong, karena melihat Musa diambil keluarga raja,&amp;nbsp; akan tetapi Tuhan telah mengikat &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;nya sehingga ibunda Musa percaya bahwa anaknya akan selamat. Kesalinghubungan antara &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; ini bisa kita lihat di dua ayat berikutnya, 25:32 dan 11:120, dimana Tuhan digambarkan menetapkan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; Nabi SAW melalui ayat-ayat Al-Quran. Dalam kedua ayat ini memang kata &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; tidak disebutkan, meskipun demikian kita menemukan kondisi &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; yang “&lt;b&gt;tetap&lt;/b&gt;”. Tetapnya &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; ini, jika kita hubungkan dengan ayat 28:10, adalah akibat &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; yang telah &lt;b&gt;diikat&lt;/b&gt;. Dari sini kita bisa sampai pada premis awal, bahwa &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; merupakan salah satu bagian terluar dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;, yang akan tenang tatkala &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; telah diikat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Labilnya kondisi &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;, ternyata berhubungan dengan akar katanya yang berarti gerak. Kebergerakan dengan demikian merupakan faktor kunci dari &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;. Tapi, apa yang bergerak, dan darimana muncul kebergerakan itu? Ayat 17:36 memberikan kita sebuah petunjuk, bahwa kata fuad ternyata berhubungan dengan indera pendengaran dan penglihatan manusia. Awalnya, korelasi ini tidak begitu jelas kita pahami, namun jika kita mencari bentuk plural dari kata &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;, yakni &lt;i&gt;af`idah&lt;/i&gt;, ternyata setengah dari 10 ayat yang mengandung term ini selalu mengkaitkan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; dengan kedua fungsi sensorik manusia itu. Dalam 16:78 kita mendapatkan pernyataan bahwa Tuhan menciptakan bagi manusia pendengaran, penglihatan dan &lt;i&gt;af`idah&lt;/i&gt; agar manusia bersyukur. Pola serupa juga kita temukan pada 67:23, 46:26, 32:9, 23:78. Bila demikian, lalu apa maksudnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai bagian dari sistem sensorik manusia, tentunya indera pendengaran dan penglihatan merupakan organ manusia yang paling sibuk. Setiap waktu, dari detik ke detik ia mencerap keadaan yang selalu berubah-ubah. Mulai dari perubahan bentuk, warna, gerak, desibel suara, hingga proses untuk mengenali wajah, raut muka, cara berjalan dan suara seseorang. Di sinilah proses identifikasi ruang eksterior dilakukan. Jumlah data yang masuk ke indera penglihatan dan pendengaran yang selalu bervariasi dan berubah-ubah sangat serupa dengan makna dasar dari &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;, yang berarti gerak itu. Di sini kita sampai pada premis berikutnya, bahwa &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; merupakan bentuk penalaran sensorik yang sepenuhnya bersifat empiris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempirikan penalaran &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; rupanya berhubungan pula dengan hasil yang mungkin dicapai dengannya. Allah sendiri menjelaskan bahwa salah satu fungsi dari pendengaran, penglihatan dan &lt;i&gt;af`idah&lt;/i&gt; adalah untuk membuat manusia puas dengan tanda-tanda yang ia ciptakan, 46:26. Ketika seseorang melihat sebuah mobil mewah, tentu saja organ tubuh yang pertama kali terpuaskan adalah&amp;nbsp; indera penglihatan. Dari mata, yang merasa takjub itulah seseorang dapat dengan mudah mengkaitkan keberadaan mobil yang sangat mewah dengan anugerah yang telah Allah limpahkan padanya. Yang kemudian membuat orang tersebut berterima kasih atas limpahan karunia yang telah memuaskannya hatinya itu. Penjelasan macam ini dapat kita temukan pada 6:112-3, dimana musuh dari para nabi saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menyesatkan manusia. Perkataan-perkataan indah itulah yang kemudian membuat &lt;i&gt;af`idah&lt;/i&gt; orang-orang yang tidak beriman cenderung kepadanya, &lt;i&gt;tashga&lt;/i&gt;. Di ayat 14:37 kita juga menemukan doa Ibrahim agar Tuhan menjadikan &lt;i&gt;af`idah&lt;/i&gt; orang-orang Makkah, senang, &lt;i&gt;tahwi&lt;/i&gt;, kepada keturunannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari model pragmatik diatas, akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt; tidak lain daripada fungsi penalaran sensorik manusia yang bersifat dangkal, dan bertumpu pada proses pengambilan keputusan yang sederhana. &lt;i&gt;Fuad&lt;/i&gt; sangat mudah dimanipulasi oleh penampakkan yang indah, serta retorika perkataan dan bukanlah fakultas penalaran yang mendalam sebagaimana qalb. Hubungan antara &lt;i&gt;fuad &lt;/i&gt;dengan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;, dapat diumpamakan seperti seseorang yang “jelalatan” melihat baju-baju bagus yang dijual dengan diskon yang tinggi, tapi setelah melihat catatan belanja bulanan ia sadar bahwa barang-barang tersebut tidak menempati prioritas tertinggi dalam pengeluaran. Disini, ketakjuban yang muncul dari proses penginderaan baju-baju bagus tersebut dapat disamakan dengan &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;, sedangkan proses berpikir tentang prioritas belanja adalah hasil kerja &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Qalb&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Kata&lt;i&gt; qalb&lt;/i&gt; berasal dari akar kata &lt;i&gt;q l b&lt;/i&gt; yang memiliki makna berganti atau berbalik. Dalam sebuah frase Arab disebutkan bahwa &lt;i&gt;yusamma al-qalb qalban li inqilabihi,&lt;/i&gt; yang bermakna &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dinamakan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dikarenakan perubahannya, yang seringkali berbalik dan berganti. Frase ini menunjukkan kepada kita tentang kelabilan yang dimiliki oleh &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh &lt;i&gt;fuad&lt;/i&gt;, bahwa ia tidaklah menentu, kadang condong ke suatu arah dan kemudian berubah ke arah yang berbeda. Dalam Al-Quran kata &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;al-qalb&lt;/i&gt; termaktub sebanyak tujuhbelas kali, sedangkan bentuk plural dari kata tersebut, &lt;i&gt;qulub&lt;/i&gt;, tersebut sebanyak 104 kali. Jumlah penyebutan kata yang sangat banyak ini, tentu berhubungan dengan fungsi utama &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; yang saya sederhanakan kedalam dua macam kategori: yakni fungsi rasional dan fungsi emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;a. Fungsi rasional&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Fungsi rasional dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dapat dikelompokkan kedalam dua bentuk kata kerja yakni berakal, &lt;i&gt;ya’qil&lt;/i&gt;, dan memahami, &lt;i&gt;yafqahun&lt;/i&gt;. Kata kerja &lt;i&gt;ya’qilu&lt;/i&gt;, berasal dari akar kata &lt;i&gt;a’qala&lt;/i&gt;, yang secara harfiah bermakna menahan atau mengikat. Seperti pada frase &lt;i&gt;a’qala al-bai’r&lt;/i&gt;, atau mengikat unta, dan frase lain, &lt;i&gt;a’qala&lt;/i&gt; &lt;i&gt;al-bathn&lt;/i&gt;, yang bermakna perut yang mengecil. Selain kedua makna ini, &lt;i&gt;a’qala&lt;/i&gt; juga dapat diartikan sebagai mengumpulkan sesuatu, dan yang paling umum dijumpai dalam bentuk noun, sebagai intelek. Tapi, pemahaman Arab akan keintelekan kata &lt;i&gt;a’qala&lt;/i&gt; sangat berbeda dari yang kita pahami saat ini sebagai kemampuan untuk menganalisis dan membandingkan. Kata a’qala, menurut saya justru lebih dekat maknanya dengan kemampuan untuk mengingat sebuah hal penting. Pada 49:4 misalnya, kita dapat mengartikan perbuatan para sahabat yang memanggil Nabi dari belakang kamar (dalam kehidupan modern saat ini, dapat disamakan dengan bertamu dari pintu belakang) disebabkan kebanyakan dari mereka tidak mengingat tata krama bertamu, yakni harus dari pintu depan – atau dalam konteks Nabi SAW, harus melalui masjid, karena kamar Nabi berada di belakang masjid. Demikian pula halnya pada 43:3, yang menjelaskan bahwa Al-Quran dibuat dengan bahasa Arab agar dapat diingat oleh masyarakat Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun yang paling menarik dari penggunaan kata &lt;i&gt;ya’qilu&lt;/i&gt; adalah ketiadaan bentuk noun dari kata tersebut. Bentuk noun dari &lt;i&gt;ya’qilu&lt;/i&gt; sendiri adalah &lt;i&gt;a’ql&lt;/i&gt;, atau yang kita kenal dalam bahasa Indonesia dengan akal. Hal ini menjadikan ayat 22:46 sebagai satu-satunya petunjuk bagi fakultas mengingat ini. Di ayat tersebut dijelaskan bahwa proses ber-a’ql dilakukan di qalb dan tidak di organ tubuh lainnya. Pandangan Al-Quran ini sungguh sesuatu yang sangat revolusioner, mengingat bahkan setelah kedatangan Islam pun, orang-orang Arab masih terjebak pada pendapat bahwa a’ql itu adalah sebuah organ tubuh tempat proses berpikir terjadi yang berbeda dari qalb. Dualitas a’ql dan qalb ini sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, merupakan warisan global tentang perbedaan antara akal dengah hati. Maka dengan memasukkan kata kerja a’qala sebagai salah satu fungsi dari qalb, berarti Al-Quran mengakui kesatuan fungsi intelek dan emosi dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika bentuk verbal ya’qilu tidak merujuk kepada kemampuan berpikir manusia, maka fungsi selanjutnya dari qalb, yakni &lt;i&gt;yafqahu&lt;/i&gt;, merupakan representasi paling tepat dari kata tersebut. Akar kata yafqahu adalah f q h, memiliki arti memahami. Sebagaimana ya’qilu, maka kata yafqahu juga tidak memilki bentuk noun dalam Al-Quran. Tapi relasi antara kegiatan yafqahu dengan qalb ternyata jauh lebih erat daripada ya’qilu dengan qalb. Terdapat empat ayat yang menyatakan relasi ini, dimana qalb merupakan organ yang berfungsi untuk memahami ajaran-ajaran agama. Yang menarik, keempat ayat tersebut sama-sama berbicara tentang ketidakmampuan qalb orang-orang munafik dalam memahami agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada ayat 63:3, dijelaskan bahwa orang-orang munafik yang menyatakan keimanan mereka, padahal tidak sekalipun mereka beriman, dan justru menjadikan agama sebagai sebuah tameng untuk menghalau manusia dari jalan Allah, dianggap sebagai orang kafir yang qalb-nya dikunci rapat sehingga mereka tidak dapat mengerti arti dari beragama.&amp;nbsp; Masih dalam konteks yang sama, pada 9:127, Allah memalingkan qalb orang-orang munafik dikarenakan ketidakmampuan mereka dalam memahami agama, yakni dengan mengabaikan sebuah surat yang turun kepada Nabi SAW. Hal serupa juga diterangkan pada 9:87, yang menerangkan ketidakpahaman mereka terhadap agama, membuat mereka enggan pergi berjihad dan memilih berdiam di kota Madinah. Bila kita rangkum, ternyata orang-orang munafik ini gagal memahami bahwa beragama itu tidak lain daripada sikap berserah diri. Dan masih menganggap keberagamaan sebagai tindakan simbolik belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 7:179 memberikan kepada kita gambaran dari balasan Allah kepada orang-orang yang &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;-nya tidak dapat memahami arti keberagamaan. Oleh Tuhan mereka dianggap seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat daripada itu. Mereka adalah orang-orang yang lalai. Ayat ini sendiri merupakan akhir dari rangkaian ayat yang diawali oleh sebuah parabel tentang seseorang yang dianugerahkan padanya ayat-ayat Allah, tapi orang tersebut enggan menerimanya dan memilih untuk tenggelam dalam kesenangan dunia dan mengumbar hawa nafsunya. Tuhan pun mengumpamakan perbuatan orang tersebut seperti anjing yang menjulurkan lidahnya, karena birahi, entah kita usir maupun kita biarkan, ia tetap menjulurkan lidahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari keterangan-keterangan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa kemampuan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; untuk memahami erat hubungannya dengan ihwal beragama. Bahwa agama bukanlah sebuah ritual simbolik tanpa isi, melainkan sebuah anugerah Tuhan kepada manusia yang mengingatkan mereka akan adanya Hari Akhir. Yakni, apa yang kita kerjakan di dunia pasti akan mendapat balasannya di akherat kelak. Ketidakmampuan seseorang untuk memahami konsekuensi tindakannya di dunia, dan hanya menaruh perhatian pada aspek formal-simbolik agama semata menandakan ketidakmampuan qalb dalam memahami ajaran-ajaran agama. Kemampuan untuk memahami kesalingterkaitan ini berkaitan dengan anugerah Tuhan, yakni mereka yang telah ditutup &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;-nya bisa dipastikan lupa akan hal tersebut dan lalai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-3066223583185071925?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/3066223583185071925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/09/fuad-qalb-dan-shadr-sebagai-organ.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3066223583185071925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/3066223583185071925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/09/fuad-qalb-dan-shadr-sebagai-organ.html' title='Fu`ad, Qalb, dan Shadr sebagai organ kognisi manusia dalam Al-Quran (1)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-5068492872271040084</id><published>2010-09-02T17:37:00.001+07:00</published><updated>2010-09-02T17:43:09.665+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Nafs: Sebuah Paradigma</title><content type='html'>Di artikel saya sebelumnya, saya menerangkan jika yang dimaksud dengan kata &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; dalam Al-Quran, merujuk secara implisit kepada ide tentang ajaran-ajaran agama, atau "semangat keberagamaan" yang bersifat praktis yang dihembuskan oleh Tuhan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. &lt;i&gt;Al-Ruh&lt;/i&gt; dengan demikian selalu merujuk kepada Tuhan, dan tidak berhubungan dengan roh manusia, sebagaimana diyakini oleh masyarakat selama ini. Sekarang muncul pertanyaan, jika kata &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; tidak &lt;i&gt;equivalent&lt;/i&gt; dengan kata roh, maka kosa kata apa yang digunakan oleh Al-Quran untuk mendeskripsikan konsep roh manusia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata yang paling dekat dengan konsep ini menurut saya adalah &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Berbeda dari &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, ternyata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; adalah sebuah konsep umum dengan repitisi yang teramat banyak. Sekitar 268 ayat Al-Quran yang memuat kata tersebut dalam berbagai bentuk anak kata, &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; anfus&lt;/i&gt; (jamak 1), &lt;i&gt;nufus&lt;/i&gt; (jamak 2), dan &lt;i&gt;al-nafs&lt;/i&gt;. Dengan jumlah sebanyak ini, terus terang saya belum dapat meneliti aspek pragmatik dari nafs dengan memadai satu persatu. Yang baru saya lakukan adalah mengamati pola penggunaan kata tersebut secara umum dalam Al-Quran, dan menyimpulkannya dalam sebuah &lt;i&gt;prelimenary writing&lt;/i&gt; yang tengah anda baca saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaiman &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; juga berkaitan dengan term udara. Bentuk verbal&lt;i&gt; nafasa&lt;/i&gt;, bahkan diserap kedalam bahasa Indonesia menjadi kata kerja bernafas. Meski demikian, terdapat kesalahan pengertian sehubungan dengan pengaitan kata&lt;i&gt; nafs&lt;/i&gt; dengan nafsu. Kesalahan pemaknaan ini menurut saya berkaitan erat dengan konsep psikologi sufisme yang mewarnai dunia Islam sejak abad ketigabelas. &lt;i&gt;Nafs&lt;/i&gt; menurut konsep ini diartikan sebagai kecenderungan jiwa kepada keburukan. Ayat Al-Quran yang sering dikutip sebagai acuan pemikiran ini adalah 75:2 yang menjelaskan janji Allah di akherat kelak atas &lt;i&gt;al-nafs al-lawwamah&lt;/i&gt;. Selain itu, term &lt;i&gt;al-nafs al-muthmainnah&lt;/i&gt; juga memberikan andil penting bagi definisi psikologi sufistik. Disini, &lt;i&gt;nafs &lt;/i&gt;berubah menjadi sebuah konsep metafisik, dengan membagi nilai individu seseorang kedalam tingkatan-tingkatan spiritual, dimana puncak dari segala keutamaan itu adalah &lt;i&gt;al-nafs al-muthmainnah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekaburan konseptual dalam kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; ini, juga diperkuat dengan kepercayaan umum masyarakat tentang dualisme roh dan badan. Bagi saya, ini adalah sebuah pra-konsepsi yang tanpa sadar digunakan dalam memahami term &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Umumnya, mereka memberikan kata &lt;i&gt;jasad&lt;/i&gt; yang meteriil sebagai lawan dari kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; yang immateriil. Tapi karena kata&lt;i&gt; ruh&lt;/i&gt; dalam Al-Quran digunakan dalam konsep yang berbeda, maka perhatian selanjutnya tertuju pada kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Yang menjadi persoalan adalah, apakah Al-Quran menggunakan sebuah kata yang menjadi antonim dari kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;? Anggap saja &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; adalah sinonim dari &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, bila demikian, bisakah kita menganggap kata jasad sebagai antonim dari nafs? Sayang sekali, saya tidak dapat meyakini jika jasad adalah lawan kata dari &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Bentuk pragmatik kata ini, bahkan melampaui makna &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;. Jika &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; tidak terlihat, maka sebaliknya, &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dapat dilihat dan dicerap. Meski begitu, al-Quran menggunakan kata tersebut untuk menggambarkan baik aspek jasmaniah maupun aspek rohaniah manusia. Ayat 29:57 misalnya yang berisi pernyataan bahwa setiap &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; merasakan kematian, menandakan bahwa &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; itu sinonim dengan aspek lahiriah manusia. Adapun ayat 21:64, yang memuat kisah kaum nabi Ibrahim yang sadar oleh argumentasi sang nabi, menggunakan kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dalam bentuk psikologis, yakni kesadaran diri. Jika demikian, maka bagaimana kita memperlakukan kata tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba terbesit dalam pikiran saya ide untuk menyamakan model semantik kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dengan kata&lt;i&gt; qalb&lt;/i&gt;. Bgini, tidak seperti kepercayaan umum yang membedakan antara entitas bernama akal dan hati, Al-Quran justru melakukan sebuah terobosan unik dengan mengaburkan distingsi tersebut. Dalam Al-Quran, baik akal dan hati sama-sama melebur jadi satu dalam sebuah entitas bernama &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Proses memahami dan berfikir yang biasa dilekatkan pada akal, justru dijadikan sebagai salah satu fungsi dari &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt;. Demikian pula halnya kemampuan yang identik dengan fungsi dari hati, seperti penerimaan akan iman dan hidayah, semuanya beralangsung di dalam qalb. Penyatuan fungsi akal dan hati kedalam &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; ini membuat saya berpikir, apakah kecenderungan ini juga dapat kita aplikasikan pada kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;? Yang saya maksud, bisakah kita mengatakan bahwa Al-Quran juga mengaburkan dualisme ruh dan jasad kedalam satu konsep bernama &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; sebagaimana &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; bagi akal dan hati?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus terang, ini adalah ide yang sangat menantang, sekaligus penting bagi pemahaman kita terhadap bagaimana Al-Quran memandang realitas ontik kehidupan. Saya akan mendemonstrasikan secra singkat berdasarkan definisi tentang kematian yang tertera pada ayat 39:42.&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;"Allah mewafatkan &lt;i&gt;al-anfus&lt;/i&gt; saat kematiannya, dan (&lt;i&gt;al-anfus&lt;/i&gt;) yang belum mati dalam tidurnya. Maka Dia memegang (&lt;i&gt;al-anfus&lt;/i&gt;) yang telah ditetapkan kematian atasnya, dan melepaskan lainnya hingga batas tertentu. Yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir". &lt;/blockquote&gt;Menurut saya, ayat ini memberikan penjelasan singkat kepada kita tentang perbedaan antara kata &lt;i&gt;wafat&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;mawt&lt;/i&gt;. Dimana yang pertama dapat diartikan sebagai tindakan melengkapi dan menunaikan yang berikutnya. Kata &lt;i&gt;yatawaffa&lt;/i&gt; sendiri berasal dari akar kata yang sama dengan &lt;i&gt;wafaya&lt;/i&gt;, yang bermakna memegang, atau memenuhi. Adapun kata &lt;i&gt;mawt&lt;/i&gt;, secara sederhana dapat kita artikan sebagai mati. Dalam pandangan umum, kematian dapat diartikan sebagai hilangnya tanda-tanda kehidupan, atau ketidakmampuan seluruh organ manusia untuk menjalankan fungsinya. Setelah mati, maka jiwa orang yang bersangkutan akan diambil oleh Tuhan untuk kemudian dibangkitkan kembali di Hari Kiamat nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menarik dari ayat tadi adalah, ternyata subjek dari &lt;i&gt;wafat&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;mawt&lt;/i&gt; hanya satu, yakni &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Ia juga tidak memuat pembedaan antara roh dan jasad sebagaimana yang dipercaya masyarakat umum. Dengan kata lain, entah selagi hidup, maupun setelah mati di dunia, Al-Quran memandang manusia sebagai sebuah kesatuan utuh bernama &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Keterpaduan antara jasmani dan rohani ini diumpamakan Al-Quran seperti bumi kering yang diberi air sehingga memunculkan kehidupan di atasnya. Pada 30:19, dijelaskan pula bahwa Allah mengeluarkan &lt;i&gt;al-hayy&lt;/i&gt;, yang hidup, dari &lt;i&gt;al-mayyit&lt;/i&gt;, yang mati, dan juga sebaliknya, mengeluarkan &lt;i&gt;al-mayyit &lt;/i&gt;dari &lt;i&gt;al-hayy&lt;/i&gt;. Penjelasan ini membawa saya kepada hipotesis, ternyata hidup dan mati hanyalah dua sisi dari sebuah entitas bernama materi. Tidak ada yang namanya ruh dan jasad, keduanya menyatu dalam materi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja saya menyadari sejumlah kesulitan yang muncul sebagai konsekuensi logis dari pemahaman ini. &lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, peniadaan dualitas roh dan jasad tentu akan mengabaikan teori-teori lama yang bersandar pada keberadaan roh. Misalnya, soal&lt;i&gt; Isra&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Mi'raj&lt;/i&gt; Nabi SAW, yang bagi sebagian orang adalah sebuah perjalanan rohaniah dan bukan jasmani. Pendapat lain tentang kebangkitan manusia yang bagi sebagian orang hanya kebangkitan rohaniah saja, juga secara logis bertentangan dengan ide tersebut. Bagi saya, kebangkitan saat Kiamat nanti dan juga soal &lt;i&gt;Isra&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Mi'raj&lt;/i&gt; semuanya berkaitan erat dengan konsep &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;, dan dengan demikian bersifat materi sekaligus rohani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, konsep alam &lt;i&gt;barzakh&lt;/i&gt; yang diperkenalkan sebagai waktu-antara kehidupan dunia dan akherat juga bermasalah dengan pendapat ini. Tapi konsep &lt;i&gt;barzakh&lt;/i&gt; sendiri dalam hemat saya juga problematik. Kata &lt;i&gt;barzakh&lt;/i&gt; pada ayat 23:99-100, yang menjadi sumber ide ini, menurut saya dapat ditafsirkan sebagai batas realitas dimana mereka yang mati tidak bisa kembali ke kehidupan dunia, dan bukan sebuah kehidupan tersendiri di luar kehidupan dunia dan akherat. Pandangan ini diperkuat oleh, 30: 55-56, yang menjelaskan perkataan orang-orang pendosa yang merasa bahwa seakan mereka baru meninggal beberapa saat yang lalu, dan tiba-tiba mereka telah bangun di Hari Kiamat. Hal ini memberi penjelasan lain kepada kita bahwa tidak ada kesadaran dalam kematian sebagaimana yang dipercaya selama ini. Dalam ayat lainnya 45:26 juga dijelaskan bahwa, Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikannya, dan menghidupkannya kembali. Yang menandakan bahwa hidup atau kesadaran itu hanyalah dua, yakni kehidupan dunia dan kehidupan akherat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, ternyata bukan manusia saja yang memiliki &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;, bahkan Tuhan pun memilikinya pula. Dua ayat di surat al-Ana'm (6), 12 dan 54, menjelaskan hal tersebut. Bahwa, Tuhan telah menetapkan atas &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;-Nya kasih sayang, &lt;i&gt;al-Rahmah&lt;/i&gt;. Persoalan yang muncul kemudian adalah, jika kita menganggap konsep &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; pada manusia sama dengan &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; Tuhan, dimana yang meteriil tidak terpisah dari yang spirituiil. Dalam hemat saya, pemecahan paling mungkin atas ambiguitas ini adalah dengan membedakan kedua jenis &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;, atau mengafirmasi secara materiil keberadaan Tuhan. Pandangan kedua ini, bukannya tanpa alasan. Di beberapa ayat Al-Quran disebutkan jika di akherat kelak kita pasti bertemu dengan Tuhan, dan Musa pun dapat melihat Tuhan di dunia, yang berujung kepada kehancuran dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari persoalan logis diatas, sampai batas tertentu, kadang saya menganggap &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; sebagai sebuah term identitas. Ia digunakan untuk mengkaitkan segenap aspek yang ada dalam diri manusia kedalam sebuah term yang memungkinkan adanya sebuah indetifikasi diri. Bahwa &lt;i&gt;X&lt;/i&gt; disebut &lt;i&gt;X&lt;/i&gt; bukan karena ribuan penanda atau sifat yang ada padanya, melainkan sebuah entitas bernama nafs yang menjadi &lt;i&gt;rigid reference&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;X&lt;/i&gt; ini. Apapun itu, tampaknya kesatuan antara jasmani dan ruhani dalam konsep &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;, memberikan stimulus positif bagi studi tentang diri manusia di masa kini. Bayang-bayang dualitas yang memberikan kesamaran pemahaman tentang manusia pun berhenti pada kenyataan bahwa kita adalah kita sebagaimana yang kita cerap dan persepsi. Sehingga, kajian empirik atas manusia benar-benar bisa dilakukan tanpa hambatan teologis. Dalam arti yang lebih luas, pemahaman ini membuka cakrawala baru dalam usaha memahami koherensi semantik Al-Quran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah a'lam bi al-shawwab&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Catatan Kecil&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Term &lt;i&gt;nufus zuwijat&lt;/i&gt; pada 81:7, menurut saya dapat ditafsirkan sebagai pengelompokkan jenis-jenis makhluk di padang makhsyar: manusia dengan manusia, dan jinn dengan jinn. Pandangan ini sesuai dengan term "menjadikan dari &lt;i&gt;anfusikum azwajan&lt;/i&gt;", atau menjadikan bagi manusia pasangan dari jenis manusia yang tertera pada 42:11. Yang bermakna sebuah pengelompokan homogenous.&amp;nbsp; &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Saya kira konsep metafisik &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; benar-benar tidak dapat diaplikasikan lagi. Sebagai contoh, term &lt;i&gt;al-nafs al-muthmainnah&lt;/i&gt;, tidak lagi diartikan sebagai tingkatan-tingkatan jiwa, melainkan bentuk lain dari kondisi kejiwaan yang &lt;i&gt;islam&lt;/i&gt;, pasrah dan meyakini dengan sepenuh hati akan keberadaan Allah. Petunjuk kearah ini terletak pada bentuk verbal dari kata tersebut yang ditunjukkan pada 5:113, tentang permintaan para hawariyyun kepada Tuhan akan makanan dari langit, agar &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; mereka menjadi tenang, &lt;i&gt;tathmainna&lt;/i&gt;. Serta, permintaan Ibrahim agar Tuhan memberikan demonstrasi kepadanya untuk menghidupkan sesuatu yang telah mati, 2:260.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-5068492872271040084?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/5068492872271040084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/09/nafs-sebuah-paradigma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5068492872271040084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/5068492872271040084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/09/nafs-sebuah-paradigma.html' title='Nafs: Sebuah Paradigma'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-525664356131690658</id><published>2010-08-31T16:42:00.000+07:00</published><updated>2010-08-31T16:42:46.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Roh, ruh, dan al-Ruh dalam Al-Quran</title><content type='html'>Sewaktu saya remaja, ada sebuah lelucon berkenaan dengan keinginan para ilmuwan sebuah negara untuk mengetahui ada tidaknya roh manusia. Mereka pun bereksperimen dengan sebuah tube kaca yang menutupi tubuh seseorang yang tengah sekarat. Seluruh ilmuwan berkumpul di tempat tersebut, dengan harapan dapat melihat roh dengan jelas dan mengisolirnya dalam bejana kaca tadi. Setelah ditunggu lama, bahkan hingga jasad orang yang sekarat tersebut telah dingin karena sudah meninggal, para ilmuwan ini kecewa karena tidak bisa membuktikan hipotesis mereka tentang roh. Merekapun menyimpulkan jika roh itu tidak ada, karena tidak dapat dilihat dan dideteksi secara empiris. Lelucon ini kerap disampaikan oleh para penceramah pada saat shalat tarawih dan shalat Jumat. Biasanya, mereka mentertawakan usaha para ilmuwan tersebut dan menganggapnya sebagai tindakan yang sia-sia karena tidak ada yang tahu hakekat roh manusia kecuali Allah. Mereka kemudian mengutip sebuah ayat Al-Quran. “Dan mereka bertanya padamu tentang &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt;. Katakan, ‘&lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; itu urusan Tuhanku. Dan tidaklah kamu diberi &lt;i&gt;al-i'lm&lt;/i&gt; kecuali sedikit.’” Q. 17:85.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama saya mengamini ucapan para penceramah tersebut dan menerimanya tanpa kritik, hingga suatu ketika saya menyaksikan tayangan Tafsir Al-Misbah di televisi. Ya, Quraish Shihab&lt;i&gt;lah&lt;/i&gt; yang pertama kali memberikan keterangan yang berbeda tentang ayat tersebut. Memang secara umum beliau menjelaskan kata &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; dalam arti roh seperti yang dikatakan para penceramah. Tapi kemudia ia menambahkan penjelasan singkat yang menerangkan bahwa makna kata tersebut bisa saja Jibril, atau mungkin Al-Quran. Sampai di sini saya terkesima dengan kemungkinan brilian tersebut. Maka saya pun membuka program Zekr di komputer saya untuk mencari tahu berapa kali kata al-ruh disebut dalam Al-Quran, dan bagaimana serta dalam konteks apa mereka digunakan, guna mencari tahu makna semantik yang ada disekeliling kata tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar lebih terpola, maka saya mengklasifikasikan kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dalam dua bentuk penggunaan yang berbeda. Pertama adalah &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dalam arti umum dan kedua, &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dalam arti khusus. Dalam tata bahasa Arab, pembedaan ini dapat kita kenali dengan mudah dari ada tidaknya prefix “al” didepan kata yang bersangkutan. Fungsinya mirip dengan tambahan “the” dalam tata bahasa Ingggris, yakni merujuk kepada entitas yang telah dikenal, dengan demikian bersifat khusus, bukan umum. Hasilnya, ternyata terdapat sekitar 14 ayat Al-Quran yang mencantumkan kata&lt;i&gt; ruh&lt;/i&gt; dalam bentuk umum, dan ada tujuh ayat yang menggunakan kata &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt;. Setelah saya cek di Q. 17:85, kata yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt;, dan bukan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;. Dengan demikian, target saya sebenarnya adalah memahami &lt;i&gt;speech act&lt;/i&gt; dan medan semantik dari &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu akan terlihat konyol, jika kita tahu arti &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt;, tapi tidak memiliki ide sama sekali mengenai &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, karenanya saya pun berusaha mencari tahu arti kata tersebut. Langkah pertama saya adalah mencari dalam kamus &lt;i&gt;Mufradat al-Ragib fi al-Quran al-Karim&lt;/i&gt; karya Ragib Al-Isfahani, untuk mengetahui jikalau kata tersebut bukan kata Arab asli. Ternyata, dalam kamus tersebut, dan kamus yang lebih modern karya Arthur Jeffery yang berjudul &lt;i&gt;Foreign Vocabularies of Quran&lt;/i&gt;, tidak ditemukan kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;. Disini saya bisa menyimpulkan bila kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; benar-benar kata Arab asli dan bukan saduran dari bahasa asing, sehingga kita dapat memahami keotentikan kata tersebut dalam kosakata Arab dan bukan bahasa asing lain, termasuk bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya saya memiliki kamus digital &lt;i&gt;Lisan al-Arab&lt;/i&gt; di komputer saya, tapi karena program untuk membaca ekstensi file tersebut belum saya temukan, akhirnya saya membuka &lt;i&gt;Arabic-English Lexicon &lt;/i&gt;karangan Edward William Lane yang berekstensi DJVU. Dari segi materi, sebenarnya Lexicon tidak kalah dengan Lisan. Ia terdiri atas delapan jilid buku, yang masing-masing berisi 400 hingga 500-an halaman. Bagi yang tidak terlalu fasih berbahasa Arab, Lexicon dapat diandalkan untuk mencari tahu akar kata dan penggunaan kosakata Arab, karena maknanya diterangkan dalam bahasa Inggris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; berasal dari akar kata &lt;i&gt;r w h&lt;/i&gt;. Setidaknya terdapat 10 entri makna berkenaan dengan akar kata tersebut, dan berkorelasi dengan kata angin sepoi-sepoi, ringan, aktif, dan cepat. Kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; juga berhubungan dengan kata istirahat, dan bau, demikian pula dengan aktivitas bernafas. Makna umum yang dapat kita temukan pada kata-kata tadi adalah hubungan antara &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dengan angin atau udara. Dalam hal ini, makna resmi kata tersebut yang berarti nyawa yang menggerakkan makhluk hidup, dapat dipahami secara intuitif sebagai udara yang menggerakkan jasad manusia. Karena udara tidak dapat dilihat, maka demikian pula &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, yang hanya dapat dirasakan keberadaannya yang seperti angin itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai disini, kita dapat memahami maksud para penceramah dengan lelucon yang mereka sampaikan itu. Bahwa &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; selamanya tidak akan pernah dilihat dan dicerap secara empirik oleh manusia, dan hanya Tuhanlah yang mampu untuk menjelaskan hakekat dari ruh. Yang menjadi masalah kemudian, bagaimana menjelaskan hubungan antara Al-Quran atau Jibril dengan term &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;. Cara paling efektif dan tepat untuk mengetahuinya adalah dengan menganalisis penggunaan kata tersebut dalam Al-Quran. Dengan demikian, kita beralih dari pemahaman &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dalam arti umum sebagaimana yang kita ketemukan dalam kamus, kepada pemahaman ruh sebagaimana digunakan dalam ayat-ayat Al-Quran yang kontekstual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari empatbelas ayat yang mengandung kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, empat diantaranya berkaitan dengan kata &lt;i&gt;al-quds&lt;/i&gt;, suci, dan membentuk sebuah term baru bernama &lt;i&gt;Ruh al-Quds&lt;/i&gt;. Tiga ayat diantaranya, 5:10, 2:253, 2:78, berhubungan dengan ihwal kerasulan Isa yang diperkuat dengan &lt;i&gt;Ruh al-Quds&lt;/i&gt;. Namun pada ayat 4:171, Isa didefinisikan sebagai rasulullah, kalimat Tuhan yang disampaikan kepada Maryam, dan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dariNya. Dengan demikian, selain diperkuat oleh &lt;i&gt;Ruh al-Quds&lt;/i&gt;, ternyata Isa sendiri memiliki &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan. Keberadaan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan dalam diri Isa, sangat berkaitan dengan proses kelahirannya yang supranatural. Pada 19:17 dijelaskan bahwa Tuhan, dalam bentuk plural, mengirimkan kepada Maryam “ruh kami” yang tampak baginya seperti manusia sempurna. Dari pertemuan dengan “ruh kami”lah, kemudian Maryam mengandung Isa. Al-Quran sendiri menjelaskan secara unik kehamilan Maryam ini dengan menjelaskan bahwa ia adalah perempuan yang menjaga kemaluannya yang ditiupkan padanya sebagian dari “ruh kami”. Namun dua ayat yang menerangkan pernyataan unik ini memiliki dua objek yang berbeda. Yakni pada 66:12 objek peniupan ruh ber-gender maskulin, sedang pada 21:91, bergender feminin. Perbedaan gender ini dalam hemat saya merujuk baik kepada Maryam maupun Isa. Dengan kata lain, bukan hanya Isa saja yang mendapatkan “ruh kami”, tapi juga Maryam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata, keberadaan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan dalam diri manusia bukanlah prerogatif Isa dan Maryam semata. Pada 32:9, 15:29, dan 38:72, juga diterangkan bahwa manusia pertama telah diisi oleh &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;Nya. Dalam konteks ini, penyampaian &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan kepada diri Adamlah yang membuat para malaikat sujud kepadanya. Sujudnya para malaikat kepada Adam, sangat berkaitan dengan ihwal pengajaran nama-nama yang disampaikan Tuhan kepadanya dalam 2:31. Pada ayat tersebut diterangkan bahwa Adam mampu dengan gemilang mengungguli para malaikat, karena mampu memberitakan nama-nama yang telah Tuhan ajarkan kepadanya. Keterangan yang terdapat pada ayat tersebut, memberikan petunjuk awal kepada kita, jika kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; ternyata berkaitan pula dengan ajaran-ajaran Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyamaan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan, dengan ajaran-ajaran Tuhan diperkuat oleh perkataan Ya’qub kepada putra-putranya dalam 12:87 untuk tidak berputus asa dalam mencari Yusuf yang hilang. Pada ayat tersebut, Ya’qub mengatakan: “janganlah kalian berputus asa dari &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Allah. Sungguh hanya kaum kafirlah yang putus asa dari &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Allah”. Perkataan Ya’qub ini kemudian diperkuat pula oleh 58:22 yang menjelaskan bahwa orang-orang beriman tidak akan berkasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, meskipun mereka adalah sanak saudara mereka. Orang-orang beriman ini, menurut Allah, adalah mereka yang telah tercatat dalam &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; mereka iman, dan diperkuat dengan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dariNya. Tentu saja, &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan, melebihi ajaran-ajaran Tuhan semata. Saya memberikan hipotesis, bahwa yang dimaksud oleh term tersebut adalah kemampuan untuk mengaplikasikan ajaran-ajaran Tuhan dalam tataran praktis. Yakni tatkala ajaran-ajaran tersebut telah mendarah daging dalam perilaku keseharian seseorang, maka yang bersangkutan tidak ubahnya mereka yang telah mendapat&lt;i&gt; ruh&lt;/i&gt; Tuhan. Atau dalam bahasa yang lebih kasar, dirinya telah terasuki oleh segenap semangat moral dan tuntunan ilahiyah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Resapan “semangat ketuhanan” dalam diri seseorang ini jelas bukan sebuah peristiwa yang subjektif. Dalam 16:102 diterangkan bahwa keteraturan susunan ayat-ayat Al-Quran dikarenakan ia dibawa oleh &lt;i&gt;ruh al-Quds&lt;/i&gt; dari Tuhan kepada Nabi SAW. Disini kita menemukan bahwa tekstualitas Al-Quran berada di luar subjektivitas Muhammad SAW sebagai rasul yang menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan. Pada seri ayat yang menerangkan tata laksana turunnya wahyu pada 42:51-2, dijelaskan bahwa wahyu itu sendiri adalah &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; yang menjadi cahaya bagi orang-orang yang dikehendaki oleh Tuhan. Dari pemaparan tersebut, kita sampai pada kesimpulan bahwa, kata ruh, dalam Al-Quran tidak dapat disamakan dengan kata roh dalam bahasa Indonesia. Ia bukanlah roh dalam arti nyawa sebagaimana dimaksud oleh para penceramah, akan tetapi suatu “semangat ilahiah” yang merasuki setiap perilaku seseorang. Meskipun seseorang dapat terasuki sepenuh hati oleh ruh Tuhan, akan tetapi apa yang ia perbuat tidaklah bersifat semena-mena dan subjektif, melainkan mengikuti kaedah-kaedah yang telah ditentukan oleh Tuhan. Meski demikian, penyampaian &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan atas diri seseorang sepenuhnya bersifat subjektif bagi Tuhan. Dengan kata lain, hanya Tuhanlah yang berhak memberikan hadiah tersebut kepada seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari definisi tentang kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dalam arti umum sebagaimana digunakan dalam Al-Quran, sekarang kita membahas mengenai kata &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; dalam arti khusus. Sekali lagi, kita menemukan keunikan dalam Al-Quran. Jumlah ayat yang memuat kata &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; adalah setengah dari jumlah ayat yang memuat kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;. Itu berarti sama dengan jumlah ayat yang mengatributkan kata ruh kepada Isa dan Maryam, yakni tujuh ayat. Dari ketujuh ayat ini, tiga diantaranya disandingkan dengan malaikat. Pada 78:38, diterangkan bahwa pada Hari Kiamat nanti, &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; dan malaikat akan bangun dalam satu shaf untuk berbicara atas seizin Al-Rahman. Di ayat berikutnya, 70:4 diterangkan bahwa para malaikat dan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; naik ke tempat-tempat tertinggi milik Tuhan, yang teramat jauh, dimana waktu sehari dalam kenaikan mereka setara dengan waktu lima puluh ribu tahun menurut ukuran manusia. Adapun pada ayat ketiga, 16:2, dijelaskan bahwa malaikat diturunkan dengan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemaparan kata &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; dan hubungannya dengan malaikat di ketiga ayat tersebut, tentu memunculkan banyak pertanyaan. Apakah &lt;i&gt;al-ruh&lt;/i&gt; itu individu, entah sejenis malaikat atau makhluk yang jauh lebih tinggi derajatnya, ataukah ia sebuah objek yang tidak hidup, macam wahyu? Kesulitan ini berkaitan dengan struktur kalimat pada ayat dimana kata &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; digunakan. Kunci dari jawaban ini, menurut saya terletak pada bagaimana kita memahami ayat 26:193. Disana dijelaskan bahwa Al-Quran &lt;i&gt;nazala bihi al-Ruh al-Amin&lt;/i&gt;. Term ini bagi saya memiliki dua makna. &lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, ia dapat diartikan bahwa Al-Quran itu dibawa oleh &lt;i&gt;al-Ruh al-Amin&lt;/i&gt; atau, &lt;i&gt;al-Ruh al-Amin&lt;/i&gt; itulah yang membawa Al-Quran dan menyampaikannya kepada Nabi SAW. Dengan kata lain, &lt;i&gt;al-Ruh al-Amin&lt;/i&gt; itu subjek, sedangkan Al-Quran itu objek. &lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, term tadi juga dapat diartikan sebagai &lt;i&gt;nazala bi al-Quran, al-Ruh al-Amin&lt;/i&gt;, atau Al-Quran diturunkan kepada Muhammad SAW bersama &lt;i&gt;al-Ruh al-Amin&lt;/i&gt;. Pada makna kedua ini, baik Al-Quran maupun al-Ruh al-Amin, sama-sama objek yang diturunkan Tuhan kepada Nabi SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya, kedua penafsiran ini memiliki beberapa konsekuensi logis, yakni jika ia subjek tentu kita dapat memahami ayat 78:38 dan 70:4 dengan jelas. Yakni &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; yang dapat berkata-kata di akhirat kelak dan yang naik ke tempat-tempat tertinggi, &lt;i&gt;ma’arij&lt;/i&gt;, serta yang turun bersama malaikat pada malam &lt;i&gt;qadr&lt;/i&gt;. Meskipun demikian, koherensi makna &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; sebagaimana saya jelaskan sebelumnya akan sedikit berbeda. Dalam hal ini, “semangat ilahiyah” akan mengalami distorsi makna, jika kita menyamakannya sebagai subjek. Dimana, kondisi orang yang terasuki ruh Tuhan mengalami kehilangan kesadaran akan identitas, karena tergantikan oleh subjek lain yang merasukinya. Tentu saja penafsiran ini sangat bermasalah, karena meskipun seseorang terasuki oleh &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; Tuhan, tapi ia tidaklah kehilangan kesadaran akan identitas dirinya. Yang saya maksud adalah, kita dapat membedakan dengan jelas antara orang yang “kerasukan” sesuatu dan melakukan sebuah perbuatan tanpa sadar, dengan orang yang melakukan sebuah perbuatan dengan sadar, tapi terinspirasi oleh sebuah semangat yang merasuk kedalam dirinya. Dalam arti kedua inilah mestinya makna &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; disematkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana mengartikan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; sebagai sebuah objek?&amp;nbsp; Menurut saya, ayat 40:15 memberikan petunjuk bagi masalah ini. Yakni, hanya Tuhanlah yang mengangkat derajat sesuatu/ seseorang, yang memiliki &lt;i&gt;‘Arsy&lt;/i&gt;, dan menyampaikan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; dengan perintahNya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki. &lt;i&gt;Al-Ruh&lt;/i&gt; dengan demikian memiliki makna yang sama dengan&lt;i&gt; ruh&lt;/i&gt;. Model penafsiran ini tentu sangat berguna dalam menafsirkan fenomena &lt;i&gt;laylatul qadr&lt;/i&gt; pada surat 97. Dalam ayat tersebut dikemukakan definisi dari malam &lt;i&gt;qadr&lt;/i&gt;, yakni malam yang lebih baik dari seribu bulan, dimana pada malam tersebut malaikat dan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; turun atas seizin Tuhan, untuk mengatur setiap urusan. Akan pengertian ini, sekali lagi saya teringat penafsiran Quraish Shihab tentang makna surat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau saya tidak salah, beliau menjelaskan tentang arti &lt;i&gt;laylatul qadr&lt;/i&gt; sebagai malam saat nilai ibadah yang kita lakukan setara dengan ibadah yang dikerjakan selama seribu bulan. Malam &lt;i&gt;qadr&lt;/i&gt; dengan demikian ibarat &lt;i&gt;premier time&lt;/i&gt; yang berlangsung singkat, dari malam hingga terbit fajar. Meski singkat, akan tetapi setiap ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai balasan yang teramat tinggi. Pendapat ini adalah pendapat umum yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat kita. Lalu apa penafsiran berikutnya? Quraish Shihab mengartikan term terbit matahari, &lt;i&gt;mathla’ al-fajr&lt;/i&gt;, di ayat 5 surat tersebut sebagai akhir hayat manusia. Maksudnya, mereka yang dikaruniai Tuhan untuk bertemu &lt;i&gt;laylatul qadr&lt;/i&gt; akan menjadi orang yang selalu berbuat baik sepanjang hidupnya, dan perilakunya itu tidaklah terbatas pada satu malam saja. Di sini Quraish Shihab berargumen bahwa pengaruh malam &lt;i&gt;qadr&lt;/i&gt; tidaklah berlangsung singkat, melainkan membekas dalam diri seseorang, dimana orang yang bersangkutan akan selalu mendapatkan bimbingan dari Tuhan hingga ia meninggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kita menerima penafsiran kedua ini, maka ide bahwa &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt;&amp;nbsp; sebagai sebuah objek yang memiliki arti yang sama dengan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, dapat kita kita pahami dengan logis. Ia adalah keadaan sadar diri dalam perlindungan dan petunjuk Tuhan. Kesadaran akan ajaran-ajaranNya, sebagaimana dahulu para nabi dan rasul telah “terasuki”. Untungnya, rasa sadar ini bukan hanya milik mereka. Kita para manusia biasa juga bisa mendapatkan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt;. Saat dimana Tuhan menganugerahkan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; pada diri seseorang adalah pada malam &lt;i&gt;qadr&lt;/i&gt;. Pada malam inilah atas seizin Tuhan, &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; diberikan kepada hamba-hamba pilihanNya. Sekali lagi, pengaruh &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; bersifat permanen. Ia akan mempengaruhi kehidupan orang terpilih tersebut sepanjang hayatnya hingga ia meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penafsiran bahwa &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; memiliki arti yang sama dengan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt;, dalam banyak hal menjelaskan pula tentang hakekat agama dan juga Al-Quran. Pertanyaan yang selalu menggugah ilmuwan, kenapa manusia beragama, darimana asal muasal Al-Quran, selanjutnya berkaitan dengan ide bagaimana Tuhan menyampaikan &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; secara subjektif. Bahwa keberagamaan dan kemudian Al-Quran sendiri adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia, dan pertanyaan mengenai asal-usul keduanya akan tetap menjadi rahasia Tuhan untuk selama-lamanya. Manusia tidak akan pernah dapat mengerti hakekat keberagamaan dan Al-Quran. Pada titik inilah mestinya ayat 17:85 dipahami. “&lt;i&gt;yas’alunaka a’n al-Ruh, qul al-Ruh min amri Rabbi, wa ma utitum min al-i’lm illa qalilan&lt;/i&gt;”. Mereka bertanya padamu tentang wahyu dan agama, juga tentang keberagamaan itu sendiri. Katakan, bahwa hal tersebut adalah urusan Tuhanku, dan kalian tidaklah memiliki pengetahuan atasnya kecuali sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah A’lam bi al-shawwab&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;u&gt;Catatan kecil&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Arti kata &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; dalam Al-Quran tidak identik dengan pengertian roh dalam bahasa Indonesia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;yang menjadi tujuan dalam &lt;i&gt;laylatul qadr&lt;/i&gt; adalah pengharapan akan datangnya &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; dari Tuhan kepada diri kita. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sebagaimana wahyu, maka turunnya &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; pun sekehendak Tuhan. Hanya Tuhan jualah yang berhak memberikan &lt;i&gt;ruh&lt;/i&gt; kepada diri seseorang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengaruh &lt;i&gt;al-Ruh&lt;/i&gt; terhadap perilaku orang yang mendapatkannya bersifat permanen hingga ia meninggal dunia.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-525664356131690658?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/525664356131690658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/roh-ruh-dan-al-ruh-dalam-al-quran.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/525664356131690658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/525664356131690658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/roh-ruh-dan-al-ruh-dalam-al-quran.html' title='Roh, ruh, dan al-Ruh dalam Al-Quran'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-7732701171446091340</id><published>2010-08-29T17:44:00.000+07:00</published><updated>2010-08-29T17:44:14.737+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gontor'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Semangat Kelompok, Individualisme dan Islam</title><content type='html'>Sewaktu saya masih menyantri di Gontor, saya memperhatikan jika anak-anak yang datang dari sebuah daerah dan memiliki rasa kedaerahan yang tinggi, dimana anak tersebut sering bergaul dengan orang sesama daerah ia berasal, cenderung berpotensi melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pondok. Mulai dari pelanggaran ringan seperti sering mengadakan kumpul “geng”, dengan makan bersama, hingga pelanggaran yang lebih berat, seperti rame-rame nonton film di bioskop.&amp;nbsp; Kasus terbesar pada saat saya duduk di kelas IV, adalah pemulangan selusin santri asal Jakarta karena nonton film di bioskop. Saya sendiri tidak begitu mengerti film macam apa sebenarnya yang mereka tonton hingga berani mempertaruhkan kedudukan mereka di pondok. Tapi jika anda paham mengenai kondisi psikologis para santri yang hanya berhadapan dengan muka buku dari hari kehari, film dengan rating terendah pun mungkin bagaikan surga bagi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sewaktu saya lulus dari sana, saya belum begitu mengerti tentang arti sebuah kelompok. Kehidupan saya sendiri semasa di pondok, memang tidak terlalu didominasi oleh kebersamaan sesama konsulat atau klub. Bagi saya, konsulat hanya masalah perpulangan bersama yang butuh rapat hingga sebulan lebih lamanya untuk mempersiapkan acara tersebut. Tentu saja ada kekompakan antar sesama teman selating, tapi meskipun saya terlibat dalam kegiatan-kegiatan kolosal “marhalah”, tapi saya tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang benar-benar penting dalam hidup saya. Maksud saya, ada beberapa hal yang jauh lebih penting daripada mengorbankan waktu untuk sebuah kegiatan yang tidak memberi manfaat atas keberadaan saya di Gontor. Dengan kata lain, saya dapat dikategorikan sebagai seorang santri yang muthi’, taat, dan sadar mengenai keberadaan saya di lembaga pendidikan tersebut. Meraih nilai ujian yang tinggi, dan kalau bisa menduduki kelas yang bagus, adalah aspirasi saya saat di sana. Tapi bukan berarti saya tidak pernah melanggar aturan. Pada masa-masa akhir menyantri, ada beberapa insiden yang mungkin dapat membuat saya dikenai sangsi hukuman yang berat. Beruntung saya dapat lolos dari hukuman tersebut, dengan selamat sentosa.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Apa yang ingin saya kemukakan adalah, ternyata corak pelanggaran yang terjadi semasa di pondok dengan apa yang saya lihat dalam kehidupan bermasyarakat hampir sama. Saat saya menyatakan bahwa rasa kekelompokkan cenderung membuat seseorang berani melanggar otoritas yang berwenang, maka sesungguhnya hal itu pulalah yang saya lihat di Jakarta. Orang-orang perantauan yang tidak memiliki sanak saudara di Jakarta, cenderung mengikat diri mereka dalam ikatan primordial, entah sesama orang sedaerah, maupun dalam kelompok-kelompok agama dan hobi tertentu. Kemunculan ormas-ormas yang membawa sentimen primordial adalah bukti betapa untuk mampu ber’ada’, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan dirinya sendiri. Mereka butuh bantuan dari orang-orang yang senasib dan serasa dengan mereka. Tanpa bantuan ini, akan sulit sekali untuk bisa menghadapi kerasnya hidup di ibukota. Dan semakin seorang tercerap kedalam kelompok tempat ia berafiliasi, dimana ia menemukan sebuah ‘keberanian artifisial’, kemungkinan untuk melanggar otoritas pun muncul. Dan lagi-lagi sangatlah mirip dengan yang ada di pondok, mulai dari kenakalan biasa, hingga kejahatan-kejahatan serius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika, saya membaca sebuah posting berkenaan dengan perilaku para TKI kita di negeri jiran. Mereka diberitakan banyak melakukan berbagai tindak pidana, mulai dari yang sangat ringan, seperti pengutilan dan pencopetan, hingga perilaku kejahatan serius dengan ancaman pidana berat hingga hukuman gantung. Lagi-lagi, saya mendapati pola kehidupan komunal yang nyaris mirip dengan yang saya kemukakan di atas. Kemunculan geng-geng primordial yang memberikan insentip bagi ‘keberanian instan’ yang berujung pada perbuatan konyol. Sampai disini timbul pertanyaan dalam diri saya, apakah cita-cita komunal itu memiliki dampak buruk dalam kehidupan modern kita ataukah tidak? Pertanyaan tersebut sesungguhnya berkaitan pula dengan status FB seorang teman yang mencita-citakan Islam sebagai sebuah agama komunal dan anti individualisme. Kembali saya bertanya, apakah benar kehidupan komunal merupakan cita-cita Islam yang telah punah? Tapi pertanyaan mendasar yang terlebih dahulu harus dijawab adalah, kenapa seseorang mau bergabung dengan sebuah kelompok?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kita tidak memiliki sanak saudara dan relasi yang mampu menjaga keberadaan kita, kehidupan komunal dan kelompok jelas sebuah solusi yang menarik. Seseorang akan menemukan perlindungan dalam pola kehidupan seperti ini, tepat tatkala otoritas tidak mampu memberikan perlindungan tersebut. Selain perlindungan, rasa kesepian, dan kebutuhan untuk diakui keberadaannya merupakan faktor pencetus utama bagi kehidupan komunal. Tapi benarkah ketidakmampuan otoritas menjamin kehidupan sesorang dapat dijadikan faktor utama bagi kehidupan komunal itu? Akan muncul banyak argumentasi di sini, namun faktor paling utama yang menurut saya dapat dijadikan alasan individual adalah ketidakmampuan orang tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar, serta lemahnya kondisi mental yang bersangkutan. Akan ada beberapa orang yang merasa mampu menghadapi tantangan, untuk terjun langsung tanpa membutuhkan bantuan dari siapapun. Dan akan banyak mereka yang tidak memiliki kekuatan individual untuk membentuk ikatan-ikatan yang menguatkan keberadaan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, kualitas individu sesorang adalah kunci bagi sebuah sistem komunal. Mereka yang memiliki kualifikasi individu yang matang dan dewasa, bisa dipastikan tidak akan tercerap kedalam kehidupan komunal. Sedangkan mereka yang tidak memiliki skill dan kemampuan personal yang tinggi, pasti akan berpartisipasi dalam solidaritas-solidaritas kelompok. Jelas ini merupakan fenomena sosial yang natural, dimana sekumpulan orang lemah akan bergabung menjadi satu kelompok yang kuat demi meloloskan cita-cita individu yang tertahan itu. Tentu saja kita tidak dapat melawan kecenderungan alamiah ini. Namun yang menjadi concern saya adalah, perilaku dari orang-orang lemah tersebut yang kemudian berubah tatkala mereka bergabung dengan solidaritas kelompok. Pada mulanya, mereka merasa mendapatkan kembali keamanan hidup yang berefek pada rasa percaya diri yang tinggi. Perubahan dari rasa inferior kepada perasaan superior tersebut yang kerap memunculkan gap antara keberadaan mereka dengan keberadaan dunia di sekitar mereka. Dalam kelompok, mereka menemukan kebanggaan hidup, tapi begitu keluar, mereka nyaris tidak ada apa-apanya. Maka ketika muncul sebuah konflik antar individu yang tidak dapat diselasaikan secara personal, karena tidak memiliki tingkat kepercayaan diri yang memadai, mereka pun kembali kepada kelompok tempat mereka berlindung. Dengan sedikit sentimen priomordial, maka cukuplah untuk menggerakkan ratusan orang yang tergabung dalam kelompok tersebut untuk terlibat dalam pertikaian yang bahkan tidak mampu dijelaskan secara logis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali, melalui kacamata inilah kita dapat membaca kemunculan sekat-sekat antar kelompok ideologis, dan primordial akhir-akhir ini. Apakah kondisi ini bagus? Atau, apakah solidaritas kelompok merupakan semangat yang direstui Islam? Ada yang berargumen, bahwa watak individualismelah yang justru menjerumuskan manusia modern pada kehancuran. Mereka tidak peduli dengan kehidupan di sekitar mereka dan selalu setia untuk mengejar ambisi pribadi yang tiada habisnya itu. Disinilah, kekuatan sosialisme hadir untuk memberikan keseimbangan bagi ketidakpedulian sosial itu. Kepedulian sosial dengan demikian menjadi lawan dari ketidakpedulian personal yang individualistik itu. Argumen tersebut memang ada benarnya bila menyangkut kepekaan personal seseorang, namun yang patut dikritisi di sini adalah, apakah kehidupan komunal identik dengan kepedulian sosial?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, mereka yang terbiasa hidup dalam kelompok-kelompok primordial cenderung peduli dengan sesama anggota kelompok. Tapi itu tidak berarti menjadikan mereka peduli dengan orang-orang diluar kelompok tersebut. Dalam situasi persaingan antar kelompok, bahkan kepekaan sosial ini hampir musnah, karena mereka hanya menganggap kelompok merekalah yang patut diperhatikan kesejahteraannya, sedang kelompok di luar mereka tidak. Situasi inilah yang justru kita temukan dalam kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Dimana pola pikir kesukuan nyaris mendominasi pola pikir individu akan keadilan dan keobjektivitasan. Untuk itulah hadir sejumlah ayat yang menegaskan pertanggungjawaban individu atas solidaritas kesukuan. Pernyataan bahwa seseorang hanya akan bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatannya selama di dunia, menegaskan kehancuran solidaritas kelompok dan keunggulan moral individual. Maka mulailah Islam mendekonstruksi kebersamaan yang tidak rasional itu, dan membangun sebuah wawasan kebersamaan yang berpusat pada tanggungjawab pribadi, orang per orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dapat saya simpulkan bahwa, cita-cita moral Islam terletak pada kesadaran seseorang sebagai individu, dan bukan kelompok. Tidak ada pertanggungjawaban kolektif, dan dengan demikian segala solidaritas tersebut harus dihancurkan guna mengukuhkan pribadi yang bermoral dan beretika. Sayangnya, konsep individu ini hanya bertahan selama Islam diterima sebagai gagasan kolektif bersama. Tatkala muncul nasionalisme, apa yang sebelumnya merupakan gagasan universal pun berubah menjadi gagasan regional yang keberadaannya setaraf dengan kesukuan. Dan sebagaimana realitas sosial yang natural, individu-individu lemah itu pun bergabung menjadi kelompok-kelompok primordial yang berpola pikir layaknya pola pikir kesukuan yang sempit, yang dahulu ditentang oleh Islam. Sebuah keruntuhan yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Salah seorang teman pernah berkomentar, bahwa di negara modern yang penduduknya individualis, tingkat kepatuhan mereka terhadap hukum adalah tinggi. Hal serupa juga kita temukan pada warga negara kita yang pergi ke negara-negara berdisiplin tinggi macam Singapura. Di sana, mereka begitu patuh terhadap peraturan dan bahkan enggan membuang sampah sembarangan. Perilaku yang sangat kontras kita temukan di dalam negeri, dimana hampir tidak ada peraturan yang ditaati sepenuh hati.&amp;nbsp; Kenapa para individualis ini patuh terhadap peraturan? Atau, apakah hanya orang yang sadar akan keindividualannya yang mampu menaati peraturan? Jawaban akan hal ini barangkali terletak pada bagaimana seseorang melihat dirinya, kelompok, dan otoritas tempat ia berada. ketika hukum hanya dilihat dalam kacamata kelompok, maka saat itulah hukum tidak berdaya. Tapi tatkala ia dilihat dalam kacamata pribadi yang tidak memiliki afiliasi dengan kelompok apapun, maka kemungkinan hukum untuk ditepati adalah tinggi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali, kesadaran akan individualisme inilah yang dapat dijadikan dasar keislaman di masa mendatang. &lt;i&gt;Allah a’lam bi al-shawwab&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-7732701171446091340?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/7732701171446091340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/semangat-kelompok-individualisme-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7732701171446091340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7732701171446091340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/semangat-kelompok-individualisme-dan.html' title='Semangat Kelompok, Individualisme dan Islam'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-1724010986970385107</id><published>2010-08-28T09:13:00.000+07:00</published><updated>2010-08-28T09:13:43.095+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Proyek Filsafat Saya</title><content type='html'>Tiga bulan terakhir ini saya sibuk menulis buku, yang boleh jadi merupakan bentuk kekecewaan saya saat mahasiswa dahulu. Waktu itu, saya menulis sebuah skripsi yang berkaitan dengan perbandingan sistem pemikiran filsafat Ibn Taymiyyah dengan Wittgenstein. Bagi yang belum mengenal Ibn Taymiyyah, saya hanya memberikan penjelasan ringkas, bahwa beliau adalah seorang ulama terkenal abad pertengahan. Pemikirannnya sebagai seorang ulama, sepandan dengan kemampuan beliau sebagai seorang aktivis, meski tindakannya tidak seberilian pemikirannya. Sebagai seorang ulama, tentu saja Ibn Taymiyyah menolak pemikiran filsafat yang berkembang saat itu, macam teori ketuhanannya Ibn Sina dan Al-Kindi. Hanya saja, cara beliau menolak adalah dengan mengkritik dasar dari pemikiran filosofis, yakni logika. Bukunya yang terkenal tentang hal tersebut adalah &lt;i&gt;al-Radd ala al-Manthiqiyyin&lt;/i&gt;, sanggahan terhadap para logikawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Al-Radd&lt;/i&gt;, lumayan tebal, sekitar 300-an halaman dan memiliki tesis utama, bahwa prinsip logika yang digunakan para filsuf itu bermasalah. Di kampus saya dahulu, UIN, ada dua jenis buku al-Radd. Yang pertama adalah buku aslinya yang ditulis dalam bahasa Arab, dan kedua buku terjemahan dalam bahasa Inggris, oleh Wael B. Hallaq. Selain kedua buah referensi utama ini, terdapat sebuah disertasi yang secara khusus membahas pemikiran logika Ibn Taymiyyah, karya Zainun Kamal yang sekaligus menjadi dosen pembimbing saya pada saat itu. Sayang sekali, meskipun memiliki banyak kesempatan untuk mengenal lebih dekat pemikiran sang tokoh dari ahlinya langsung, tapi kemampuan saya dalam mengolah pemikiran Ibn Taymiyyah boleh dibilang tidak terlalu berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa hal yang saya kira menjadi batu sandungan bagi keterbatasan pemahaman ini, namun yang paling utama adalah ketidakmampuan saya untuk menguasai logika dengan baik. Tentu saja, mata kuliah logika diajarkan di UIN. Tapi mempelajari logika itu jauh berbeda dari mempelajari ilmu kalam. Logika itu sebuah seni berpikir yang butuh banyak repitisi agar kita dapat menguasainya dengan matang. Sedangkan, ilmu kalam, hanyalah pengetahuan biasa yang dapat diketahui dengan mudah, cukup dengan membaca buku-buku tertentu. Analogi yang paling pas dari penguasaan akan logika barangkali mirip dengan penguasaan akan bahasa asing, yang harus selalu dilatih setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, pihak universitas rupanya tidak mampu melacak kelemahan saya dalam bernalar. Singkat kata, baik mata kuliah logika maupun skripsi yang saya buat, keduanya sama-sama mendapat nilai A. Bagi saya sendiri, nilai tersebut bukanlah nilai yang dapat dipercaya, karena setelah saya pelajari lebih lanjut beberapa pemikiran saya mengenai perbandingan logika Ibn Taymiyyah dengan Wittgenstein, tidak berdiri diatas fondasi keilmuan yang kokoh. Pandangan saya ini terbukti, tatkala tahun lalu saya berkunjung ke tempat kerja kawan saya, Idham, di bagian psikologi UI. Saat itu, saya sebenarnya tengah membicarakan kemungkinan untuk menerbitkan skripsi saya menjadi sebuah buku. Akan tetapi, dalam sebuah perbincangan singkat dengan Bagus Takwin, yang kebetulan lewat, ternyata saya tidak bisa memberikan argumentasi yang kuat sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaannya sederhana, kenapa saya harus membandingkan antara pemikiran Ibn Taymiyyah dengan Wittgenstein, padahal pemikiran keduanya benar-benar berbeda. Kala itu saya memberikan jawaban bahwa kedua orang tokoh tersebut memiliki pola pikir yang sama, yakni nominalisme. Nominalisme sendiri adalah sejenis realisme, yang membuat seseorang tidak mempercayai eksistensi dari kata-kata universal. Rupanya, Takwin tidak terlalu setuju dengan pemikiran saya tersebut, meski ada beberapa pemikiran Wittgenstein yang bercorak nominalis, tapi Wittgenstein sendiri bukalah seorang nominalis, begitu menurutnya. Terus terang, saya yang pada saat itu telah 4 tahun meninggalkan bangku kuliah, gelagapan menjawab tanggapan tersebut. Dari sinilah, muncul penyesalan yang cukup dalam pada diri saya, kenapa tesis saya dapat dengan mudah dipatahkan, padahal dahulu saya  cukup sukses dalam menjawab pertanyaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari peristiwa inilah, saya memutuskan untuk mendalami kembali apa yang seharusnya saya dalami enam tahun yang lalu. Beruntung, kali ini usaha saya tidak berjalan kosong. Berbeda dari masa kuliah dahulu dimana saya sangat kesulitan untuk menemukan buku-buku referensi, untuk menemukan Tractatus karya Wittgenstein pun, saya harus menjadi anggota perpustakaan Goethe Institute karena buku tersebut tidak ada di perpustakaan kampus. Ya, kawan saya itu rupanya berbaik hati memberitahu cara paling jitu dalam mengakses buku-buku gratis di internet. Jadilah sejak saat itu, internet menjadi sumber referensi saya yang paling utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya butuh setahun untuk dapat mewujudkan keinginan merevisi kembali pemikiran saya tentang filsafat. Di akhir tahun itu, sampai Juni tahun ini, saya bergelut dengan proyek saya bersama kawan saya yang lain, Bowo, dalam menulis sebuah buku tentang riwayat para nabi dan rasul. Tentu saja, saya menggunakan sumber-sumber yang diberitakan kawan saya tersebut sebagai referensi utama. Dan meskipun tidak terlalu berat, rupanya buku tersebut baru dapat saya selesaikan setelah hampir enam bulan meriset dan menulis. Sebenarnya pula, saya sempat menulis sebuah buku kecil mengenai sejarah singkat Filsafat Alam, yang dapat saya selesaikan dalam waktu satu setengah bulan, namun rupanya belum ada yang menandingi kerumitan yg saya alami dalam usaha &lt;i&gt;come back to philosophy&lt;/i&gt; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mempersempit pembahasan, maka saya pun memilih untuk mempelajari langsung logika modern daripada berkutat dengan logika Aristotelian. Sayangnya, saya benar-benar buta akan masalah ini. Ada memang buku-buku teks tentang logika, tapi tidak ada satupun yang mampu menjawab pertanyaan saya dengan tuntas. Tentu saja, saya bukan orang yang cerdas yang dapat dengan mudah memahami set simbol-simbol aneh. Saat melihat sebuah notasi, pikiran saya akan bertanya, kenapa ia dinamakan dengan X dan Y, padahal kita dapat menggunakan abjad A, sebagai penanda akan sebuah variabel. Lebih dari itu, saya juga bertanya, bagaimana sebuah logika dapat berkembang dari semata pembahasan akan kopula menjadi rumusan-rumusan aritmetika yang membingungkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena tidak mendapatkan jawaban, maka usaha saya pun beralih, dari mempelajari logika simbolik kepada pembahasan tentang Wittgenstein. Ah, tampaknya saya tidak benar-benar memahami pemikirannya. Tentu saya tahu jika dalam &lt;i&gt;Tractatus&lt;/i&gt; ia menerapkan teori deskripsi ala Russell, tapi maksud &lt;i&gt;Tractatus&lt;/i&gt; sendiri, saya bahkan tidak dapat mengerti. Jika Russell dan Wittgenstein menyatakan telah menolak metafisika, kenapa dalam tractatus terdapat metafisika? Cara Wittgenstein dalam menyamakan logika dengan dunia, bukankah itu bagian dari metafisika? Tapi tractatus bukan apa-apa, dalam &lt;i&gt;Philosophical Investigations&lt;/i&gt; dengan bahasanya yang menjebak itu, saya hampir kehilangan tujuan dalam memahami pemikiran sang filsuf. Saya pun menyimpulkan bahwa terdapat bagian yang hilang dalam pemahaman saya tentang Wittgenstein, dan lebih luas lagi mengenai Filsafat Analitik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun merupakan sebuah gerakan mainstream dalam filsafat abad keduapuluh, akan tetapi di Indonesia, Filsafat Analitik bukanlah sebuah model pemikiran yang diterima secara luas. Memang dalam beberapa buku populer tentang Filsafat Sains, macam bukunya Jujun Suriasumantri, nama Russell dan Wittgenstein tersebut beberapa kali. Demikian pula di dalam buku Kees Bartens yang berjudul Filsafat Barat Kontemporer itu, riwayat hidup dan pemikiran keduanya disebutkan dengan cukup memadai. Namun jika dibandingkan dengan pemikiran Sartre yang terkenal di dunia seni itu, nama Russell dan Wittgenstein tampak tenggelam. Satu-satunya buku yang lumayan bagus hanyalah karya Rizal Mustansyir berjudul Filsafat Analitik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dapat dikatakan, sejak saya menulis skripsi enam tahun yang lalu, belum ada buku yang sepandan dalam bahasa Indonesia yang dapat menggantikan karya Mustansyir tersebut. Bagi saya, hal ini jelas sebuah kekurangan yang sangat disayangkan. Bagaimana mungkin pemikiran kedua orang tersebut tidak sampai ke negara kita dengan memadai, bahkan setelah tujuh puluh tahun berlalu. Tapi mengatakan buku Filsafat Analitik sebagai karya terbaik untuk mengenal aliran filsafat tersebut, menurut saya juga salah. Terdapat beberapa kekurangan mendasar dalam buku tersebut yang tidak mampu dijelaskan oleh sang penulis. Dalam hemat saya, kemungkinan besar Mustansyir tidak memiliki bibliografi yang memadai dalam membahas perkembangan dan kelahiran Filsafat Analitik. Jelas ini hanya asumsi saya semata, toh sang penulis adalah dosen filsafat aktif di UGM, yang tentunya memiliki akses yang jauh lebih luas kepada literatur pokok tentang Wittgenstein. Atau barangkali, ada beberapa buku bagus yang mebahas masalah tersebut namun lolos dari pengamatan saya. Apapun itu, akhirnya saya memutuskan untuk mendalami lebih lanjut tentang Filsafat Analitik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka sejak tiga bulan lalu, saya pun kembali bergelut dengan karya-karya utama dan sekunder tentang Russell dan Wittgenstein. Dari sanalah, satu persatu kabut yang menutupi pemikiran saya mulai hilang. Dari beberapa literatur, saya menemukan jika Russell dan Wittgenstein sangat terpengaruh oleh pemikiran Frege. Siapakah Frege? Pikir saya. Dan kenapa namanya hampir hilang dalam catatan buku-buku filsafat di Indonesia? Saya pun mencari tahu, dan mendownload salah satu bukunya yang terkenal dari internet. &lt;i&gt;Begriffsschrift&lt;/i&gt;, judul buku tersebut. Tidak terlalu tebal, hanya delapanpuluh delapan halaman, mirip &lt;i&gt;Tractatus&lt;/i&gt;. Tapi yang tertera dalam buku tersebut jelas sangat berbeda daripada membaca 400-an halaman Harry Potter. Inilah awal pertemuan saya dengan akar dari Filsafat Analitik. Sebuah penyelidikan yang rigor, presisi, dan memusingkan. Ia mengingatkan saya kembali akan ketidakberdayaan saya dengan logika simbolik modern. Ah, ternyata betapa bodohnya saya selama ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Frege, pikiran saya berkelana ke Lingkaran Wina. Sebuah grup filosof yang berusaha menyatukan metode filsafat dengan sains. Nama-nama sepert Schlick, Godel, Carnap, Ayer, menyelinap di benak saya tanpa ada satupun yang saya pahami. Berteens memang membantu saya dengan artikel di bukunya itu, tapi pemikiran mereka tentang Aufbau, second order logic, sungguh saya tidak benar-benar mengerti. Namun belum tuntas rasa penasaran saya akan filsuf Austria tersebut, kembali saya menemukan nama-nama aneh seperti Quine, Putnam, Davidson, dan Kripke. Semua orang ini adalah filsuf Amerika, dan mereka begitu terpengaruh dengan Filsafat Analitik. Tapi, bagaimana caranya? Bagaiman Quine dapat mengenal pemikiran filsafat Carnap dan membawanya ke AS? Dari pertanyaan, menghasilkan pertanyaan baru hingga saya pun bertanya, darimana harus memulai seluruh sejarah filsafat yang tampak carut marut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya saya melihat sebuah petunjuk dalam pemikiran filsafat Kripke. Ya, boleh dibilang ia adalah generasi terakhir filsuf Analitik. Yang ia bahas tampak sederhana, persoalan referensi. Apa sih sebenarnya referensi itu? Ketika seseorang mengatakan Hesperus, dan seorang lagi mengucapkan Fosforus, apakah yang ia maksud itu sama? Bagi Frege, Hesperus dan Fosforus itu adalah dua makna yang berbeda, tetapi memiliki referensi yang sama. Frege menamakan makna itu sebagai Sinn, dan referensi sebagai Bedeutung. Dalam bahasa Jerman, kedua kata ini bermakna sama, tapi Frege memberikan definisi yang berbeda. Makna sebuah kata adalah bagaimana kita memahami kata tersebut, sedangkan referensinya adalah wujud yang dirujuk oleh sang kata. Dalam hal ini, referensi dari Hesperus dan Fosforus adalah sama, yakni Venus. Menurut Kripke, referensi itu bersifat rigid, getas dan tidak pernah berubah. Sekarang muncul pertanyaan, bagaimana seseorang dapat yakin jika Venus itu adalah referensi dari kedua kata sebelumnya? Tentu saja, kita dapat menjawab jika sains dapat menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang sore dan pagi itu tak lain daripada Venus. Ya, sains adalah pengetahuan yang kebenarannya dapat diterima dengan meyakinkan. Namun, coba kondisi berikut, dimana kita belum tahu bahwa Hesperus dan Fosforus adalah Venus, kita bisa dengan pasti mengatakan bahwa bintang pagi adalah Hesperus, dan bintang sore adalah Fosforus. Definisi ini memulangkan kita pada pembagian Kant tentang proposisi &lt;i&gt;a priori&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;a posteriori&lt;/i&gt;. Bahkan tanpa harus ada penyelidikan ilmiah bahwa kedua bintang itu adalah planet Venus, kita dapat dengan yakin mengatakan jika Hesperus adalah bintang pagi. Dalam hal ini, kita dapat mengetahui makna sebuah proposisi tanpa harus mengetahui kebenaran referensinya. Bagi Kant sendiri, kebenaran proposisi a priori itu bersifat wajib, sedangkan kebenaran proposisi &lt;i&gt;a posteriori&lt;/i&gt; itu bersifat mungkin. Dengan kata lain, kemampuan kita untuk mengenal makna Hesperus, jauh lebih pasti dari kemampuan kita untuk mengetahui referensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebagian orang, pemikiran seperti ini hanyalah sampah belaka. Tapi coba dengar kritik Ibn Taymiyyah atas logika. Dia menulis hal yang hampir serupa. Dalam bahasa, kita nyaris mengetahui sesuatu tanpa harus menerjemahkannya kedalam proposisi logika. Di sini, proposisi &lt;i&gt;a priori&lt;/i&gt; dapat kita samakan dengan pengetahuan linguistik yang memberi kita kerangka berpikir pra-ilmiah. Dengan demikian, pengetahuan kita akan bahasa sebenarnya cukup mumpuni untuk memberikan kita kebenaran.  Lalu, apa hubungan penemuan ini dengan penyelidikan saya tentang sejarah Filsafat Analitik? Tentu saja, semuanya kembali kepada Kant! Baik Kripke dan Frege, semua membahas dasar pemikiran Kant tentang hubungan antara proses kognisi manusia dengan cita-citanya untuk menjadikan filsafat sebagai model pengetahuan yang rigor, dan kebenaran proposisinya dapat setara dengan sains. Dari keinginan untuk menjadikan filsafat setara dengan sains, sebagaimana Kant, Filsafat Analitik kemudian berusaha mendefinisikan batas-batas dari filsafat, proposisi macam apa pengetahuan filsafat dapat diterima, dan dalam kondisi apa sebenarnya filsafat itu beroperasi. Pada titik inilah &lt;i&gt;Tractatus&lt;/i&gt; hadir untuk memberikan batasan bagi filsafat dan kemudian tugas apa yang harus ia emban. Dapat dikatakan bila tractatus melengkapi pencapaian Kant dalam &lt;i&gt;Critique of Pure Reason&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Tiga bulan terakhir ini, saya menulis buku yang mencerminkan kekecewaan saya selama menjadi mahasiswa filsafat. Bahwa selama empat tahun kuliah, saya tidak menguasai logika dengan memadai. Saya berpikir, hanya logikalah yang dapat mengantar pemikiran filsafat ketaraf yang jauh lebih layak. Ia dapat berfungsi sebagai kritik atas sains, sebagaimana kritik yang selama ini ia alamatkan kepada pola pikir masyarakat sehari-hari, juga agama. Dan sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya, ternyata logika pulalah yang menjadi hambatan saya dalam menulis buku ini. Buku yang saya dedikasikan untuk menjelaskan perkembangan Filsafat Analitik: kelahiran, masa jaya, dan kemundurannya, serta seperti apa pemikiran para filsuf kontemporer post-analitik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arti yang lebih luas, buku yang tengah saya tulis ini juga berhubungan dengan ambisi saya yang lain, yakni hubungan antara filsafat, sains dan agama. Pengalaman Filsafat Analitik, yang telah menyadari batas-batasnya dan telah merumuskan tujuan dari sebuah penalaran filsafat, memberi saya inspirasi tentang penyelidikan-penyelidikan lebih lanjut dari garis demarkasi antara filsafat, agama, dan sains. Sampai sejauh ini saya sendiri tidak terlalu percaya dengan filsafat agama. Bagi saya, argumentasi Al-Quran sudah sangat memadai untuk membuktikan kebenaran agama dari dalam dirinya sendiri. Yang saya maksud, berikanlah wewenang kepada teks-teks agama tanpa perlu menganulirnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Posisi saya ini dalam banyak hal bertentangan dengan para islamisis yang berusaha mencari akar dari Islam secara ilmiah. Dalam hemat saya, pencarian tersebut tidak akan memecahkan persoalan yang sesungguhnya, bahwa ada entitas bernama Islam yang saat ini tengah berhadapan dengan realitas modern-sekuler. Pembuktian bahwa Al-Quran bukanlah wahyu Tuhan, sebagaimana dilakukan para islamisis, hanya akan membawa kita pada usaha yang kontra-produktif. Karena, semua jenis pengetahuan, entah sains maupun agama, selalu memiliki aksioma yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Selalu terdapat pra-konsepsi yang diterima begitu saja dalam setiap jenis pengetahuan tersebut, yang menjadi dasar bagi keberadaannya.  Yang dibutuhkan sekarang bukanlah menolak kebenaran agama, tapi membuat jalinan yang logis dan rasional antara ketiga jenis pengetahuan tadi dalam sebuah model epistemologi yang holistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali terdengar ambisius. Namun jika anda menyelidiki dengan seksama karakter setiap, pengetahuan, dan menyadari kebutuhan mendesak untuk mendefinisikan Islam dalam dunia sekuler saat ini, tentu anda akan sependapat dengan saya. Kunci dari semua penyelidikan ini tentu saja adalah logika kontemporer yang telah dikembangkan oleh para filsuf analitik, serta pemahaman mendalam akan segi linguistik Al-Quran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-1724010986970385107?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/1724010986970385107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/proyek-filsafat-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1724010986970385107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/1724010986970385107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/proyek-filsafat-saya.html' title='Proyek Filsafat Saya'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-7392377356890559043</id><published>2010-08-05T16:28:00.000+07:00</published><updated>2010-08-05T16:28:59.137+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Ulama Bukan Jamak dari 'Alim</title><content type='html'>Beberapa bulan yang lalu, saya terlibat dalam sebuah diskusi intens mengenai definisi tentang ulama. Dalam diskusi tersebut, saya mendiefinsikan ulama sebagai otoritas keilmuan belaka tanpa memiliki sedikitpun tendensi akan kualitas kesalehan individual dan pribadi. Bagi saya, saat itu, ulama tidak ada bedanya dengan para saintis dan ilmuwan yang mengkaji soal Islam. Para Islamologis, atau yang dahulu biasa disebut sebagai Orientalis memiliki kedudukan yang sepandan dengan para cendikiawan Muslim lainnya. Tentu saja, cara pandang saya mengenai soal ini, pada awalnya bersifat positivis. Dengan semangat bebas nilai, semestinya kita dapat dengan mudah memecahkan suatu persoalan, apalagi bila persoalan itu hanya berkaitan dengan sebuah teks Kitab Suci yang telah berabad-abad lamanya ditelaah dan diteliti. Saya bahkan membayangkan sebuah model saintifikasi ilmu-ilmu keislaman, dimana setiap proposisinya dapat dibuktikan secara memuaskan, lebih dari sekedar menampilkan dalil-dalil Al-Quran semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, pertanyaan yang menggelitik saya, bukanlah apakah kita bisa membedah Al-Quran sebagaimana teks-teks profan lainnya, yang nyatanya bisa dan dipraktekkan secara luas oleh para Islamologis, tapi apakah Al-Quran sendiri memberikan izin untuk diperlakukan demikian? Metode pemahaman Kitab Suci ini tentu sangat terkait dengan konsep-konsep pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Yang boleh jadi berbeda dari yang kita kira. Atas dasar inilah, saya kemudian mencoba mencari tahu tentang epistemologi Al-Quran yang sesungguhnya. Untuk memulai hal tersebut, maka saya akan mencoba untuk membahas asal muasal term ini, berdasarkan awal keterlibatan saya dalam diskusi beberapa bulan yang lalu, yakni ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ulama dan Tahrif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Untuk memudahkan pencarian makna ulama, maka saya tidak menggunakan kata tersebut dalam arti yang dipahami secara umum. Saya hanya akan membahas bagaimana kata tersebut dipakai dalam Al-Quran, hubungannya dengan term lainnya, serta asosiasi makna yang mungkin muncul dalam hubungan semantik ini. Term &lt;i&gt;‘ulama&lt;/i&gt; hanya tersebut sebanyak dua kali dalam Al-Quran. Pertama, pada ayat, Q. 26:197, dan kedua pada Q. 35:28.&amp;nbsp; Pada ayat pertama, term &lt;i&gt;‘ulama&lt;/i&gt; disandingkan dengan term Bani Israil, sehingga membentuk kata baru, ‘Ulama Bani Israil. Sedang di ayat kedua, term yang muncul adalah “&lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt;” yang tidak merujuk secara khusus kepada entitas tertentu, tapi digambarkan sebagai orang-orang yang takut kepada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Term ‘Ulama Bani Israil berada dalam kelompok ayat yang dimulai sejak Q. 26:192-220. Kelompok ayat ini berbicara tentang keotentikan Al-Quran yang benar-benar diturunkan oleh Tuhan. Di sana dijelaskan bahwa, salah satu bukti keotentikan itu adalah para ‘Ulama Bani Israil mengetahui perihal kewahyuan Al-Quran. Dengan kata lain, untuk pertama kalinya kita bisa mengetahui, bahwa yang dimaksud dengan &lt;i&gt;‘Ulama&lt;/i&gt;, tak lain daripada orang yang mempelajari Kitab Suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterkaitan antara ‘Ulama Bani Israil, dan kegiatan mereka dalam mempelajari Kitab Suci, mengingatkan kita kepada salah satu penyimpangan agama yang pernah dilakukan oleh Bani Israil, yakni &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;. Tahrif, atau merubah, entah naskah maupun pemahaman tentang Kitab Suci didefinisikan pada Q. 2:79, sebagai kegiatan menulis Kitab Suci dan mengatakan bahwa tulisan mereka berasal dari Tuhan, demi mendapatkan keuntungan dari tulisan tersebut. Padahal, yang sebenarnya mereka tulis tak lain daripada angan-angan dan dugaan semata, serta bukan wahyu asli yang datang dari Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja pelaku &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;, tidak pernah disebut sebagai ‘Ulama Bani Israil. Al-Quran hanya menyebut mereka sebagai satu kelompok tertentu dalam agama Yahudi. Apa yang ingin saya sampaikan adalah kedekatan para Ahlul Kitab dengan Kitab Suci mereka, yang dilukiskan pada Q. 2:146, adalah seperti seorang bapak yang mengenal anak-anaknya. Dari analogi Al-Quran tersebut, kita akhirnya mengetahui secara jelas tentang definisi dari tahrif, yang dapat diartikan sebagai orang yang mengetahui Kitab Suci, tapi menyembunyikan kebenaran yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa hubungan antara &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt; dengan ‘Ulama Bani Israil? Bila kita menganggap ayat Q. 2:146 sebagai titik tolak dari definisi tentang tahrif, maka dengan sendirinya kita dapat mengetahui bahwa ‘Ulama Bani Israil adalah lawan dari pelaku tahrif. Jika para pelaku tahrif selalu menyembunyikan kebenaran yang terkandung dalam Kitab Suci mereka, maka sebaliknya, ‘Ulama Bani Israil selalu menyampaikan kandungan Kitab Suci yang mereka miliki. Petunjuk ini tentu akan sangat membantu kita dalam memahami kata al-‘Ulama pada Q. 35:28.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ulama sebagai Ulul Albab&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berbeda dengan ayat yang pertama, pada ayat kedua, kata &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt; hampir tidak memiliki konteks. Dalam hal ini, kita hanya dapat mengambil makna mulai dari ayat sebelumnya yang menceritakan ihwal kekuasaan Tuhan, tentang bagaimana Dia menurunkan hujan dari langit, yang darinya menyuburkan buah-buahan. Juga tentang pegunungan, manusia, dan binatang ternak yang beraneka macam warnanya. Dan ayat 35:28 pun ditutup dengan pengatributan &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt; sebagai hamba Tuhan yang paling takut pada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dimulai dengan gambaran tentang alam, beberapa cendikiawan Muslim dikemudian hari, mendefinisikan ulama bukan saja sebagai orang yang mendalami Kitab Suci, tapi juga mereka yang mendalami ilmu pengetahuan alam. Disini, para saintis yang “menemukan Tuhan” dalam eksplorasi ilmiah mereka, oleh sebagian orang dapat pula dimasukkan kedalam kategori ulama. Mereka yang berpendapat demikian, secara tidak langsung, menyamakan kata ulama dengan bentuk tunggalnya, yakni &lt;i&gt;'ali&lt;/i&gt;m. Dengan kata lain, ulama adalah jamak dari kata &lt;i&gt;'alim&lt;/i&gt;, yang berarti orang yang mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya, identifikasi &lt;i&gt;ulama&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;'alim&lt;/i&gt; dalam Al-Quran sangatlah problematik. Al-Quran tidak pernah menggunakan kata &lt;i&gt;‘alim&lt;/i&gt; untuk disematkan kepada manusia. ‘Alim dalam Al-Quran selalu merujuk kepada&amp;nbsp; Tuhan, dan tidak yang lain. Bila demikian, maka kepada apa atau siapakah sebenarnya kata &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt; itu merujuk? Kuncinya berada pada atribut dari kata tersebut, yakni &lt;i&gt;yakhsya&lt;/i&gt;, atau takut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata yakhsya, tersebut sebanyak tujuh kali dalam Al-Quran, dan kebanyakan selalu digandengkan dengan kata &lt;i&gt;dzakara&lt;/i&gt;, mengingat, dalam bentuk kata kerja &lt;i&gt;sayadzakkara&lt;/i&gt; (87:10), dan &lt;i&gt;yatadzakkar&lt;/i&gt;a (20:44), serta bentuk kata &lt;i&gt;tadzkiratun&lt;/i&gt;(20:3). Selain itu, kata &lt;i&gt;yakhsya&lt;/i&gt; juga digandengkan dengan kata &lt;i&gt;‘ibra&lt;/i&gt;h (79:26) dan tentunya &lt;i&gt;al-‘Ulam&lt;/i&gt;a. Yang menarik dari relasi antar kata ini adalah kehadiran term &lt;i&gt;Ulul Alba&lt;/i&gt;b yang juga hampir selalu bergandengan dengan kata &lt;i&gt;dzakara&lt;/i&gt; dalam berbagai bentuk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak sekali definisi tentang&lt;i&gt; Ulul Albab&lt;/i&gt; dalam Al-Quran.&amp;nbsp; Disini, saya hanya akan menyampaikan bebarapa definisi yang berkaitan dengan Kitab Suci. &lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Ulul Albab&lt;/i&gt; adalah mereka yang mendengarkan perkataan Nabi atau wahyu Tuhan, dan mengikuti yang paling baik darinya, &lt;i&gt;ahsanah&lt;/i&gt;u. Di sini, kita teringat lagi dengan perbedaan antara Bani Israil yang menyembunyikan kebenaran dan yang tidak menyembunyikan kebenaran. Ayat 39:18 memberikan tambahan informasi baru kepada kita, bahwa diantara mereka yang tidak menyembunyikan kebenaran, terdapat lagi kelompok yang selalu mengikuti yang paling baik dari Kitab Suci mereka. Tapi apa itu yang paling baik dari Kitab Suci? Dalam hal ini kita menemukan makna &lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt; dari &lt;i&gt;Ulul Alba&lt;/i&gt;b, pada ayat 39:9, yakni orang-orang yang beribadah di waktu malam, dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada azab akherat dan selalu mengharap rahmat-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna&lt;b&gt; ketiga&lt;/b&gt; dari term &lt;i&gt;Ulul Albab&lt;/i&gt; terdapat pada ayat 3:7. Di ayat ini, kembali, &lt;i&gt;Ulul Albab&lt;/i&gt; dipertentangkan dengan orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, yakni mereka yang mengikuti ayat-ayat yang ambigu,&lt;i&gt; mutasyabihat&lt;/i&gt;, dengan tujuan untuk menimbulkan ketidakjelasan, &lt;i&gt;fitnah&lt;/i&gt;, dan takwil. Pada ayat ini pula kita menemukan istilah yang sangat dekat dengan kata &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt;, yakni &lt;i&gt;al-rasikhun fil ‘ilm&lt;/i&gt;, orang-orang yang ahli, expert,&amp;nbsp; dalam ilmu tentang Kitab Suci, yang digambarkan sebagai mereka yang beriman dan percaya sepenuhnya bahwa Kitab Suci itu berasal dari Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Apabila dirangkai, maka pencarian kita tentang arti kata &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt; pada Al-Quran dapat disimpulkan kedalam persamaan sederhana: &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt; =&lt;i&gt; yakhsy&lt;/i&gt;a =&amp;nbsp; &lt;i&gt;dzakara&lt;/i&gt; = &lt;i&gt;Ulul Albab&lt;/i&gt; = &lt;i&gt;al-Rasikhun fil ‘Ilm&lt;/i&gt;. Sehingga, jika kita masukkan didalamnya faktor Ulama Bani Israil, maka akan terdapat dua domain besar dari medan semantik. &lt;b&gt;(a)&lt;/b&gt; &lt;i&gt;al-‘Ulama&lt;/i&gt;, Ulama Bani Israil, &lt;i&gt;Ulul Albab&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;al-Rasikhun fil ‘Ilm&lt;/i&gt; &lt;b&gt;(b)&lt;/b&gt; pelaku &lt;i&gt;tahrif&lt;/i&gt;, orang-orang yang mencari keuntungan dalam agama, mereka yang gemar menggali ayat-ayat ambigu, &lt;i&gt;mutasyabihat&lt;/i&gt;, sekaligus mencari ketidakjelasan, &lt;i&gt;fitnah&lt;/i&gt;, dan melakukan takwil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat menarik, jika kita melihat kedua domain yang saling bertentangan tadi, ternyata Tuhan memberikan predikat bagi orang-orang yang berbuat baik. Sebaliknya, mereka yang berbuat buruk, tidak diberikan predikat sama sekali. Dari sisi psikologis, peniadaan predikat atas seseorang atau sesuatu dapat diartikan sebagai bentuk kebencian atau ketidaksukaan. Dalam konteks ini, jelas terlihat bahwa Tuhan sangat murka kepada orang-orang di kelompok b, hingga Dia bahkan tidak menganggap mereka sebagai entitas yang ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dapat kita simpulkan, bahwa kata ulama dalam pandangan Al-Quran tidak merujuk secara umum kepada orang-orang yang memahami ilmu-ilmu sekuler, tapi secara khusus merujuk kepada mereka yang mendalami Kitab Suci­­–dalam hal ini ilmu agama, dan mempercayai dengan sepenuh hati kebenaran yang terkandung didalamnya. Karakteristik ulama dapat kita temukan pada term &lt;i&gt;Ulul Albab&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;al-Rasikhun fil ‘Ilm&lt;/i&gt; sebagaimana telah saya uraikan di atas. Selain dalam Islam, ulama juga terdapat dalam agama Yahudi. Tugas dan perilaku para Ulama Bani Israil ini pun sama. Mereka mendalami Kitab Suci, mengambil yang paling baik darinya, dan kemudian rajin beribadah dan senantiasa mengingat Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang terpenting dari itu semua adalah, bahwa kata ulama dalam Al-Quran tidak merujuk kepada bentuk singural &lt;i&gt;'Alim&lt;/i&gt;, melainkan berhubungan dengan term yang sedikit berbeda, yakni &lt;i&gt;al-Rasikhun fil ‘Ilm&lt;/i&gt;. Di sini, kita akhirnya bertemu dengan tema terpenting dalam kajian epistemologi Al-Quran, yakni &lt;i&gt;al-'ilm&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-7392377356890559043?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/7392377356890559043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/ulama-bukan-jamak-dari-alim.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7392377356890559043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7392377356890559043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/08/ulama-bukan-jamak-dari-alim.html' title='Ulama Bukan Jamak dari &apos;Alim'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-7623412972492520428</id><published>2010-07-08T12:31:00.002+07:00</published><updated>2010-07-08T13:20:05.552+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Sepak Bola &amp; Rasionalitas (2)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kita tidak akan pernah tahu arti seseorang bagi diri kita, hingga orang tersebut tidak ada lagi di sisi kita. Mungkin kalimat ini sangat tepat menggambarkan nilai seorang Mueller bagi kesebelasan Jerman yang kamis dinihari bertanding melawan kesebelasan Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2010. Sehari sebelum pertandingan yang sangat menentukan itu berlangsung, banyak sekali prediksi yang mengunggulkan kemenangan tim Jerman atas Spanyol. Beberapa ada yang menganalisis berdasarkan performa penampilan Tim Panser yang sejauh ini merupakan tim paling konsisten selama pelaksanaan Piala Dunia. Prediksi lain, menggunakan sejumlah metode yang berada di luar konteks persepakbolaan, macam numerologi, hingga tuah sweater biru sang pelatih. Tapi betapapun canggih analisis atas pertandingan ini, rupanya mereka melupakan faktor seorang Mueller bagi Jerman. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Joachim Low sendiri menyatakan bahwa absennya Mueller dari skuad, tidak akan mempengaruhi ketajaman bermain Jerman. Ia berargumentasi bahwa Jerman saat ini adalah tim yang sangat mengutamakan permainan kolektif. Kehilangan seorang individu tidak menjadi hambatan bagi sebuah tim yang lebih mengutamakan disiplin dan kerjasama antar pemain. Yang dibutuhkan dalam tim jenis ini adalah menjalankan strategi dingin sang pelatih sebaik-baiknya di atas lapangan. Dengan kata lain, individu hanyalah variabel x dan y, sedangkan ruh dari permainan tak lain dari rumus yang diterapkan oleh sang pelatih kepada anak asuhnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya, argumentasi seperti ini dapat diterima seandainya pengganti variabel yang hilang itu memiliki kualitas dan kemampuan mental yang identik. Sayang sekali Low lupa akan hal tersebut. Ia mungkin menganggap bahwa nilai Trochowski sama dengan nilai Mueller, dengan tidak merubah strategi dan komposisi pemain, sehingga mengabaikan perubahan dalam persamaan yang ia rumuskan. Dan keseimbangan dalam tubuh tim Jerman tidak mampu dipertahankan lagi. Schweinsteiger memang menjalankan fungsinya sebagai gelandang penjelajah dengan baik, tapi Trochowski dan kemudian Kroos tidak mampu menggantikan fungsi dari Mueller. Barisan pertahanan Jerman seakan kehilangan kepercayaan untuk mem-&lt;i&gt;pass&lt;/i&gt; bola ke lini tengah, karena tidak ada dominasi di sana, sehingga mereka hanya memanfaatkan pola serangan di sayap kiri dan kanan yang dapat dengan mudah dipatahkan oleh para gelandang Spanyol yang memiliki kualitas individu yang jauh lebih tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dan sebagaimana tim yang mengalami kebuntuan permainan, Jerman pun terjebak kedalam formalitas strategi yang dijabarkan oleh Low. Alih-alih melakukan perubahan taktik, mereka hanya melakukan review atas strategi yang dimainkan. Ibarat flowchart, mereka terus berputar dalam opsi pengulangan yang tidak kunjung membuahkan hasil. Disini yang ada hanyalah repitisi semata, apakah sudah tidak ada lagi kesalahan dalam cara bermain, apakah bek sudah menjalankan prosedur pertahanan sebagaimana mestinya, dan apakah passing bola telah dilakukan dengan tepat? Maka diagram permainan yang mestinya dinamis itupun berubah menjadi sebuah ajaran dogmatis yang tidak mampu dipecahkan. Jadilah, mereka terkurung oleh frustasi dan serangan para pemain Spanyol yang datang bertubi-tubi, hingga akhirnya kesadaran mereka terusik oleh tandukan bola dari kepala Carles Puyol yang tidak mampu ditepis kiper Manuel Neuer di menit 74.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sangat disayangkan, meskipun pertahanan mereka telah kemasukan gol, tapi tetap tidak ada perubahan baik dari tempo maupun strategi permainan. Jerman tetap bermain seperti belum pernah kebobolan dan mengabaikan waktu yang terus berputar. Dari sudut pandang rasionalitas, situasi yang melanda Jerman saat itu dapat dipandang sebagai sebuah krisis. Yakni tatkala sebuah sistem tidak lagi mampu menopang dirinya, dan setiap percobaan yang menggunakan klaim-klaim dasar dari sistem ini gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Kuhn"&gt;Kuhn&lt;/a&gt;, satu-satunya solusi atas kebuntuan tersebut adalah perubahan paradigma. Ambil contoh, ketidakmampuan para ilmuwan dalam memprediksi gerak jatuh dua buah benda yang memiliki berat yang berbeda bukanlah disebabkan kesalahan dalam menginterpretasikan fisika Aristoteles, malainkan karena sistem yang dibangun oleh filsuf itu sudah tidak memadai lagi untuk menjelaskan fenomena yang ada. Maka langkah yang dilakukan oleh Galilei dengan mengabaikan aturan dasar fisika Aristoteles adalah sebuah langkah yang sangat tepat, karena dengan demikian ia mampu keluar dari jebakan dogmatis yang membuat sains tidak mampu berkembang melebihi klaim-klaim dasar yang telah dirumuskan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Agar dapat keluar dari keterbatasan paradigma, tentu saja membutuhkan keberanian dan mental yang kuat, karena dengan demikian seseorang bukan saja harus meruntuhkan aturan-aturan lazim yang ada dalam sebuah sistem, tapi juga mengindahkan sejumlah kemungkinan untuk dianggap irrasional. Meski terlihat seperti sebuah kontradiksi, tapi ternyata rasionalitas kadang dibangun diatas fondasi irasionalitas, ketidakrasionalan. Ambil contoh kebenaran sebuah proposisi logika yang bersifat sirkular, bersandar sepenuhnya kepada &amp;nbsp;kebenaran proposisi lain yang juga bersandarkepada proposisi lainnya &lt;i&gt;ad infinitum&lt;/i&gt;, sehingga terdapat sebuah gap kebenaran yang tidak mungkin dinalar satu persatu karena sifatnya yang tidak terbatas. Untuk mengatasi masalah ini, dibangunlah sebuah anggapan dasar yang kebenarannya tidak tergantung kepada kebenaran lainnya. Tentu saja, anggapan dasar ini adalah sebuah titik tolak yang diterima begitu saja dalam sebuah bangunan rasionalitas, sehingga kebenarannya tidak terletak didalam sistem, melainkan diluarnya. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ludwig_Wittgenstein"&gt;Wittgenstein&lt;/a&gt; menyadari hal ini dan menyatakan bahwa logika sejatinya hanya berisi dua kemungkinan saja, &lt;i&gt;tautologi&lt;/i&gt; dan kontradiksi. Sayangnya, tautologi tidak memberikan apa-apa kepada kita, dan kontradiksi hanya memberikan ketidakmungkinan semata. Lalu, dimanakah letak sebuah nilai?&amp;nbsp;Bagi Wittgenstein, nilai sebenarnya dari sebuah proposisi logis berada di luar jangkauan logika. Ia bersandar kepada wilayah yang tidak mampu diprediksi, yakni dunia. Oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kurt_G%C3%B6del"&gt;Godel&lt;/a&gt;, keterpisahan antara realitas rasio dan dunia ini dirumuskan dengan elegan dalam teorama tentang ketidaklengkapan matematika–incompleteness theorem. Bahwa kebenaran sebuah rasionalitas pada akhirnya bersandar kepada sebuah klaim yang berdiri di atas fondasi ketidakrasionalan. Dalam matematika ia adalah aksioma; dalam geometri ia adalah titik, garis, dan bidang; dalam teologi ia adalah Tuhan; dalam sepak bola ia adalah doktrin untuk menguasai bola dan hanya mengumpan kepada kawan saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Apabila rasionalitas berdiri diatas fondasi rapuh ketidakrasionalan, lalu apa bedanya ia dengan pemikiran yang tidak rasional seperti mitos misalnya? Menurut &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Paul_Feyerabend"&gt;Feyerabend&lt;/a&gt;, tidak ada. Metodologi rasional yang selalu diagungkan para saintis tidak lebih dari pilihan subjektif belaka, dan sama sekali tidak mencerminkan objektivitas. Maka, agar rasionalitas dapat maju, sudah saatnya mereka meninggalkan metode dogmatis yang mengungkung itu. Dalam bahasa persepakbolaan, itu adalah kembalinya model permainan konseptual ala Jerman kepada model permainan tanpa konsep yang dipraktekkan skuad Maradonna. Ketiadaan konsep berarti penggunaan emosi untuk mendobrak kebuntuan. Sesuatu yang tidak dapat diperlihatkan dengan baik oleh Trochowski dan Kroos pada saat krisis, entah karena watak mereka yang tenang atau akibat doktrin Low yang membuat mereka begitu dingin. Pada poin ini pula kita bisa melihat bahwa Mueller dan Ballack memiliki hubungan paradigmatik, yang tidak dimiliki oleh Trochowski dan Kroos yang jauh lebih mirip&amp;nbsp;Schweinsteiger. Dengan kata lain, Jerman membutuhkan figur motivator daripada seorang organisator.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai disini, muncul pertanyaan, bila putaran balik ini merupakan solusi jitu bagi kebuntuan permainan, kenapa Argentina dapat dibantai habis oleh Jerman hingga 4-0? Bagi Fayerabend, salah satu prinsip yang harus dilawan dalam rasionalitas adalah prinsip, semuanya berjalan, &lt;i&gt;anything goes&lt;/i&gt;. Prinsip inilah yang sebenarnya dipakai oleh Maradonna dalam melatih, yang mempercayakan permainan begitu saja kepada pemain-pemain bintang.&amp;nbsp;Diluar segala kemungkinan tersebut, tampaknya kita harus pula menimbang hal-hal non-teknis yang dapat menunjang kemenangan sebuah pertandingan. Dalam hal ini, penggunaan kostum putih oleh para pemain Jerman, saat lawan memakai kostum merah, jelas sebuah kekalahan psikologis. Karena merah adalah simbol perlawanan, sedangkan putih adalah simbol ketulusan. Demikian pula jika atmosfer irasionalitas ini diperluas, barangkali kita akan percaya bahwa Paul si gurita memang tidak pernah bohong dalam meramal. Jadi, selamat kepada Spanyol yang akan tampil melawan Belanda di babak final nanti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-7623412972492520428?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/7623412972492520428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/07/sepak-bola-rasionalitas-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7623412972492520428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/7623412972492520428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/07/sepak-bola-rasionalitas-2.html' title='Sepak Bola &amp; Rasionalitas (2)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-2937446543295655235</id><published>2010-07-06T22:43:00.001+07:00</published><updated>2010-07-06T22:56:07.561+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intermezzo'/><title type='text'>Sepak Bola &amp; Rasionalitas</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalau ada yang bertanya, apakah saya menyukai pertandingan sepak bola? Well, terus terang, saya bukan salah satu penggemar fanatiknya. Mungkin karena saya tidak menyukai permainan yang benar-benar menguras tenaga tersebut. Kemampuan berlari saya sangat rendah, jadi di posisi manapun saya berada mungkin tidak akan bermanfaat bagi kesebelasan tempat saya bermain. Lagi, sebagai seorang bocah, kulit saya mudah sekali terluka, entah karena lapangan di sekitar tempat tinggal saya tidak steril dari bebatuan dan semak berduri, juga karena sejak kecil saya memang tidak pernah memiliki sepatu sepak bola. Jadi, ada beberapa alasan psikologis dan teknis yang mencegah saya menyukai permainan tersebut secara personal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi apa betul cinta atau hobi berkaitan erat dengan kedua unsur tersebut? Kalau kita mencintai sesuatu, perlukah alasan psikologis atau teknis untuk mendukungnya. Katakan, dirimu mencintai seorang perempuan, tapi secara psikologis kamu merasa tidak mampu untuk hidup dengan gaya hidup dan pemikiran perempuan itu. Atau barangkali, terdapat jurang teknis yang memisahkan kalian berdua, apa yang akan kamu lakukan? Hanya mengagumi. Dan sebatas itu saja bukan. Karena kita sadar, betapa tidak mungkin diri kita menggapai jurang yang teramat lebar itu. Dan kira-kira seperti itulah perasaan saya terhadap sepak bola. Tentu saja saya seorang realis, bagi saya tidak mungkin kita menyukai sesuatu tanpa benar-benar terlibat “sampai kotor” dengan obyek dari hobi yang kita cintai itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ya, industri media rupanya telah mempermak wajah persepakbolaan saat ini. Ia menjadi sebuah wacana yang menarik pikiran orang kepadanya. Bukan sebagai pemain, pelaku, tapi sebagai penonton dan pemuja. Dan disinilah ledakan wacana terjadi. Souvenir, baju, pernak-pernik, bahkan poster dan gambar sang idola. Sepak bola telah berubah dari sebuah permainan di atas lapangan yang membutuhkan tenaga besar, kepada mimpi di layar kaca yang memperlihatkan karakter individu sejumlah pemain “mega bintang”. Tidak usah berkeringat untuk menjadi pecinta sepak bola, cukup sediakan layar besar, berikut sofa yang nyaman dan empuk ditemani oleh cemilan. Maka kita menemukan hiruk pikuk stadion berpindah ke ruang keluarga. Dan jadilah sebuah laga gladiator modern yang penuh dengan dramanya yang khas. “sepak bola itu mirip bola, bulat dan susah untuk diprediksi. Tidak ada yang rasional dalam sebuah pertandingan, semuanya mungkin saja terjadi.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Statistik Tatsumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan dari wacana sepak bola. Bahwa irasionalitas berjaya di sana. Tapi, itu dulu. Sebelum muncul dua hal yang sangat menarik bagi saya. Tentang sebuah pertandingan, cara bermain dan bagaimana membangun sebuah kesebelasan yang tangguh. Ini jelas sebuah masalah umum yang dihadapi oleh setiap organisator. Dan saya rasa ada perkembangan yang sangat menarik dari suatu disiplin–kalau kita boleh menamakannya demikian, persepakbolaan saat ini. Well, saya lebih menyukai membicarakan “how to”-nya sepak bola daripada bergosip ria tentang para bintang yang muncul di sana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pertama adalah, sebuah manga berjudul &lt;a href="http://www.animenewsnetwork.com/encyclopedia/anime.php?id=11189"&gt;Giant Killing&lt;/a&gt;. Film animasi buatan Jepang yang mengisahkan kebangkitan ETU–East Tokyo United, yang larut dalam keterpurukannya sebagai tim kelas bawah. Mengingatkan kita akan film populer Tsubasa? Itulah tanggapan saya pertama kali, sebelum saya sadari bahwa sejak episode pertama, film serial itu telah memberikan sebuah perspektif baru dalam memandang sepak bola. Bahwa permainan yang bagus berasal dari materi pemain yang bagus pula. Lantas bagaimana cara memilih seorang pemain bagus agar dapat masuk kedalam starting eleven? Menurut Tatsumi, si tokoh protagonis dalam film tersebut, silahkan adakan sebuah lomba lari 30 meter antar dua orang. Catat raihan waktu setiap pelari, kemudian ulangi lagi dan lagi selama 45 menit, hingga semua peserta kelelahan, kemudian jumlahkan. Tampak sederhana bukan? Hasilnya, mereka yang memiliki catatan waktu lari terbaiklah yang layak menjadi pemain inti sebuah kesebelasan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi kenapa harus berdasarkan catatan waktu , atau statistik kecepatan tungkai kaki setiap pemain. Kenapa bukan kepada skill dribbling dan passing individual? Barangkali Tatsumi hendak mengajarkan sepak bola sebagai sebuah permainan tim. Dimana setiap pemain berfungsi layaknya organ yang bergerak dinamis dan presisi. Maka setiap individu yang mampu berlari cepat dapat menurunkan tempo permainan mereka. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat berlari cepat, tidak akan mampu mengimbangi kecepatan pemain lain pada saat tempo permainan dinaikkan. Efeknya adalah, penguasaan bola yang jauh lebih banyak bagi tim yang bermaterikan individu dengan nilai rata-rata lari 30 meter yang lebih tinggi. Sebaliknya, mereka yang tidak mampu memenangi lari 30 meter kehilangan kemampuan untuk memperebutkan bola dari lawan, sehingga hanya dapat bermain defensif semata. Mengetahui lawan yang telah kehilangan semangat untuk merebut bola, maka saat itulah waktu yang pas untuk melakukan serangan terbuka kedalam kotak pinalti. Kata Tatsumi, “berhentilah bermain &lt;i&gt;one-touch ball&lt;/i&gt;, dan mulailah menyerang!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu apa sebenarnya yang ada di dalam benak Tatsumi? Baginya, pemain yang ia inginkan adalah mereka yang mampu berlari cepat meskipun sudah teramat lelah. Kemampuan ini telah terlihat pada menit pertama dan menit terakhir lomba lari 30 meter. Selisih waktu antara menit pertama dan terakhir menunjukkan kualitas daya tahan setiap pemain. Semakin kecil perbedaan yang ada, maka semakin besarlah stamina yang dimiliki pemain bersangkutan. Sedang, semakin cepat waktu yang berhasil ia capai, menunjukkan kelebihan stamina dan kecepatan yang dimiliki pemain tadi. Pemain dengan stamina dan kecepatan yang tinggilah yang sebenarnya diinginkan oleh sang pelatih, dan itu ia dapatkan dari para pemain muda yang kemudian memenangkan pertandingan atas pemain tua yang sudah kelelahan mengejar bola.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;See, soccers are so close with statistics!&lt;/i&gt; Dan statistik dalam banyak hal berkaitan dengan matematika, yang menjadi inti dari pengetahuan modern saat ini. Sayangnya, statistik yang dikonsumsi masyarakat adalah rekor-rekor pertandingan, persentase kemenangan antar satu tim dengan tim lainnya, atau yang bisa kita pahami sebagai sejarah perjalanan masa lalu dari sebuah kesebelasan. Bukan sebuah data aktual yang bisa kita analisis untuk dapat melihat, tim mana yang berpotensi memenangi sebuah pertandingan. Padahal, kita saat ini bukanlah kita empat tahun yang lalu atau yang akan datang. Selalu terdapat perbedaan kualitas dalam waktu yang berbeda itu, sehingga dalam menentukan mana tim yang akan menang dalam suatu pertandingan, tidak akan cukup dengan hanya melihat data statistik faktual semata. Tentu saja data faktual itu adalah sebuah sejarah. Dan sejarah itu lebih dekat kepada roman, buah bibir, dan gosip, yang merupakan makanan tiada habisnya bagi para penggila bola.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Jerman dan Argentina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pada Piala Dunia kali ini pun, kegilaan terhadap statistika faktual juga masih tetap dipertahankan. Seorang komentator sepak bola misalnya, mengkaitkan pertemuan dua kesebelasan, dengan sejarah pertandingan-pertandingan sebelumnya. Seperti berapa kali kedua kesebelasan itu bermain, siapakah yang memegang rekor kemenangan, dalam ajang apa dan bagaimana impresi dari para pemain dan penonton saat itu, juga berbagai fakta remeh temeh yang membuat renyah sebuah pertandingan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa yang membuat sepak bola menarik adalah sejarah dari sepak bola itu sendiri. Hanya saja, sejarah atau data faktual dari sepak bola laksana &lt;i&gt;fenomena&lt;/i&gt; daripada &lt;i&gt;noumena&lt;/i&gt; dalam kajian filsafat. Sejarah dalam sepak bola hanyalah kulit luar yang diperdebatkan dan dibicarakan, tapi tidak menyentuh inti sebenarnya dari sebuah pertandingan, yang mungkin menjadi rahasia dapur setiap tim.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berbicara tentang tim sepak bola, salah satu kesebelasan yang permainannya begitu menarik bagi saya untuk dilihat, pada Piala Dunia kali ini adalah Jerman. Tentu saja saya mengabaikan data faktual, berupa jumlah pemain bintang yang bertebaran di tim-tim nasional lainnya. Meski secara emosional pun, saya menyukai Jerman dengan alasan yang tidak rasional, sama seperti seseorang menyukai Argentina atau Inggris karena Messi dan Rooney. Namun, diluar segala impresi emosional tersebut, terbesit kekaguman rasional tentang bagaimana kesebelasan ini memainkan sebuah pertandingan yang sangat bagus. Mereka memeragakan cara bermain yang sangat taktis. Dipenuhi &lt;i&gt;passing&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;loop&lt;/i&gt; yang akurat, irama yang serempak. Jerman bermain laksana tim, dan Australia pun mereka bantai 4-0, Inggris 4-2, dan Argentina 4-0. Terdengar begitu menjanjikan bukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya pun mencoba membandingkan cara bermain kesebelasan ini pada Piala Dunia yang lalu. Saat itu mereka juga memainkan permainan struktural seperti saat ini, tapi cara mereka bermain benar-benar berbeda. Mereka begitu mudah kelelahan, dan tatkala bertemu tim dengan pertahanan yang alot, konsentrasi mereka pun buyar dan bermain tanpa fokus. Saat ini yang ada sebaliknya, kecepatan bermain mereka tetap stabil, dan meski dalam beberapa menit pertandingan mulai terlihat kesalahan-kesalahan serupa di tim yang lama, namun mereka mampu pulih dengan cepat. Hmm…bagaimana menjelaskan perubahan yang sangat drastis ini? &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, jawabnya ada pada Tatsumi dan Joachim Low. Barangkali, mereka benar-benar melafalkan sepak bola sebagai sebuah disiplin pengetahuan modern, lengkap dengan perangkat perangkat pengukuran, analisis, dan &lt;i&gt;probing&lt;/i&gt;. Singkat kata, bagi Tatsumi dan Loew, sepak bola modern sangat identik dengan semangat dan pola pikir modern. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berbeda dengan Low, Maradonna yang kali ini tampil sebagai pelatih timnas Argentina, menganut pola pikir yang berbeda. Alih-alih menerapkan penilaian berdasarkan statistik aktual, ia lebih suka kepada analisis berdasarkan statistik faktual, dan terlebih parah lagi kepercayaan pada &lt;i&gt;selain&lt;/i&gt; data pemain yang ada. Di berbagai situs, ia bahkan menegaskan bahwa kemenangan Argentina di Piala Dunia kali ini adalah kehendak Tuhan. Pun, dalam melatih, ia lebih senang membiarkan mereka bermain tanpa aturan, seakan-akan berharap agar kemampuan sesungguhnya dari setiap pemain akan keluar, justru saat mereka diberikan kebebasan dalam berekspresi. Mungkin dalam kamus Maradonna, sepak bola adalah eksistensi alamiah, daripada hasil binaan rasional yang terarah. Hasilnya, Argentina harus angkat koper dari Afrika Selatan dengan hasil pertandingan yang sangat memalukan sewaktu bermain dengan Jerman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jadi, bagaimana semestinya kita memperlakukan sepak bola. Apakah seperti Loew dan Tatsumi, atau sebagaimana yang diperlihatkan oleh Maradonna? Sepak bola sebagai disiplin ilmu modern atau hanya perayaan eksistensi semata? Apapun itu, tampaknya, akan menjawab alasan dibalik kecintaan atau hobi seseorang terhadap permainan sepak bola. Termasuk tentunya bagaimana kita membaca tren persepakbolaan yang ada di tanah air saat ini, juga kenapa PSSI tidak pernah masuk dalam daftar peserta final kejuaraan Piala Dunia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-2937446543295655235?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/2937446543295655235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/07/sepak-bola-rasionalitas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2937446543295655235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/2937446543295655235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/07/sepak-bola-rasionalitas.html' title='Sepak Bola &amp; Rasionalitas'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-4628080974650850494</id><published>2010-06-21T17:30:00.002+07:00</published><updated>2010-06-21T17:30:48.927+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Al-Quran dan Perempuan Pertama (2)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sejenak diskusi terhenti, hanya sebentar, sebelum dilanjutkan oleh dua HH. HH pertama, menganggap bahwa diskusi ini beyond the truth. Saya tidak terlalu mengerti dengan maksudnya tersebut, barangkali ia hanya ingin mengungkapkan, bahwa kebenaran di sini, hasil produksi diskusi yang cukup intens, atau barangkali karena multidisipliner, tapi tetap tidak dapat dimengerti dengan jelas. Adapun HH kedua, memulai dengan pernyataan tendesius, seputar keberadaan manusia pertama yang dikenal baik dalam tradisi Islam maupun Judeo-Kristen sebagai Adam. Ia pun berkomentar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Itu hadist akhi, tapi tetap diragukan kebenarannya. Yang pasti, jika pun hadits itu benar, tetap bisa dikritik lewat fakta ilmiah, atau kita harus melihat hadits itu dalam perspektif alegorisme. Jangankan soal tulang rusuk, ayat yang mengatakan Adam manusia pertama di al-Qur'an juga tidak ada!” Dengan jelas HH memposisikan diri sebagai kampiun sains dengan berusaha menolak fakta agama. Lebih lanjut, ia menerangkan, “Gini hari masih ngomongin Adam manusia pertama?” Sayang sekali, tidak ada usaha untuk menjelaskan statement tadi oleh HH.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Tentang Adam&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maka saya pun mengambil inisiatif untuk memulai diskusi panjang lagi. Dan saya tulis di bagian komentar: “Wah memulai provokasi nih. Hehehe... Tentang Adam sebagai manusia pertama, harus diberi definisi yg jelas dulu. Apakah manusia, &lt;i&gt;insan&lt;/i&gt;, yg dimaksud Al-Quran mencakup hominid atau tidak. Dari ayat yg ada, seperti kemampuan berbicara, tampaknya definisi &lt;i&gt;insan&lt;/i&gt; di sini tidak mencakup hominid, yg meliputi Neanderthal, Cro-Magnon dsb, melainkan&amp;nbsp;manusia modern saja. Dengan demikian, kalau ada yg bertanya apakah Adam manusia pertama, jawaban yg tepat adalah, ia &lt;i&gt;insan&lt;/i&gt; pertama, tapi bukan &lt;i&gt;basyar&lt;/i&gt; pertama. Kenapa? Karena kata &lt;i&gt;basyar&lt;/i&gt; secara bebas, dapat diatributkan baik kepada hominid maupun manusia modern. Dengan kata lain, &lt;i&gt;basyar&lt;/i&gt; itu &lt;i&gt;genera&lt;/i&gt;, sedang &lt;i&gt;insan&lt;/i&gt; adalah spesies.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentang Q. 4:1, ternyata ada fakta Quran yg menarik. &lt;i&gt;Nafsun wahidah&lt;/i&gt;–Jiwa yang satu, itu benar-benar perempuan, bukan laki-laki! Silahkan perhatikan perubahan &lt;i&gt;fa'il maf'ul&lt;/i&gt;–subjek objek, pada Q. 7:189. Coba tanya, yg mengandung itu &lt;i&gt;nafsun wahidah&lt;/i&gt; ataukah &lt;i&gt;zawj&lt;/i&gt;? Kalau tata bahasa Quran konsekuen dgn pengatributan seks &lt;i&gt;zawj&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;nafs wahidah&lt;/i&gt;, maka tentulah yg mengandung itu &lt;i&gt;nafsun wahidah&lt;/i&gt;. Jadi bisa disebut, insan pertama itu perempuan bukan laki-laki.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi bagaimana Tuhan menciptakan Adam? Pada Q. 3:59 dijelaskan bahwa penciptaan Adam itu seperti Isa. Keduanya sama2 dikandung oleh perempuan yg tidak disentuh laki2. Dan ini lebih masuk akal, jika dikaitkan dgn tugas yg diemban Adam: &lt;i&gt;khalifah&lt;/i&gt;. Lupakan bentuk ideologis kata &lt;i&gt;khalifah&lt;/i&gt; dan pahami secara lingustik saja, yakni pengganti. Timbul pertanyaan, siapa atau apa, yg digantikan Adam? Jawabnya simpel, &lt;i&gt;basyar&lt;/i&gt; pra-Adam, yakni para manusia purba yg tidak pernah berevolusi jadi manusia modern.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sini, saya mengikuti hipotesis Abd al-Shabur Syahin, yang menafsirkan Adam sebagai bapak insan dan bukan bapak basyar. Mengetahui, jawaban saya, MM pun menimpali.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Saya punya beberapa pertanyaan (untuk menguji bahasa Arab sampean, hehe...).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ada tidak bentuk &lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt;, maskulin, dari kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;? Mungkinkah misalnya ayat itu berbunyi: ... &lt;i&gt;khalaqakum min nafsin WAHID wakhalaqa minHU zawjataHU&lt;/i&gt;?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kata &lt;i&gt;zawj&lt;/i&gt; itu berarti suami, atau istri, atau bisa suami bisa istri?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kenapa digunakan kata &lt;i&gt;khaliifah&lt;/i&gt;, bukan &lt;i&gt;khaliif&lt;/i&gt;, padahal merujuk kepada Adam yang jelas laki-laki?&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dalam hati, saya sudah menyangka akan ada pertanyaan seperti ini, dan saya mengira bahwa hipotesis saya tersebut memang tidak dibangun diatas fondasi tata bahasa yang lazim. Karenanya, saya kembalikan pertanyaan MM, untuk mengetahui, adakah fakta kebahasaan baru yang tidak saya ketahui. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Oke, saya baca Jalalayn yang &lt;i&gt;linguistics minded&lt;/i&gt; itu. Tapi coba, apa bisa dijelaskan secara tata bahasa perubahan bentuk dari &lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt; ke &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt;–feminin, pada Q. 7:189? Atau siapa sebenarnya yg hamil dan menghamili pada ayat tersebut?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tentang pertanyaan soal khalifah, saya belum dapat menjawabnya. Namun, di detik-detik kemudian, tiba-tiba saya mendapat intuisi berkenaan dengan denotasi dari kata khalifah, maka saya tambahkan bahwa, “Tentang &lt;i&gt;khalifah&lt;/i&gt;, itu merujuk kepada ummat. Yakni ummat Adam menggantikan ummat &lt;i&gt;basyar&lt;/i&gt; pra-Adam. Pada kata &lt;i&gt;ja'ala&lt;/i&gt;–membuat, bukannya kata itu khas Adam, &lt;i&gt;Ja'il khalifah&lt;/i&gt;. Sedang &lt;i&gt;khalaqa&lt;/i&gt;–menciptakan, dinisbahkan kepada &lt;i&gt;basyar&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;khaliq basyar&lt;/i&gt;.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Apa itu &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;nafs wahidah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Rupanya MM telah menemukan jawaban yang telah ia tanyakan kepada saya. Maka tulisnya, “Biar saya jawab sendiri pertanyaan saya.&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; yg berarti jiwa/ruh di-mana2 selalu &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt; dan selalu menggunakan kata ganti &amp;amp; kata kerja &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt;, meskipun yg dimaksud adalah jiwa seorang laki2, seperti dlm Q 7:159.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kata &lt;i&gt;zawj&lt;/i&gt; bisa berarti suami atau istri. z&lt;i&gt;awj al-mar'ati ba'luhaa wa zawj al-rajul imra'atuhu&lt;/i&gt; (Lisan al-‘Arab, IV, 430). Yang dimaksud dalam Q. 7:159 adalah istri.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kenapa kata &lt;i&gt;khaliifah&lt;/i&gt;? Karena kata ini hanya digunakan utk &lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt; (LA, III, 185). Kata &lt;i&gt;khalif&lt;/i&gt; jarang, atau mungkin malah tak pernah dipakai. Jadi tidak perlu repot-repot merujukkannya pada umat Adam.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&amp;nbsp;Penjelasan perubahan bentuk kata kerja dan kata ganti dlm QS 7:189 adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;...&lt;i&gt;khalaqakum min nafsin waahidah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;wa khalaqa minHAA&lt;/i&gt; (kembali kpd &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;...&lt;i&gt;zawjaHAA&lt;/i&gt; (kembali &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;...&lt;i&gt;liyaskuna&lt;/i&gt; (kembali kepada &lt;i&gt;shohib al-nafs&lt;/i&gt;). Peralihan seperti ini biasa dalam bahasa Arab. Seperti pada kata &lt;i&gt;ummah&lt;/i&gt; yg kadang diganti dg &lt;i&gt;hiya&lt;/i&gt;–kata ganti orang ketiga feminin, dan kadang diganti dengan &lt;i&gt;hum&lt;/i&gt;–kata ganti orang ketiga jamak maskulin. &lt;i&gt;Hiya&lt;/i&gt; merujuk pada bentuk katanya yang &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;hum&lt;/i&gt; merujuk pada orang-orang yang ada di dalamnya. Peralihan ini justru menunjukkan bahwa &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; pertama itu laki-laki.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;...&lt;i&gt;ilayHAA&lt;/i&gt; (kembali pada &lt;i&gt;zawj&lt;/i&gt;).&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&amp;nbsp;Ini sangat jelas bagi yg mengerti bahasa Arab. Dan saat turun, ayat ini dipahami demikian. Jadi biar begitu adanya. Kenapa kita hrs membenturkannya dg penemuan ilmiah tentang asal-usul manusia? Kalo temuannya berbeda apa ayatnya harus dipahami berbeda juga?&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tentu saja, saya memahami, maksud dari MM, tapi karena kejanggalan kata ganti, yang seakan tidak logis itu, jika &lt;i&gt;nafs wahidah&lt;/i&gt; ditafsirkan sebagai laki-laki, maka saya pun memberikan pendapat yang berbeda dari cara penafsiran MM. “Saya memahaminya dari tata bahasa yg sangat sederhana. Prinsip saya, bahasa Quran itu spesifik dan saling berkorelasi satu dgn lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Q. 7:189, penafsirannya seperti ini:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Insan&lt;/i&gt; dari &lt;i&gt;nafs wahidah&lt;/i&gt; (N).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Zawj&lt;/i&gt; (Z) diciptakan dari N.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Agar Z &lt;i&gt;yaskun ila&lt;/i&gt;–menetap ke, N.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Maka, ketika Z &lt;i&gt;tagasyya&lt;/i&gt;–membuahi, N.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;N hamil&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Hal serupa juga berlaku pada Q. 4:1 yg bahkan lebih mudah untuk dimengerti. Tidak ada kaidah kebahasaan yg dilanggar di sini, &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt; tetap &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt; tetap &lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai kebiasaan memanggil sesuatu dgn perempuan–feminin, saya kira itu ideologis. Dalam bahasa Inggris misalnya, kapal, bumi, dan semua yg berbentuk masif atau sangat banyak selalu disebut sebagai perempuan. Dalam bahasa Arab, matahari itu perempuan, sedang bulan laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tafsir itu berkembang sesuai zaman. Hanya teks yg tidak berubah. Dan Al-Quran memiliki kelenturan yg luar biasa, karena mampu mengadaptasi pemikiran yang benar-benar berbeda tanpa merombak teks.”&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tampaknya, model penalaran saya memiliki fondasi logika yang kuat, sehingga MM melanjutkan diskusi kepada &lt;i&gt;case study&lt;/i&gt; yang lain. Ia pun berusaha menggunakan teori saya dalam menerangkan ayat tentang &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dibagian lain dari Al-Quran. “Bagaimana dengan Q. 30:21?” tanyanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;“...khalaqa laKUM min anfusiKUM azwajan, liTaskunUU ilaihaa, wa ja'ala bainaKUM mawaddatan...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kum&lt;/i&gt;–kata ganti orang kedua maskulin, pertama dan kedua kembali kepada siapa? &lt;i&gt;Waw&lt;/i&gt;–jamak kembali kpd siapa? Dan &lt;i&gt;kum&lt;/i&gt; ketiga kembali kepada siapa? Tata bahasa Arab tdklah sesederhana yg ada dalam &lt;i&gt;Al-Nahwu al-Wadhih&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Anyhow&lt;/i&gt;, senang bisa membaca pikiran sampean. Saya sendiri lebih suka memahami ayat seperti dipahami saat ia diturunkan, lalu mengambil pesan yg diusungnya. Kerangka ayat itu sendiri bisa jadi tdk kita butuhkan. &lt;i&gt;Coz&lt;/i&gt;, apa pun yg dikatakan oleh sebuah ayat, baik mitos maupun teori ilmiah, semua itu digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan, bukan semata-mata untuk membuktikan kebenaran mitos atau teori ilmiah itu sendiri. Dan mitos atau teori ilmiah yg digunakan tidak lepas dari apa yang berkembang &amp;amp; diyakini oleh komunitas di mana ayat tersebut diturunkan.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kembali saya tutup diskusi menarik ini dengan pernyataan mengenai sifat pengetahuan yang ada saat ini, dan bagaimana kita memperlakukan sebuah episteme. “Sifat pengetahuan masa kita jauh berbeda dari masa Rasul. Kebenaran yg ada terbatas dan temporal. Jadi semua yg saya kemukakan hanyalah hipotesis belaka. Ia ada untuk memberikan pemahaman atas sesuatu dalam kerangka logis epistemik. Tidak lebih dari itu. Kalau dia persisten, mungkin nilainya dapat naik menjadi level teori. Tapi kalau tidak, tentu akan ada banyak perbaikan seputar metodologi, dan sudut pandang.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;After Match&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Delapan hari kemudian, HH kedua muncul kembali dengan komentar baru di thread yang sama. Katanya, “Akhi, saya setuju dengan akhuna MM, &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dalam ayat itu bukan berarti perempuan yang satu, tapi karena kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; memang bersifat &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt;; sama seperti &lt;i&gt;syams&lt;/i&gt;–matahari, maka biarpun bentuk katanya &lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt;, tapi karakternya &lt;i&gt;muannats&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalaupun benar bahwa Adam dan Isa itu lahir tanpa ayah, pertanyaan fundamental saya, bagaimana cara Allah menciptakan ibu pertama yang melahirkan Adam itu? Keluar dari guci? Nongol tiba-tiba dari balik pohon? Maaf, &lt;i&gt;creatio ex nihilo&lt;/i&gt; tidak pernah masuk dalam logika saya…selamanya!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ah, ternyata untuk sebuah perkara yang semestinya mendasar ini, banyak sekali persimpangan pendapat, dan paham yang ada. Dan ternyata iman bukanlah sesuatu yang built in. Dan seperti inilah tantangan agama di abad 21. Klaim-klaimnya bukan lagi yang paling benar, dan harus rela berbagi dengan otoritas lain, macam ilmu atau mungkin juga filsafat. Dan begitulah, mungkin seorang ulama dikemudian hari juga harus mumpuni berbagai macam ilmu pengetahuan, selain tentunya menguasai bahasa Al-Quran.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selang beberapa menit kemudian saya pun menjawab, pertanyaan HH secara ilustratif. “itu jauh lebih mudah menjawabnya. Bukankah para hominid telah ada. Bisa saja ibu yang melahirkan itu salah satu dari manusia purba. Dan anak yang dilahirkan ibu tadi memiliki karakter biologis yang lebih maju dan revolusioner daripada inangnya. Tapi, seperti yang dikemukakan oleh MM, pendapat saya ini sangat spekulatif, walaupun kebalikannya juga sama-sama spekulatif pula. Dan ayat tentang &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; itu adalah ambigu–&lt;i&gt;mutasyabihat&lt;/i&gt;, jadi tidak ada jaminan tafsir atasnya valid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Wa Allah A'lam bi al-shawwab.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8050909421144013815-4628080974650850494?l=pridityo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pridityo.blogspot.com/feeds/4628080974650850494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/06/al-quran-dan-perempuan-pertama-2_21.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/4628080974650850494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8050909421144013815/posts/default/4628080974650850494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pridityo.blogspot.com/2010/06/al-quran-dan-perempuan-pertama-2_21.html' title='Al-Quran dan Perempuan Pertama (2)'/><author><name>Himawan Pridityo</name><uri>https://profiles.google.com/104830203014376669890</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh4.googleusercontent.com/-TRvfZDo2OkE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAABgk/4ZzHd0QTnQQ/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8050909421144013815.post-8765282991551286301</id><published>2010-06-21T12:45:00.001+07:00</published><updated>2010-06-21T12:50:28.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Al-Quran dan Perempuan Pertama (1)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Terkadang, media jejaring sosial macam Facebook, dapat digunakan sebagai wadah diskusi &lt;i&gt;on line&lt;/i&gt; yang sangat menarik. Saya sudah beberapa kali bereksperimentasi, baik di wall saya sendiri maupun wall orang lain, berkenaan dengan hal tersebut. Dan hasilnya, entah pahit ataupun manis, memberikan kesan yang dalam daripada sekedar “pamer” kondisi belaka. Kali ini, saya akan memaparkan transkrip diskusi yang kebetulan terjadi di wall saya berkaitan dengan “mitologi” mengenai asal muasal wanita pertama, atau biasa dipanggil dengan Hawwa dalam tradisi Islam. Diskusi ini diikuti sekitar delapan orang, tiga hanya memberikan pernyataan suka dengan status yang saya buat, dengan demikian kedudukan mereka hanya sebagai pemirsa saja, sedangkan tiga orang lainnya, meski ikut memberikan komentar, namun tidak aktif dalam diskusi. Adapun dua tokoh utama dalam diskusi tersebut adalah saya sendiri dan
